Minggu, 23 Juni 2013

PENGARUH MENGKONSUMSI AIR REBUSAN DAUN BINAHONG (Anredera Cordifolia (Tenore) Steen) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA PERINEUM PADA IBU NIFAS DI BPS. Ny.DIAN SUSILORINI Amd. Keb. NGRONGGOT NGANJUK

ABSTRAK

Pengaruh Mengkonsumsi Air Rebusan Daun Binahong (Anredera Cordifolia (Tenore) Steen) Terhadap  Penyembuhan Luka Perineum Pada
Ibu Nifas Di BPS.Ny.Dian Susilorini Amd. Keb.
Ngronggot Nganjuk


            Penyembuhan luka adalah panjang waktu proses pemulihan pada kulit karena adanya kerusakan atau disintegritas jaringan kulit. Tanaman binahong merupakan salah satu tanaman herbal yang ada di indonesia yang digunakan sebagai obat terutama untuk mempercepat penyembuhan luka. Tanaman binahong mengandung zat antiseptik yang mampu membunuh kuman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh  mengkonsumsi air rebusan daun binahong terhadap penyembuhan luka perineum pada ibu nifas.
            Desain dari penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan cross sectional. Responden pada penelitian ini adalah ibu nifas. Pengambilan sampel dengan cara total sampling sejumlah 26 responden. Data yang dikumpulkan dengan menggunakan lembar observasi dan wawancara terstruktur untuk memperoleh data tentang pengaruh mengkonsumsi air rebusan daun binahong terhadap penyembuhan luka perineum pada ibu nifas. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah mengkonsumsi air rebusan daun binahong, sedangkan variabel terikatnya adalah proses penyembuhan luka perineum pada Ibu nifas.
Pada penelitian ini hampir seluruhnya ibu yang mengkonsumsi air rebusan daun binahong mengalami penyembuhan luka secara cepat yaitu 13 orang (81,3%), sedangkan sebagian kecil ibu yang tidak mengkonsumsi air rebusan daun binahong mengalami penyembuhan luka cepat yaitu 3 orang ( 18,7%).
Dari hasil perhitungan dengan mengunakan uji Chi Square dengan manual  diperoleh hasil H1 diterima jika (χ)2 hitung > (χ)2 Tabel. Karena 4,63 > 3,84 Berarti ada pengaruh mengkonsumsi air rebusan daun binahong terhadap penyembuhan luka perineum pada ibu nifas.
Banyaknya faktor yang mempengaruhi proses penyembuhan luka perineum, sehingga proses penyembuhan luka tidak sama, maka dari itu sebagai seorang bidan harusnya  memberikan konseling terhadap setiap ibu post partum tentang personal hygine dan memberikan informasi mengenai hal-hal baru yang dapat menunjang proses penyembuhan luka seperti halnya penggunaan air rebusan daun binahong.

Kata Kunci : Daun binahong, penyembuhan luka perineum





ABSTRACT

Consumtion effect The Water of Braise of Leaf Binahong ( Anredera Cordifolia (Tenore) Steen) To Healing of Wound PerineumAt Ms. Child Bed In
BPS Ny. Dian Susilorini Amd. Keb.Ngronggot Nganjuk

Indayanti

            Healing of wound is time lenght process cure at husk caused by or damage of disintegritas hust network. Plant of binahong is once plant herbal in Indonesian use as medicine for to fast healing of wound. Plant of binahong pregnant of antiseptic capble to kill germ. Intention of this research is to analyse influence consumtion boil’s water of lief binahong about healing wound of perineum at post partum’s mother.
            Desain in this research is analytic with approach of sectional cross. Responder at this research is post partum’s mother. Intake of sampel by totalizeing sampling a number of 26 responnder. Collected data by using observation sheet and structure interview to get data about influence consumtion boil’s water of lief binahong about healing wound of perineum at post partum’s mother. Free variable in this research is influence consumtion boil’s water of lief binahong, while variable tied of healing wound of perineum at post partum’s mother.
Result of research indicate that most mother consuming water of braise of leaf binahong experience of the wound healing quickly that is 13 people (81,3%), while mother which do not consume the water of braise of leaf binahong experience of the wound healing quickly that is 3 people ( 18,7%).
            From result of calculation by using test of chi Square with manuall by result H1 received if (χ)2 acount > (χ)2 tables. Cause 4,63 > 3,84 to mean there is Consumtion effect boil’s water of lief binahong about healing wound of perineum at post partum’s mother.
            To the number of factor influencing process of healing of wound perineum, so that process the unegual wound healing, hence from that as a midwife ought to give the counseling to every mother of post partum of about personal hygine and give the information of concerning novelty which can support the process of wound healing as does use irrigate the rebusan of leaf binahong.


