Minggu, 23 Juni 2013

PENGARUH MENGKONSUMSI AIR REBUSAN DAUN BINAHONG (Anredera Cordifolia (Tenore) Steen) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA PERINEUM PADA IBU NIFAS DI BPS. Ny.DIAN SUSILORINI Amd. Keb. NGRONGGOT NGANJUK

ABSTRAK

Pengaruh Mengkonsumsi Air Rebusan Daun Binahong (Anredera Cordifolia (Tenore) Steen) Terhadap  Penyembuhan Luka Perineum Pada
Ibu Nifas Di BPS.Ny.Dian Susilorini Amd. Keb.
Ngronggot Nganjuk


            Penyembuhan luka adalah panjang waktu proses pemulihan pada kulit karena adanya kerusakan atau disintegritas jaringan kulit. Tanaman binahong merupakan salah satu tanaman herbal yang ada di indonesia yang digunakan sebagai obat terutama untuk mempercepat penyembuhan luka. Tanaman binahong mengandung zat antiseptik yang mampu membunuh kuman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh  mengkonsumsi air rebusan daun binahong terhadap penyembuhan luka perineum pada ibu nifas.
            Desain dari penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan cross sectional. Responden pada penelitian ini adalah ibu nifas. Pengambilan sampel dengan cara total sampling sejumlah 26 responden. Data yang dikumpulkan dengan menggunakan lembar observasi dan wawancara terstruktur untuk memperoleh data tentang pengaruh mengkonsumsi air rebusan daun binahong terhadap penyembuhan luka perineum pada ibu nifas. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah mengkonsumsi air rebusan daun binahong, sedangkan variabel terikatnya adalah proses penyembuhan luka perineum pada Ibu nifas.
Pada penelitian ini hampir seluruhnya ibu yang mengkonsumsi air rebusan daun binahong mengalami penyembuhan luka secara cepat yaitu 13 orang (81,3%), sedangkan sebagian kecil ibu yang tidak mengkonsumsi air rebusan daun binahong mengalami penyembuhan luka cepat yaitu 3 orang ( 18,7%).
Dari hasil perhitungan dengan mengunakan uji Chi Square dengan manual  diperoleh hasil H1 diterima jika (χ)2 hitung > (χ)2 Tabel. Karena 4,63 > 3,84 Berarti ada pengaruh mengkonsumsi air rebusan daun binahong terhadap penyembuhan luka perineum pada ibu nifas.
Banyaknya faktor yang mempengaruhi proses penyembuhan luka perineum, sehingga proses penyembuhan luka tidak sama, maka dari itu sebagai seorang bidan harusnya  memberikan konseling terhadap setiap ibu post partum tentang personal hygine dan memberikan informasi mengenai hal-hal baru yang dapat menunjang proses penyembuhan luka seperti halnya penggunaan air rebusan daun binahong.

Kata Kunci : Daun binahong, penyembuhan luka perineum





ABSTRACT

Consumtion effect The Water of Braise of Leaf Binahong ( Anredera Cordifolia (Tenore) Steen) To Healing of Wound PerineumAt Ms. Child Bed In
BPS Ny. Dian Susilorini Amd. Keb.Ngronggot Nganjuk

Indayanti

            Healing of wound is time lenght process cure at husk caused by or damage of disintegritas hust network. Plant of binahong is once plant herbal in Indonesian use as medicine for to fast healing of wound. Plant of binahong pregnant of antiseptic capble to kill germ. Intention of this research is to analyse influence consumtion boil’s water of lief binahong about healing wound of perineum at post partum’s mother.
            Desain in this research is analytic with approach of sectional cross. Responder at this research is post partum’s mother. Intake of sampel by totalizeing sampling a number of 26 responnder. Collected data by using observation sheet and structure interview to get data about influence consumtion boil’s water of lief binahong about healing wound of perineum at post partum’s mother. Free variable in this research is influence consumtion boil’s water of lief binahong, while variable tied of healing wound of perineum at post partum’s mother.
Result of research indicate that most mother consuming water of braise of leaf binahong experience of the wound healing quickly that is 13 people (81,3%), while mother which do not consume the water of braise of leaf binahong experience of the wound healing quickly that is 3 people ( 18,7%).
            From result of calculation by using test of chi Square with manuall by result H1 received if (χ)2 acount > (χ)2 tables. Cause 4,63 > 3,84 to mean there is Consumtion effect boil’s water of lief binahong about healing wound of perineum at post partum’s mother.
            To the number of factor influencing process of healing of wound perineum, so that process the unegual wound healing, hence from that as a midwife ought to give the counseling to every mother of post partum of about personal hygine and give the information of concerning novelty which can support the process of wound healing as does use irrigate the rebusan of leaf binahong.


