Minggu, 23 Juni 2013

HUBUNGAN PENGETAHUAN SUAMI TENTANG KONTRASEPSI HORMONAL DENGAN PEMILIHAN ALAT KONTRASEPSI PADA IBU MENYUSUI DI BPS NY. “L” DESA JRAMBE KECAMATAN DLANGGU KABUPATEN MOJOKERTO

BAB  I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
1
 
Kontrasepsi hormonal adalah alat atau obat kontrasepsi yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kehamilan yang ditambahkan ke dalam tubuh seorang wanita dengan cara diminum (pil), disuntikkan (alat kontrasepsi suntik) ataupun dimasukkan ke dalam tubuh berupa susuk (implan) dimana bahan bakunya mengandung preparat estrogen dan progesteron ataupun gabungan keduanya (Harnas, 2010). Akan tetapi bagi ibu menyusui, penggunaan kontrasepsi hormonal sangat berpengaruh terhadap kelancaran keluarnya ASI. Suami sebagai kepala keluarga menjadi faktor penting dalam pemilihan kontrasepsi yang digunakan ibu menyusui. Pengetahuan suami yang kurang tentang kontrasepsi menyebabkan anjuran yang diberikan kurang tepat selama menyusui dan ini bisa menghambat kelancaran keluarnya ASI. Kurangnya pengetahuan suami tentang kontrasepsi menyebabkan munculnya resiko seperti bisa menghambat keluarnya ASI.
Menurut WHO, tahun 2009 hampir 380 juta pasangan menjalankan keluarga berencana dan 65-75 juta diantaranya terutama di negara berkembang menggunakan kontrasepsi hormonal seperti pil, suntik dan implant. Akan tetapi 5% dari jumlah tersebut penggunanya adalah ibu menyusui dengan pemilihan kontrasepsi kombinasi atau kontrasepsi dengan hormon esterogen saja (Hevitia, 2009). Sebagian besar kesalahan pemilihan dikarenakan anjuran yang tidak tepat dari suami dalam memilih alat kontrasepsi. Data akseptor alat kontrasepsi kombinasi di Daerah Tingkat I Jawa Timur tahun 2009 sebesar 75,82% dari keseluruhan pasangan usia subur, dengan perincian yang dipakai adalah suntikan (66%), pil (19%), dan implant atau susuk alat kontrasepsi (15%) (Pikas,2009) Akan tetapi 8% diantaranya adalah ibu menyusui yang salah memilih jenis kontrasepsi karena anjuran salah dari suami. Di Mojokerto, data cakupan akseptor alat kontrasepsi hormonal tahun 2009 sebesar 15.345 akseptor (72,02%) dengan 10% diantaranya adalah ibu menyusui dengan menggunakan kontrasepsi kombinasi.kejadian ini karena anjuran suami yang tidak mengetahui tentang kontrasepsi selama menyusui (Pikas, 2009). Studi pendahuluan yang dilakukan tanggal 05 April 2010 di BPS Ny. ”L” Dlanggu Mojokerto. Semuanya memakai kontrasepsi hormonal jenis suntik. Didapatkan data dari 10 ibu menyusui yang menggunakan alat kontrasepsi hormonal ditemukan 2 ibu menyusui (20%) yang menggunakan kontrasepsi kombinasi mempunyai suami dengan pengetahuan kurang tentang penggunaan kontrasepsi hormonal untuk ibu menyusui. Sedangkan 8 ibu (80%) yang menggunakan kontrasepsi dengan kandungan progesteron mempunyai suami dengan pengetahun kurang tentang penggunaan kontrasepsi hormonal untuk ibu menyusui.
Menurut Depkes (2010) metode kontrasepsi bekerja dengan dasar mencegah sperma laki-laki mencapai dan membuahi telur wanita (fertilisasi) atau mencegah telur yang sudah dibuahi untuk berimplantasi (melekat) dan berkembang di dalam rahim.  Ada  beberapa  metode  dalam  kelompok alat kontrasepsi ini yakni berupa
pil, suntikan dan susuk. Ketiganya efektif mengandung hormon dengan komposisi yang kurang lebih sama (Permata hati, 2009). Menurut Depkes (2010) kontrasepsi oral kombinasi (pil) mengandung sintetik estrogen dan preparat progestin yang mencegah kehamilan dengan cara menghambat terjadinya ovulasi (pelepasan sel telur oleh indung telur) melalui penekanan hormon LH dan FSH, mempertebal lendir mukosa servikal (leher rahim), dan menghalangi pertumbuhan lapisan endometrium. Pil kombinasi ada yang memiliki estrogen dosis rendah dan ada yang mengandung estrogen dosis tinggi. Estrogen dosis tinggi biasanya diberikan kepada wanita yang mengkonsumsi obat tertentu (terutama obat epilepsy). Selain untuk kontrasepsi, oral kombinasi dapat digunakan untuk menangani dismenorea (nyeri saat haid), menoragia, dan metroragia. Oral kombinasi tidak direkomendasikan untuk wanita menyusui, sampai minimal 6 bulan setelah melahirkan. Pil kombinasi yang diminum oleh ibu menyusui bisa mengurangi jumlah air susu dan kandungan zat lemak serta protein dalam air susu. Hormon dari pil terdapat dalam air susu sehingga bisa sampai ke bayi. Karena itu untuk ibu menyusui sebaiknya diberikan tablet yang hanya mengandung progestin, yang tidak mempengaruhi pembentukan air susu. Kurangnya pengetahuan ibu menyusui tentang efek samping alat kontrasepsi hormonal menyebabkan mereka tidak ada persiapan untuk menanggulangi efek samping yang muncul seperti terhambatnya kelancaran keluarnya ASI pada ibu menyusui. Hal ini akan menyebabkan munculnya rasa cemas pada diri ibu menyusui, panik dan beresiko melakukan hal – hal yang tidak diinginkan seperti putus asa, menyesal dan akhirnya bisa menyebabkan ibu menyusui DO diikutsertaan KB.
Bidan sebagai tenaga kesehatan, yang harus dilakukan adalah upaya penyadaran pada suami yang mempunyai ibu menyusui melalui pemberian informasi akan pentingnya pemilihan jenis kontrasepsi yang aman untuk digunakan. Langkah antisipatif ketika muncul efek samping alat kontrasepsi hormonal, adalah harus secepatnya menghubungi tenaga kesehatan, atau bidan yang bertugas. Karena itu, tiap suami dengan istri yang sedang menyusui perlu mengetahui dan mengenali resiko penggunaan kontrasepsi hormonal dalam hubungannya dengan kelancaran pemberian ASI. Selain itu pemberian informasi pada suami dan ibu menyusui tentang pemakaian kontrasepsi hormonal yang aman bisa dilakukan sedini mungkin dengan cara penyuluhan melalui posyandu. Di BPS Ny. ”L” Dlanggu Mojokerto menunjukkan bahwa masih banyak ibu menyusui yang salah dalam memilih kontrasepsi. Sebagian besar dari mereka memilih kontrasepsi yang mengandung hormon esterogen dan progesteron, atau esterogen saja, sehingga keluarnya ASI terhambat.  Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan suami dalam memberikan saran pemilihan alat kontrasepsi pada ibu menyusui sehingga menghambat kelancaran pemberian ASI pada ibu menyusui. Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk meneliti mengenai hubungan pengetahuan suami tentang alat kontrasepsi dengan pemilihan kontrasepsi pada ibu menyusui di BPS Ny. “L” Desa Jrambe Kecamatan  Dlanggu Kabupaten Mojokerto.



