Minggu, 23 Juni 2013

HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI IKAN GABUS (Ophiocephalus Striatus) DENGAN KESEMBUHAN LUKA JAHITAN POST SECTIO CAESARIA DI BPS Ny. AIDA HASNANI NUHU, AMd. Keb DESA BERU KECAMATAN DAWAR BLANDONG KABUPATEN MOJOKERTO

ABSTRAK

HUBUNGAN  ANTARA  KONSUMSI  IKAN GABUS  (Ophiocephalus Striatus) DENGAN KESEMBUHAN LUKA JAHITAN POST SECTIO CAESARIA DI BPS Ny. AIDA HASNANI NUHU, AMd. Keb
DESA BERU KECAMATAN DAWAR BLANDONG
KABUPATEN MOJOKERTO

INDAH SETYOWATI
  
Ikan gabus berkhasiat mempercepat proses penyembuhan luka, termasuk di dalamnya luka post SC. Sebab kandungan utama ikan gabus adalah protein atau albuminnya yang cukup tinggi. Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan antara mengkonsumsi ikan gabus dengan kesembuhan luka jahitan post SC di BPS Ny. Aida Hasnani Nuhu, AMd. Keb. Desa Beru Kecamatan Dawar Blandong Kabupaten Mojokerto.
Desain penelitian post test only control group design. Penelitian dilaksanakan pada 25 Juli – 30 September 2010 menggunakan lembar observasi. Populasinya semua ibu post SC sebanyak 34 orang dan dengan teknik total sampling didapatkan sampel sebanyak 34 ibu post SC. Variabel bebasnya konsumsi ikan gabus dan variabel tergantungnya kesembuhan luka jahitan post SC. Setelah data terkumpul lalu dianalisis menggunakan Chi square test.
Hasil penelitian menunjukkan setengah responden diberikan ikan gabus sebanyak 17 orang (50,0%) dan sebagian besar kelompok perlakuan mengalami kesembuhan luka jahitan post SC akut (<7 hari) sebanyak 12 orang (70,6%) serta hampir seluruh kelompok kontrol mengalami kesembuhan luka jahitan post SC kronis (>7 hari) sebanyak 14 orang (82,4%). Hasil uji statistik menunjukkan P = 0,006 < α = 0,05, maka H0 ditolak artinya terdapat hubungan antara konsumsi ikan gabus dengan kesembuhan luka jahitan post SC.
Konsumsi ikan gabus mempercepat penyembuhan luka jahitan post SC sebab kandungan utama ikan gabus adalah protein atau albumin yang cukup tinggi.
Kesimpulannya konsumsi ikan gabus dapat mempercepat penyembuhan luka jahitan post SC, yaitu luka lebih cepat sembuh dalam waktu <7 hari (akut). Ibu post SC harus lebih memperhatikan asupan makanan tinggi protein untuk proses penyembuhan, misalnya dengan mengkonsumsi ikan gabus. Bidan dapat menggunakan ikan gabus sebagai terapi alternatif penyembuhan luka jahitan operasi, khususnya post SC.

Kata kunci: ikan gabus, luka jahitan, post Sectio Caesarea


 
 



ABSTRACT

THE RELATIONSHIP BETWEEN CORK FISH CONSUMPTION WITH THE HEALING OF STITCHES WOUND IN BPS Ny. AIDA HASNANI NUHU, AMd. Keb. BERU VILLAGE DAWAR BLANDONG MOJOKERTO

INDAH SETYOWATI

Cork fish efficacious accelerate the process of healing wounds, including post SC wounds, because the main content of the fish is quite high protein or albumin. This study aims to determine the relationship between cork fish consumption with the healing of stitches wound in BPS Ny. Aida Hasnani Nuhu, AMd. Keb. Beru Village Dawar Blandong Mojokerto.
Research design is post test only control group design. The research was done on 25 July to 30 September 2010 by using observation sheet. The population is all post SC mothers as much as 34 people and with total sampling technique, 34 samples could be obtained. The independent variable is the consumption of cork fish, while the dependent variable is the stitches wound healing post-SC. Once collected, the data were analyzed using the Chi square test.
The results showed half of respondents are given cork fish as much as 17 people (50.0%) and most of treated group experienced stitches wound healing post SC as acute (<7 days) for about 12 people (70.6%) and almost all of control group experienced healing of stitches wounds post SC as chronic (> 7 days) of 14 persons (82,4%). Statistical analysis showed P = 0.006 < α = 0.05, H0 is rejected it means there is a relation between cork fish consumption with the healing of stitches wound of post SC mother.
Cork fish consumption could accelerate the healing of stitches wound because the main content of the fish is quite high protein or albumin.
The conclusion is cork fish efficacious to accelerate the process of healing wounds, especially the healing of stitches wound post SC in <7 days (acute). Post SC mothers should pay more attention to high protein food intake to further the healing process, e.g. eating cork fish. Midwives can use cork fish as an alternative therapy for suture wound healing, especially post-SC.