Keyword : Lief binahong, healing wound of perineum


BAB  1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Indonesia dikenal sebagai negara dengan sumber daya hayati kedua terbesar yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Terdapat lebih kurang 30.000 jenis tanaman, lebih kurang 7.500 jenis diantaranya termasuk tanaman berkhasiat obat. Jumlah tanaman obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat baru sekitar 1.000 hingga 1.200 jenis (www.pom.go.id, 2010). Tradisi meracik obat tradisional sudah ada sejak nenek moyang. Beragam jenis tanaman diracik sebagai ramuan jamu untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Salah satu tanaman tersebut adalah Binahong (Anredera Cordifolia (Tenore) Steen) Tanaman ini dikenal dikalangan di kalangan cina adalah dengan nama Dheng San Ji sebagai tanaman merambat di tanah dan berasal dari dataran Thiongkok. Di Indonesia tanaman ini tumbuh menjalar dan sering digunakan sebagai gendola atau gapura sehingga mendapat julukan tanaman gendola (Basella rubra linn), selain itu tanaman ini  digunakan oleh masyarakat untuk terapi herbal dan terutama untuk membantu proses penyembuhan berbagai penyakit. Salah satu khasiat yang paling terkenal adalah mempercepat proses penyembuhan luka. (www.groups.yahoo.com/binahong, 2010). Penyembuhan luka adalah panjang waktu proses pemulihan pada kulit karena adanya kerusakan atau disintegritas jaringan kulit. Respon vaskular dan selular terjadi ketika jaringan teropong atau mengalami cidera (Smelzer, 2002)
Kematian ibu menurut World Health Organization (WHO) adalah kematian yang terjadi pada saat kehamilan, persalinan, nifas dengan penyebab yang berhubungan langsung atau tidak langsung dari kehamilan, persalinan, dan nifasa (Depkes, 1999). Penyebab langsung kematian tersebut dikenal dengan Trias Klasik yaitu Perdarahan (28%), eklampsia (24%) dan infeksi (11%). Menurut LB.3 KIA tahun 2006 penyebab terbesar kematian ibu berturut-turut adalah perdarahan 34,62% diikuti keracunan kehamilan (Pre eklamsi) 14,01%, infeksi 3,02% dan penyebab yang lainnya 40,11%, bila dilihat dari hasil laporan tersebut, perlu dicermati bahwa masyarakat masih belum memahami secara benar penanganan ibu hamil, melahirkan, dan nifas, masyarakat masih menganggap perdarahan yang dialami ibu nifas merupakan suatu hal yang biasa (www.depkes.go.id, 2010). Badan pusat statistik Jawa Timur 2005, mencatat angkan kematian ibu (AKI) menurun dari 334 tian 100.000 kelahiran hidup menjadi 262 setiap 100.000 kelahiran hidup, 32% disebabkan karena infeksi pada masa nifas diantaranya 7% karena infeksi jalan lahir. Berdasarkan  data yang diperoleh di BPS. Dian Susilorini Amd Keb.desa Trayang Kec.Ngronggot Nganjuk pada bulan Januari 2010 jumlah ibu nifas yang mengalami luka perineum ada 15 orang, 4 orang ibu nifas (26,6%) mengalami penyembuhan yang tidak sempurna, dan 11 orang ibu nifas (73,3%) mengalami penyembuhan yang sempurna. Pada bulan Februari 2010 jumlah ibu nifas yang mengalami luka perineum ada 11 orang, 4 orang ibu nifas (36,4%) mengalami penyembuhan yang tidak sempurna, dan 6 orang ibu nifas (63,6%) mengalami penyembuhan yang sempurna.Dari data tersebut dapat diketahui bahwa kejadian penyembuhan luka perineum tidak sempurna mengalami peningkatan dari bulan januari 2010 sampai bulan Februari 2010 sebesar 9,8%.
Banyak hal yang meyebabkan robekan perineum pada saat persalinan, dimana kepala janin terlalu cepat lahir, persalinan tidak dipimpin sebagaimana mestinya, selain itu perlunya tindakan episiotomi agar tidak terjadi robekan perineum yang luas. Hal ini dapat memicu terjadinya infeksi atau perdarahan abnormal. Infeksi nifas mencakup semua peradangan yang disebabkan masuknya kuman–kuman kedalam alat genetalia pada waktu persalin dan waktu masa nifas. Demam nifas adalah kenaikan suhu sampai 38oC atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama pasca melahirkan, lockea berbau busuk, selain itu rahimnya menjadi lembek dan tidak berkontraksi sehingga bisa terjadi perdarahan (Winkjosastro, 2004). Faktor yang mempengarui penyembuhan luka yaitu lingkungan, tradisi, pengetahuan, sosial ekonomi, penanganan petugas, kondisi ibu, status gizi, usia, penangan jarngan, haemorargie, hypovoleria, faktor lokal oedema, defisit nutrisi, personal hygiene, defisit oksigen, medikas, dan over aktifitas (Varney, 2005). Pengunaan tanaman untuk pengobatan telah lama dikenal oleh masyarakat, bahkan sudah diturunkan dari nenek moyang kita dari generasi kegenerasi berikutnya. Usaha pengembangan tanaman untuk pengobatan perlu dilakukan dan dikembangankan.
Untuk mempercepat penyembuhan luka perineum, perlu dilakukan perawatan luka perineum pada ibu nifas secara khusus selain itu kebersihan juga harus dijaga. Alternatif lainnya adalah dengan memanfatkan tanaman Binahong (Anredera Cordifolia (Tenore) Steen) sebagai obat. Hal tersebut dilakukan mengingat bahwa tanaman Binahong mudah diperoleh, murah, tingkat bahaya dan resiko yang jauh lebih rendah. Penggunaan tanaman untuk pengobatan perlu ditunjang oleh data-data penelitian dari tanaman tersebut sehingga khasiatnya secara ilmiah tidak diragukan lagi dan dapat dipertanggungjawabkan. Bidan sebagai tenaga kesehatan harus bisa memberikan informasi cara pemanfaatan tanaman sebagai obat yang benar dan sesuai dengan aturannya. Selain itu bidan perlu memberikan informasi kepada ibu nifas tentang infeksi masa nifas dan upaya perbaikan dalam bidang pelayanan kesehatan obstetri.
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian tentang pengaruh mengkonsumsi air rebusan daun binahong terhadap penyembuhan luka perineum pada ibu nifas.

1.2  Rumusan Masalah
Apakah ada pengaruh mengkonsumsi Air Rebusan Daun Binahong (Anredera Cordifolia (Tenore) Steen)  terhadap penyembuhan luka perineum pada ibu nifas di BPS. Ny.Dian Susilorini Ngronggot-Nganjuk ?

1.3  Tujuan Penelitian
1.3.1        Tujuan umum
Untuk menggetahui pengaruh mengkonsumsi Air Rebusan Daun Binahong (Anredera Cordifolia (Tenore) Steen) terhadap penyembuhan luka perineum pada ibu nifas di BPS. Ny.Dian Susilorini Ngronggot-Nganjuk.



1.3.2        Tujuan khusus
1.                  Mengidentifikasi konsumsi Air Rebusan Daun Binahong terhadap luka perineum oleh ibu nifas di BPS. Ny.Dian Susilorini Amd Keb. Ngronggot Nganjuk.
2.                  Mengidentifikasi proses penyembuhan luka perineum pada ibu nifas di BPS. Ny.Dian Susilorini Amd Keb. Ngronggot Nganjuk.
3.                  Menganalisa pengaruh mengkonsumsi Air Rebusan Daun Binahong terhadap penyembuhan luka perineum pada ibu nifas di BPS. Ny.Dian Susilorini Amd Keb. Ngronggot Nganjuk.

1.4  Manfaat Penelitian
1.4.1        Bagi responden
Agar ibu nifas mengetahui secara jelas kegunaan dan efektivitas daun Binahong sebagai kebutuhan dalam proses peyembuhan luka pasca persalinan.
1.4.2        Bagi peneliti
Dapat menerapkan teori ini dalam bentuk nyata pada saat keadaan yang sama seperti ibu nifas
1.4.3        Bagi profesi kebidanan
Sebagai masukan dalam upaya meningkatkan pelayanan kebidanan dalam membantu menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu melalui pencegahan infeksi dan penyembuhan luka perineum yang tidak sempurna.
1.4.1        Bagi penelitian selanjutnya
Sebagai dasar untuk penelitian selanjutnya, khususnya tentang penyembuhan luka perineum pada ibu nifas

1.1  Batasan  Penelitian  
Melihat banyak faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka, maka peneliti ini hanya dibatasi pada faktor tradisi mengkonsumsi tanaman binahong. Yang tidak diteliti  adalah pada faktor lingkungan, tradisi, pengetahuan, sosial ekonomi, penanganan petugas, kondisi ibu, status gizi, usia, penangan jarngan, haemorargie, hypovoleria, faktor lokal oedema, defisit nutrisi, personal hygiene, defisit oksigen, medikas, dan overaktifitas.

BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1.      Hasil Penelitian
3.1  Gambaran umum Tempat Penelitian
Bidan praktek swasta Ny. Dian Susilorini, Amd. Keb. berdiri sejak tahun 2007 berada di  Desa Trayang Kecamatan Ngronggot Kabupaten Nganjuk, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :
Sebelah Barat adalah = desa koripan
 Sebelah selatan           = desa Kaloran
Sebelah utara               = desa Sumbersari
Sebelah timur              = desa Tempel.
Di desa Trayang sudah terdapat saluran listrik yang masuk, jalan masih makadam dan ada sebagian yang sudah beraspal, jarak antara Puskesmas induk dengan desa Trayang ± 14 km, dan dengan pustu ± 2 km. Pelayanan yang ada di BPS diantaranya yaitu pelayanan keluarga berencana (KB), Antenatal Care (ANC), persalinan, kontrol nifas, imunisasi dan balai pengobatan untuk penyakit ringan. Jumlah pasien setiap harinya rata-rata 20 pasien yang berasal dari Desa Trayang, Ngronggot. Adapun jumlah responden dari penelitian ini adalah 26 responden dilakukan mulai tanggal 08 – 21 Oktober 2010.   



