Minggu, 23 Juni 2013

Hubungan antara tingkat pengetahuan ibu hamil tentang imunisasi TT dengan kelengkapannya di Puskesmas Gitik Desa Gitik Kec Rogojampi Kabupaten Banyuwangi


BAB 1
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Penyakit tetanus merupakan masalah yang serius dan dapat berakibat pada kematian. Penyakit ini dapat mengenai semua umur, tetapi lebih sering pada bayi baru lahir, atau disebut dengan tetanus neonatorum. Saat ini tetanus neonatorum merupakan salah satu penyebab utama kematian bayi di Indonesia yang timbul sebagai akibat masih rendahnya cakupan pelayanan antenatal dan imunisasi TT. Hal ini dapat disebabkan berbagai faktor, salah satunya adalah pengetahuan dan sikap yang termasuk sebagai faktor predisposisi yang menunjang ibu hamil untuk berperilaku (Khaidirmuhaj, 2010). Kurangnya pengetahuan ibu hamil tentang pemberian imunisasi TT saat kunjungan antenatal care dapat berdampak pada kelengkapan imunisasi TT yang didapat saat kehamilan. Rendahnya hasil cakupan imunisasi TT lengkap pada ibu hamil berarti akan mengurangi daya guna imunisasi ini dalam menimbulkan kekebalan dan melindungi bayi dan ibu hamil dari penyakit tetanus. Keadaan ini dengan sendirinya akan mengurangi keberhasilan program imunisasi secara keseluruhan (Junaedi, 2010).
Menurut dinkes RI (2001) program making pregnancy safer (MPS) di Indonesia ditetapkan target untuk tahun 2010 adalah meningkatkan cakupan pelayanan antenatal (k1) menjadi 95% termasuk cakupan TT1, sedangkan cakupan kunjungan ke empat (k4) menjadi 90% termasuk cakupan TT2. Sedangkan data yang diperoleh dari dinas kesehatan banyuwangi tahun 2009 cakupan TT hanya mencapai 11,3%. Data cakupan imunisasi TT yang diperoleh dari puskesmas gitik tahun 2009  adalah  cakupan pelayanan antenatal (k1) sebesar 880 dengan cakupan TT1 sebesar 27 (3,1%), sedangkan cakupan pelayanan antenatal (k4) sebesar 739 dengan cakupan TT2 sebesar 64 (8,6%). Dari study pendahuluan yang telah dilakukan pada bulan april tahun 2010 di Puskesmas Gitik dengan wawancara kepada 10 orang ibu hamil diperoleh hasil yaitu 4 ibu hamil yang mendapatkan imunisasi lengkap serta memiliki pengetahuan tentang imunisasi TT yang baik dan ada 6 ibu hamil yang imunisasi TT tidak lengkap yang tidak mengetahui tentang imunisasi TT.
               Penyakit tetanus neonatorum adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus (bayi berusia kurang dari 1 bulan) yang dsebabkan oleh clostridiium tetani, yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun) dan menyerang sistem saraf pusat. Spora kuman tersebut masuk ke dalam tubuh bayi melalui pintu masuk satu-satunya, yaitu tali pusat, yang dapat terjadi pada saat pemotongan tali pusat ketika bayi lahir maupun pada saat perawatan sebelum  puput (terlepasnya tali pusat). Masa inkubaasi 3-28 hari, rata-rata 6 hari. Apabila masa inkubasi kurang dari 7 hari, biasanya penyakit lebih parah dan angka kematiannya tinggi.(Prawiroharjo, 2002).
Guna mempercepat penurunan angka kematian ibu dan kematian bayi, Departemen kesehatan telah melaksanakan berbagai program yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak dan salah satunya pencegahan tetanus neonatorum (Depkes, 2007). Meskipun tetanus neonatorum terbukti sebagai salah satu penyebab kesakitan dan kematian neonatal, sesungguhnya dapat dicegah, pencegahan yang dilakukan diantaranya adalah pemberian imunisasi tetanus toksoid (TT). Salah satu faktor yang mempengaruhi kelengkapan imunisasi TT pada ibu hamil adalah pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya imunisasi TT. Pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya imunisasi TT merupakan dominan yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior). Pengetahuan ini dapat diperoleh dari membaca buku, mendapat informasi dari tenaga kesehatan atau sarana lain (media massa, televisi, dan radio).
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti sangat tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul hubungan pengetahuan ibu hamil tentang imunisasi TT dengan kelengkapannya.
1.2 Rumusan Masalah
Apakah terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan ibu hamil tentang imunisasi TT dengan kelengkapannya di Puskesmas Gitik Desa Gitik Kec Rogojampi Kabupaten Banyuwangi?.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui adanya hubungan antara pengetahuan ibu hamil tentang imunisasi TT dengan kelengkapannya.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.Mengidentifikasi pengetahuan ibu hamil tentang pemberian imunisasi TT di Puskesmas Gitik Desa Gitik Kec Rogojampi Kabupaten banyuwangi.
2.Mengidentifikasi kelengkapan imunisasi TT  pada ibu hamil di Puskesmas Gitik Desa Gitik Kec Rogojampi Kabupaten Banyuwangi.
3.Menganalisa hubungan pengetahuan ibu hamil tentang imunisasi TT dengan kelengkapannya di Puskesmas Gitik Desa Gitik Kec Rogojampi Kabupaten Banyuwangi.
1.4 Manfaat Penellitian
1.4.1 Bagi Responden
Diharapkan dari hasil penelitian ini para responden dapat mengetahui tentang imunisasi TT. Selain itu, responden bisa mendapatkan imunisasi TT  yang lengkap saat kehamilan.
1.4.2 Bagi peneliti
Dari hasil penelitian, peneliti dapat memberikan penyuluhan kepada semua ibu hamil mengenai imunisasi TT agar semua ibu hamil bisa mendapatkan imunisasi TT lengkap.
1.4.3 Bagi profesi kebidanan
            Hasil penelitian bisa dijadikan sebagai bahan masukan bagi profesi kebidanan dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan terutama dalam pelayanan antenatal care.
1.4.4 Bagi penelitian selanjutnya
Sebagai data dasar untuk melakukan penelitian lebih lanjut khususnya tentang imunisasi TT saat kehamilan.
1.5 Batasan Penelitian
Penelitian ini hanya meneliti tentang hubungan antara pengetahuan ibu hamil tentang imunisasi TT dengan kelengkapannya sedangkan faktor lain yang mempengaruhi seperti karakteristik ibu hamil, pelayanan kesehatan, lingkungan dan lain sebagainya tidak diteliti.

