Minggu, 23 Juni 2013

HUBUNGAN TINGKAT KESEJAHTERAAN KELUARGA DENGAN ANEMIA PADA IBU MENYUSUI DI DESA KEJAGAN KECAMATAN TROWULAN KABUPATEN MOJOKERTO

ABSTRAK

HUBUNGAN TINGKAT KESEJAHTERAAN KELUARGA
DENGAN ANEMIA PADA IBU MENYUSUI DI DESA
KEJAGAN  KECAMATAN TROWULAN
KABUPATEN MOJOKERTO

LUTFIA DEWI WINGKINGSARY


Anemia pada ibu menyusui yaitu suatu kadar Hemoglobin (Hb) dalam darah ibu menyusui lebih dari 3 bulan < 12 gram %.Yang disebabkan oleh kurang memadainya asupan makanan sumber Fe, kemiskinan, meningkatnya kebutuhan Fe, kehilangan fE melalui ASI. Anemia pada ibu menyusui banyak ditemukan dinegara-negara berkembang, dimana prevalensinya tahun 2001 52%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat kesejahteraan keluarga dengan anemia pada ibu menyusui.
Penelitian ini menggunakan jenis analitik dengan pendekatan cross sectional dan subyek penelitiannya ibu menyusui dengan teknik pengambilan sampel menggunakan simple random dan jumlah responden 64 orang. Data dikumpulkan dengan menggunakan wawancara yang terdiri dari 21 pertanyaan tentang tingkat kesejahteraan keluarga dan observasi tentang anemia pada ibu menyusui.
Hasil penelitian menunjukkan tingkat anemia terbanyak pada keluarga pra sejahtera 20 orang (90,9 %). Dari perhitungan uji spearman rank hasilnya 0,4 > 0,364 yang berarti H1 diterima dan ada hubungan tingkat kesejahteraan keluarga dengan anemia pada ibu menyusui.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa anemia pada ibu menyusui bisa dipengaruhi oleh faktor ekonomi/ kemiskinan yang bisa diukur melalui tingkat kesejahteraan keluarga. Dengan demikian diharapkan meningkatkan frekuensi penyuluhan tentang makanan mengandung zat besi yang dapat dijangkau oleh ibu menyusui sesuai tingkat kesejahteraan keluarga, mengoptimalkan pelayanan kesehatan terutama melakukan pemerikasaan kadar hemoglobin pada ibu menyusui agar apabila ada keadaan yang abnormal segera diketahui secara dini dan mendapat penanganan yang tepat seperti memberi tablet Fe pada ibu menyusui.


Kata Kunci : Kesejahteraan keluarga, Anemia

ABSTRACT

MOUNT RELATION OF FAMILY PROSPERITY
WITH THE ANEMIA OF MOTHER SUCKLE IN COUNTRYSIDE
KEJAGAN OF SUB DISTRICT TROWULAN
REGENCY MOJOKERTO

LUTFIA DEWI WINGKINGSARY


Anemia of mother suckles that is a Haemoglobin rate (Hb) in mother blood suckles more than 3 month < 12 gram %. What is because of less be adequate it intake of food of source Fe, poorness, the increasing of requirement Fe, loss Fe of through ASI. Anemia of mother suckle a lot of found by a nations expand, where prevalent year 2001 52%. This research target is to know the relation mount the family prosperity with the anemia of mother suckle.
This research use the analytic type with the approach of cross sectional and its subject research is mother suckle with the technique of intake sample use the simple random and sum up the respondent 64 people. Data collected by using interview consisted of 21 question of about level of prosperity of family and observation of about anemia of mother suckles.
Result of research show the anemia level of a lot of secure and prosperous pre family 20 people (90,9 %). From calculation test the its spearman rank result 0,4 > 0,364 meaning H1 accepted and there is relation mount the family prosperity with the anemia of mother suckle.
From inferential research result that anemia of mother suckle can be influenced by economic factor / poorness which can be measured by through level of family prosperity. Is thereby expected to improve the counseling frequency of about food contain the ferrum which can be reached by mother suckle according to level of family prosperity, optimal of health service especially do the inspection of hemoglobin rate of mother suckle so that if there is abnormal circumstance is immediately known early and get the correct handling like giving tablet Fe of mother suckle.