Keyword : Lief binahong, healing wound of perineum


BAB  1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Indonesia dikenal sebagai negara dengan sumber daya hayati kedua terbesar yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Terdapat lebih kurang 30.000 jenis tanaman, lebih kurang 7.500 jenis diantaranya termasuk tanaman berkhasiat obat. Jumlah tanaman obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat baru sekitar 1.000 hingga 1.200 jenis (www.pom.go.id, 2010). Tradisi meracik obat tradisional sudah ada sejak nenek moyang. Beragam jenis tanaman diracik sebagai ramuan jamu untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Salah satu tanaman tersebut adalah Binahong (Anredera Cordifolia (Tenore) Steen) Tanaman ini dikenal dikalangan di kalangan cina adalah dengan nama Dheng San Ji sebagai tanaman merambat di tanah dan berasal dari dataran Thiongkok. Di Indonesia tanaman ini tumbuh menjalar dan sering digunakan sebagai gendola atau gapura sehingga mendapat julukan tanaman gendola (Basella rubra linn), selain itu tanaman ini  digunakan oleh masyarakat untuk terapi herbal dan terutama untuk membantu proses penyembuhan berbagai penyakit. Salah satu khasiat yang paling terkenal adalah mempercepat proses penyembuhan luka. (www.groups.yahoo.com/binahong, 2010). Penyembuhan luka adalah panjang waktu proses pemulihan pada kulit karena adanya kerusakan atau disintegritas jaringan kulit. Respon vaskular dan selular terjadi ketika jaringan teropong atau mengalami cidera (Smelzer, 2002)
Kematian ibu menurut World Health Organization (WHO) adalah kematian yang terjadi pada saat kehamilan, persalinan, nifas dengan penyebab yang berhubungan langsung atau tidak langsung dari kehamilan, persalinan, dan nifasa (Depkes, 1999). Penyebab langsung kematian tersebut dikenal dengan Trias Klasik yaitu Perdarahan (28%), eklampsia (24%) dan infeksi (11%). Menurut LB.3 KIA tahun 2006 penyebab terbesar kematian ibu berturut-turut adalah perdarahan 34,62% diikuti keracunan kehamilan (Pre eklamsi) 14,01%, infeksi 3,02% dan penyebab yang lainnya 40,11%, bila dilihat dari hasil laporan tersebut, perlu dicermati bahwa masyarakat masih belum memahami secara benar penanganan ibu hamil, melahirkan, dan nifas, masyarakat masih menganggap perdarahan yang dialami ibu nifas merupakan suatu hal yang biasa (www.depkes.go.id, 2010). Badan pusat statistik Jawa Timur 2005, mencatat angkan kematian ibu (AKI) menurun dari 334 tian 100.000 kelahiran hidup menjadi 262 setiap 100.000 kelahiran hidup, 32% disebabkan karena infeksi pada masa nifas diantaranya 7% karena infeksi jalan lahir. Berdasarkan  data yang diperoleh di BPS. Dian Susilorini Amd Keb.desa Trayang Kec.Ngronggot Nganjuk pada bulan Januari 2010 jumlah ibu nifas yang mengalami luka perineum ada 15 orang, 4 orang ibu nifas (26,6%) mengalami penyembuhan yang tidak sempurna, dan 11 orang ibu nifas (73,3%) mengalami penyembuhan yang sempurna. Pada bulan Februari 2010 jumlah ibu nifas yang mengalami luka perineum ada 11 orang, 4 orang ibu nifas (36,4%) mengalami penyembuhan yang tidak sempurna, dan 6 orang ibu nifas (63,6%) mengalami penyembuhan yang sempurna.Dari data tersebut dapat diketahui bahwa kejadian penyembuhan luka perineum tidak sempurna mengalami peningkatan dari bulan januari 2010 sampai bulan Februari 2010 sebesar 9,8%.
Banyak hal yang meyebabkan robekan perineum pada saat persalinan, dimana kepala janin terlalu cepat lahir, persalinan tidak dipimpin sebagaimana mestinya, selain itu perlunya tindakan episiotomi agar tidak terjadi robekan perineum yang luas. Hal ini dapat memicu terjadinya infeksi atau perdarahan abnormal. Infeksi nifas mencakup semua peradangan yang disebabkan masuknya kuman–kuman kedalam alat genetalia pada waktu persalin dan waktu masa nifas. Demam nifas adalah kenaikan suhu sampai 38oC atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama pasca melahirkan, lockea berbau busuk, selain itu rahimnya menjadi lembek dan tidak berkontraksi sehingga bisa terjadi perdarahan (Winkjosastro, 2004). Faktor yang mempengarui penyembuhan luka yaitu lingkungan, tradisi, pengetahuan, sosial ekonomi, penanganan petugas, kondisi ibu, status gizi, usia, penangan jarngan, haemorargie, hypovoleria, faktor lokal oedema, defisit nutrisi, personal hygiene, defisit oksigen, medikas, dan over aktifitas (Varney, 2005). Pengunaan tanaman untuk pengobatan telah lama dikenal oleh masyarakat, bahkan sudah diturunkan dari nenek moyang kita dari generasi kegenerasi berikutnya. Usaha pengembangan tanaman untuk pengobatan perlu dilakukan dan dikembangankan.
Untuk mempercepat penyembuhan luka perineum, perlu dilakukan perawatan luka perineum pada ibu nifas secara khusus selain itu kebersihan juga harus dijaga. Alternatif lainnya adalah dengan memanfatkan tanaman Binahong (Anredera Cordifolia (Tenore) Steen) sebagai obat. Hal tersebut dilakukan mengingat bahwa tanaman Binahong mudah diperoleh, murah, tingkat bahaya dan resiko yang jauh lebih rendah. Penggunaan tanaman untuk pengobatan perlu ditunjang oleh data-data penelitian dari tanaman tersebut sehingga khasiatnya secara ilmiah tidak diragukan lagi dan dapat dipertanggungjawabkan. Bidan sebagai tenaga kesehatan harus bisa memberikan informasi cara pemanfaatan tanaman sebagai obat yang benar dan sesuai dengan aturannya. Selain itu bidan perlu memberikan informasi kepada ibu nifas tentang infeksi masa nifas dan upaya perbaikan dalam bidang pelayanan kesehatan obstetri.
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian tentang pengaruh mengkonsumsi air rebusan daun binahong terhadap penyembuhan luka perineum pada ibu nifas.