BAB 4
HASIL PENELITIAN  DAN PEMBAHASAN

4.1  Gambar Lokasi Penelitian
Adapun batasan wilayah di, Puskesmas Gitik Desa Gitik Kecamatan Rogojampi meliputi :
Utara     :  Ds. Laban Sukadi Kecamatan Rogojampi
Selatan  :  Ds. Rogojampi Kecamatan Rogojampi
Barat     :  Ds. Karang Bendo Kecamatan Rogojampi
Timur    :  Ds. Benelan Lor KecamatanRogojampi
Puskesmas Gitik terdapat 15 bidan dan terdiri dari 2 Puskesmas pembantu. Adapun jumlah ibu hamil yang berusia 1-7 bulan di Puskesmas Gitik Desa Gitik Kecamatan Rogojampi sebanyak 31 orang akan dibagi menjadi 2 bagian yaitu data umum dan data khusus. Data umum yang berisi karakteristik responden yang terdiri dari usia, pekerjaan dan pendidikan, di Puskesmas Gitik Banyuwangi. Data khusus membahas hubungan pengetahuan ibu hamil tentang imunisasi tetanus toksoid dengan kelengkapannya.
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Data Umum                                                               
1. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia

 
Tabel 4.1  Distribusi responden berdasarkan usia di, Puskesmas Gitik Desa Gitik Kec. Rogojampi Kab. Banyuwangi
Usia (tahun)
Responden
Persentase
20-25
>25-30
>30-35
13
12
6
45
39
16
Total
31
100
        Sumber data : kuesioner penelitian 2010
Dari Tabel 4.1 menunjukkan bahwa dari 31 responden didapatkkan hasil bahwa responden yang berusia 20-25 tahun berjumlah 13 responden (45%).
2. Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan
Tabel 4.2 Distribusi responden berdasarkan pekerjaan di Puskesmas Gitik Desa Gitik Kec. Rogojampi Kab. Banyuwangi.
Pekerjaan
Responden
Persentase
IRT
PNS
Swasta
Wiraswasta
9
3
13
6
29
10
42
19
Total
31
100
       Sumber data : kuesioner penelitian 2010
Dari Tabel 4.2 diatas diketahui bahwa dari 31 responden didapatkan bahwa responden yang bekerja sebagai swasta sebanyak 13 responden (42%).
3. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan
Tabel 4.3 Distribusi responden berdasarkan pendidikan di Puskesmas Gitik Desa Gitik Kec. Rogojampi Kab. Banyuwangi.
Pendidikan
Responden
Persentase
SD
SLTP
SLTA
Akademi/PN
3
14
9
5
9,6
45,3
29
16,1
Total
31
100
        Sumber data : kuesioner penelitian 2010
Berdasarkan Tabel 4.3 diatas dapat diketahui bahwa responden yang tamatan SLTP sebanyak 14 responden (45,3%).
 4.2.2 Data Khusus
1. Karakteristik Pengetahuan Responden Tentang Imunisasi TT.
Tabel 4.4 Distribusi frekuensi responden tentang pengetahuan ibu hamil tentang imunisasi TT di Puskesmas Gitik Desa Gitik Kec Rogojampi Kab Banyuwangi.