3.2  Data Umum
4.1.2.1  Karakteristik Responden Berdasarkan Umur
Tabel 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur di BPS Dian Susilorini Amd. Keb. Desa Trayang Kec. Ngronggot  Nganjuk, pada bulan Oktober 2010.

No.
Umur
Jumlah
Persentase (%)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
18-21 tahun
22-25 tahun
26-29 tahun
30-33 tahun
34-37 tahun
38-41 tahun
3
5
2
14
1
1
11,54
19,23
7,69
53,85
3,85
3,85

Total
26
100
Sumber : Data Primer Oktober 2010
Berdasarkan Tabel 4.1 dapat menunjukkan bahwa dari 26 responden sebagian besar berusia 30-33 tahun sebanyak 14 0rang (53,85%).

3.3  Data Khusus
4.1.3.1  Mengkonsumsi Air Rebusan Daun Binahong
Tabel 4.2   Distribusi Frekuensi responden berdasarkan mengkonsumsi air rebusan daun binahong di BPS Dian Susilorini Amd. Keb. Desa Trayang Kec. Ngronggot  Nganjuk, pada bulan Oktober 2010.

No.

Jumlah

Persentase (%)
1.
2.
Mengkonsumsi
Tidak  Mengkonsumsi
17
9
65,4
34,6

Total
26
100
Sumber : Data Primer Oktober 2010
Berdasarkan Tabel 4.2 menunjukkan sebagian besar mengkonsumsi air rebusan daun binahong yaitu sebanyak 17 orang (65,4%).

4.1.3.2  Proses penyembuhan luka
Tabel 4.3   Distribusi Frekuensi responden berdasarkan proses penyembuhan luka di BPS Dian Susilorini Amd. Keb. Desa Trayang Kec. Ngronggot  Nganjuk, pada bulan Oktober 2010.

No.
Proses penyembuhan luka
Jumlah
Persentase (%)
1.
2.
Cepat
Lambat
16
10
38,46

Total
26
100
Data Primer Oktober 2010
Berdasarkan Tabel 4.3 menunjukkan sebagian besar proses penyembuhan luka cepat yaitu sebanyak 16 orang (61,54%).

4.1.3.3  Pengaruh mengkonsumsi air rebusan daun binahong dengan proses penyembuhan luka.
Tabel 4.4 Tabulasi silang mengkonsumsi air rebusan daun binahong dengan proses penyembuhan luka perineum di BPS Dian Susilorini Amd. Keb. Desa Trayang Kec. Ngronggot  Nganjuk, pada bulan Oktober 2010.

Mengkonsumsi air rebusan daun binahong
Proses penyembuhan luka
Cepat
Lambat
Total
%
%
%
Mengkonsumsi
13
81,3
4
40,0
17
65,4
Tidak mengkonsumsi
3
18,7
6
60,0
9
34,6
Total
16
100
10
100
26
100
Sumber : Data Primer Oktober 2010
Berdasarkan Tabel 4.4 menunjukkan bahwa hampir seluruhnya responden (81,3%) proses penyembuhan lukanya cepat mengkonsumsi air rebusan daun binahong, dan sebagian besar responden yaitu (60%) yang proses penyembuhan lukanya lambat tidak mengkonsumsi air rebusan daun binahong.


Hasil analisa menggunaan uji Chi Square dengan perhitungan manual, Hasil Chi square H1 diterima jika (χ)2 hitung > (χ)2 Tabel. Karena 4,63 > 3,84.  ada pengaruh mengkonsumsi air rebusan daun binahong terhadap penyembuhan luka perineum pada ibu nifas.

4.2.      Pembahasan
4.2.1  Mengkonsumsi Air Rebusan Daun Binahong
         Berdasarkan Tabel 4.2 menunjukan bahwa sebagian besar responden mengkonsumsi air rebusan daun binahong, yaitu sebanyak 17 orang (65,4%).
Tanaman Binahong (Anredera Cordifolia (Tenore) Steen) sejak zaman nenek moyang kita digunakan untuk terapi herbal dan terutama untuk membantu proses penyembuhan luka. Tanaman binahong mengandung Antiseptik yang mampu membunuh kuman dan dapat meningkatkan daya tahan terhadap infeksi serta mempercepat penyembuhan luka (www:etd.eprints.com, 2010).
Kandungan kimia yang terdapat pada tanaman binahong terdiri dari Asam oleanolik, Antimikroba, Asam askorbat, Saponin triterpenoid Flavonoid, Protein. Asam oleanolik mencegah masuknya racun ke dalam sel dan meningkatkan sistem pertahanan sel juga memiliki zat anti inflamasi, kandungan nitrit oksida pada asam oleanolik juga menjadi antioksidan, yang dapat berfungsi sebagai toksin yang kuat untuk membunuh bakteri. Antimikroba  zatnya ini secara teori efektif terhadap penyembuhan luka bakar dengan cara mencegah infeksi, dan mencegah meluasnya luka akibat toksik bakteri. Asam askorbat dapat meningkatkan daya tahan terhadap infeksi serta mempercepat penyembuhan,. Saponin triterpenoid pada daun binahong dapat menurunkan gula darah, dengan adanya penurunan kadar gula darah pada luka, maka dapat pula menurunkan terjadinya infeksi. Flavonoid sebagai anti-inflamasi, analgesik, anti-oksidan yang mampu mempercepat penyembuhan luka bakar. Protein dengan berat molekul yang besar, yang disebut ancordin, pada binahong dapat menjadi imunostimulan (http://birulazuardhi.wordpress.com/binahong, 2010).  
Karena terdapat banyak kandungan zat kimia yang bermanfaat inilah, tanaman binahong memiliki manfaat yang luas sebagai bahan obat, hampir semua bagian dari tanaman binahong dapat di mamfaatkan sebagai obat yaitu mulai dari umbi atau akar, batang dan daunnya. Manfaat dari tanaman binahong yaitu untuk berbagai penyakit diantaranya yaitu : Kategori Penyakit berat (Batuk/muntah darah, Paru-paru/bolong, Kencing manis, Sesak nafas, Borok akut, Patah tulang, Darah rendah, Radang ginjal, Gatal-gatal /eksim kulit, Gegar otak ringan/berat). Kategori Penyakit Ringan diantaranya : Disentri/buang air besar, Ambeyen berdarah, Hidung mimisan, Habis bedah/operasi, Luka bakar, Kecelakaan/benda tajam, Jerawat, Usus bengkak, Gusi berdarah, Kurang nafsu makan, Kelancaran haid, Habis bersalin/melahirkan, Menjaga stamina tubuh, Penghangat badan, Lemah syahwat. Untuk kategori penyakit berat tersebut dibutuhkan waktu penyembuhan 1 hingga 6 bulan, sedangkan untuk kategori penyakit ringan tersebut dibutuhkan pengobatan beberapa hari atau minggu, untuk anak-anak cukup berikan takaran separuh dewasa. Pemakaiannya bisa diseduh dengan direbus dengan air, dan bisa juga dengan pemakain luar yaitu dengan cara daun ditumbuk halus lalu dioleskan pada bagian yang sakit. Efektif menyembuhkan memar, rematik, pegal linu, nyeri urat, dan menghaluskan kulit (http://shella.blog.uns.ac.id/binahong, 2010).                                                                      
Tingginya masyarakat yang mengkonsumsi tanaman binahong didesa trayang kec.ngronggot nganjuk disebabkan karena beberapa faktor yang diantaranya adalah faktor ekonomi yaitu sesuai dengan pekerjaan masyarakat di desa trayang yang hampir sebagian besar adalah petani, dan tanaman binahong dapat tumbuh disemua musim serta mudah diperoleh sehingga dapat menghemat pengeluaran keluarga, faktor tanah yang subur menyebabkan tanaman binahong yang tumbuh tidak membutuhkan perawatan khusus. Selain itu sudah terbuktinya khasiat tanaman binahong pada sebagian orang yang telah mengkonsumsi semakin tahun semakin tinggi pengkonsumsi binahong. Ditinjau dari segi manfaat dan efek samping, tanaman binahong merupakan salah satu obat herbal dimana manfaatnya lebih besar dibandingkan efek sampingnya, berbeda halnya dengan obat-obatan modern yang tingkat bahaya dan resikonya jauh lebih tinggi.               
         Kandungan zat kimia tanaman binahong tidak diragukan lagi, masyarakat desa masih sangat yakin dan percaya bahwa tanaman binahong dapat dipergunakan sebagai pengobatan beberapa penyakit. Dan masih banyak masyarakat yang mengkonsumsinya. Apalagi sekarang tanaman binahong sudah dikemas dalam bentuk kapsul dan gel, sehingga memudahkan masyarakat untuk mengkonsumsi dan menggunakannya. Ibu seletah melahirkan kebanyakkan mengkonsumsi air rebusan daun binahong untuk mempercepat proses penyembuhan luka.