1.2  Rumusan Masalah
Bagaimana hubungan pengetahuan suami tentang alat kontrasepsi dengan pemilihan kontrasepsi pada ibu menyusui di BPS Ny. “L” Desa Jrambe Kecamatan  Dlanggu Kabupaten Mojokerto?

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan pengetahuan suami tentang alat kontrasepsi dengan pemilihan kontrasepsi pada ibu menyusui di BPS Ny. “L” Desa Jrambe Kecamatan  Dlanggu Kabupaten Mojokerto.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.     Mengidentifikasi pengetahuan suami tentang alat kontrasepsi di BPS Ny. “L” Desa Jrambe Kecamatan  Dlanggu Kabupaten Mojokerto.
2.     Mengidentifikasi pemilihan kontrasepsi pada ibu menyusui di BPS Ny. “L” Desa Jrambe Kecamatan  Dlanggu Kabupaten Mojokerto
3.     Menganalisis hubungan pengetahuan suami tentang alat kontrasepsi dengan pemilihan kontrasepsi pada ibu menyusui di BPS Ny. “L” Desa Jrambe Kecamatan  Dlanggu Kabupaten Mojokerto.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Responden
Dapat memberikan informasi kepada suami tentang pentingnya ketepatan pemilihan alat kontrasepsi yang dilakukan ibu agar tidak menghambat pemberian ASI.
1.4.2 Bagi Peneliti
Sebagai bahan referensi untuk menambah pengetahuan dan pengalaman terutama berkaitan dengan pentingnya pengetahuan tentang pemilihan alat kontrasepsi yang tepat pada ibu menyusui.
1.4.3 Bagi Profesi Kebidanan
Sebagai acuan dalam memberikan konseling pada ibu menyusui tentangpemilihan alat kontrasepsi yang tepat selama menyusui.
1.4.4 Bagi Penelitian Selanjutnya
Menambah referensi dan literatur dalam penelitian serupa terutama dalam pengembangan penelitian tentang pentingnya pengetahuan suami tentang pemilihan alat kontrasepsi pada ibu menyusui.

1.5 Batasan Penelitian
Pada penelitian ini dibatasi hanya pada hubungan pengetahuan suami tentang alat kontrasepsi dengan pemilihan kontrasepsi pada ibu menyusui di BPS Ny. “L” Desa Jrambe Kecamatan  Dlanggu Kabupaten Mojokerto. Sedangkan faktor – faktor yang lain seperti sikap atau perilaku suami tentang kontrasepsi hormonal.




 
BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


4.1  Hasil Penelitian
4.1.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di BPS Ny. “L” Desa Jrambe Kecamatan Dlanggu kabupaten Mojokerto di wilayah selatan Kota Mojokerto.  Jumlah ibu hamil yang memeriksakan diri perbulan rata – rata : 134 orang, jumlah ibu menyusui yang memeriksakan diri perbulan rata – rata 20 orang. di BPS Ny. “L” Desa Jrambe Kecamatan Dlanggu kabupaten Mojokerto terdapat 1 asisten bidan. Apabila terdapat pasien yang tidak mampu ditangani maka dirujuk ke RSU Dr. Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto atau ke RS Sumberglagah Pacet Mojokerto. Pasien yang dirujuk adalah pasien yang mengalami patologi. Untuk Suami hamil yang memerlukan USG dirujuk ke Puskesmas atau RS terdekat.
Fasilitas yang ada di BPS ini antara lain : 1 kamar periksa, 1 kamar bersalin, 2 kamar rawat gabung, 1 kamar mandi untuk pasien dan juga dan memiliki alat partus set dan KB. Pelayanan BPS Ny.”L” setiap hari mulai pukul 16.00 sampai pukul 21.00. BPS ini juga melayani KIA dan KB. Bila pasien inpartu pelayanan bisa sampai 24 jam.  




         4.1.2 Data Umum
Tabel 4.1   Distribusi Frekuensi Berdasarkan Umur Responden di BPS Ny. “L” Desa Jrambe Kecamatan Dlanggu Kabupaten Mojokerto Bulan September 2010

No
Golongan Umur
Jumlah
Prosentase (%)
1.
2.
3.
< 20 tahun
20 -25 tahun
> 35  tahun
13
51
0
20.3
79.7
0

Jumlah
64
100

   Berdasarkan tabel 4.1 sebagian besar responden berumur 21-25 tahun yaitu sebanyak 51 responden (79.7%).
Tabel 4.2   Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pendidikan Responden di BPS Ny. “L” Desa Jrambe Kecamatan Dlanggu Kabupaten Mojokerto Bulan September 2010

No
Pendidikan
Jumlah
Prosentase (%)
1.
2.
3.
4.
SD
SMP
SMA
Akademi / Perguruan tinggi
0
8
54
2
0
12.5
84.4
3.1

Jumlah
64
100

Berdasarkan tabel 4.2 sebagian besar responden berpendidikan SMA yaitu sebanyak 54 responden (84.4%).
Tabel 4.3   Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pekerjaan Responden di BPS Ny. “L” Desa Jrambe Kecamatan Dlanggu Kabupaten Mojokerto Bulan September 2010

No
Pekerjaan
Jumlah
Prosentase (%)
1.
2.
Bekerja
Tidak bekerja
31
33
48.4
51.6

Jumlah
64
100


Berdasarkan tabel 4.3 diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden tidak bekerja yaitu sebanyak 33 responden (51.6%).
Tabel 4.4   Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jumlah Anak Responden di BPS Ny. “L” Desa Jrambe Kecamatan Dlanggu Kabupaten Mojokerto Bulan September 2010

No
Jumlah Anak  
Jumlah
Prosentase (%)
1.
2.
1 anak
> 1 anak
19
45
29.7
70.3

Jumlah
64
100

Berdasarkan tabel 4.4 diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden mempunyai lebih dari 1 anak yaitu sebanyak 45 responden (70.3%).
         4.1.3 Data Khusus
Tabel 4.5   Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pengetahuan Suami Tentang Pemilihan Kontrasepsi Hormonal BPS Ny. “L” Desa Jrambe Kecamatan Dlanggu Kabupaten Mojokerto Bulan September 2010

No
Pengetahuan
Jumlah
Prosentase (%)
1.
2.
3.
Kurang
Cukup
Baik
15
11
38
23.4
17.2
59.4

Jumlah
64
100

Berdasarkan tabel 4.5 sebagian besar responden berpengetahuan baik yaitu sebanyak 38 responden (59.4%).
Tabel 4.6   Distribusi Frekuensi Pemilihan Kontrasepsi Hormonal Yang Dilakukan Responden BPS Ny. “L” Desa Jrambe Kecamatan Dlanggu Kabupaten Mojokerto Bulan September 2010

No
Pemilihan Kontrasepsi Hormonal
Jumlah
Prosentase (%)
1.
2.
Tidak tepat
Tepat
20
44
31.3
68.8