No
Pengetahuan
Jumlah
%
1.
2.
3.
Baik
Cukup
Kurang
7
10
14
23
32
45

Total
31
100
       Sumber data : kuesioner penelitian 2010
Berdasarkan Tabel 4.4 di atas didapat data bahwa dari 31 responden yang memiliki pengetahuan kurang sebanyak 14 responden (45%).

2. Karakteristik Responden Berdasarkan Kelengkapan Imunisasi TT
Tabel 4.5  Distribusi frekuensi responden  tentang kelengkapan imunisasi TT  di Puskesmas Gitik Desa Gitik Kec Rogojampi Kab Banyuwangi.

No
Kelengkapan
jumlah
%
1.
2.

Lengkap
Tidak Lengkap
14
17

45
55


Total
31
100
           Sumber data : kuesioner penelitian 2010
Berdasarkan Tabel 4.5 di atas dapat dijelaskan  dari 31 responden yang memiliki status imunisasi TT tidak lengkap sebanyak 17 responden (55%).
3. Hubungan Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Imunisasi TT dengan Kelengkapannya.
Tabel 4.6  Distribusi responden berdasarkan hubungan pengetahuan ibu hamil tentang imunisasi TT dengan kelengkannya di Puskesmas Gitik Desa Gitik Kec. Rogojampi Kab. Banyuwangi.
P
e
n
g
e
t
a
h
u
a
n
Kelengkapan





Baik

Cukup

Kurang
Lengkap
Tidak Lengkap
Total
%
%
%
7
23
0
0
7
23
7
23
3
9,6
10
32
0
0
14
45
14
45