4.2.2  Proses Penyembuhan Luka Perineum Pada Ibu Nifas
            Berdasarkan Tabel 4.3 menunjukkan bahwa sebagian besar proses penyembuhan luka perineum pada ibu nifas adalah cepat yaitu sebanyak 16 orang (61,54%).
Penyembuhan adalah proses, cara, perbuatan menyembuhkan, pemulihan. Luka adalah rusaknya kesatuan/komponen jaringan, dimana secara spesifik terdapat substansi jaringan yang rusak atau hilang (Somantri, 2007). Jadi penyembuhan luka adalah panjang waktu proses pemulihan pada kulit karena adanya kerusakan atau disintegritas jaringan kulit. Luka Perineum adalah perlukaan yang terjadi akibat persalinan pada bagian perineum dimana muka janin menghadap (Prawiroharjo, 2002). Episiotomi adalah insisi perineum yang dimulai dari cincin vulva kebawah, menghindari anus dan muskulus spingter serta memotong fasia pelvis, muskulus konstrikter vagina, muskulus tranversus perineum dan terkadang ikut terpotong serat dari muskulus levator ani (Moljono, 2008). Ruptur perineum merupakan robekan yang terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya (Marsianto, 2002:665). Proses penyembuhan luka melalui 4 tahap, yaitu tahap inflamasi, tahap destruktif, tahap poliferatif, tahap maturasi. Tahap inflamasi tahap ini dimulai saat terjadinya luka. Tahap destruktif tahap ini terjadi pembersihan jaringan yang mati oleh leukosit polimorfonuklear dan makrofag. Tahap poliferatif pada fase ini terjadi pertumbuhan jaringan baru melalui proses : Granulasi, Kontraksi luka, Epiteliasisasi, tahap maturasi yaitu setelah epitelialisasi selesai, jaringan yang baru mengalai proses matures bila mengalami “remodelling” untuk meningkatkan kekuatan regangan jaringan parut, jaringan yang  matur bersifat avaskular dan tidak mngandung kelenjar keringat atau kelenjar lemak maupun rambut. Tahap ini terjadi repitelisasi kontraksi luka dan organisasi jaringan ikat (Smeltzer, 2002).
 Masa Nifas (puerperium) adalah dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Bahari, 2002:122). Seorang wanita menginginkan jalan lahir kembali pada keadaan sebelum hamil dan melahirkan dengan cepat karena rasa sakit yang lama dapat mengganggu aktivitas da rasa nyaman. Berdasarkan hasil penelitian tersebut proses percepatan penyembuhan luka perineum disebabkan oleh beberapa faktor yang diantranya adalah lingkungan, tradisi, pengetahuan, sosial ekonomi, penanganan petugas, kondisi ibu, status gizi, usia, penangan jarngan, haemorargie, hypovoleria, faktor lokal oedema, defisit nutrisi, personal hygiene, defisit oksigen, medikas, dan over aktifitas. Secara normal luka dapat sembuh selama 6-7 hari bila seorang ibu dapat melakukan perawatan dengan baik, sebaliknya jika luka tidak dilakukan perawatan dengan baik maka proses penyembuhan luka menjadi lebih lama dan dapat menyebabkan infeksi (Mochtar, 1998:116).
Perawatan luka pada perineum ada beberapa cara, yaitu diantaranya pada saat mandi, ibu post partum pasti melepas pembalut, setelah terbuka maka ada kemungkinan terjadi kontaminasi bakteri pada cairan yang tertampung pada pembalut, untuk itu maka perlu dilakukan penggantian pembalut, demikian pula pada perineum ibu, untuk itu diperlukan pembersihan perineum. Setelah buang air kecil yaitu pada saat buang air kecil, pada saat buang air kecil kemungkinan besar terjadi kontaminasi air seni padarektum akibatnya dapat memicu pertumbuhan bakteri pada perineum untuk itu diperlukan pembersihan perineum. Setelah buang air besar yaitu pada saat buang air besar, diperlukan pembersihan sisa-sisa kotoran disekitar anus, untuk mencegah terjadinya kontaminasi bakteri dari anus ke perineum yang letaknya bersebelahan maka diperlukan proses pembersihan anus dan perineum secara keseluruhan.
 Hampir setiap persalinan normal melalui jalan lahir mengakibatkan trauma pada jaringan dan mukosa vagigenetna akibat tekanan bagian keras  janin. Seorang wanita menginginkan jalan lahir kembali pada keadaan sebelum hamil dan melahirkan dengan cepat karena rasa sakit yang lama dapat mengganggu aktivitas da rasa nyaman. Sehingga seorang ibu nifas harus bisa menjaga kebersihan terutama pada daerah alat genetalianya.