1.2  Rumusan Masalah
Apakah ada pengaruh mengkonsumsi Air Rebusan Daun Binahong (Anredera Cordifolia (Tenore) Steen)  terhadap penyembuhan luka perineum pada ibu nifas di BPS. Ny.Dian Susilorini Ngronggot-Nganjuk ?

1.3  Tujuan Penelitian
1.3.1        Tujuan umum
Untuk menggetahui pengaruh mengkonsumsi Air Rebusan Daun Binahong (Anredera Cordifolia (Tenore) Steen) terhadap penyembuhan luka perineum pada ibu nifas di BPS. Ny.Dian Susilorini Ngronggot-Nganjuk.



1.3.2        Tujuan khusus
1.                  Mengidentifikasi konsumsi Air Rebusan Daun Binahong terhadap luka perineum oleh ibu nifas di BPS. Ny.Dian Susilorini Amd Keb. Ngronggot Nganjuk.
2.                  Mengidentifikasi proses penyembuhan luka perineum pada ibu nifas di BPS. Ny.Dian Susilorini Amd Keb. Ngronggot Nganjuk.
3.                  Menganalisa pengaruh mengkonsumsi Air Rebusan Daun Binahong terhadap penyembuhan luka perineum pada ibu nifas di BPS. Ny.Dian Susilorini Amd Keb. Ngronggot Nganjuk.

1.4  Manfaat Penelitian
1.4.1        Bagi responden
Agar ibu nifas mengetahui secara jelas kegunaan dan efektivitas daun Binahong sebagai kebutuhan dalam proses peyembuhan luka pasca persalinan.
1.4.2        Bagi peneliti
Dapat menerapkan teori ini dalam bentuk nyata pada saat keadaan yang sama seperti ibu nifas
1.4.3        Bagi profesi kebidanan
Sebagai masukan dalam upaya meningkatkan pelayanan kebidanan dalam membantu menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu melalui pencegahan infeksi dan penyembuhan luka perineum yang tidak sempurna.
1.4.1        Bagi penelitian selanjutnya
Sebagai dasar untuk penelitian selanjutnya, khususnya tentang penyembuhan luka perineum pada ibu nifas

1.1  Batasan  Penelitian  
Melihat banyak faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka, maka peneliti ini hanya dibatasi pada faktor tradisi mengkonsumsi tanaman binahong. Yang tidak diteliti  adalah pada faktor lingkungan, tradisi, pengetahuan, sosial ekonomi, penanganan petugas, kondisi ibu, status gizi, usia, penangan jarngan, haemorargie, hypovoleria, faktor lokal oedema, defisit nutrisi, personal hygiene, defisit oksigen, medikas, dan overaktifitas.

BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1.      Hasil Penelitian
3.1  Gambaran umum Tempat Penelitian
Bidan praktek swasta Ny. Dian Susilorini, Amd. Keb. berdiri sejak tahun 2007 berada di  Desa Trayang Kecamatan Ngronggot Kabupaten Nganjuk, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :
Sebelah Barat adalah = desa koripan
 Sebelah selatan           = desa Kaloran
Sebelah utara               = desa Sumbersari
Sebelah timur              = desa Tempel.
Di desa Trayang sudah terdapat saluran listrik yang masuk, jalan masih makadam dan ada sebagian yang sudah beraspal, jarak antara Puskesmas induk dengan desa Trayang ± 14 km, dan dengan pustu ± 2 km. Pelayanan yang ada di BPS diantaranya yaitu pelayanan keluarga berencana (KB), Antenatal Care (ANC), persalinan, kontrol nifas, imunisasi dan balai pengobatan untuk penyakit ringan. Jumlah pasien setiap harinya rata-rata 20 pasien yang berasal dari Desa Trayang, Ngronggot. Adapun jumlah responden dari penelitian ini adalah 26 responden dilakukan mulai tanggal 08 – 21 Oktober 2010.   



3.2  Data Umum
4.1.2.1  Karakteristik Responden Berdasarkan Umur
Tabel 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur di BPS Dian Susilorini Amd. Keb. Desa Trayang Kec. Ngronggot  Nganjuk, pada bulan Oktober 2010.

No.
Umur
Jumlah
Persentase (%)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
18-21 tahun
22-25 tahun
26-29 tahun
30-33 tahun
34-37 tahun
38-41 tahun
3
5
2
14
1
1
11,54
19,23
7,69
53,85
3,85
3,85

Total
26
100
Sumber : Data Primer Oktober 2010
Berdasarkan Tabel 4.1 dapat menunjukkan bahwa dari 26 responden sebagian besar berusia 30-33 tahun sebanyak 14 0rang (53,85%).

3.3  Data Khusus
4.1.3.1  Mengkonsumsi Air Rebusan Daun Binahong
Tabel 4.2   Distribusi Frekuensi responden berdasarkan mengkonsumsi air rebusan daun binahong di BPS Dian Susilorini Amd. Keb. Desa Trayang Kec. Ngronggot  Nganjuk, pada bulan Oktober 2010.

No.

Jumlah

Persentase (%)
1.
2.
Mengkonsumsi
Tidak  Mengkonsumsi
17
9
65,4
34,6

Total
26
100
Sumber : Data Primer Oktober 2010
Berdasarkan Tabel 4.2 menunjukkan sebagian besar mengkonsumsi air rebusan daun binahong yaitu sebanyak 17 orang (65,4%).

4.1.3.2  Proses penyembuhan luka
Tabel 4.3   Distribusi Frekuensi responden berdasarkan proses penyembuhan luka di BPS Dian Susilorini Amd. Keb. Desa Trayang Kec. Ngronggot  Nganjuk, pada bulan Oktober 2010.

No.
Proses penyembuhan luka
Jumlah
Persentase (%)
1.
2.
Cepat
Lambat
16
10
38,46

Total
26
100
Data Primer Oktober 2010
Berdasarkan Tabel 4.3 menunjukkan sebagian besar proses penyembuhan luka cepat yaitu sebanyak 16 orang (61,54%).

4.1.3.3  Pengaruh mengkonsumsi air rebusan daun binahong dengan proses penyembuhan luka.
Tabel 4.4 Tabulasi silang mengkonsumsi air rebusan daun binahong dengan proses penyembuhan luka perineum di BPS Dian Susilorini Amd. Keb. Desa Trayang Kec. Ngronggot  Nganjuk, pada bulan Oktober 2010.