14
45
17
55
31
100
Sumber data : Kuesioner Penelitian 2010

Berdasarkan Tabel 4.7 diketahui bahwa dari 31 responden yang mempunyai pengetahuan tentang imunisasi TT baik dan semuanya memiiki status imunisasi TT lengkap sebanyak 7 responden (23%). Responden yang memiliki pengetahuan cukup tentang imunisasi TT dan memiliki status imunisasi TT lengkap sebanyak 7 responden (23%). Sedangkan responden yang memiliki pengetahuan cukup tetapi memiliki status imunisasi TT tidak lengkap sebanyak 3 responden (9,6%). Responden yang memiliki pengetahuan kurang, tidak ada yang memiliki status imunisasi TT lengkap. Semua responden yang memiliki pengetahuan tentang imunisasi TT yang kurang memiliki status imunisasi TT tidak lengkap sebanyak 14 responden (45%).
Dari hasil perhitungan data dengan menggunakan uji statistik spearman rank didapatkan ρ : 0,8, , dimana untuk sampel diatas 30 tidak terdapat dalam tabel. Sehingga menggunakan rumus alternative.(Sugiono, 2007)
Dengan taraf signifikan α : 0,05 sehingga diperoleh t hitung 6,8. Untuk mengetahui harga t signifikan atau tidak maka dibandingkan dengan tabel t. dengan dk:29 diperoleh harga t tabel :2,045. Karena t hitung 6,8 > dari t tabel 2,045. Jadi H1 diterima yang berarti ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu hamil tentang imunisasi TT dengan kelengkapannya.
4.3 Pembahasan
4.3.1 Pengetahuan ibu hamil tentang imunisasi TT
Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan kuesioner dari 31 responden yang menjadi sampel penelitian, maka dapat diketahui sebagian sampel responden memiliki pengetahuan baik tentang imunisasi TT (23%). Sedangkan yang termasuk dalam kategori cukup (32%). Dan yang termasuk dalam kategori kurang (45%). Dalam penelitian ini banyak ibu hamil yang memiliki pengetahuan kurang tentang imunisasi TT pada saat kehamilan. Dari data yang didapat ternyata kebanyakan  responden tidak mengetahui tentang kepanjangan imunisasi TT, masa perlindungan imunisasi TT dan berapa lama efek samping imunisasi TT berlangsung.
Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Dan sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang menurut Nursalam adalah umur, pekerjaan, pendidikan dan paritas. Semakin cukup umur tingkat kematangan dan tingkat kekuatan seseorang akan lebih matang dalam beerfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang yang leih dewasa akan lebih dipercaya dari seseorang yang belum cukup tinggi kedewasaannya. Hal ini sebagai akibat dari pengalaman dan kematangan jiwa. Begitu juga dari faktor pendidikan, makin tinggi pendidikan seseorang maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki, sebaliknya pendidikan yang kurang menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru dikenalnya. Dari faktor pekerjaan dijelaskan bahwa pekerjaan umumnya merupakan hal penting dan cenderung menyita waktu serta memerlukan aktivitas sehingga ia akan merasa terganggu dengan penyakitnya. Dan dari faktor paritas yang merupakan bagian dari lingkungan dimana lingkungan adalah seluruh kondisi yang ada disekitar manusia dan pengaruhnya yang dapat dipengaruhi oleh perkembangan dan perilaku orang atau kelompok. Lingkungan adalah input kedalam diri seseorang sebagai system adaptif yang melibatkan faktor internal maupun eksternal. Dan dijelaskan dari faktor merupakan sebagai akibat dari pengalaman yang termasuk didalamnya paritas dan kematangan jiwa. 
Pengetahuan ibu yang kurang tentang masa perlindungan imunisasi TT dan berapa lama efek samping imunisasi TT berlangsung bisa sisebabkan karena sebagian besar responden hanya berpendidikan SMP, sehingga kemampuan dalam menerima informasi dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari juga kurang. Selain itu, ibu yang sebagian besar bakerja juga menyebabkan informasi yang diterima tentang imunisasi TT juga kurang. Hal ini dapat disebabkan karena kesibukan yang menyita waktu sehingga ibu tidak bisa meluangkan waktunya untuk mencari informasi tentang pentingnya imunisasi TT. Oleh karena pengetahuan yang didapat belum maksimal, hal ini menyebabkan sebagian ibu tidak bisa sepenuhnya mau atau peduli benar dengan pentingnya mendapatkan pengetahuan tentang imunisasi TT demi keselamatannya dan janin yang sedang  dikandungnya. Sedangkan ibu yang tidak bekerja, misalnya ibu rumah tangga yang dapat meluangkan waktu untuk mendapatkan informasi tentang imunisasi TT. Ibu rumah tangga bisa memperoleh informasi dan pengalaman dari keluarga, teman, media, dan tenaga kesehatan mengenai kehamilannya, khususnya tentang imunisasi TT. Dimana lingkungan sekitar bisa angat membantu dalam memperoleh wawasan yang luas.
Peningkatan pengetahuan ibu tentang pemberian imunisasi TT dibutuhkan kreativitas dari ibu dalam mencari informasi serta dukungan dari keluarga dalam memotifasi ibu untuk mencari informasi sangatlah penting dapat dilakukan dengan penyuluhan secara perorangan atau kelompok dengan melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, karang taruna, PKK, lintas sektor. Kegiatan penyuluhan dilakukan bersamaan dengan kegiatan rutin di desa seperti Posyandu, pertemuan rutin PKK, tahlilan, pengajian dan penyebaran leaflet
4.3.2  Kelengkapan Imunisasi TT
Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan kuesioner dari 31 responden yang menjadi sampel penelitian, maka dapat diketahui bahwa yang mendapat imunisasi TT lengkap (45%), dan tidak lengkap (55%).
Dari hasil penelitian didapatkan sebagian besar responden masih belum mendapatkan imunisasi TT yang tidak lengkap dengan kata lain status imunisasi TT pada responden tidak lengkap. Keadaan tersebut sangat berhubungan dengan pengetahuan ibu. Menurut teori setelah seseorang mengetahui stimulus,obyek, maka proses selanjutnya akan bersikap terhadap stimulus tersebut. (Notoatmodjo, 2003).
Status imunisasi responden yang tidak lengkap bisa disebabkan karena sebagian besar responden hamil anak pertama dengan usia kehamilan kurang dari 7 bulan dan bekerja. Kurangnya pengalaman dan pengetahuan responden dapat menyebabkan responden memiliki status imunisasi TT tidak lengkap. Dimana pengalaman yang termasuk didalamnya paritas dan kematangan jiwa. Selai itu, dikarenakan kesibukan yang menyita waktu. sehingga kurang memperhatikan masalah kesehatannya,  Dari segi umur dan pekerjaan responden yang mendapat imunisasi TT lengkap adalah antara umur 20-25 tahun dan ibu bekerja sebagai ibu rumah tangga. Semakin cukup umur maka bertambah juga pengetahuan seseorang yang dapat merubah perilaku untuk lebih baik. Selain itu pekerjaan ibu rumah tangga yang memiliki banyak waktu luang untuk menggali informasi tentang masalah imunisasi TT. Tetapi masih ada responden yang memiliki status imunisasi TT masih belum lengkap karena dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti faktor lingkungan, keluarga, sosial, budaya, dll.
Kelengkapan imunisasi TT pada ibu hamil dibutuhkan kesadaran dari ibu hamil itu sendiri. Selain itu, kedisiplinan ibu dalam memeriksakan kehamilannya dan dibantu oleh dukungan keluarga dalam memberikan semangat secara fisik dan mental kepada ibu serta arahan dari tenaga kesehatan dapat membantu ibu melewati masa-masa bahagia dalam kehamilannya dan mendapatkan informasi penting bagi kesehatannya dan janin terutama tentang imunisasi TT sehingga ibu dapat memperoleh imunisasi TT yang lengkap.
4.3.3 Hubungan pengetahuan ibu hamil tentang imunisasi TT dengan kelengkapannya.
Berdasarkan tabel 4.10 dapat diketahui pengetahuan responden tentang imunisasi TT yang berhubungan dengan kelengkapannya. Didapatkan selisih antara responden yang memiliki pengetahuan yang baik dengan yang kurang adalah 1:2. Dari hasil perhitungan data dengan menggunakan uji statistik spearman rank didapatkan ρ :0.8 dimana untuk sampel diatas 30 tidak terdapat dalam tabel, sehingga menggunakan rumus alternative.(Sugiono, 2007)