Jumlah
64
100



Berdasarkan tabel 4.6 diatas didapatkan data sebagian besar responden tepat dalam memilih kontrasepsi yaitu sebanyak 44 responden (68.8%).
Tabel 4.7   Tabulasi Silang Hubungan Pengetahuan Suami Tentang Kontrasepsi Hormonal Dengan Pemilihan Kontrasepsi Hormonal Pada Ibu Menyusui BPS Ny. “L” Desa Jrambe Kecamatan Dlanggu Kabupaten Mojokerto Bulan September 2010
No
Pemilihan Kontrasepsi
Tidak tepat
tepat
Total
Pengetahuan
f
%
f
%
f
%
1
kurang
15
23.4
0
0
15
23.4
2
Cukup
5
7.8
6
9.4
11
17.2
3
Baik
0
0
38
59.4
38
59.4
Jumlah
20
31.3
44
44
64
100

Hasil tabulasi silang diatas menunjukkan bahwa paling besar adalah responden berpengetahuan baik dan tepat dalam memilih kontrasepsi hormonal, yaitu sebanyak 38 responden (59.4%)

Hasil uji analisis dengan menggunakan bantuan software SPSS ditemukan nilai probabilitas sebesar 0.000, karena 0.000< α (0.05) maka hipotesis diterima yang menunjukkan terdapat hubungan pengetahuan suami tentang kontrasepsi hormonal dengan pemilihan alat kontrasepsi hormonal pada ibu menyusui dengan tingkat signifikansi 0,000.

4.2 Pembahasan
      4.2.1 Pengetahuan Suami Tentang Pemilihan Kontrasepsi Hormonal
 Berdasarkan tabel 4.5 sebagian besar responden berpengetahuan baik yaitu sebanyak 38 responden (59.4%).
Hasil analisis ini didukung oleh umur responden. Berdasarkan tabel 4.1 sebagian besar responden berumur 21-25 tahun yaitu sebanyak 51 responden (79.7%).
Singgih mengemukakan bahwa makin tua umur seseorang maka proses-proses perkembangan mentalnya bertambah baik. Bertambahnya pengalaman menyebabkan bertambahnya kedewasaan seseorang. Hal ini membuat seseorang semakin patuh dalam memegang suatu prinsip ataupun melaksanakan suatu anjuran, sebatas anjuran tersebut dinilai bermanfaat untuk diri mereka  (Irfan, 2010).
Dengan demikian responden yang berusia lebih dewasa akan lebih banyak memperoleh pengetahuan, daripada yang berumur lebih muda. Namun sebaliknya responden yang berumur lebih muda masih terbatas dalam berpikir saja tanpa mempunyai berpengaruh pada setiap keputusan dan tindakannya. Dengan demikian semakin tua umur responden maka pengetahuan tentang semua penjelasan yang berhubungan dengan pemilihan kontrasepsi hormonal selama menyusui akan semakin bertambah pula. Keadaan ini disebabkan karena waktu untuk mendapatkan pengetahuan tentang kontrasepsi hormonal akan semakin lama pula.
Hasil analisis juga dipengaruhi oleh pendidikan responden. Berdasarkan tabel 4.2 sebagian besar responden berpendidikan SMA yaitu sebanyak 54 responden (84.4%).
Nursalam (2001) menjelaskan bahwa bahwa makin tinggi pendidikan seseorang, maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Pengetahuan tersebut membentuk paradigma pemikiran tersendiri dan menjadikan interaksi seseorang selalu didasari oleh paradigma pemikiran yang terbentuk. Kepatuhan seseorang untuk menjalankan suatu kebiasaan disebabkan karena hal ini.
Responden yang berpendidikan tinggi akan mudah dalam menyerap informasi, sehingga proses penyerapan pengetahuan tentang tentang kontrasepsi hormonal dalam hubungannya dengan kelancaran pemberian ASI semakin cepat. Hal ini yang menyebabkan responden dengan pendidikan tinggi akan mempunyai pengetahuan tentang kontrasepsi hormonal lebih baik pula.
Hasil analisis juga dipengaruhi oleh pekerjaan responden. Berdasarkan tabel 4.3 diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden tidak bekerja yaitu sebanyak 33 responden (51.6%).
Hal ini sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2003) bahwa masyarakat yang sibuk akan memiliki waktu yang sedikit untuk memperoleh informasi sehingga ilmu pengetahuan yang mereka miliki menjadi berkurang. Menurut Zuhri (2010) kurangnya pengetahuan menyebabkan kesadaran akan pentingnya beberapa kebiasaan menjadi berkurang. Seseorang akan cenderung meremehkan suatu kebiasaan katika pengetahuan tentang kebiasan tersebut tidak begitu dipahami.
Responden yang tidak bekerja akan lebih banyak menerima pengetahuan dan informasi daripada responden yang bekerja. Keluangan waktu yang dimilikinya membuat responden bisa lebih leluasa mengikuti penyuluhan kesehatan yang diadakan oleh tenaga kesehatan dan punya waktu lebih banyak dalam mengakses informasi tentang kontrasepsi hormonal. Berbeda dengan responden yang bekerja, mereka akan lebih sedikit mempunyai waktu luang untuk mengakses pengetahuan terutama yang berhubungan dengan kontrasepsi hormonal. Tentunya responden dengan status bekerja akan selalu disibukkan dengan pekerjaannya masing – masing daripada disibukkan dengan hal – hal yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang digeluti.
Hasil analisis juga dipengaruhi oleh jumlah anak responden. Berdasarkan tabel 4.4 diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden mempunyai lebih dari 1 anak yaitu sebanyak 45 responden (70.3%).
Menurut Notoatmodjo (2002) bahwa pengalaman itu merupakan sumber pengetahuan dan pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan sehingga semakin banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang informasi yang didapatkan akan semakin baik. Pengalaman merupakan guru yang terbaik. Pepatah tersebut dapat diartikan bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman itu suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh sebab itu pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebagai upaya untuk memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lalu (Yanti, 2009).
Dengan demikian responden yang mempunyai anak lebih dari 1 mempunyai pengalaman lebih banyak tentang kontrasepsi hormonal daripada yang masih mempunyai 1 anak. Hal ini dikarenakan kesempatan untuk mencoba dan mendapat pengalaman berkenaan dengan kontrasepsi hormonal lebih banyak dibanding dengan responden yang mempunyai 1 anak.
    4.2.2 Pemilihan Kontrasepsi Hormonal
Berdasarkan tabel 4.6 diatas didapatkan data sebagian besar responden tepat dalam memilih kontrasepsi yaitu sebanyak 44 responden (68.8%).
KB hormonal adalah cara pencegahan terjadinya kehamilan dengan menggunakan obat yang berkhasiat hormonal, yang mempengaruhi poros hipothalamus - hipofisis - ovarium - dan/atau endometrium (pengaruh pada poros, pada organ, atau pada kesuburan) (Obgin, 2009).
Hasil analisis yang menyebutkan bahwa sebagian besar responden tepat dalam memilih kontrasipsi berarti rata – rata responden telah melakukan pemilihan kontrasepsi dengan tepat. Pemilihan kontrasepsi yang tepat adalah pemilihan kontrasepsi yang tidak mengganggu kelancaran keluarnya air susu ibu (ASI).
4.2.3 Hubungan Pengetahuan Suami Menyusui Dengan Pemilihan Kontrasepsi Hormonal Selama Menyusui
Hasil uji analisis dengan menggunakan bantuan software SPSS menunjukkan bahwa terdapat hubungan pengetahuan suami tentang kontrasepsi hormonal dengan pemilihan kontrasepsi hormonal pada ibu menyusui dengan tingkat signifikansi 0,000. Dari nilai tersebut dapat di artikan bahwa H1 diterima dan Ho ditolak yang berarti hubungan pengetahuan suami tentang kontrasepsi hormonal dengan pemilihan kontrasepsi hormonal pada ibu menyusui
Menurut Depkes (2010) kontrasepsi oral kombinasi (pil) mengandung sintetik estrogen dan preparat progestin yang mencegah kehamilan dengan cara menghambat terjadinya ovulasi (pelepasan sel telur oleh indung telur) melalui penekanan hormon LH dan FSH, mempertebal lendir mukosa servikal (leher rahim), dan menghalangi pertumbuhan lapisan endometrium. Oral kombinasi tidak direkomendasikan untuk wanita menyusui, sampai minimal 6 bulan setelah melahirkan. Pil kombinasi yang diminum oleh Ibu menyusui bisa mengurangi jumlah air susu dan kandungan zat lemak serta protein dalam air susu. Hormon dari pil terdapat dalam air susu sehingga bisa sampai ke bayi. Karena itu untuk Ibu menyusui sebaiknya diberikan tablet yang hanya mengandung progestin, yang tidak mempengaruhi pembentukan air susu.
Dengan demikian sebagai kepala keluarga suami berperan penting dalam pemilihan kontrasepsi yang yang dilakukan ibu menyusui. Pengetahuan suami yang kurang tentang kontrasepsi menyebabkan anjuran yang diberikan kurang tepat selama menyusui dan ini bisa menghambat kelancaran keluarnya ASI. Kurangnya pengetahuan suami tentang kontrasepsi menyebabkan munculnya resiko seperti bisa terhambatnya kelancaran ASI. Adanya hubungan antara pengetahuan suami dengan pemilihan kontrasepsi hormonal pada ibu menyusui menunjukkan bahwa sebagian besar suami sudah mengetahui tentang konrasepsi hormonal yang tepat agar tidak mengganggu kelancaran pemberian ASI.