Key words: cork fish, stitches wound, post Sectio Caesarea


 
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.       Latar Belakang
Indonesia sebagai negara dengan kekayaan sumber daya alam (natural resources endowment) di sektor kelautan dan perikanan melimpah. Indonesia termasuk negara di kawasan Asia Pasifik dengan tingkat konsumsi produk perikanan yang tinggi. Sekitar 87% pelaku kegiatan perikanan berada di Asia, yakni sekitar 41,4 juta orang. Sekitar 90% hasil perikanan budi daya dunia juga berasal dari kawasan Asia dan Pasifik, termasuk di dalamnya Indonesia, yakni sekitar 46,3 juta ton diantaranya termasuk jenis ikan yang berkhasiat untuk obat (http://suarapembaca.detik.com/2010). Tradisi menggunakan bahan alami untuk dijadikan obat penyembuhan berbagai penyakit sudah ada sejak dahulu. Salah satunya adalah ikan gabus (ophiocephalus striatus). Ikan gabus adalah sejenis ikan buas yang hidup di air tawar dan rawa. Sering dijuluki “ikan buruk rupa“ karena kepalanya menyerupai kepala ular. Di negara Barat, ikan ini disebut snake head, ditakuti karena merupakan pemakan daging dan sangat agresif. Khasiat yang paling terkenal untuk ikan ini adalah mempercepat proses penyembuhan luka. Penyembuhan luka adalah panjang waktu proses pemulihan pada kulit karena adanya kerusakan atau disintegritas jaringan kulit. Respons vascular dan selular terjadi ketika jaringan teropong atau mengalami cidera (Somantri, 2007). Ikan ini juga bisa menyembuhkan berbagai luka termasuk di dalamnya yaitu luka post SC. Operasi SC (Sectio Caesaria) sendiri adalah proses persalinan yang dilakukan dengan cara mengiris perut hingga rahim seorang ibu untuk mengeluarkan bayi. Operasi ini dilakukan ketika proses persalinan normal melalui “jalan lahir“ tidak memungkinkan kerena komplikasi medis, misalnya kondisi bayinya sangat besar, si ibu memiliki panggul yang sempit, plasenta terletak di bawah dan menghalangi jalan lahir, gangguan presentasi seperti letak lintang atau tali pusarnya keluar yang bisa menimbulkan kematian bayi dan lain sebagainya. Bisa juga karena keinginan dari ibunya sendiri untuk melahirkan melalui proses sesar karena takut untuk persalinan normal. Faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka tersebut antara lain lingkungan, tradisi, pengetahuan, sosial ekonomi, penanganan petugas kesehatan, gizi dan kondisi fisik ibu (www.sariikankutuk.com/2007).
Badan Kesehatan Dunia memperkirakan bahwa angka persalinan dengan bedah caesar adalah sekitar 10% sampai 15%, dari semua proses persalinan di negara-negara berkembang. Pada tahun 2003, di Kanada memiliki angka 23%, Britania Raya 20% dan Amerika Serikat 23%, dengan berbagai pertimbangan sering kali proses bedah caesar dilakukan bukan kerena komplikasi medis saja, melainkan permintaan dari beberapa pasien dikarenakan tidak ingin mengalami nyeri waktu persalinan normal (Wikipedia, 2009). Angka kejadian SC di RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta, tahun 1999-2000 menyebutkan bahwa 30% dari 404 persalinan perbulan merupakan persalinan SC (Kasdu, 2003). Penelitian Bensons dan Pernolls yang dikutip oleh Safitri (2008) menjelaskan dimana angka kesakitan dan kematian ibu pada tindakan SC lebih tinggi dibandingkan persalinan normal, dimana angka kematian pada operasi SC adalah 40-80 tiap 100.000 kelahiran hidup. Angka ini menunjukkan risiko 25 kali lebih besar dibandingkan persalinan normal. Nyeri yang dirasakan ibu post SC berasal dari luka yang terdapat dari perut (Kasdu, 2003). Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual atau potensial. Tingkat dan keparahan nyeri paska operasi terganggu pada  fisiologis dan psikologis individu dan toleransi yang ditimbulkan nyeri (Brunner dan Suddart, 2002). Berdasarkan data yang diperoleh di BPS Aida Hasnani Nuhu, AMd. Keb Desa Beru Kecamatan Dawar Blandong pada bulan April 2010 jumlah ibu post SC yang mengalami luka jahitan ada 15 orang, 11 orang ibu post SC (73,3%) mengalami penyembuhan yang sempurna dan 4 orang ibu post SC (26,6%) mengalami penyembuhan yang tidak sempurna. Pada bulan Mei 2010, jumlah ibu post SC yang mengalami luka jahitan ada 11 orang, 7 orang ibu post SC (63,6%) mengalami penyembuhan yang sempurna dan 4 orang ibu post SC (36,4%) mengalami penyembuhan yang tidak sempurna. Dari bulan April-Mei 2010 ada 26 orang ibu post SC, 18 orang yang mengkonsumsi ikan gabus secara teratur post SC dan 8 orang yang tidak mengkonsumsi ikan gabus secara teratur atau tidak sama sekali post SC. Data terakhir dari BPS adalah sebesar 262 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2005.
Ikan gabus merupakan salah satu jenis ikan yang banyak digunakan oleh masyarakat, karena kandungan utama dalam ikan gabus adalah protein atau albuminnya yang cukup tinggi. Sedangkan salah satu faktor proses percepatan penyembuhan luka jahitan post SC yaitu membutuhkan protein tinggi yang terdapat pada ikan gabus. Referensi pendukung memperlihatkan kukusan ikan gabus dapat juga menyembuhkan penderita hipoalbumin (rendah albumin) yang diikuti komplikasi penyakit seperti hepatitis, TBC, diabetes (www.sariikankutuk.com/2007).
Menurut Eddy Suprayitno, selama ini untuk mengobati luka bakar dan pasca operasi digunakan serum human albumin yang diproduksi dari darah manusia. Untuk mengobati luka pasca operasi dibutuhkan 3 ampul serum albumin, Rp. 1,3 juta per ampulnya. Dengan meminum ekstrak ikan gabus, pasien hanya membutuhkan 24 kilogram ikan gabus untuk menyembuhkan luka operasi atau luka bakar. Malah menurut Eddy, luka dapat sembuh 3 hari lebih cepat ketimbang menggunakan serum albumin. Jika harga sekilo ikan gabus Rp. 20.000, total biaya tak lebih dari Rp. 500.000. Maka dari itu menggunakan dan mengkonsumsi ikan gabus sangat dianjurkan untuk proses mempercepat kesembuhan luka post SC.
Fenomena tradisi mengkonsumsi ikan gabus post SC (pasca operasi) menjadikan peneliti tertarik untuk mengkaji lebih jauh tentang hubungan antara konsumsi ikan gabus dengan kesembuhan luka jahitan post SC di BPS Ny. Aida Hasnani Nuhu, AMd. Keb. Desa Beru Kecamatan Dawar Blandong Kabupaten Mojokerto.
1.2.       Rumusan Masalah
Apakah ada hubungan antara mengkonsumsi ikan gabus dengan kesembuhan luka jahitan post SC di BPS Ny. Aida Hasnani Nuhu, AMd. Keb. Desa Beru Kecamatan Dawar Blandong Kabupaten Mojokerto?
1.3.       Tujuan Penelitian
1.3.1.    Tujuan umum
Mengetahui hubungan antara mengkonsumsi ikan gabus dengan kesembuhan luka jahitan post SC di BPS Ny. Aida Hasnani Nuhu, AMd. Keb. Desa Beru Kecamatan Dawar Blandong Kabupaten Mojokerto.