Keyword : Family Prosperity, Anemia

BAB 1
PENDAHULUAN
                                                                         
1.1   Latar Belakang
 Kemiskinan di Indonesia memunculkan berbagai penyakit pada kelompok resiko tinggi seperti ibu hamil, ibu menyusui, bayi, balita, dan lanjut usia. Kemiskinan tersebut menyebabkan cakupan gizi rendah, pemeliharaan kesehatan kurang, lingkungan buruk,  dan biaya untuk berobat tidak ada. Salah satu gangguan gizi yang disebabkan oleh kemiskinan berupa kekurangan kalori protein yang dapat menyebabkan kekurangan zat besi (anemia). Masalah defisiensi zat besi merupakan masalah kesehatan masyarakat di banyak negara berkembang termasuk di Indonesia yang banyak dialami oleh kelompok rawan gizi seperti ibu menyusui (www.damandiri.or.id/eva/2008). Sedangkan untuk menentukan model pengukuran kemiskinan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melakukan pentahapan keluarga sejahtera (pypanji.wordpress.com/2008).
 Menurut Dijkhuizen et al anemia pada ibu menyusui banyak ditemukan dinegara-negara berkembang, dimana prevalensinya tahun 2001 sebesar 52 % (doc-search-engine.com/2008). Prevalensi anemia ibu menyusui di Indonesia tahun 2006 sebesar 34,1% (www.cakrawala.com/2007). Menurut data yang diperoleh pada ibu menyusui dengan anemia di Desa  Kejagan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto bulan Januari 2010 jumlah ibu menyusui ada 84 orang, 20 orang yang mengalami anemia (23,81%) dan 64 orang ibu menyusui yang tidak mengalami anemia (76,19%). Sedangkan pada bulan Februari 2010 jumlah ibu menyusui ada 76 orang, 22 orang yang mengalami anemia (28,95%) dan 54 orang ibu menyusui yang tidak mengalami anemia (71,05%). Dari data tersebut dapat diketahui bahwa kejadian ibu menyusui dengan anemia  mengalami peningkatan dari bulan Januari sampai Februari 2010 sebesar 5,14%.    
Anemia adalah suatu keadaan dimana komponen di dalam darah, yakni hemoglobin (Hb) dalam darah jumlahnya kurang dari kadar normal (doc-search-engine.com/2008). Masalah anemia gizi di Indonesia yang berkaitan dengan kekurangan zat besi (Sunita, 2009: 309). Anemia yang banyak menimpa wanita usia usia subur dan masih produktif, dipicu oleh fungsi reproduksi mereka, mulai dari menstruasi, kehamilan, melahirkan, sampai dengan menyusui (www.bkkbn.go.id/2008). Masalah gizi terjadi pada suluruh siklus kehidupan mulai dari bayi sampai balita, anak usia sekolah, remaja, dewasa termasuk ibu hamil dan ibu menyusui (www.damandiri.or.id/eva/2008). Wanita menyusui memerlukan lebih banyak Fe dibandingkan dengan wanita biasa karena ASI mengandung Fe dalam bentuk lactotransferin yang diberikan kepada anak yang sedang disusukan (Sediaoetama, 2000: 180). Anemia yang terjadi pada ibu menyusui akan berdampak terhadap kemampuan untuk memproduksi ASI yang cukup dimana cadangan atau jaringan ibu akan dipakai untuk memproduksi ASI sehingga ibu sangat beresiko terhadap terjadinya gizi kurang dan anemia yang lebih berat (www.damandiri.or.id/eva/2008). Jika tidak segera ditangani anemia zat besi bisa menyebabkan ganguan kesehatan serius (doc-search-engine.com/2008).
Untuk menanggulangi anemia pada ibu menyusui berdasarkan tingkat kesejahteraan keluarga adalah dengan memberikan makanan bergizi yang cukup mengandung zat besi, hal itu tidak selalu harus diperoleh dengan harga mahal. Penyuluhan dan pelatihan makanan bergizi dapat dilakukan oleh tenaga ahli gizi, bersama dengan tenaga ahli kesehatan tenaga lingkungan, atau tenaga ahli kesehatan masyarakat, dan bisa dibantu oleh tenaga bidan atau perawat. Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian tentang “Hubungan Tingkat Kesejahteraan Keluarga Dengan Anemia Pada Ibu Menyusui Di Desa  Kejagan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto”.
                                      