  
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
  1. Identifikasi pengetahuan suami tentang kontrasepsi hormonal menunjukkan sebagian besar responden berpengetahuan baik yaitu sebanyak 38 responden (59.4%).
  2. Identifikasi pemilihan kontrasepsi hormonal selama menyusui menunjukkan bahwa sebagian besar responden tepat dalam memilih kontrasepsi yaitu sebanyak 44 responden (68.8%).
  3. Hasil analisis menunjukkan terjadi hubungan antara pengetahuan suami dengan pemilihan kontrasepsi hormonal selama menyusui sebesar 0.000

5.2 Saran
5.2.1 Bagi Instansi Pendidikan
Diharapkan hasil penelitian ini digunakan sebagai bahan untuk  meningkatkan kualitas asuhan kebidanan terutama mengenai pentingnya peningkatan pengetahuan suami berkenaan dengan  pemilihan kontrasepsi hormonal yang dilakukan ibu selama menyusui.
5.2.2  Bagi Responden           

 
Supaya hasil penelitian ini dipakai sebagai tambahan pengetahuan bagi suami tentang penggunaan kontrasepsi hormonal selama menyusui.
5.2.3 Bagi Ilmu Kebidanan
Supaya hasil penelitian ini bisa dijadikan bahan referensi untuk memperluas wawasan mahasiswa tentang pemilihan kontrasepsi hormonal selama menyusui.
.5.2.4 Bagi Peneliti selanjutnya
Supaya hasil penelitian ini bisa dijadikan acuan untuk mengembangkan penelitian serupa tentang hubungan pengetahuan suami dengan pemilihan kontrasepsi hormonal yang dilakuakn ibu.

HUBUNGAN PENGETAHUAN ORANG TUA DENGAN KEPATUHAN PEMBERIAN IMUNISASI PADA BALITA USIA 0-12 BULAN DI BPS NY.TUTIK SRI PRATIWI A.md.keb DESA PADANG ASRI KECAMATAN JATIREJO MOJOKERTO

ABSTRAK

Hubungan Pengetahuan Orang Tua Dengan Kepatuhan Pemberian Imunisasi Pada Balita Usai 0-12 Bulan Di BPS Ny.Tutik Sri Pratiwi A.md.keb Desa Padang Asri Kecamatan Jatirejo Mojokerto.

Farahatin zakiya

Pemberian imunisasi yang tidak tepat dapat menimbulkan berbagai masalah dan penyebab terjadinya suatu penyakit atau kematian pada bayi.Imunisasi adalah suatu upaya untuk mendapatkan kekebalan terhadap suatu penyakit dengan cara memasukkan kuman atau produk kuman yang sudah di lemahkan atau di matikan ke dalam tubuh.
            Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan pengetahuan orang tua dengan kepatuhan pemberian imunisasi pada bayi di desa padang asri kecamatan jatirejo kabupaten mojokerto.
            Metode rancangan penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan cross sectional .Populasinya adalah 82 orang tua yang mempunyai bayi yang berusia 0-12 bulan di kecamatan jatirejo mojokerto dan besar sampel 68 responden.pengumpulan data di lakukan dengan ceklist dan dokumentasi serta analisis datanya menggunakan korelasi sperman rank dengan program SPSS dengan tingkat kemaknaan α = 0,05.
            Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan orang tua tentang imunisasi cukup (45,6%).Hasil uji statistik pada faktor pengetahuan nilai P = 0,289 < α = 0,05 yang berarti faktor pengetahuan mempengaruhi pemberian imunisasi pada bayi di bps nyi tutik sri pratiwi Amd.keb desa  padang asri kecamatan jatirejo kabupaten mojokerto.sedangkan untuk faktor kepatuhan nilai p = 0,017 < α = 0,05 yang berarti faktor kepatuhan mempengaruhi pemberian imunisasi pada bayi di bps ny.tutik sri pratiwi Amd.keb desa  padang asri kecamatan jatirejo kabupaten mojokerto.
             Jadi dapat di simpulkan bahwa semakin baik pengetahuan orang tua dan kepatuhan orang tua maka semakin lengkap pemberian imunisasi pada bayi.Hendaknya orang tua lebih memperhatikan pemberian imunisasi kepada bayinya yaitu tentang jadwal akan kelengkapan imunisasi yang di berikan kepada bayinya.

Kata kunci : pengetahuan dan kepatuhan


ABSTRAK

Relation of Parent Knowledge of With The Gift Compliance Immunize At Baby under five years of After 0-12 Month In BPS Ny. Tutik Sri Pratiwi Amd.Keb of Countryside of Padang Asri of Subdistrict of Jatirejo Mojokerto.