1.3.2.    Tujuan khusus
a.       Mengidentifikasi konsumsi ikan gabus di BPS Ny. Aida Hasnani Nuhu, AMd. Keb Desa Beru Kecamatan Dawar Blandong Kabupaten Mojokerto.
b.      Mengidentifikasi kesembuhan luka jahitan post SC di BPS Ny. Aida Hasnani Nuhu, AMd. Keb Desa Beru Kecamatan Dawar Blandong Kabupaten Mojokerto.
c.       Menganalisis hubungan antara mengkonsumsi ikan gabus dengan kesembuhan luka jahitan post SC di BPS Ny. Aida Hasnani Nuhu, AMd. Keb Desa Beru Kecamatan Dawar Blandong Kabupaten Mojokerto.
1.4.       Manfaat Penelitian
1.4.1.    Bagi responden
Agar ibu post SC mengetahui secara jelas kegunaan atau manfaat dari ikan gabus sebagai kebutuhan dalam proses penyembuhan luka jahitan post SC.
1.4.2.      Bagi peneliti
Peneliti ini dapat lebih memahami masalah yang dikaji “hubungan antara konsumsi ikan gabus dengan kesembuhan luka jahitan post SC”, sehingga peneliti dapat memberikan pengetahuan ini kepada khalayak umum, baik secara langsung ataupun tidak langsung.
1.4.3.    Bagi profesi kebidanan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan tentang fungsi, kegunaan dan manfaat ikan gabus sehingga mencegah terjadinya infeksi post SC dan membantu proses penyembuhan.


BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

            Hasil Penelitian
            Gambaran lokasi penelitian
Bidan Praktik Swasta Ny. Aida Hasnani Nuhu, AMd. Keb. terletak di Desa Beru Kecamatan Dawar Blandong Kabupaten Mojokerto yang berbatasan dengan sebelah utara Desa Karangwuni, sebelah selatan jalan raya, sebelah barat persawahan dan sebelah timur Desa Gayam. BPS ini memiliki fasilitas antara lain 1 ruang balai pengobatan untuk pasien berobat, kemudian ada 1 ruang VK atau ruang bersalin dan 1 ruang kamar inap. Jumlah tempat tidur ada 2 dan 1 untuk tempat tidur bersalin, 2 kamar mandi. Jumlah tenaga kesehatan ada 2 orang. Terdiri dari 1 orang bidan dan 1 orang asisten.
            Data umum
a.       Karakteristik responden berdasarkan umur.
1.      Kelompok perlakuan.
Tabel 4.1 Distribusi frekuensi berdasarkan umur responden kelompok perlakuan
No
Umur
Frekuensi
Persentase
1
2
3
<20 tahun (risiko tinggi)
20-35 tahun (risiko rendah)
>35 tahun (risiko tinggi)
5
9
3
29,4
52,9
17,7

Total
17
100
Sumber: Data primer tahun 2010
Berdasarkan Tabel 4.1 diketahui sebagian besar responden berumur 20-35 tahun sebanyak 9 orang (52,9%).

2.      Kelompok kontrol
Tabel 4.2 Distribusi frekuensi berdasarkan umur responden kelompok kontrol

No
Umur
Frekuensi
Persentase
1
2
3
<20 tahun (risiko tinggi)
20-35 tahun (risiko rendah)
>35 tahun (risiko tinggi)
6
7
4
35,3
41,2
23,5

Total
17
100
Sumber: Data primer tahun 2010
Berdasarkan Tabel 4.2 diketahui hampir setengah dari responden berumur 20-35 tahun sebanyak 7 orang (41,2%).
b.      Karakteristik responden berdasarkan pendidikan.
1.      Kelompok perlakuan.
Tabel 4.3 Distribusi frekuensi berdasarkan pendidikan responden kelompok perlakuan

No
Pendidikan
Frekuensi
Persentase
1
2
3
4
5
Tidak sekolah/tamat SD
SD
SMP
SMA
Akademi/PT
1
2
10
4
0
5,9
11,8
58,8
23,5
0

Total
17
100
Sumber: Data primer tahun 2010
Berdasarkan Tabel 4.3 diketahui sebagian besar responden berpendidikan SMP sebanyak 10 orang (58,8%).
2.      Kelompok kontrol
Tabel 4.4 Distribusi frekuensi berdasarkan pendidikan responden kelompok kontrol