4.3.      Pengaruh Mengkonsumsi Air Rebusan Daun Binahong terhadap penyembuhan luka perineum pada ibu nifas
Berdasarkan Tabel 4.4 menunjukkan bahwa hampir seluruhnya ibu yang mengkonsumsi air rebusan daun binahong mengalami penyembuhan luka secara cepat yaitu 13 orang (81,3%), sedangkan sebagian kecil ibu yang tidak mengkonsumsi air rebusan daun binahong mengalami penyembuhan luka cepat yaitu 3 orang ( 18,7%).
Hasil analisa menggunaan uji Chi Square dengan perhitungan manual, Hasil Chi square H1 diterima jika (χ)2 hitung > (χ)2 Tabel. Karena 4,63 > 3,84.  maka ada pengaruh mengkonsumsi air rebusan daun binahong terhadap penyembuhan luka perineum pada ibu nifas
Ibu yang tidak mengkonsumsi air rebusan daun binahong yang mengalami penyembuhan lambat diketahui bahwa perbedaan proses penyembuhan luka perineum pada ibu nifas yang mengkonsumsi air rebusan daun binahong dan yang tidak mengkonsumsi air rebusan daun binahong disebabkan karena tanaman binahong mengandung antiseptik yang mampu membunuh kuman dan dapat meningkatkan daya tahan terhadap infeksi serta mempercepat penyembuhan luka, selain itu faktor lain yang berpengaruh terhadap proses penyembuhan luka yaitu faktor lingkungan, tradisi, pengetahuan, sosial ekonomi, penanganan petugas, kondisi ibu, status gizi, usia, penangan jarngan, haemorargie, hypovoleria, faktor lokal oedema, defisit nutrisi, personal hygiene, defisit oksigen, medikas, dan over aktifitas. Faktor lingkungan  adanya dukungan dari lingkungan keluarga, dimana ibu akan selalu merasa mendapatkan perlindungan dan dukungan serta nasehat-nasehat khususnya orang tua dalam merawat kebersihan pasca persalinan.Tradisi, di Indonesia ramuan peninggalan nenek moyang untuk perawatan pasca persalinan masih banyak digunakan, meskipun oleh kalangan masyarakat modern. Pengetahuan, pengetahuan ibu tentang perawatan pasca persalinan sangan menentukan lama penyembuhan luka perineum. Sosial Ekonomi, pengaruh dari kondisi sosial ekonomi ibu dengan lama penyembuhan luka perineum adalah keadaan fisik dan mental ibu dalam melakukan aktifitas sehari-hari pasca persalinan. Penangan petugas, pada saat persalinan, pembersihannya harus dilakukan dengan tepat oleh penanganan petugas kesehatan. Kondisi ibu, kondisi kesehatan ibu baik secara fisik maupun mental dapat menyebabkan lamanya penyembuhan. Penanganan Jaringan, penanganan yang kasar menyebabkan cidera dan memperlambat  penyembuhan. Hemoragi, akumulasi darah menciptakan ruang rugi juga sel-sel mati yang harus disingkirkan, area menjadi pertumbuhan untuk infeksi. Hipovolemia, volume darah yang tidak mencukupi mengarah pada vasokontriksi dan penurunan oksigen dan nutrient yang. Tersedia. Faktor lokal edema, penurunan suplai oksigen melalui gerakan meningkatkan tekanan intertisial pada pembuluh. Defisit nutrisi, sekresi insulin dapat dihambat, sehingga menyebabkan glukosa darah meningkat. Personal Hygiene, kebersihan diri dapat menghambat penyembuhan. Defisit oksigen, oksigen yang tidak memadai dapat diakibatkan tidak adekuatnya fungsi paru dan kardiovaskuler setempat, Medikasi, Steroid dapat menyamarkan adanya infeksi dengan menggangu respon inflamasi normal. Over aktivitas, menghambat perapatan tepi luka, menggangu penyembuhan yang diinginkan (Alimun,2006:135). Maka dari banyak faktor yang membantu proses penyembuhan luka perineum, sehingga seorang bidan harusnya  menberikan konseling terhadap setiap ibu post partum tentang personal hygine dan nutrisi serta memberikan informasi mengenai hal-hal baru yang dapat menunjang proses penyembuhan luka seperti halnya penggunaan air rebusan daun binahong.
Setiap ibu yang melahirkan normal mengalami trauma pada jalan lahir sehingga menimbulkan luka, Luka jalan lahir yang dilakukan penjahitan membutuhkan proses penyembuhan luka lebih lama dibanding dengan yang hanya terjadi lecet atau lebam saja. Selain itu rasa sakit yang berkepanjangan dapat menimbulkan rasa tudak nyaman. Oleh karena itu ibu dan keluarga harus berusaha untuk mencari solusi supaya proses penyembuhan luka perineum tidak berlangsung lambat, sesuai dengan masa penyembuhan secara normal. Salah satu upaya yang dilakukan dan menjadi tradisi oleh masyarakat adalah melakukan perawatan luka jalan lahir dengan mengkonsumsi air rebusan daun binahong yang di yakini sebagai obat untuk mempercepat proses penyembuhan luka perineum. 
  
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1        Kesimpulan
1.            Sebagian besar responden mengkonsumsi air rebusan daun binahong yaitu sebanyak 17 orang (65,4%).
2.            Proses penyembuhan luka perineum responden sebagian besar berlangsung cepat  yaitu sebanyak 16 orang (61,5%).
3.            Ada pengaruh mengkonsumsi air rebusan daun binahong terhadap penyembuhan luka perineum pada ibu nifas.

5.2        Saran
5.2.1  Bagi Responden
         Diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan tentang mengkonsumsi air rebusan daun binahong dan proses penyembuhan luka perineum pada ibu nifas, baik melalui media massa maupun media elektronik, sehingga ibu dapat mencegah terjadinya infeksi da proses penyembuhan luka yang lambat.

5.2.2  Bagi Peneliti
Dapat menerapkan teori ini dalam bentuk nyata pada saat keadaan yang sama seperti ibu nifas.

5.2.3  Bagi Profesi Kebidanan
         Diharapkan Bidan memberikan penyuluhan kepada ibu nifas cara perawatan luka perineum yang benar dan mengkonsumsi ramuan yang diperbolehkan.

5.2.4  Bagi Penelitian Selanjutnya
            Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai data dasar pada penelitian selanjutnya khususnya tentang pemanfaatan tanaman herbal untuk proses penyembuhan luka perineum, dengan memperluas bidang kajian dan melengkapi kekurangan pada metode penelitian yang sudah ada.

HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN PERKEMBANGAN ASPEK BAHASA PADA ANAK USIA 4-6 BULAN DI POLINDES PURWOJATI KECAMATAN NGORO KABUPATEN MOJOKERTO

ABSTRACT
CORRELATION STUDY OF NUTRITIONAL STATUS WITH ASPECTS OF LANGUAGE DEVELOPMENT IN CHILDREN AGES 4-6 MONTHS
IN POLINDES PURWOJATI SUBDISTRICT
NGORO MOJOKERTO

AGNES AYU PRATIWI

            Nutritional status is a state of the body as a result of food consumption and utilization of nutrients. Children 4-6 months of age is the age of a vulnerable time for mothers to give solid food to the child, at which age the baby's digestive is not ready for solid food so that the absorption of nutrients impaired and cause growth retardation . Where physical growth is the basis of the progress of development. The purpose of this study was to determine whether there is a correlation with the nutritional status of the language development of children aged 4-6 months.
This research uses analytic calculation of Spearman Rank. The population was all children aged 4-6 months in Polindes Purwojati Subdistrict Ngoro Mojokerto many as 30 children with the overall sample of the population that is 30 respondents. Sampling using total sampling.
From the research conducted, showed the nutritional status of children aged 4-6 months the nutritional status obest 3%, 54% good nutritional status, medium nutritional status 20%, 13% less nutritional status, poor nutritional status of 10%. While the development of the language obtained results are normal development 57%, suspect 20%, 23% untestable.
Spearman rank test results found that rhoxy count = 0.989> Spearman rho = 0.364 so H0 is rejected and H1 accepted.
In this study it can be concluded that there is a correlation among  nutritional status of the language development of children aged 4-6 months in polindes Purwojati subdistric Ngoro Mojokerto . Efforts to overcome the problem of nutritional status and child language development needs to be considered in accordance with the nutrition and parenting needs of both parents.