Farahatin Zakiya

Gift immunize imprecise can generate various problem and cause of the happening of a disease or death of baby. Immunizes is an effort to get the impenetrability to a disease by including germ or germ product in weakening or in killing into body.
This research target is know the relation of parent knowledge with the gift compliance immunize at baby in countryside of Padang Asri of sub district of Jatirejo of regency Mojokerto.
This research device method is analytic with the approach of cross sectional. Its population is 82 parent having baby which have age to 0-12 month in sub district of Jatirejo Mojokerto and big of sample 68 respondent. Gathering data in doing by checklist and documentation and also analyze its data use the correlation of sperman rank with the program SPSS with the meaning level α = 0,05.
Result of research show the parent knowledge of about immunizing enough (45,6%). Result of statistical test at knowledge factor assess the P = 0,289 < α = 0,05 meaning knowledge factor influence the gift immunize at baby in BPS Ny. Tutik Sri Pratiwi, Amd.Keb of countryside of Padang Asri of sub district of Jatirejo of regency Mojokerto. While for the factor of compliance assess the p = 0,017 < α = 0,05 meaning compliance factor influence the gift immunize at baby in BPS Ny. Tutik Sri Pratiwi, Amd.Keb of countryside of Padang Asri of sub district of Jatirejo of regency Mojokerto.
Become to earn in concluding that progressively goodness of knowledge of parent and parent compliance hence complete progressively gift immunize at baby. Will parent more paying attention to gift immunize to its baby that is about equipment schedule will immunize which is in passing to its baby.


Keyword : knowledge and compliance


BAB  1
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Kesehatan merupakan masalah yang penting dalam sebuah keluarga, terutama yang berhubungan dengan balita dan anak.  Mereka merupakan harta yang paling berharga sebagai titipan Tuhan Yang Maha Esa, juga dikarenakan kondisi tubuhnya yang mudah sekali terkena penyakit.  Oleh karena itu, balita dan anak merupakan prioritas pertama yang harus dijaga kesehatannya (Wijaya, 2005). Untuk mempertahankan kesehatan anak dapat dilakukan dengan memberikan imunisasi, yaitu proses, cara, perbuatan menjadikan kebal terhadap penyakit.  Sedangkan dalam ilmu kedokteran imunisasi diartikan sebagai membentuk kekebalan tubuh terhadap sesuatu penyakit dengan memberikan antigen atau vaksin kepada balita dan anak (Wijaya, 2005).
Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001, penyebab langsung kematian ibu diantaranya adalah : Tetanus Neonatorum (10%) yang bisa menurunkan terhadap balita yang dilahirkannya.  Sehingga balita yang baru lahir harus diberikan vaksin imunisasi agar dapat menjaga kekebalan tubuhnya.  Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menyatakan, 1,7 juta anak Indonesia meninggal karena tidak mendapat imunisasi lengkap.  Jumlah 1,7 juta itu merupakan seperlima dari balita di Indonesia.  Pemerintah, kata Siti, menargetkan dalam dua tahun ke depan bisa mengimunisasi 4.725.470 anak.  Jumlah ini diambil dari 7 provinsi, yaitu DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan.  Imunisasi ini juga meliputi 63 kabupaten dan kota dari provinsi tersebut. "Cakupan imunisasi di daerah itu masih rendah," (http://www.tempointeraktif. com, 2009).  Berdasarkan data yang berhasil dihimpun panitia Pekan Imunisasi Nasional (PIN) pusat bulan Desember 2005, Propinsi Papua masih berada dalam  urutan  terbawah.  Dari hasil cakupan PIN dengan jumlah balita yang di imunisasi sebanyak 143.948 balita atau 50,3% dan yang tidak di imunisasi sebanyak 1.142.231 balita atau 49,7% (Wahyuhono, 2005).  Dari data kejadian di bps ny.tutik sri pratiwi A.md.keb desa padang asri kecamatan jatirejo mojokerto, terdapat 12 balita yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap dari 82 balita (kohort,Maret 2010)
Imunisasi bermanfaat untuk mencegah masuknya kuman penyakit yang disebabkan oleh virus dan bakteri yang bisa menyebabkan cacat atau kematian.  Apabila balita tidak diberi imunisasi ataupun tidak mendapatkan imunisasi yang lengkap, balita tersebut akan rentan terhadap suatu penyakit yang dapat mengganggu kesehatannya.  Vaksin pada imunisasi yang pemberiannya hanya satu kali atau yang mempunyai daya perlindungan yang panjang seperti vaksin BCG dan campak, keterlambatan pemberian vaksin dari jadwal yang sudah ditentukan akan meningkatkan risiko tertularnya penyakit yang dapat dicegah.  Sedangkan untuk vaksin yang diperlukan dosis ganda untuk mempertahankan titer antibodi atau proteksi, penundaan pemberian vaksinasi ulangan akan menurunkan kadar proteksi sehingga akan meningkatkan risiko terkena penyakit yang ingin dicegah (Musa, 2001).  Banyak faktor yang mempengaruhi pemberian imunisasi yaitu, pemahaman tentang instruksi, kualitas interaksi, isolasi sosial dan keluarga, keyakinan, sikap dan kepribadian.
Pemahaman dan kepatuhan ibu dalam program imunisasi pada balita atau anak tidak akan menjadi halangan yang besar jika pendidikan, pengetahuan orang tua yang memadai tentang hal itu diberikan.  Untuk meningkatkan pengetahuan orang tua dan kepatuhan ibu dalam memberikan imunisasi pada balitanya, diperlukan bimbingan dan penyuluhan dari petugas kesehatan yang lebih intensif tentang imunisasi.  Selain itu juga diperlukan dukungan dari orang tua,keluarga dan lingkungan agar ibu lebih aktif dalam membawa anaknya ke posyandu untuk memperoleh imunisasi secara lengkap.  Berdasarkan masalah tersebut di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Pengetahuan Orang Tua Dengan Kepatuhan Pemberian Imunisasi Pada Balita Usia 0-12  Bulan Di BPS Ny.Tutik Sri Pratiwi A.md.keb Desa Padang Asri Kecamatan Jatirejo Mojokerto”.
1.2  Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini peneliti memberi pengetahuan. Pengetahuan yang dimiliki orang tua akan berpengaruh terhadap kepatuhan orang tua dalam pemberian imunisasi yang baik,cukup dan kurang.Semakin tinggi pengetahuan orang tua maka respon kepatuhan terhadap pemberian imunisasi dapat berkurang .Dengan demikian dari beberapa faktor yang mempengaruhi kepatuhan orang tua. Penulis ingin mengetahui hubungan pengetahuan orang tua dengan kepatuhan pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan .
Berdasarkan uraian dalam latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut. Adakah hubungan Pengetahuan Orang Tua Dengan Kepatuhan Pemberian Imunisasi Pada Balita Usia 0-12 bulan ?