No
Pendidikan
Frekuensi
Persentase
1
2
3
4
5
Tidak sekolah/tamat SD
SD
SMP
SMA
Akademi/PT
2
2
8
5
0
11,8
11,8
47,0
29,4
0

Total
17
100
Sumber: Data primer tahun 2010
Berdasarkan Tabel 4.4 diketahui hampir setengah dari responden berpendidikan SMP sebanyak 8 orang (47,0%).
c.       Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan.
1.      Kelompok perlakuan.
Tabel 4.5 Distribusi frekuensi berdasarkan pekerjaan responden kelompok perlakuan
No
Pekerjaan
Frekuensi
Persentase
1
2
3
4
5
Ibu rumah tangga
Petani
Swasta
Wiraswasta
PNS
6
2
2
5
2
35,3
11,8
11,8
29,4
11,8

Total
17
100
Sumber: Data primer tahun 2010
Berdasarkan Tabel 4.5 diketahui hampir setengah dari responden adalah ibu rumah tangga sebanyak 6 orang (35,3%).
2.      Kelompok kontrol
Tabel 4.6 Distribusi frekuensi berdasarkan pekerjaan responden kelompok kontrol
No
Pekerjaan
Frekuensi
Persentase
1
2
3
4
5
Ibu rumah tangga
Petani
Swasta
Wiraswasta
PNS
8
1
5
2
1
47,0
5,9
29,4
11,8
5,9

Total
17
100
Sumber: Data primer tahun 2010
Berdasarkan Tabel 4.6 diketahui hampir setengah dari responden adalah ibu rumah tangga sebanyak 8 orang (47,0%).

            Data khusus
a.       Konsumsi ikan gabus.
Tabel 4.7 Distribusi frekuensi konsumsi ikan gabus
No
Konsumsi ikan gabus
Frekuensi
Persentase
1
2
Diberikan
Tidak diberikan
17
17
50,0
50,0

Total
34
100
Sumber: Data primer tahun 2010
Berdasarkan Tabel 4.7 diketahui setengah dari responden diberikan ikan gabus untuk dikonsumsi sebanyak 17 orang (50,0%).
b.      Kesembuhan luka jahitan post SC.
1.      Kelompok perlakuan.
Tabel 4.8 Distribusi frekuensi kesembuhan luka jahitan post SC kelompok perlakuan
No
Kesembuhan luka jahitan post SC
Frekuensi
Persentase
1
2
Akut
Kronis
12
5
70,6
29,4

Total
17
100
Sumber: Data primer tahun 2010
Berdasarkan Tabel 4.8 diketahui sebagian besar responden mengalami kesembuhan luka jahitan post SC akut (<7 hari) sebanyak 12 orang (70,6%).
2.      Kelompok kontrol
Tabel 4.9 Distribusi frekuensi kesembuhan luka jahitan post SC kelompok kontrol
No
Kesembuhan luka jahitan post SC
Frekuensi
Persentase
1
2
Akut
Kronis
3
14
17,6
82,4

Total
17
100
Sumber: Data primer tahun 2010
Berdasarkan Tabel 4.9 diketahui hampir seluruh dari responden mengalami kesembuhan luka jahitan post SC kronis (>7 hari) sebanyak 14 orang (82,4%).
c.       Hubungan antara mengkonsumsi ikan gabus dengan kesembuhan luka jahitan post SC.
Tabel 4.10 Tabulasi silang antara konsumsi ikan gabus dengan kesembuhan luka jahitan post SC
Konsumsi ikan gabus
Kesembuhan luka jahitan post SC
Total
Kronis
Akut
f
%
f
%
f
%
Tidak diberikan
14
82,4
3
17,6
17
100
Diberikan
5
29,4
12
70,6
17
100
Total
19
55,9
15
44,1
34
100
Sumber: Data primer tahun 2010
Berdasarkan Tabel 4.10 diketahui responden yang tidak diberikan ikan gabus untuk dikonsumsi, hampir seluruhnya mengalami kesembuhan luka jahitan post SC kronis (>7 hari) sebanyak 14 orang (82,4%). Sebaliknya responden yang diberikan ikan gabus untuk dikonsumsi, sebagian besar mengalami kesembuhan luka jahitan post SC akut (<7 hari) sebanyak 12 orang (70,6%).
Hasil uji statistik dengan Chi square test dengan koreksi Yates pada α = 0,05 mendapatkan nilai P = 0,006, karena P < α, maka H0 ditolak artinya terdapat hubungan antara konsumsi ikan gabus dengan kesembuhan luka jahitan post SC.