Keywords: infant nutrition, nutritional status of children 4-6 months, language development


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Upaya peningkatan status gizi untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas pada hakikatnya harus dimulai sedini mungkin, yaitu sejak manusia itu dalam kandungan. Pada bayi dan anak, kurang gizi akan menimbulkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan bayi dan anak yang apabila tidak diatasi secara dini akan berlanjut hingga dewasa. Riset medis mengatakan bahwa ASI eksklusif membuat bayi berkembang dengan baik pada 6 bulan pertama bahkan pada usia lebih dari 6 bulan. Sebelum mampu berbicara  umumnya anak memiliki perilaku untuk mengeluarkan suara-suara yang bersifat sederhana kemudian berkembang secara komplek dan  mengandung arti. Misalnya seorang anak menangis (crying), mendekut (cooing), mengoceh (babling), kemudian ia akan menirukan kata-kata yang didengar dari orang tua atau lingkungan sekitarnya (papalia, 2004/www.episentrum.com). Usia 4-6 bulan adalah tahap bayi mengenali suaranya sendiri. Ia akan mengeluarkan suara-suara barunya saat berceloteh, karena pada tahap itu, dia membuat suara untuk kesenangannya sendiri sambil mencoba mengenalinya. Walau ia belum bisa menyebut ‘ma’ atau ‘pa’ dan belum bisa diajak ngobrol dengan baik, namun berbicara dengan bayi pada tahap ini bisa membantu perkembangan bicaranya. (http://www.clubnutricia.co.id, 2009)
Studi Cocharane terakhir telah melaporkan data keterlambatan bicara, bahasa dan gabungan keduanya pada anak usia prasekolah dan usia sekolah. Prevalensi keterlambatan perkembangan bahasa dan bicara pada anak usia 2 sampai 4,5 tahun adalah 5-8%, prevalensi keterlambatan bahasa adalah 2,3-19%. Sebagian besar studi melaporkan prevalensi dari 40% sampai 60%. Prevalensi keterlambatan perkembangan berbahasa di Indonesia belum diteliti secara luas. Kendalanya dalam menentukan kriteria keterlambatan perkembangan berbahasa. Data di Departemen Rehabilitasi Medik RSCM tahun 2006, dari 1125 jumlah kunjungan pasien anak terdapat 10,13% anak terdiagnosis keterlambatan bicara dan bahasa (www.wordpress.com, 2009). Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di Polindes Purwojati pada tanggal 20 april 2012, didapatkan 10 anak usia 4-6 bulan. Dari ke 10 anak tersebut, 2 anak mengalami keterlambatan bahasa dengan status gizi cukup dan 8 anak dengan status gizi yang baik tidak ada masalah dengan perkembangan bahasanya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan ada 2 yaitu faktor internal (perbedaan ras/bangsa, keluarga, umur, jenis kelamin, kelainan genetik, kelainan kromosom) dan faktor eksternal/lingkungan (gizi, infeksi, toksin, psikologi ibu, lingkungan fisis dan kimia, sosio ekonomi, stimulasi dan obat-obatan). Salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan anak adalah nutrisi (status gizi). Gizi merupakan modal dasar agar anak dapat mengembangkan potensi genetiknya secara optimal. Pada anak dengan status gizi buruk cenderung mengalami gangguan maupun keterlambatan dalam perkembangannya. Karena dalam perkembangan menyangkut adanya proses diferensiasi sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya secara normal. Sedangkan menurut profil Dinkes Magetan 2004, gizi merupakan salah satu faktor penentu utama kualitas sumber daya manusia. Gizi kurang tidak hanya meningkatkan angka kesakitan dan kematian, tapi juga menurunkan produktivitas. Keterlambatan bahasa dapat menimbulkan berbagai masalah dalam prosesbelajar di usia sekolah.  anak yang mengalami keterlambatan bicara dan bahasa beresiko mengalami kesulitan belajar, kesulitan membaca dan menulis, dan akan menyebabkan pencapaian akademik yang kurang serta menyeluruh, hal ini berlanjut sampai usia dewasa muda. Selanjutnya orang dewasa dengan pencapaian akademik yang rendah akibat keterlambatan bicara dan bahasa akan mengalami masalah perilaku dan penyesuaian psikososial.
 Melihat sedemikian besar dampak yang timbul akibat perkembangan bahasa anak usia prasekolah maka deteksi dini adalah tindakan terpenting untuk menilai tingkat perkembangan anak. Asupan nutrisi juga perlu untuk diperhatikan dikarenakan nutrisi  sangat berperan penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak, maka diharapkan kepada ibu untuk memperhatikan asupan nutrisi bayi pada 6 bulan pertama dengan  memberikan ASI eksklusif untuk menunjang perkembangan bahasa anak. Berdasarkan adanya hubungan antara status gizi dengan perkembangan bahasa, peneliti merasa tertarik untuk meneliti keterkaitan antara dua hal tersebut. Peneliti memandang hal tersebut penting untuk diperhatikan lebih serius dengan harapan semua anak dapat mengembangkan kemampuan berbicaranya secara maksimal sejak dini sehingga kualitas sumber daya manusia bangsa ini akan menjadi lebih baik di masa mendatang.

1.2    Rumusan Masalah
Adakah hubungan antara status gizi dengan tingkat perkembangan aspek bahasa pada anak usia 4-6 bulan di Polindes Purwojati Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto tahun 2012?
1.3  Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui hubungan antara status gizi dan perkembangan aspek bahasa pada anak usia 4-6 bulan.
1.3.2  Tujuan Khusus
1.   Mengidentifikasi status gizi anak usia 4-6 bulan.
2.   Mengidentifikasi tingkat perkembangan aspek bahasa anak usia 4-6 bulan.
3.   Menganalisis hubungan antara status gizi dengan perkembangan aspek bahasa anak usia 4-6 bulan.
1.4  Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Responden
Diharapkan ibu bisa mempelajari apa yang perlu diantisipasi saat bayi ibu tumbuh dan berkembang terutama dalam periode usia bayi
1.4.2  Bagi Peneliti
Sebagai pengalaman bagi peneliti dalam menerapkan ilmu pengetahuan dan informasi yang diperoleh.
1.4.3  Bagi Profesi Kebidanan
Sebagai materi edukasi dalam meningkatkan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat yang memiliki bayi atau balita mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa anak.
1.4.4 Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat menambah referensi dalam memperkaya ilmu pengetahuan dan dapat dijadikan salah satu bahan bacaan bagi peneliti selanjutnya.
1.5 Batasan Penelitian
Mengingat banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan anak pada aspek bahasa, maka peneliti membatasi penelitian pada hubungan status gizi dengan perkembangan aspek bahasa. Sedangkan faktor lainnya tidak diteliti.


BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
            Penelitian dengan judul hubungan status gizi dengan perkembangan aspek bahasa pada anak usia 4-6 bulan di Polindes Purwojati Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto dilaksanakan di Polindes Purwojati Desa Purwojati Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto dibawah pengawasan Bidan Wiwit Mustikowati, Amd.keb di Polindes Purwojati yang mempunyai 40 anak yang berusia 4-6 bulan.
            Batas-batas wilayah polindes Purwojati Desa Purwojati Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto antara lain:
Sebelah utara   : Desa Jasem
Sebelah timur  : Desa Polaman
Sebelah selatan: Desa Sukojati
Sebelah barat   : Dusun Sirno
           
                                                                          

4.1.2 Data Umum Ibu Responden
1.  Karakteristik Ibu Responden Berdasarkan Umur
Gambar 4.1  Distribusi Frekuensi Karakteristik ibu respondn berdasarkan umur di Polindes Purwojati Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto tanggal 21-28 Agustus 2012.

            Berdasarkan gambar 4.1 diatas menunjukkan karakteristik ibu responden berdasarkan umur dari 30 ibu responden adalah umur 31-40 tahun sebanyak 13 orang dengan persentase 43%.
2. Karakteristik Ibu Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Gambar 4.2 Distribusi frekuensi karakteristik ibu responden berdasarkan tingkat pendidikan di Polindes Purwojati Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto tanggal 21-28 Agustus 2012.

            Berdasarkan gambar 4.2 di atas menunjukkan karakteristik ibu responden berdasarkan tingkat pendidikan dari 30 ibu responden adalah tingkat pendidikan SMP sebanyak 10 orang dengan persentase 33%.

3. Karakteristik Ibu Responden Berdasarkan pekerjaan
Gambar 4.3 Distribusi frekuensi karakteristik ibu responden berdasarkan pekerjaan di Polindes Purwojati Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto tanggal 21-28 Agustus 2012.

            Berdasarkan gambar 4.3 di atas menunjukkan karakteristik ibu responden berdasarkan pekerjaan dari 30 ibu responden adalah sebagai IRT (Ibu Rumah Tangga) sebanyak 20 orang dengan persentase 67%.
4.1.3 Data Umum  Anak Usia 4-6 bulan
1. Karakteristik Responden Anak Usia 4-6 bulan Berdasarkan Umur
Gambar 4.4 Distribusi frekuensi karakteristik responden anak usia 4-6 bulan berdasarkan umur di Polindes Purwojati Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto tanggal 21-28 Agustus 2012.

            Berdasarkan gambar 4.4 di atas menunjukkan karakteristik responden berdasarkan umur dari 30 responden adalah umur 4 bulan sebanyak 10 anak dengan persentase 34%.
2. Karakteristik  Responden Anak Usia 4-6 bulan Berdasarkan Jenis Kelamin
Gambar 4.5 Distribusi frekuensi karakteristik responden anak usia 4-6 bulan berdasarkan jenis kelamin di Polindes Purwojati Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto tanggal 21-28 Agustus 2012.

            Berdasarkan gambar 4.5 di atas menunjukkan karakteristuk responden berdasarkan jenis kelamin dari 30 responden adalah jenis kelamin Perempuan sebanyak 16 orang dengan persentase 53%.
3. Karakteristik Responden Anak Usia 4-6 bulan Berdasarkan Pengasuh
Gambar 4.6 Distribusi frekuensi karakteristik responden anak usia 4-6 bulan berdasarkan pengasuh di Polindes Purwojati Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto tanggal 21-28 Agustus 2012.

            Berdasarkan gambar 4.6 di atas menunjukkan karakteristik responden berdasarkan pengasuh dari 30 responden sebanyak 22 anak dengan persentase 73% diasuh oleh orang tuanya sendiri.

4. Karakteristik Responden Anak Usia 4-6 bulan Berdasarkan Pemberian Makanan Tambahan
Gambar 4.7 Distribusi frekuensi karakteristik responden anak usia 4-6 bulan berdasarkan pemberian makanan tambahan di Polindes Purwojati Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto tanggal 21-28 Agustus 2012.

            Berdasarkan gambar 4.7 di atas  menunjukkan karakteristik responden berdasarkan pemberian makanan tambahan dari 30 responden sebanyak 17 anak dengan persentase 57% diberi makanan tambahan setelah berumur > 6 bulan.
4.1.4 Data Khusus Anak Usia 4-6 bulan
1. Karakteristik Responden Anak Usia 4-6 bulan Berdasarkan Status Gizi dan Menurut BB/U
Gambar 4.8 Distribusi frekuensi karakteristik responden anak usia 4-6 bulan berdasarkan status gizi dan pertumbuhan menurut BB/U di Polindes Purwojati Kecamatan Ngoro Kabbupaten Mojokerto tanggal 21-28 Agustus 2012.

            Berdasarkan gambar 4.8 di atas menunjukkan karakteristik responden berdasarkan status gizi dan pertumbuhan menurut BB/U sebanyak 16 anak dengan persentase 54% menunjukkan status gizi baik.
2. Karakteristik Responden Anak Usia 4-6 bulan Berdasarkan Perkembangan Bahasa
Gambar 4.9 Distribusi frekuensi karakteristik responden anak usia 4-6 bulan berdasarkan perkembangan bahasa di Polindes Purwojati Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokertotanggal 21-28 Agustus 2012

            Berdasarkan gambar 4.9 di atas menunjukkan karakteristik responden berdasarkan perkembangan bahasa dari 30 responden sebanyak 17 anak dengan persentase 57% menunjukkan perkembangan Normal.
4.1.5 Hubungan Status Gizi dengan Perkembangan Aspek Bahasa anak Usia 4-6 bulan
Tabel 4.1 Pengaruh status gizi terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak usia 4-6 bulan di Polindes Purwojati Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto.
Status Gizi
Perkembangan Bahasa
Total
Normal
Suspect
Untestable
Lebih
1
3 %
0
0 %
0
0 %
1
3 %
Baik
16
54 %
0
0 %
0
0 %
16
54 %
Sedang
0
0 %
0
0 %
6
20 %
6
20 %
Kurang
0
0 %
3
10 %
1
3 %
4
13 %
Buruk
0
0 %
3
10 %
0
0 %
3
10 %
Total
17
57 %
6
20 %
7
23 %
30
100 %
Dari tabel di atas didapatkan :
∑ D = 28
∑ D2 = 48
Kemudian dimasukkan ke dalam rumus rho spearman
Rhoxy   = 1 -  6  ∑D2 
                      N (N2-1)

            = 1 -  6 (48)
                    30 (302-1)

            = 1 -  288
                     30 (900-1)

            = 1 -  288
                      30 (899)

            = 1 -   288
                       26.970
            = 1 -  0,010678
            = 0,989322
            = 0,989
            Dari hasil rhoxy didapatkan hasil 0,989 setelah dibandingkan pada tabel harga rho spearman pada 30 responden, dengan interval kepercayaan 99% adalah 0,478. Jika harga kritis dari rho spearman 0,478 maka kurang dari nilai rhoxy 0,989. Jadi H0 ditolak, Hi diterima atau ada pengaruh status gizi terhadap perkembangan bahasa anak usia 4-6 bulan di Polindes Purwojati Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto.