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan umum
Menganalisa hubungan Pengetahuan Orang Tua Dengan Kepatuhan Pemberian Imunisasi Pada Balita Usia 0-12 Bulan Di BPS Ny.Tutik Sri Pratiwi A.md.keb Desa Padang Asri Kecamatan Jatirejo Mojokerto.
1.3.2 Tujuan khusus
1.   Mengidentifikasi pengetahuan orang tua tentang imunisasi pada balita usia
 0-12 bulan.
2.   Mengidentifikasi kepatuhan orang tua dalam pemberian imunisasi dasar pada balita usia 0-12 bulan.
3.   Menganalisis hubungan pengetahuan dengan kepatuhan orang tua dalam pemberian imunisasi dasar pada balita usia 0-12 bulan.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi responden
Dapat memberikan informasi pada responden tentang manfaat pemberian imunisasi pada balita, sehingga responden lebih berpartisipasi dalam pemberian imunisasi.
1.4.2 Bagi peneliti
Untuk menambah wawasan bagi peneliti mengenai hubungan pengetahuan dengan kepatuhan ibu dalam pemberian imunisasi.  Dan juga sebagai pengalaman dalam melakukan penelitian untuk menerapkan ilmu yang didapatkan peneliti di bangku kuliah.
1.4.3 Bagi profesi kebidanan
Sebagai bahan masukan dalam meningkatkan pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan.meningkatkan peran bidan dalam meningkatkan mutu pelayanan pada masyarakat secara profesional.
I.4.4. Bagi petugas kesehatan
Agar hasil penelitian dapat memberikan masukkan kepala petugas kesehatan tentang pentingnya informasi dan penjelasan kepada orang tua agar bersedia membawa anaknya ke tempat pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapat imunisasi.
1.4.5 Bagi penelitian selanjutnya
Diharapkan bagi peneliti selanjutnya dapat digunakan sebagai data dasar untuk melaksanakan dan membimbing masyarakat sekitar agar mengetahui dan melaksanakan pemberian imunisasi menurut pentingnya pemberian imunisasi dasar pada balita usia 0-12 bulan.
1.5 Batasan Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti hanya meneliti tentang Hubungan Pengetahuan Orang Tua Dengan Kepatuhan Pemberian Imunisasi Pada Balita        Usia 0-12 Bulan Di BPS Ny.Tutik Sri Pratiwi A.md.keb Desa Padang Asri Kecamatan Jatirejo Mojokerto”.

BAB  4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

            Pada bab ini penulis akan memaparkan keadaan lokasi penelitian,sehingga dengan berdasarkan keadaan itu dapat diketahui gambaran umum wilayah penelitian yang meliputi keadaan umumpenelitian,data geografi,data demografi dan data sasaran.Selain itu data hasil penelitian meliputi data pengetahuan orang tua dengan kepatuhan pemberian imunisasi yang dapat membantu mengidentifikasi segala hal yang berkaitan dengan penelitian ini.
            Adapun data gambaran umum wilayah penelitian yang kami jadikan bahan pendukung pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
4.1  Gambaran umum Tempat Penelitian
Bidan praktek swasta Ny. Tutik Sri Pratiwi, Amd. Keb. berdiri sejak tahun 1996 berada di  Desa Padang asri Kecamatan Jatirejo Kabupaten Mojokerto, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :
Sebelah Barat    adalah           =  desa koripan
Sebelah selatan                        =  desa Kaloran
Sebelah utara                           =  desa sumbersari
Sebelah timur                          =  desa tempel.
Di desa Padang asri sudah terdapat saluran listrik yang masuk, jalan masih makadam dan ada sebagian yang sudah beraspal, jarak antara Puskesmas induk dengan desa Padang asri ± 14 km, dan dengan pustu ± 2 km. Pelayanan yang ada di BPS diantaranya yaitu Imunisasi,pelayanan keluarga berencana (KB), Antenatal Care (ANC), persalinan, kontrol nifas dan balai pengobatan untuk penyakit ringan. Jumlah pasien setiap harinya rata-rata 20 pasien yang berasal dari Desa Padang asri,koripan. Adapun jumlah responden dari penelitian ini adalah 68 responden dilakukan mulai bulan Agustus 2010.  
4.2 Hasil Penelitian
Hasil penelitian akan menyajikan data yang diambil dari data umum dan data khusus pada 68 orang ibu yang berperan sebagai keluarga dalam kepatuhan pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan di BPS Ny.Tutik Sri Pratiwi A.md.Keb Desa Padang Asri Kec.Jatirejo Kabupaten Mojokerto.

4.2.1 Data umum
Data umum menggambarkan karakteristik responden di BPS Ny.Tutik Sri Pratiwi A.md.Keb Desa Padang Asri Kec.Jatirejo Kabupaten Mojokerto yang meliputi usia, pendidikan dan pekerjaan.
4.2.1.1 Karakteristik usia responden
Tabel 4.2        Distribusi Usia Responden di BPS Ny.Tutik Sri Pratiwi A.md.Keb Desa Padang Asri Kec.Jatirejo Kabupaten Mojokerto tahun 2010.
no
Usia
Frekuensi
Persentase ( % )
1
<  20 tahun
5
7,35
2
20 - 30 tahun
44
64,70
3
>  30 tahun
19
27,94
                   Total
68
100
         Sumber : Data Primer.


Tabel 4.1 di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar usia responden adalah usia dewasa muda antara 20–30 tahun, yaitu sebesar 44 responden (64,70 %).  Hal ini disebabkan karena usia 20-30 tahun merupakan usia reproduksi sehat, sehingga persentasenya paling banyak dalam distribusi usia responden di BPS Ny.Tutik Sri Pratiwi A.md.Keb Desa Padang Asri Kec.Jatirejo Kabupaten Mojokerto.Sedangkan distribusi usia responden < 20 tahun persentasenya paling sedikit, yaitu 7,35 %.  Hal ini disebabkan usia < 20 tahun merupakan usia remaja, sehingga banyak aktivitas yang dicurahkan di bidang  pendidikan dan belum memikirkan untuk berumah tangga. 
4.2.1.2 Karakteristik pendidikan responden
Tabel 4.2        Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden di BPS Ny.Tutik Sri Pratiwi A.md.Keb Desa Padang Asri Kec.Jatirejo Kabupaten Mojokerto Tahun 2010.
no
Pendidikan
Frekuensi
Persentase ( % )
1
SD
12
17,65
2
SMP
15
22,09
3
4
SMA
Akademi / PT
39
2
57,35
2,94
Total
68
100
        Sumber : Data Primer.

Berdasarkan Tabel 4.2 di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar pendidikan responden pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), yaitu sebesar 39 responden (57,35 %).  Hal ini disebabkan karena pendidikan merupakan syarat mutlak untuk meningkatkan pengetahuan seseorang, sehingga banyak responden yang termotivasi untuk menuntut ilmu setinggi mungkin.  Sedangkan distribusi frekuensi pendidikan responden di tingkat Akademi atau Perguruan Tinggi persentasenya paling sedikit, yaitu hanya 2,94 %.  Hal ini disebabkan pendidikan perguruan tinggi membutuhkan biaya yang tidak sedikit sedangkan sosial ekonomi keluarga responden tidak mampu untuk memenuhinya, sehingga pendidikan responden mayoritas hanya setingkat SMA yang dapat dicapai sehubungan dengan faktor ekonomi keluarga responden.
4.2.1.3 Karakteristik pekerjaan responden
Tabel 4.3        Distribusi Frekuensi Pekerjaan Responden di di BPS Ny.Tutik Sri Pratiwi A.md.Keb Desa Padang Asri Kec.Jatirejo Kabupaten Mojokerto Tahun 2010.
no
Pekerjaan
Frekuensi
Persentase ( % )
1
Ibu rumah tangga
29
42,65
2
Wiraswasta
16
23,53
3
4
Swasta
PNS
19
4
27,94
5,88
             Total
68
100

     Sumber : Data Primer.