            Pembahasan
            Konsumsi ikan gabus
Berdasarkan Tabel 4.7 diketahui setengah dari responden diberikan ikan gabus untuk dikonsumsi sebanyak 17 orang (50,0%). Konsumsi ikan gabus salah satunya dilatarbelakangi oleh umur. Berdasarkan Tabel 4.1 diketahui sebagian besar responden kelompok perlakuan berumur 20-35 tahun sebanyak 9 orang (52,9%), sedangkan pada Tabel 4.2 diketahui hampir setengah dari responden kelompok kontrol berumur 20-35 tahun sebanyak 7 orang (41,2%).
Pemberian ikan gabus pada kelompok perlakuan dimaksudkan untuk mempercepat penyembuhan luka post SC. Sebab ikan gabus merupakan salah satu jenis ikan yang kandungan utamanya adalah protein atau albuminnya yang cukup tinggi. Sedangkan salah satu faktor proses percepatan penyembuhan luka jahitan post SC yaitu membutuhkan protein tinggi yang terdapat pada ikan gabus. Kandungan protein ikan gabus juga lebih tinggi daripada bahan pangan yang selama ini dikenal sebagai sumber protein seperti telur, daging ayam, maupun daging sapi. Karena kandungan inilah, ikan gabus memiliki manfaat atau kegunaan yang sangat tinggi untuk mempercepat penyembuhan luka jahitan post SC. Konsumsi ikan gabus salah satunya dilatarbelakangi oleh umur responden. Umur yang cukup matang menyebabkan responden pada kelompok perlakuan yang mendapatkan ikan gabus mampu menyadari pentingnya mengkonsumsi ikan gabus sebagai alternatif pengobatan yang mempercepat penyembuhan luka jahitan yang dialaminya. Hal ini mempengaruhi pula ketaatannya dalam mengkonsumsi ikan gabus selama penelitian.
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Prof. DR. Dr. Nurpudji A. Taslim dari Universitas Hasanuddin, Makasar yang menunjukkan kadar albumin pasien di RS Wahidin Sudiro Husodo Makasar, Sul-Sel, meningkat tajam setelah beberapa kali mengkonsumsi ikan gabus. Penelitian serupa juga pernah dilakukan pada bagian bedah RS Umum Dr. Saiful Anwar Malang. Hasil uji coba tersebut menunjukkan albumin dari kadar yang rendah (1,8 g/dl) menjadi normal. Penelitian yang dilakukan di Universitas Hasanudin juga menunjukkan pemberian ekstrak ikan gabus selama 10-14 hari dapat meningkatkan kadar albumin darah 0,6-0,8 g/dl. Albumin merupakan protein yang paling banyak terkandung dalam plasma ikan gabus, sekitar 60 % dari total plasma, atau 3,5 sampai 5,5 g/dl (www.sariikankutuk.com/2007). Jika dikaitkan dengan umur, menurut Smeltzer (2002: 495) menyatakan bahwa penyembuhan luka lebih cepat terjadi pada usia muda daripada orang tua. Orang yang sudah tua tidak dapat mentorerir stres seperti trauma jaringan atau infeksi.
Jadi konsumsi ikan gabus merupakan salah satu alternatif untuk mempercepat penyembuhan luka jahitan paska operasi, khususnya post SC. Hal ini disebabkan kandungan utamanya adalah protein atau albuminnya yang cukup tinggi.
            Kesembuhan luka jahitan post SC
Berdasarkan Tabel 4.8 diketahui sebagian besar responden pada kelompok perlakuan mengalami kesembuhan luka jahitan post SC akut (<7 hari) sebanyak 12 orang (70,6%), sedangkan berdasarkan Tabel 4.9 diketahui hampir seluruh dari responden pada kelompok kontrol mengalami kesembuhan luka jahitan post SC kronis (>7 hari) sebanyak 14 orang (82,4%). Kesembuhan luka jahitan post SC dilatarbelakangi oleh faktor pendidikan dan pekerjaan responden. Berdasarkan Tabel 4.3 diketahui sebagian besar responden berpendidikan SMP sebanyak 10 orang (58,8%), sedangkan pada Tabel 4.4 diketahui hampir setengah dari responden berpendidikan SMP sebanyak 8 orang (47,0%). Berdasarkan Tabel 4.5 diketahui hampir setengah dari responden kelompok perlakuan adalah ibu rumah tangga sebanyak 6 orang (35,3%), sedangkan pada Tabel 4.6 diketahui hampir setengah dari responden kelompok kontrol adalah ibu rumah tangga sebanyak 8 orang (47,0%).
Tingkat pendidikan responden pada kedua kelompok adalah SMP. Namun responden pada kelompok perlakuan telah mendapatkan informasi bahwa ikan gabus mampu mempercepat penyembuhan luka post SC. Informasi mampu meningkatkan pemahaman responden, sehingga responden dapat melaksanakan prosedur yang ditetapkan dengan baik. Hal ini membuat responden pada kelompok perlakuan mengalami kecepatan penyembuhan luka yang lebih baik daripada kelompok kontrol. Ditinjau dari segi pekerjaan ibu, meski pada kedua kelompok sama-sama merupakan ibu rumah tangga yang tidak bekerja, namun pada kelompok perlakuan mendapatkan ikan gabus yang diberikan oleh peneliti. Sehingga mereka tidak harus mengeluarkan biaya untuk konsumsi ikan gabus. Dengan mengkonsumsi ikan gabus yang diberikan peneliti secara rutin selama 1 minggu, maka responden pada kelompok perlakuan dapat memperoleh manfaat dari ikan gabus tanpa harus mengenluarkan biaya. Hal ini yang membedakan kecepatan penyembuhan luka jahitan pada kedua kelompok.