1.2   Rumusan Masalah
Adakah  hubungan tingkat kesejahteraan keluarga dengan anemia pada ibu menyusui di Desa  Kejagan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto?

1.3   Tujuan Penelitian
1.3.1   Tujuan Umum
  Mengetahui adanya hubungan tingkat kesejahteraan keluarga dengan anemia pada ibu menyusui di Desa  Kejagan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto.
1.3.2   Tujuan Khusus
1  Mengidentifikasi tingkat kesejahteraan keluarga di Desa  Kejagan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto.
2  Mengidentifikasi anemia pada ibu menyusui di Desa  Kejagan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto.
3  Menganalisa hubungan tingkat kesejahteraan keluarga dengan anemia pada ibu menyusui di Desa  Kejagan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto.

1.4   Manfaat Penelitian
1.4.1   Bagi Responden
 Meningkatkan pengetahuan responden tentang anemia pada ibu menyusui dan dapat mengatasi anemia sehingga diharapkan angka kejadian anemia dapat berkurang.
1.4.2   Bagi Peneliti
 Sebagai pengalaman baru bagi peneliti dalam melakukan penelitian dan peneliti dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama mengikuti perkuliahan sehingga mampu berfikir kritis dalam menganalisis anemia pada ibu menyusui yang ada di masyarakat.
1.4.3   Bagi Profesi Kebidanan
 Membantu memberikan informasi tentang permasalahan gizi pada ibu menyusui dan faktor-faktor yang mempengaruhi sehingga upaya pencegahan dapat dilakukan serta dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
1.4.4   Bagi Penelitian Selanjutnya
 Sebagai dasar untuk melaksanakan penelitian selanjutnya, khususnya tentang penyebab anemia lainnya pada ibu menyusui. 
1.5   Batasan Penelitian
 Penelitian ini hanya meneliti tentang salah satu penyebab anemia pada ibu menyusui, yaitu tingkat kesejahteraan keluarga, sedangkan penyebab anemia pada ibu menyusui yang lain seperti kurang memadainya asupan makanan sumber Fe, meningkatnya kebutuhan Fe, kehilangan banyak darah, variasi penyerapan Fe, dan kemiskinan  tidak diteliti.

BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian
4.1.1     Data Umum
4.1.1.1 Gambaran Umum Desa
1. Lokasi Penelitian
             Penelitian ini dilakukan di Desa Kejagan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto yang mempunyai luas wilayah 265,678 ha dengan batas wilayah sebagai berikut :
Sebelah Utara      :  Desa Wonorejo
Sebelah Selatan   :  Desa Trowulan dan Desa Bejijong
Sebelah Barat      :  Dusun Muteran
Sebelah Timur     :  Desa Wonorejo
2. Data Demografi
             Jumlah penduduk Desa Kejagan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto adalah 3.879 jiwa.
3. Umur 
Tabel 4.1   Distribusi Responden Berdasarkan Umur di Desa Kejagan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto tahun

No
Umur (Tahun)
Frekuensi
Persentase
1
2
3
4
5
6
7
17 – 19
20 – 22
23 – 25
26 – 28
29 – 31
32 – 34
35 - 37
18
16
10
10
4
4
2
28,2 %
 25 %
 15,6 %
15,6 %
6,2 %
6,2 %
3,2 %