Tabel 4.3 di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar pekerjaan responden adalah ibu rumah tangga, yaitu sebesar 29 responden (42,65 %).  Hal ini disebabkan karena mayoritas responden menginginkan mengasuh balitanya sendiri, sehingga tidak terpikirkan untuk melakukan aktivitas menambah kebutuhan ekonomi keluarga.  Sedangkan distribusi frekuensi pekerjaan responden yang paling sedikit adalah pekerjaan PNS, yaitu sebesar 5,88 %.  Hal ini disebabkan peluang untuk diterimanya sebagai PNS sangat kecil sekali dibandingkan dengan jumlah pencari kerja yang melamar sebagai PNS, sehingga kesempatan kerja PNS dengan taraf pendidikan responden mayoritas setingkat SMA persentasenya paling sedikit.
  
4.2.2 Data khusus
Data ini menggambarkan tentang distribusi pengetahuan orang tua dalam pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan, kepatuhan orang tua dalam pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan dan hubungan pengetahuan orang tua dengan kepatuhan pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan.
4.2.2.1 Karakteristik pengetahuan orang tua dalam pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan
Tabel 4.4        Distribusi Frekuensi Responden tentang pengetahuan orang tua dalam Pemberian Imunisasi pada Balita Usia 0-12 Bulan di BPS Ny.Tutik Sri Pratiwi A.md.Keb Desa Padang Asri Kec.Jatirejo Kabupaten Mojokerto Tahun 2010.
no
Pengetahuan orang tua pada balita usia 0-12 bulan
Frekuensi
Persentase ( % )
1
Kurang
8
11,76
2
Cukup
31
45,59
3

Baik

29

42,65
             Total
68
100

    Sumber : Data Primer

Tabel 4.4 di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar pengetahuan orang tua responden memberikan imunisasi lengkap pada balita usia 0-12 bulan, yaitu sebesar 29 responden (42,65 %) dari 68 responden yang di teliti yang pengetahuannya orang tuanya baik.
4.2.2.2 Karakteristik kepatuhan pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan
Tabel 4.5        Distribusi Frekuensi Responden tentang Kepatuhan Pemberian Imunisasi pada Balita Usia 0-12 Bulan di BPS Ny.Tutik Sri Pratiwi A.md.Keb Desa Padang Asri Kec.Jatirejo Kabupaten Mojokerto Tahun 2010.
no
Kepatuhan pemberian imunisasi pada balita 0-12 bulan
Frekuensi
Persentase ( % )
1
Tidak patuh
15
22,09
2
Patuh
53
77,94




                   Total
68
100

          Sumber : Data Primer.

Tabel 4.5 di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden patuh dalam pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan, yaitu sebanyak 53 responden (77,94 %) dari 68 responden yang di telitih yang patuh.
4.2.2.3 Hubungan pengetahuan orang tua dengan kepatuhan pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan
Tabel 4.6        Tabulasi Silang pengetahuan orang tua dengan Kepatuhan Pemberian Imunisasi pada Balita Usia 0-12 Bulan di BPS Ny.Tutik Sri Pratiwi A.md.Keb Desa Padang Asri Kec.Jatirejo Kabupaten Mojokerto Tahun 2010.



No



Pengetahuan orang tua
Kepatuhan Pemberian Imunisasi pada Balita Usia 0-12 Bulan


Total

Tidak patuh
Patuh
∑
%
∑
%
∑
%

1.

2.

3.