Pengetahuan ibu tentang perawatan pasca operasi SC sangat menentukan lama penyembuhan luka jahitan. Apabila pengetahuan ibu kurang terlebih masalah makan-makanan yang dikonsumsi maka penyembuhan luka pun akan berlangsung lama. Pengetahuan salah satunya dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap perubahan sikap dan perilaku hidup sehat. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan memudahkan seseorang atau masyarakat untuk menyerap informasi dan mengimplementasikannya dalam perilaku dan gaya hidup sehari-hari, khususnya dalam hal kesehatan dan gizi. Tingkat pendidikan, khususnya tingkat pendidikan wanita mempengaruhi derajat kesehatan (Atmarita dan Fallah, 2004).
Pengaruh dari kondisi sosial ekonomi ibu dengan lama penyembuhan luka adalah keadaan fisik dan mental ibu dalam melakukan aktivitas sehari-hari pasca operasi. Jika ibu memiliki tingkat sosial ekonomi yang rendah, bisa jadi penyembuhan luka jahitan berlangsung lama karena timbulnya rasa malas dalam merawat diri (Smeltzer, 2002: 493). Tingkat pendapatan yang nyata dari keluarga menentukan jumlah dan kualitas makanan yang diperoleh. Pada tingkat pendapatan yang rendah sumber energi terutama diperoleh dari padi-padian, umbi-umbian dan sayur-sayuran. Kenaikan pendapatan menyebabkan kenaikan variasi konsumsi makanan baik yang berasal dari hewan, gula, lemak, minyak dan makanan kaleng (Suhardjo, 2008: 47). Penduduk miskin biasanya mengkonsumsi makanan yang lebih murah dan menu biasanya tidak (kurang) bervariasi. Sebaliknya pada penduduk yang berpenghasilan tinggi, umumnya mengkonsumsi makanan yang harganya lebih tinggi, akan tetapi penghasilan yang tinggi tidak menjamin tercapainya gizi yang baik (Suhardjo, 2007: 21).
Meski tingkat pendidikan responden hanya SMP, namun responden pada kelompok perlakuan telah mendapatkan informasi yang mampu meningkatkan pengetahuan bahwa ikan gabus mampu mempercepat penyembuhan luka post SC, sehingga responden dapat melaksanakan prosedur yang ditetapkan dengan baik. Di sisi lain, meski responden kelompok perlakuan hanya sebagai ibu rumah tangga, namun mereka dapat merasakan manfaat ikan gabus untuk mempercepoat penyembuhan luka tanpa mengeluarkan biaya, sehingga luka jahitan mereka dapat sembuh lebih cepat.
            Hubungan antara mengkonsumsi ikan gabus dengan kesembuhan luka jahitan post SC
Berdasarkan Tabel 4.10 diketahui responden yang tidak diberikan ikan gabus untuk dikonsumsi, hampir seluruhnya mengalami kesembuhan luka jahitan post SC kronis (>7 hari) sebanyak 14 orang (82,4%). Sebaliknya responden yang diberikan ikan gabus untuk dikonsumsi, sebagian besar mengalami kesembuhan luka jahitan post SC akut (<7 hari) sebanyak 12 orang (70,6%). Hasil uji statistik dengan Chi square test dengan koreksi Yates pada α = 0,05 mendapatkan nilai P = 0,006, karena P < α, maka H0 ditolak artinya terdapat hubungan antara konsumsi ikan gabus dengan kesembuhan luka jahitan post SC.
Karena kandungan ikan gabus yaitu protein atau albumin yang tinggi untuk mempercepat penyembuhan luka, menyebabkan responden dari kelompok perlakuan mengalami penyembuhan luka yang lebih cepat yaitu < 7 hari dibandingkan dengan responden dari kelompok kontrol.
Khasiat yang paling terkenal untuk ikan gabus adalah mempercepat proses penyembuhan luka. Membantu pemulihan luka dalam maupun luar, karena sifatnya memperbaiki jaringan organ tubuh yang melepas radikal bebas. Penyembuhan luka adalah panjang waktu proses pemulihan pada kulit karena adanya kerusakan atau disintegritas jaringan kulit. Respons vascular dan selular terjadi ketika jaringan teropong atau mengalami cidera (Somantri, 2007). Albumin merupakan protein yang paling banyak terkandung dalam plasma ikan gabus, sekitar 60 % dari total plasma, atau 3,5 sampai 5,5 g/dl (www.sariikankutuk.com/2007).
Jadi kandungan utama ikan gabus, yaitu protein menyebabkan proses penyembuhan luka dapat berjalan lebih cepat, yaitu selama <7 hari, dimana luka menjadi lebih cepat kering, tidak memerah, tidak nyeri dan tidak bengkak.
  