Mengkonsumsi air rebusan daun binahong
Proses penyembuhan luka
Cepat
Lambat
Total
%
%
%
Mengkonsumsi
13
81,3
4
40,0
17
65,4
Tidak mengkonsumsi
3
18,7
6
60,0
9
34,6
Total
16
100
10
100
26
100
Sumber : Data Primer Oktober 2010
Berdasarkan Tabel 4.4 menunjukkan bahwa hampir seluruhnya responden (81,3%) proses penyembuhan lukanya cepat mengkonsumsi air rebusan daun binahong, dan sebagian besar responden yaitu (60%) yang proses penyembuhan lukanya lambat tidak mengkonsumsi air rebusan daun binahong.


Hasil analisa menggunaan uji Chi Square dengan perhitungan manual, Hasil Chi square H1 diterima jika (χ)2 hitung > (χ)2 Tabel. Karena 4,63 > 3,84.  ada pengaruh mengkonsumsi air rebusan daun binahong terhadap penyembuhan luka perineum pada ibu nifas.

4.2.      Pembahasan
4.2.1  Mengkonsumsi Air Rebusan Daun Binahong
         Berdasarkan Tabel 4.2 menunjukan bahwa sebagian besar responden mengkonsumsi air rebusan daun binahong, yaitu sebanyak 17 orang (65,4%).
Tanaman Binahong (Anredera Cordifolia (Tenore) Steen) sejak zaman nenek moyang kita digunakan untuk terapi herbal dan terutama untuk membantu proses penyembuhan luka. Tanaman binahong mengandung Antiseptik yang mampu membunuh kuman dan dapat meningkatkan daya tahan terhadap infeksi serta mempercepat penyembuhan luka (www:etd.eprints.com, 2010).
Kandungan kimia yang terdapat pada tanaman binahong terdiri dari Asam oleanolik, Antimikroba, Asam askorbat, Saponin triterpenoid Flavonoid, Protein. Asam oleanolik mencegah masuknya racun ke dalam sel dan meningkatkan sistem pertahanan sel juga memiliki zat anti inflamasi, kandungan nitrit oksida pada asam oleanolik juga menjadi antioksidan, yang dapat berfungsi sebagai toksin yang kuat untuk membunuh bakteri. Antimikroba  zatnya ini secara teori efektif terhadap penyembuhan luka bakar dengan cara mencegah infeksi, dan mencegah meluasnya luka akibat toksik bakteri. Asam askorbat dapat meningkatkan daya tahan terhadap infeksi serta mempercepat penyembuhan,. Saponin triterpenoid pada daun binahong dapat menurunkan gula darah, dengan adanya penurunan kadar gula darah pada luka, maka dapat pula menurunkan terjadinya infeksi. Flavonoid sebagai anti-inflamasi, analgesik, anti-oksidan yang mampu mempercepat penyembuhan luka bakar. Protein dengan berat molekul yang besar, yang disebut ancordin, pada binahong dapat menjadi imunostimulan (http://birulazuardhi.wordpress.com/binahong, 2010).  
Karena terdapat banyak kandungan zat kimia yang bermanfaat inilah, tanaman binahong memiliki manfaat yang luas sebagai bahan obat, hampir semua bagian dari tanaman binahong dapat di mamfaatkan sebagai obat yaitu mulai dari umbi atau akar, batang dan daunnya. Manfaat dari tanaman binahong yaitu untuk berbagai penyakit diantaranya yaitu : Kategori Penyakit berat (Batuk/muntah darah, Paru-paru/bolong, Kencing manis, Sesak nafas, Borok akut, Patah tulang, Darah rendah, Radang ginjal, Gatal-gatal /eksim kulit, Gegar otak ringan/berat). Kategori Penyakit Ringan diantaranya : Disentri/buang air besar, Ambeyen berdarah, Hidung mimisan, Habis bedah/operasi, Luka bakar, Kecelakaan/benda tajam, Jerawat, Usus bengkak, Gusi berdarah, Kurang nafsu makan, Kelancaran haid, Habis bersalin/melahirkan, Menjaga stamina tubuh, Penghangat badan, Lemah syahwat. Untuk kategori penyakit berat tersebut dibutuhkan waktu penyembuhan 1 hingga 6 bulan, sedangkan untuk kategori penyakit ringan tersebut dibutuhkan pengobatan beberapa hari atau minggu, untuk anak-anak cukup berikan takaran separuh dewasa. Pemakaiannya bisa diseduh dengan direbus dengan air, dan bisa juga dengan pemakain luar yaitu dengan cara daun ditumbuk halus lalu dioleskan pada bagian yang sakit. Efektif menyembuhkan memar, rematik, pegal linu, nyeri urat, dan menghaluskan kulit (http://shella.blog.uns.ac.id/binahong, 2010).                                                                      
Tingginya masyarakat yang mengkonsumsi tanaman binahong didesa trayang kec.ngronggot nganjuk disebabkan karena beberapa faktor yang diantaranya adalah faktor ekonomi yaitu sesuai dengan pekerjaan masyarakat di desa trayang yang hampir sebagian besar adalah petani, dan tanaman binahong dapat tumbuh disemua musim serta mudah diperoleh sehingga dapat menghemat pengeluaran keluarga, faktor tanah yang subur menyebabkan tanaman binahong yang tumbuh tidak membutuhkan perawatan khusus. Selain itu sudah terbuktinya khasiat tanaman binahong pada sebagian orang yang telah mengkonsumsi semakin tahun semakin tinggi pengkonsumsi binahong. Ditinjau dari segi manfaat dan efek samping, tanaman binahong merupakan salah satu obat herbal dimana manfaatnya lebih besar dibandingkan efek sampingnya, berbeda halnya dengan obat-obatan modern yang tingkat bahaya dan resikonya jauh lebih tinggi.               
         Kandungan zat kimia tanaman binahong tidak diragukan lagi, masyarakat desa masih sangat yakin dan percaya bahwa tanaman binahong dapat dipergunakan sebagai pengobatan beberapa penyakit. Dan masih banyak masyarakat yang mengkonsumsinya. Apalagi sekarang tanaman binahong sudah dikemas dalam bentuk kapsul dan gel, sehingga memudahkan masyarakat untuk mengkonsumsi dan menggunakannya. Ibu seletah melahirkan kebanyakkan mengkonsumsi air rebusan daun binahong untuk mempercepat proses penyembuhan luka.