Kurang

Cukup

Baik

8

7

0

100

22,60

0

0

24

29

0

77,40

100

8

31

29

100

100

100
Total
19
22,10
49
72,10
68
100
Sumber : Data Primer.

Tabel 4.6 di atas menunjukkan bahwa responden yang pengetahuan orang tuanya dalam pemberian imunisasi kurang, tidak patuh dalam pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan, yaitu sebanyak 8 responden (100 %), sedangkan responden yang pengetahuan orang tuanya dalam pemberian imunisasi cukup, tidak patuh dalam pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan, yaitu sebanyak 7 responden (22,60 %) dan yang pengetahuan orang tuanya dalam pemberian imunisasi lengkap, patuh dalam pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan, yaitu sebanyak 29 responden (100 %)
4.2.2.4 Analisis hasil penelitian
Untuk mengetahui hubungan pengetahuan orang tua dengan kepatuhan pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan digunakan analisis data melalui komputerisasi dengan menggunakan uji sperman rank  pada taraf signifikan sebesar 5 %.
Dari uji tersebut didapatkan koefisien korelasi sebesar 0,618 dengan taraf signifikan sebesar 0,001 yang lebih kecil dari a 0,05, sehingga H0 ditolak atau H1 diterima yang berarti bahwa ada hubungan antara pengetahuan orang tua dengan kepatuhan pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan. 
Menurut Sugiono (2006 : 186) untuk menentukan besarnya keeratan hubungan dapat dilihat pada tabel pedoman dalam menentukan koefisien korelasi (skala Guilford) sebagai berikut.
Tabel 4.7        Pedoman untuk Pemberian Interpretasi Terhadap Koefisien Korelasi Berdasarkan Skala Guilford.
Interval Koefisien
Tingkat Hubungan
0,00     -     0,199
0,20     -     0,399
0,40     -     0,599
0,60     -     0,799
0,80     -     1,000
Sangat rendah
Rendah
Sedang
Kuat
Sangat kuat
Sumber : Data Sekunder.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dari hasil tersebut di atas menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara pengetahuan orang tua dengan kepatuhan pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan, yaitu mempunyai hubungan yang signifikan atau nyata karena berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa jika pengetahuan orang tua dalam pemberian imunisasi kurang dan cukup, maka tidak patuh dalam pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan, sedangkan pengetahuan orang tua yang dalam pemberian imunisasinya lengkap, akan patuh dalam pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan. 
4.3 Pembahasan
Dari hasil analisis data didapatkan hubungan yang kuat antara pengetahuan orang tua dengan kepatuhan pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan di BPS Ny.Tutik Sri Pratiwi A.md.Keb Desa Padang Asri Kec.Jatirejo Kabupaten Mojokerto yang dilaksanakan pada bulan Agustus 2010 akan dilakukan pembahasan sebagai berikut
4.3.1 pengetahuan orang tua dalam pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan
Berdasarkan hasil analisis penelitian dengan menggunakan daftar pertanyaan dari 68 responden yang menjadi sampel penelitian, maka dapat diketahui bahwa sebagian besar responden pengetahauan orang tuanya dalam pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan lengkap, yaitu sebanyak 29 responden (42,65 %).  Hal ini disebabkan oleh sudah lengkapnya imunisasi yang diberikan pada balita usia 0-12 bulan, yaitu imunisasi BCG, HB 1, DPT/HB Combo 1, 2 dan 3, Polio 1, 2, 3 dan 4 serta campak. 
Menurut Duvval (2003), orang tua merupakan sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan yang bertujuan untuk meningkatkan dan mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional dan sosial.  Sedangkan menurut Samik (2002), imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah terhadap penyakit tertentu.  Vaksin adalah suatu produk biologik yang terbuat dari kuman, komponen kuman atau racun kuman yang telah dilemahkan atau dimatikan dan berguna untuk merangsang kekebalan tubuh seseorang.
Perawatan kesehatan keluarga adalah tingkat perawatan kesehatan masyarakat yang ditujukan dan dipusatkan pada keluarga sebagai unit atau kesatuan yang dirawat dengan sehat sebagai tujuannya dan melalui perawatan sebagai sarananya (Wijaya, 2005).  Pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan merupakan salah satu bentuk perawatan keluarga, dimana imunisasi bermanfaat untuk mencegah masuknya kuman penyakit yang disebabkan oleh virus dan bakteri yang bisa menyebabkan cacat atau kematian.  Apabila balita tidak diberi imunisasi ataupun tidak mendapatkan imunisasi yang lengkap, balita tersebut akan rentan terhadap suatu penyakit yang dapat mengganggu kesehatannya.  Hal tersebut terlihat dari usia responden yang masih produktif dengan tingkat pendidikan setingkat SMA mempunyai pengetahuan yang cukup tentang kesadaran kemampuan untuk hidup sehat, sehingga pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan diberikan secara lengkap.  Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa pengetahuan orang tua sangat berpengaruh positif terhadap pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan.  Orang tua dalam pemberian imunisasi balitanya disarankan untuk mengikuti petunjuk dan jadwal yang telah ditetapkan. 
4.3.2 Kepatuhan pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan
Berdasarkan hasil analisis penelitian dengan memberikan kuesioner dari 68 responden yang menjadi sampel penelitian, maka dapat diketahui bahwa sebagian besar responden patuh dalam pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan, yaitu sebanyak 53 responden (77,94 %).  Hal ini disebabkan oleh ketaatan balita usia 0-12 bulan dalam kedatangan melaksanakan imunisasi sesuai anjuran.  
Menurut Niven (2000), kepatuhan merupakan sejauh mana perilaku pasien sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh profesional kesehatan.  Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan antara lain faktor demografi, penyakit, psikososial dan pengetahuan orang tua.
Secara alamiah setiap orang tua pasti akan melindungi balitanya, karena belum memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dan menjaga dirinya dari penyakit.  Oleh sebab itu sebegian besar orang tua balita responden dalam mengasuh balitanya sangat perhatian dalam pemberian imunisasi, sehingga balita terhindar dari penyakit.  Hal tersebut terlihat dari usia responden yang masih produktif dengan tingkat pendidikan setingkat SMA mempunyai wawasan yang cukup tentang kesehatan sehingga patuh dalam pemberian imunisasi pada balitanya.  Tingkat pendidikan responden merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi pola pikir dalam menentukan kepatuhan pemberian imunisasi, karena semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang diharapkan dapat berpikir lebih baik yang berkaitan dengan kesehatan balitanya.  Responden yang berpendidikan tinggi relatif lebih cepat dalam melaksanakan anjuran tentang pemberian imunisasi pada balitanya.  Begitu pula sebaliknya mereka yang berpendidikan rendah, agak sulit dan memakan waktu yang relatif lama untuk mengadakan perubahan.  Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan seseorang pada umumnya mempengaruhi cara berpikirnya.  Makin tinggi tingkat pendidikannya makin dinamis sikapnya terhadap hal-hal baru.  Sehingga dalam pemberian imunisasi balita disarankan keluarga agar patuh sesuai anjuran kesehatan dan jangan mempunyai sifat yang masih terlalu tradisional.
4.3.3 Hubungan pengetahuan orang tua dengan kepatuhan pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan
Berdasarkan uji statistik dengan uji sperman rank pada taraf signifikan a = 0,05 didapatkan koefisien korelasi sebesar 0,289 dengan taraf signifikan sebesar 0,001.  Sugiono (2006 : 186) mengatakan bahwa angka korelasi ( r ) antara 0,60-0,799 menunjukkan korelasi yang kuat.  Maka dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian terdapat hubungan yang kuat antara pengetahuan orang tua dengan kepatuhan pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan di. BPS Ny.Tutik Sri Pratiwi A.md.Keb Desa Padang Asri Kec.Jatirejo Kabupaten Mojokerto. Hal ini disebabkan oleh usia responden yang mayoritas usia reproduksi sehat dengan tingkat pendidikan yang setaraf menengah atas. 
Orang tua memiliki peranan penting dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan anggota keluarga maupun masyarakat.  Seperti pendapat yang diungkapkan Marby (2004),  bahwa orang tua memiliki pengaruh dalam berbagai tindakan kedokteran yang akan dilakukan, termasuk diagnosis, pencegahan, pengobatan, dan perawatan. Selain itu pengetahuan mengenai tumbuh kembang balita juga sangat penting diketahui orang tua agar tercapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, termasuk didalamnya imunisasi.  Pada umumnya tanggung jawab untuk mengasuh balita diberikan pada orang tua.  Pengetahuan orang tua tentang dampak anak yang tidak mendapat imunisasi dipengaruhi oleh faktor pendidikan, tingkat penghasilan dan kebiasaan.  Sehingga dengan adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan ibu diharapkan adanya perubahan perilaku yang diharapkan dapat terwujud dalam pemberian imunisasi pada balitanya. 

BAB  5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian pada bulan Agustus 2010 di bps ny.tutik sri pratiwi A.md.keb desa padang asri kecamatan jatirejo kabupaten mojokerto dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.   pengetahuan orang tua terhadap pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan hampir setengahnya yang pengetahuan memberikan imunisasi Baik sebanyak 29 responden 42,65 % .
2.   Kepatuhan pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan sebagian besar patuh  sebanyak 53 responden 77,94 % .
3.   Ada hubungan yang kuat antara pengetahuan orang tua dengan kepatuhan pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan di  Bulan di BPS Ny.Tutik Sri Pratiwi A.md.Keb Desa Padang Asri Kec.Jatirejo Kabupaten Mojokerto.
5.2 Saran
5.2.1 Bagi responden
Orang tua diharapkan dapat lebih aktif dalam menambah pengetahuan tentang pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan baik dari media cetak, elektronik maupun melalui penyuluhan-penyuluhan oleh petugas kesehatan, sehingga taat dalam kedatangan melaksanakan imunisasi balitanya sesuai anjuran.
5.2.2 Bagi peneliti
Perlu ditingkatkan aktivitas peneliti dalam pembelajaran dan pelaksanaan penelitian serta aplikasi ilmu yang telah didapatkan selama menjalani perkuliahan. 
5.2.3 Bagi profesi kebidanan
Dengan hasil penelitian ini diharapkan bidan dapat meningkatkan kinerjanya dalam mensosialisasikan tentang pentingnya pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan secara lengkap dengan banyak menambah pengetahuan orang tua tentang pengetahuan terhadap pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan melalui penyuluhan dan konseling.
5.2.4 Bagi penelitian selanjutnya
Perlu dikembangkan penelitian yang lebih lanjut tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan pemberian imunisasi pada balita usia 0-12 bulan, baik faktor internal maupun faktor eksternal.  Sebaiknya dengan menggunakan sampel yang lebih besar agar data-data yang diperoleh benar-benar valid.