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

            Kesimpulan
1.      Setengah dari responden yaitu pada kelompok perlakuan diberikan ikan gabus untuk dikonsumsi yaitu sebanyak 17 orang (50,0%).
2.      Sebagian besar responden kelompok perlakuan (yang diberikan ikan gabus) mengalami kesembuhan luka jahitan post SC akut (<7 hari) sebanyak 12 orang (70,6%), sedangkan hampir seluruh responden kelompok kontrol (yang tidak diberikan ikan gabus) mengalami kesembuhan luka jahitan post SC kronis (>7 hari) sebanyak 14 orang (82,4%).
3.      Ada hubungan antara konsumsi ikan gabus dengan kesembuhan luka jahitan post SC pada P = 0,006 < α = 0,05.

            Saran
5.2.1  Bagi responden
Diharapkan responden lebih memperhatikan asupan makanan yang bergizi untuk proses penyembuhan selanjutnya, terutama yang memiliki kandungan protein tinggi, sehingga dapat lebih cepat memperbaiki sel-sel tubuh yang mengalami luka akibat operasi salah satunya dengan lebih rutin mengkonsumsi ikan gabus.
5.2.2  Bagi peneliti
Diharapkan peneliti lebih memahami mengenai proses penelitian dan dapat menerapkan hasil penelitian ini kelak saat melakukan praktik di lapangan kerja pada masyarakat, khususnya ibu post SC baik secara langsung maupun tidak langsung.
5.2.3  Bagi profesi kebidanan
Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan bagi profesi kebidanan untuk menggunakan ikan gabus sebagai terapi alternatif penyembuhan luka jahitan operasi, khususnya post SC.
5.2.4  Bagi penelitian selanjutnya
Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan inspirasi bagi penelitian dan peneliti selanjutnya juga dapat lebih menyempurnakan lagi metode yang digunakan, sehingga hasilnya lebih akurat dan dapat dijadikan sebagai salah satu terapi alternatif bagi pasien post operasi.

0 komentar:

Poskan Komentar