4.2.2  Proses Penyembuhan Luka Perineum Pada Ibu Nifas
            Berdasarkan Tabel 4.3 menunjukkan bahwa sebagian besar proses penyembuhan luka perineum pada ibu nifas adalah cepat yaitu sebanyak 16 orang (61,54%).
Penyembuhan adalah proses, cara, perbuatan menyembuhkan, pemulihan. Luka adalah rusaknya kesatuan/komponen jaringan, dimana secara spesifik terdapat substansi jaringan yang rusak atau hilang (Somantri, 2007). Jadi penyembuhan luka adalah panjang waktu proses pemulihan pada kulit karena adanya kerusakan atau disintegritas jaringan kulit. Luka Perineum adalah perlukaan yang terjadi akibat persalinan pada bagian perineum dimana muka janin menghadap (Prawiroharjo, 2002). Episiotomi adalah insisi perineum yang dimulai dari cincin vulva kebawah, menghindari anus dan muskulus spingter serta memotong fasia pelvis, muskulus konstrikter vagina, muskulus tranversus perineum dan terkadang ikut terpotong serat dari muskulus levator ani (Moljono, 2008). Ruptur perineum merupakan robekan yang terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya (Marsianto, 2002:665). Proses penyembuhan luka melalui 4 tahap, yaitu tahap inflamasi, tahap destruktif, tahap poliferatif, tahap maturasi. Tahap inflamasi tahap ini dimulai saat terjadinya luka. Tahap destruktif tahap ini terjadi pembersihan jaringan yang mati oleh leukosit polimorfonuklear dan makrofag. Tahap poliferatif pada fase ini terjadi pertumbuhan jaringan baru melalui proses : Granulasi, Kontraksi luka, Epiteliasisasi, tahap maturasi yaitu setelah epitelialisasi selesai, jaringan yang baru mengalai proses matures bila mengalami “remodelling” untuk meningkatkan kekuatan regangan jaringan parut, jaringan yang  matur bersifat avaskular dan tidak mngandung kelenjar keringat atau kelenjar lemak maupun rambut. Tahap ini terjadi repitelisasi kontraksi luka dan organisasi jaringan ikat (Smeltzer, 2002).
 Masa Nifas (puerperium) adalah dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Bahari, 2002:122). Seorang wanita menginginkan jalan lahir kembali pada keadaan sebelum hamil dan melahirkan dengan cepat karena rasa sakit yang lama dapat mengganggu aktivitas da rasa nyaman. Berdasarkan hasil penelitian tersebut proses percepatan penyembuhan luka perineum disebabkan oleh beberapa faktor yang diantranya adalah lingkungan, tradisi, pengetahuan, sosial ekonomi, penanganan petugas, kondisi ibu, status gizi, usia, penangan jarngan, haemorargie, hypovoleria, faktor lokal oedema, defisit nutrisi, personal hygiene, defisit oksigen, medikas, dan over aktifitas. Secara normal luka dapat sembuh selama 6-7 hari bila seorang ibu dapat melakukan perawatan dengan baik, sebaliknya jika luka tidak dilakukan perawatan dengan baik maka proses penyembuhan luka menjadi lebih lama dan dapat menyebabkan infeksi (Mochtar, 1998:116).
Perawatan luka pada perineum ada beberapa cara, yaitu diantaranya pada saat mandi, ibu post partum pasti melepas pembalut, setelah terbuka maka ada kemungkinan terjadi kontaminasi bakteri pada cairan yang tertampung pada pembalut, untuk itu maka perlu dilakukan penggantian pembalut, demikian pula pada perineum ibu, untuk itu diperlukan pembersihan perineum. Setelah buang air kecil yaitu pada saat buang air kecil, pada saat buang air kecil kemungkinan besar terjadi kontaminasi air seni padarektum akibatnya dapat memicu pertumbuhan bakteri pada perineum untuk itu diperlukan pembersihan perineum. Setelah buang air besar yaitu pada saat buang air besar, diperlukan pembersihan sisa-sisa kotoran disekitar anus, untuk mencegah terjadinya kontaminasi bakteri dari anus ke perineum yang letaknya bersebelahan maka diperlukan proses pembersihan anus dan perineum secara keseluruhan.
 Hampir setiap persalinan normal melalui jalan lahir mengakibatkan trauma pada jaringan dan mukosa vagigenetna akibat tekanan bagian keras  janin. Seorang wanita menginginkan jalan lahir kembali pada keadaan sebelum hamil dan melahirkan dengan cepat karena rasa sakit yang lama dapat mengganggu aktivitas da rasa nyaman. Sehingga seorang ibu nifas harus bisa menjaga kebersihan terutama pada daerah alat genetalianya.