Jumlah
64
100 %
Sumber : Data Primer Juli 2010
             Dari Tabel 4.1 diketahui karakteristik berdasarkan umur ibu menyusui di Desa Kejagan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto paling banyak berumur 17 - 19 tahun sebanyak 18 orang (28,2 %).
4. Tingkat Pendidikan Terakhir Ibu

Tabel 4.2   Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Terakhir di Desa Kejagan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto tahun

No
Pendidikan Terakhir Ibu
Frekuensi
Persentase
1
2
3
4
SD
SMP
SMA
Perguruan Tinggi
30
20
10
4
46,9 %
31,2 %
15,6 %
6,3 %

Jumlah
64
100 %
Sumber : Data Primer  Juli 2010

Dari Tabel 4.2 diketahui karakteristik berdasarkan tingkat pendidikan terakhir ibu menyusui di Desa Kejagan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto  paling  banyak  berpendidikan  terakhir  SD  sebanyak  30   responden
(46,9 %).
5.Umur Anak
Tabel 4.3   Distribusi Responden Berdasarkan Umur Anak di Desa Kejagan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto tahun

No
Umur (bulan)
Frekuensi
Persentase
1
2
3
4
5
6
7
4 - 6
7 – 9
10 -12
13 – 15
16 – 18
19 – 21
22 - 24
18
16
10
10
4
4
2
29,7 %
25 %
21,9 %
7,8 %
7,8 %
4,7 %
3,1 %

Jumlah
64
100 %
Sumber : Data Primer  Juli 2010
   
              Dari Tabel 4.3 diketahui karakteristik berdasarkan umur anak ibu menyusui di Desa Kejagan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto paling banyak berumur 4 - 6 bulan sebanyak 19 anak (29,7 %).

4.1.2     Data Khusus
4.1.2.1 Tingkat Kesejahteraan Keluarga
Tabel 4.4   Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Kesejahteraan Keluarga Responden di Desa Kejagan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto

No
Tingkat Kesejahteraan Keluarga
Frekuensi
Persentase
1
2
3
4
5
Keluarga Pra Sejahtera
Keluarga Sejahtera I
Keluarga Sejahtera II
Keluarga Sejahtera III
Keluarga Sejahtera III Plus
22
28
10
4
0
34,4 %
43,8 %
15,6 %
6,3  %
0 %

Jumlah
64
100 %
Sumber : Data Primer Juli 2010

             Dari Tabel 4.4 diketahui karakteristik berdasarkan tingkat kesejahteraan ibu menyusui di Desa Kejagan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto paling banyak Keluarga Sejahtera I yaitu 28 responden (43,8 %).

4.1.2.2 Anemia Pada Ibu Menyusui
                  
Tabel 4.5   Distribusi Anemia Pada Ibu Menyusui di Desa Kejagan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto

No
Anemia Pada Ibu Menyusui
Frekuensi
Persentase
1
2
Anemia
Tidak Anemia
42
22
65,6 %
34,4 %

Jumlah
64
100 %
Sumber : Data Primer Juli 2010

             Dari Tabel 4.5 diketahui anemia pada ibu menyusui di Desa Kejagan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto paling banyak ibu mengalami anemia yaitu 42 responden (65,6 %)
4.1.2.3  Tabulasi Silang Tingkat Kesejahteraan Keluarga Dengan Anemia Pada Ibu Menyusui di Desa Kejagan Kecamatan Trowulan Kabupaten  Mojokerto


Tabel 4.6   Tabulasi Silang Tingkat Kesejahteraan Keluarga Dengan Anemia Pada Ibu Menyusui di Desa Kejagan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto


No

Anemia Pada Ibu Menyusui
Tingkat Kesejahteraan Keluarga

Jumlah
Keluarga Pra Sejahtera
Keluarga Sejahtera I
Keluarga Sejahtera II
Keluarga Sejahtera III
Keluarga Sejahtera I Plus
n
%
n
%
n
%
n
%
n
%
n
%
1
Anemia
20
90,9
20
71,4
2
20
0
0
0
0
42
65,6
2
Tidak Anemia
2
9,1
8
26,6
8
80
4
100
0
0
22
34,4

22
100
28
100
10
100
4
100
0
0
64
100

Dari Tabel 4.6 diketahui anemia pada ibu menyusui di Desa Kejagan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto terbanyak pada Keluarga Pra Sejahtera 20 responden (90,9 %).
Hasil Uji Spearman Rank Test menunjukkan taraf signifikasi 0,05, jadi r hitung > r tabel  berati 0,4 > 0,364 artinya bahwa H1 diterima, artinya ada hubungan antara tingkat kesejahteraan keluarga dengan anemia pada ibu menyusui di Desa Kejagan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto.

4.2 Pembahasan
4.2.1     Tingkat Kesejahteraan Keluarga
             Berdasarkan penelitian dari 64 responden yang dilakukan di Desa Kejagan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto yang termasuk dalam Keluarga Pra Sejahtera sebanyak 22 responden (34,4 %), Keluarga Sejahtera I sebanyak 28 responden (43,8 %), Keluarga Sejahtera II sebanyak 10 responden (15,6 %), Keluarga Sejahtera III sebanyak 4 responden (6,3 %), Keluarga Sejahtera III Plus sebanyak 0 responden (0 %). (Tabel 4.4).
Keluarga Sejahtera Tahap I (Miskin) yaitu keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal, tetapi belum dapat memenuhi keseluruhan kebutuhan social psikologinya (socio psychological needs) (BKKBN, 2005: 15).
Indikator Tahapan Keluarga Sejahtera I : cara pengisian indikator Keluarga Sejahtera I yaitu apabila jawaban “Ya” lebih dari sama dengan 6 dan kurang dari 14 pada pertanyaan tahapan keluarga sejahtera II. Indikatornya point 1-6 kemudian ditambah poin 1-8 (Keluarga Sejahtera Tahap II) sebagai berikut :
1         Pada umumnya anggota keluarga makan dua kali sehari atau lebih.
2         Anggota keluarga memiliki pakaian yang berbeda untuk rumah, bekerja/ sekolah dan bepergian.
3         Rumah yang ditempati keluarga mempunyai atap, lantai, dinding yang lebih baik.
4         Bila ada anggota keluarga yang sakit dibawa ke sarana kesehatan.
5         Bila pasangan usia subur ingin ber-KB pergi ke sarana pelayanan kontrasepsi.
6         Semua anak umur 7-15 tahun dalam keluarga bersekolah.
(BKKBN, 2005: 4).
                                                                 
1.  Ya anggota keluarga melaksanakan ibadah sesuai dengan agama dan
     kepercayaan masing-masing.
2.  Paling kurang sekali seminggu seluruh anggota keluarga makan daging/ ikan/  
     telur.
3.  Seluruh anggota keluarga memperoleh paling kurang satu pasang pakaian baru
     dalam setahun.
4.  Luas lantai rumah paling kurang 8 m2 untuk setiap penghuni rumah.
5.  Tiga bulan terakhir keluarga dalam keadaan sehat sehingga dapat melaksana-
     kan tugas/ fungsi masing-masing.
6.  Ada seorang atau lebih anggota keluarga yang bekerja untuk memperoleh
     penghasilan.
7.   Seluruh anggota keluarga umur 10-60 tahun bisa baca tulisan latin.
8.  Pasangan usia subur dengan anak dua atau lebih menggunakan alat/ obat
      kontrasepsi.
         (BKKBN, 2005: 15)