4.2 Pembahasan
4.2.1 Status Gizi Anak Usia 4-6 bulan
            Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan terhadap status gizi anak usia 4-6 bulan dari 30 responden didapatkan anak dengan status gizi lebih 1 responden (3%), status gizi baik 16 responden (54%), status gizi sedang 6 responden (20%), status gizi kurang 4 responden (13%), status gizi buruk 3 responden (10%) (gambar 4.8). Dari data di atas sebagian besar anak usia 4-6 bulan dengan asupan gizi yang baik adalah 54%.
Hal tersebut di atas dilihat dari lembar pemeriksaan yang dicocokkan dengan angka baku status gizi WHO-NCHS yang dikatakan baik apabila nilainya diantara 80% - 120% dan juga penambahan yang dicatat dalam KMS yang dikatakan baik bila garis pertumbuhannya naik mengikuti salah satu pita warna atau garis pertumbuhannya naik dan pindah ke pita warna di atasnya. Status gizi yang baik didapat karena pemberian ASI eksklusif kepada bayi, dan juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan orang tua.
Dengan menggunakan KMS akan mempermudah para ibu untuk menjaga dan memperhatikan kecukupan gizi pada anaknya supaya pertumbuhan dan perkembangannya normal (Suhardjo, 2005: 120). Status gizi anak usia 4-6 bulan juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan orang tua karena dengan pendidikan yang baik diharapkan dapat dengan mudah menerima informasi tentang gizi. karena semakin tinggi pendidikan seseorang akan mempermudah dalam menerima informasi (Notoatmodjo, 2005: 23). Pemberian makanan yang terlalu dini atau sebelum organ pencernaan bayi siap menerima makanan padat, akan mengganggu  proses penyerapan zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh bayi. Sehingga akan mempengaruhi status gizi bayi tersebut (Arsad, 2010).
            Dalam menjaga agar kecukupan gizi pada anak usia 4-6 bulan tetap baik adalah dengan cara tidak merubah asupan gizi yang sudah diberikan dan harus diperhatikan dalam pemberian makanan sesuai dengan kebutuhan pada tahapan usianya.
4.2.2 Perkembangan Bahasa Anak anak usia 4-6 bulan
            Dari penelitian yang telah dilaksanakan tentang hubungan status gizi dengan perkembangan bahasa anak usia 4-6 bulan dari 30 responden didapatkan data tentang perkembangan bahasa normal sebanyak 17 responden (57%), perkembangan bahasa suspect sebanyak 6 responden (20%), dan perkembangan bahasa tidak dapat diuji sebanyak 7 responden (23%) (gambar 4.9). Dari data di atas sebagian besar anak usia 4-6 bulan dengan perkembangan bahasa normal 57%.
Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh pola asuh yang baik dari orang tua dan juga dari lingkungan disekitarnya. Komunikasi yang baik antara orang tua dengan anak akan memberikan stimulus yang baik bagi bayi untuk belajar hal baru.
Pertumbuhan fisik merupakan dasar dari perkembangan berikutnya. yang mana pola asuh orang tua dilatar belakangi oleh pengaruh budaya dan lingkungan, anak yang menerima contoh berbahasa yang tidak adekuat dari keluarga, yang tidak memiliki pasangan komunikasi yang cukup dan juga yang kurang memiliki kesempatan untuk berinteraksi akan memiliki kemampuan bahasa yang rendah. Jumlah dan posisi anak dalam keluarga juga mempengaruhi perkembangan bahasa seorang anak, suatu keluarga yang memiliki banyak anggota keluarga akan mempengaruhi perkembangan bahasa anak lebih cepat, karena terjadi komunikasi yang bervariasi dibandingkan dengan yang hanya memiliki anak tunggal dan tidak ada anggota lain selain keluarga inti (www.wordpress.com,2010). Pendidikan orang tua juga sangat mempengaruhi  perkembangan bahasa anak karena dengan pendidikan yang baik, maka diharapkan orang tua dapat terbuka dengan berbagai informasi yang ada, selain itu tingkat pendidikan orang tua yang rendah merupakan faktor resiko keterlambatan bahasa pada anaknya. karena semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan memudahkan dalam menerima informasi (Notoatmodjo, 2005: 23). Selain  hal di atas perkembangan yang baik pada anak juga dipengaruhi oleh faktor usia orang tua dimana biasanya orang tua yang terlalu muda belum siap menerima keadaannya dan menyerahkan semua tanggung jawab pada ibunya (nenek), bahkan sebaliknya jika terlalu tua anak bisa tidak terurus dengan baik. Menjadi orang tua diperlukan kesiapan fisik dan psikis, rentang usia tertentu adalah baik untuk menjadi orang tua apabila terlalu muda dan terlalu tua mungkin tidak dapat menjalankan peran tersebut secara optimal (Supartini, 2005:36)
            Dalam mempertahankan agar perkembangan bahasa anak ataupun perkembangan lainnya tetap berjalan normal perlu diperhatikan pola pengasuhan dari orang tua dan asupan gizi yang sesuai dengan kebutuhannya, Untuk membantu perkembangannya orang tua dapat membantu memberikan stimulasi yang disesuaikan dengan keunikan masing-masing anak.


4.2.4 Hubungan Status Gizi dengan Perkembangan Aspek Bahasa Anak Usia 4-6 Bulan
            Dari hasil penelitian didapatkan status gizi lebih dengan perkembangan bahasa yang normal sebanyak 3%, status gizi baik dengan perkembaangan bahasa normal sebanyak 54 %, status gizi sedang dengan perkembangan bahasa tidak dapat diuji sebanyak 20%, status gizi kurang dengan perkembangan bahasa suspect sebanyak 10% dan perkembangan bahasa tidak dapat diuji sebanyak 3%, status gizi buruk dengan perkembangan bahasa suspect sebanyak 10% (Tabel 4.1). sebagian besar status gizi yang baik juga diikuti perkembangan bahasa yang normal.
            Hal tersebut dikarenakan anak yang mendapatkan gizi yang cukup dan pola asuh yang baik akan mempengaruhi status gizi anak dan tingkat perkembangan bahasanya. gizi merupakan modal dasar bagi tubuh untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Selain itu, pengetahuan ibu yang baik akan membawa dampak pada pertumbuhan serta perkembangan anak yang baik pula.
Perkembangan bahasa pada anak didukung oleh kematangan alat-alat bicara misalnya tenggorokan, langit-langit, lebar rongga mulut, dll., kesiapan berbicara juga dipengaruhi oleh kesiapan mental anak yang sangat bergantung pada pertumbuhan dan kematangan otak. gizi yang cukup dan baik akan membantu proses pematangan sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem organ yang akan berkembang sedemikian rupa, sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya secara normal (Ade Suryani, 2010).
            Dalam mempertahankan agar status gizi dan perkembangan tetap baik dan normal dengan cara tetap memperhatikan asupan gizi yang baik dan pola asuh yang diterapkan orang tua sesuai dengan tahapan usianya.