4.3.      Pengaruh Mengkonsumsi Air Rebusan Daun Binahong terhadap penyembuhan luka perineum pada ibu nifas
Berdasarkan Tabel 4.4 menunjukkan bahwa hampir seluruhnya ibu yang mengkonsumsi air rebusan daun binahong mengalami penyembuhan luka secara cepat yaitu 13 orang (81,3%), sedangkan sebagian kecil ibu yang tidak mengkonsumsi air rebusan daun binahong mengalami penyembuhan luka cepat yaitu 3 orang ( 18,7%).
Hasil analisa menggunaan uji Chi Square dengan perhitungan manual, Hasil Chi square H1 diterima jika (χ)2 hitung > (χ)2 Tabel. Karena 4,63 > 3,84.  maka ada pengaruh mengkonsumsi air rebusan daun binahong terhadap penyembuhan luka perineum pada ibu nifas
Ibu yang tidak mengkonsumsi air rebusan daun binahong yang mengalami penyembuhan lambat diketahui bahwa perbedaan proses penyembuhan luka perineum pada ibu nifas yang mengkonsumsi air rebusan daun binahong dan yang tidak mengkonsumsi air rebusan daun binahong disebabkan karena tanaman binahong mengandung antiseptik yang mampu membunuh kuman dan dapat meningkatkan daya tahan terhadap infeksi serta mempercepat penyembuhan luka, selain itu faktor lain yang berpengaruh terhadap proses penyembuhan luka yaitu faktor lingkungan, tradisi, pengetahuan, sosial ekonomi, penanganan petugas, kondisi ibu, status gizi, usia, penangan jarngan, haemorargie, hypovoleria, faktor lokal oedema, defisit nutrisi, personal hygiene, defisit oksigen, medikas, dan over aktifitas. Faktor lingkungan  adanya dukungan dari lingkungan keluarga, dimana ibu akan selalu merasa mendapatkan perlindungan dan dukungan serta nasehat-nasehat khususnya orang tua dalam merawat kebersihan pasca persalinan.Tradisi, di Indonesia ramuan peninggalan nenek moyang untuk perawatan pasca persalinan masih banyak digunakan, meskipun oleh kalangan masyarakat modern. Pengetahuan, pengetahuan ibu tentang perawatan pasca persalinan sangan menentukan lama penyembuhan luka perineum. Sosial Ekonomi, pengaruh dari kondisi sosial ekonomi ibu dengan lama penyembuhan luka perineum adalah keadaan fisik dan mental ibu dalam melakukan aktifitas sehari-hari pasca persalinan. Penangan petugas, pada saat persalinan, pembersihannya harus dilakukan dengan tepat oleh penanganan petugas kesehatan. Kondisi ibu, kondisi kesehatan ibu baik secara fisik maupun mental dapat menyebabkan lamanya penyembuhan. Penanganan Jaringan, penanganan yang kasar menyebabkan cidera dan memperlambat  penyembuhan. Hemoragi, akumulasi darah menciptakan ruang rugi juga sel-sel mati yang harus disingkirkan, area menjadi pertumbuhan untuk infeksi. Hipovolemia, volume darah yang tidak mencukupi mengarah pada vasokontriksi dan penurunan oksigen dan nutrient yang. Tersedia. Faktor lokal edema, penurunan suplai oksigen melalui gerakan meningkatkan tekanan intertisial pada pembuluh. Defisit nutrisi, sekresi insulin dapat dihambat, sehingga menyebabkan glukosa darah meningkat. Personal Hygiene, kebersihan diri dapat menghambat penyembuhan. Defisit oksigen, oksigen yang tidak memadai dapat diakibatkan tidak adekuatnya fungsi paru dan kardiovaskuler setempat, Medikasi, Steroid dapat menyamarkan adanya infeksi dengan menggangu respon inflamasi normal. Over aktivitas, menghambat perapatan tepi luka, menggangu penyembuhan yang diinginkan (Alimun,2006:135). Maka dari banyak faktor yang membantu proses penyembuhan luka perineum, sehingga seorang bidan harusnya  menberikan konseling terhadap setiap ibu post partum tentang personal hygine dan nutrisi serta memberikan informasi mengenai hal-hal baru yang dapat menunjang proses penyembuhan luka seperti halnya penggunaan air rebusan daun binahong.
Setiap ibu yang melahirkan normal mengalami trauma pada jalan lahir sehingga menimbulkan luka, Luka jalan lahir yang dilakukan penjahitan membutuhkan proses penyembuhan luka lebih lama dibanding dengan yang hanya terjadi lecet atau lebam saja. Selain itu rasa sakit yang berkepanjangan dapat menimbulkan rasa tudak nyaman. Oleh karena itu ibu dan keluarga harus berusaha untuk mencari solusi supaya proses penyembuhan luka perineum tidak berlangsung lambat, sesuai dengan masa penyembuhan secara normal. Salah satu upaya yang dilakukan dan menjadi tradisi oleh masyarakat adalah melakukan perawatan luka jalan lahir dengan mengkonsumsi air rebusan daun binahong yang di yakini sebagai obat untuk mempercepat proses penyembuhan luka perineum. 
  