Keluarga merupakan bagian dari manusia yang setiap hari selalu berhubungan dengan kita. Faktor penyebab keluarga masih berada pada tahap kesejahteraan keluarga yang rendah salah satunya karena  faktor ekonomi (BKKBN, 2005). Sedangkan untuk model pengukuran kemiskinan dapat menggunakan pentahapan keluarga sejahtera.
Bila keluarga masih berada pada tahap kesejahteraan yang rendah salah satunya karena rendahnya tingkat pendidikan sehingga kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan semakin kecil dan mengakibatkan sulitnya memenuhi kebutuhan keluarga sejahtera.
Secara umum, untuk meningkatkan tahapan keluarga sejahtera ke tahapan yang lebih tinggi, harus menghilangkan faktor penyebabnya yaitu jika tidak mampu membiayai sekolahnya secara pribadi, maka dapat meningkatkan kualitas SDM dengan begitu bisa mendapatkan beasiswa.

4.2.2     Anemia Pada Ibu Menyusui
             Berdasarkan penelitian dari 64 responden yang dilakukan di Desa Kejagan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto anemia pada ibu menyusui di Desa Kejagan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto untuk anemia (65,6 %) dan tidak anemia (34,4 %). (Tabel 4.5).
Anemia pada ibu menyusui yaitu suatu kadar Hemoglobin (Hb) dalam darah ibu menyusui lebih dari 3 bulan  kurang  dari 12  gram %    (Supariasa IDN, 2002: 169).
Penyebab terjadinya anemia pada ibu menyusui adalah :
1.       kurang memadainya asupan makanan sumber Fe (FKMUI, 2007: 205)
2.       Kemiskinan menyebabkan cakupan gizi rendah, pemeliharaan kesehatan kurang, pemeliharaan kesehatan kurang, lingkungan buruk,  dan biaya untuk berobat tidak ada. Salah satu gangguan gizi yang disebabkan oleh kemiskinan berupa kekurangan kalori protein yang dapat menyebabkan kekurangan zat besi (anemia) (www.safa.or.id/2008).
3.       Meningkatnya kebutuhan Fe ibu menyusui (perubahan fisiologis) (FKMUI, 2007: 205)
4.       Saat menyusui, meski biasanya wanita tidak mengalami haid, ibu tetap kehilangan zat besi melalui ASI. Kehilangan zat besi melalui ASI mencapai sekitar 0,3 mg per hari .
      (www.balita-anda.indoglobal.com/2008).

Masalah gizi (anemia) dapat disebabkan oleh kemiskinan, pendidikan rendah dan kesempatan kerja (Depkes, 2007). Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin mudah menerima informasi, sehingga semakin banyak pula pengetahuan yang dimiliki dan begitu pula sebaliknya Siti Pariani (2001).
             Berdasarkan hasil wawancara keluarga paling kurang seminggu sekali tidak mengkonsumsi daging, ikan dan telur (protein hewani) yaitu sebanyak 36 keluarga (56,3 %). Salah satu sumber zat besi adalah protein hewani yang dapat digunakan sebagai cara untuk mencegah dan penatalaksanaan anemia. Tidak dikonsumsinya protein hewani oleh keluarga disebabkan tidak mampu membelinya sehingga anemia masih banyak terjadi di Desa Kejagan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto.
             Hal yang dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani yang bertujuan untuk pemenuhan kebutuhan zat besi dalam tubuh adalah dengan menggantinya dengan tablet Fe yang diberi petugas kesehatan.   
4.2.3     Hubungan Tingkat Kesejahteraan Keluarga Dengan Anemia Pada Ibu Menyusui
      Hasil Uji Spearman Rank Test menunjukkan taraf signifikasi 0,05, jadi r hitung > r tabel  berati 0,4 > 0,364 artinya bahwa H1 diterima, artinya ada hubungan antara tingkat kesejahteraan keluarga dengan anemia pada ibu menyusui di Desa Kejagan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto. Hasil penelitiannya adalah ibu menyusui yang mengalami anemia pada tahap keluarga pra sejahtera sebanyak 20 orang (90,9 %) dan pada ibu menyusui yang tidak mengalami anemia berada pada tahap keluarga sejahtera III plus yaitu 0 (0 %). (Tabel 4.6).
Anemia pada ibu menyusui disebabkan kemiskinan sehingga menyebabkan cakupan gizi rendah (Sefa, 2008). Salah satu gangguan gizi yang disebabkan oleh kemiskinan berupa kekurangan kalori protein yang dapat menyebabkan kekurangan zat besi (anemia). Kemiskinan digambarkan dengan pentahapan keluarga sejahtera (BKKBN, 2005). Faktor penyebab keluarga masih berada pada tahap kesejahteraan keluarga yang rendah salah satunya karena  faktor ekonomi (BKKBN, 2005).
Dengan menyusui secara eksklusif, ibu tidak perlu mengeluarkan biaya untuk makanan bayi sampai bayi berumur 4 bulan. Dengan demikian akan menghemat pengeluaran rumah tangga untuk membeli susu formula dan peralatannya (Suradi, dkk. 2003). Pada ibu yang defisiensi besi akan menghasikan ASI dengan kadar folat rendah. Akibat kekurangan folat dapat menyebabkan gangguan DNA, menghambat pertumbuhan, menyebabkan anemia megaloblastik dan gangguan darah lain (Almatsier, 2005: 212).
Pada umumnya banyak terdapat ibu menyusui di Desa Kejagan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto mengalami anemia yang berada pada tahap keluarga pra sejahtera karena tidak mampu memenuhi kebutuhan kesejahteraan keluarga yaitu salah satunya tidak mengkonsumsi protein hewani (daging, ikan dan telur) yang merupakan makanan sumber Fe sehingga pencegahan dan penatalaksanaan anemia sulit untuk dilakukan dengan baik dan tingkat kesejahteraan keluarga juga tidak meningkat ke tingkat kesejahteraan keluarga yang lebih tinggi.
            Agar ibu menyusui tidak kekurangan kalori protein yang dapat menyebabkan kekurangan zat besi (anemia) pada keluarga yang berada pada tingkat kesejahteraan keluarga yang rendah dapat dilakukan pemberian tablet Fe oleh tenaga kesehatan secara gratis dan suplemen zat besi, disamping itu tentu saja menambah jumlah makanan yang kaya akan zat besi dan yang dapat menambah penyerapan zat besi.

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
             Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan ternyata ada hubungan. Adapun kesimpulan tersebut dapat disimpulkan sebagai berrikut :
1.      Paling banyak Keluarga Sejahtera I yaitu 28 responden (43,8 %).
2.      Paling banyak ibu menyusui mengalami anemia yaitu 42 responden (65,6 %).
3.      Ada hubungan antara tingkat kesejahteraan keluarga dengan anemia pada ibu menyusui di Desa Kejagan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto.

5.2   Saran
5.2.1        Bagi Responden
Diharapkan ibu menyusui dapat meningkatkan pengetahuan tentang anemia pada ibu menyusui dan dapat mengatasinya sehingga angka kejadian anemia dapat berkurang dengan cara lebih banyak mengkonsumsi makanan mengandung zat besi (Fe) yang dapat dijangkau sesuai dengan tingkat kesejahteraan keluarganya selain mendapat tablet Fe.
5.2.2        Bagi Peneliti
Dapat mengaplikasikan penelitian ini sehingga mampu berfikir kritis dalam menganalisis anemia pada ibu menyusui yang ada di masyarakat.
5.2.3        Bagi Profesi Kebidanan
Diharapkan Bidan dapat membantu memberikan informasi tentang permasalahan gizi pada ibu menyusui dan faktor-faktor yang mempengaruhi sehingga upaya pencegahan dapat dilakukan serta dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
5.2.4        Bagi Penelitian Selanjutnya
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai dasar untuk melaksanakan penelitian selanjutnya, khususnya tentang penyebab anemia lainnya pada ibu menyusui.

0 komentar:

Poskan Komentar