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1        Kesimpulan
1.            Sebagian besar responden mengkonsumsi air rebusan daun binahong yaitu sebanyak 17 orang (65,4%).
2.            Proses penyembuhan luka perineum responden sebagian besar berlangsung cepat  yaitu sebanyak 16 orang (61,5%).
3.            Ada pengaruh mengkonsumsi air rebusan daun binahong terhadap penyembuhan luka perineum pada ibu nifas.

5.2        Saran
5.2.1  Bagi Responden
         Diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan tentang mengkonsumsi air rebusan daun binahong dan proses penyembuhan luka perineum pada ibu nifas, baik melalui media massa maupun media elektronik, sehingga ibu dapat mencegah terjadinya infeksi da proses penyembuhan luka yang lambat.

5.2.2  Bagi Peneliti
Dapat menerapkan teori ini dalam bentuk nyata pada saat keadaan yang sama seperti ibu nifas.

5.2.3  Bagi Profesi Kebidanan
         Diharapkan Bidan memberikan penyuluhan kepada ibu nifas cara perawatan luka perineum yang benar dan mengkonsumsi ramuan yang diperbolehkan.

5.2.4  Bagi Penelitian Selanjutnya
            Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai data dasar pada penelitian selanjutnya khususnya tentang pemanfaatan tanaman herbal untuk proses penyembuhan luka perineum, dengan memperluas bidang kajian dan melengkapi kekurangan pada metode penelitian yang sudah ada.

0 komentar:

Poskan Komentar