Dengan taraf signifikan α : 0.05 sehingga diperoleh t hitung 6,8 > t tabel 2,045. Jadi H1 diterima, yang berarti ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu hamil tentang imunisasi TT dengan kelengkapannya.
          Dari fakta yang ada dan dari penelitain sebelumnya menyebutkan bahwa pengetahuan  merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kelengkapan status imunisasi TT. (www.diqilib.ac.id). Dari hasil yang didapat yaitu mayoritas responden memiliki pengetahuan kurang mengenai imunisasi TT dan semuanya memiliki status imunisasi TT tidak lengkap. Dan sebaliknya semua ibu hamil yang memiliki pengetahuan tentang imunisasi TT baik memiliki status imunisasi TT lengkap. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan ibu hamil tentang imunisasi TT mempengaruhi atau berhubungan dengan kelengkapan imunisasi TT yang didapat. Ibu yang memiliki pengetahuan yang baik akan memperoleh status imunisasi TT yang lengkap dan sebaliknya, ibu hamil yang memiliki pengetahuan tentang imunisasi TT yang kurang akan medapatka status imunisasi TT tadak lengkap. Sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa perilaku yang baik didasari oleh pengetahuan yang baik pula. (Notoatmodjo, 2003).
               Mengingat hal tersebut diatas maka disarankan kepada kepala puskesmas gitik khususnya dan kepala dinas kabupaten banyuwangi pada umumnya untuk dapat meningkatkan penyuluhan perorangan (anjuran), meningkatkan kemampuan dan profesinalisme petugas, menekan terjadinya missed opportunity ANC dan imunisasi TT, Membentuk pos vaksinasi khusus didaerah yang jauh dari posyandu/puskesmas.selain itu, ibu-ibu yang sedang hamil



BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1    Kesimpulan
1.      Pengetahuan ibu hamil tentang imunisasi TT  dengan katagori kurang sebanyak 14 responden (45%).
2.      Ibu hamil yang mendapat imunisasi TT tidak lengkap sebanyak 17 responden (55%).
3.      Ada hubungan antara pengetahuan ibu hamil tentang imunisasi TT dengan kelengkapannya di Puskesmas Gitik Desa Gitik Kec. Rogojjampi Kab. Banyuwangi.
5.2   Saran
5.2.1   Bagi Responden
Diharapkan ibu dapat lebih menggali informasi yang benar tentang imunisasi TT, baik mengenai manfaat, efek samping, dampak yang akan ditimbulkan bila tidak mendapatkan imunisasi TT, dan lain sebagainya. Agar ibu bisa mendapatkan kekebalan saat kehamilan dan terlindung dari infeksi saat persalinan baik bagi ibu maupun bayi yang akan dilahirkannya kelak.
5.2.2  Bagi Peneliti
 Dari hasil yang telah didapat, hendaknya peneliti dapat memberikan penyuluhan kepada semua ibu hamil mengenai imunisasi TT. Agar semua ibu hamil bisa mendapatkan imunisasi TT lengkap
5.2.3 Bagi Profesi Kebidanan
Bagi profesi kebidanan diharapkan dapat lebih meningkatkan mutu pelayanan kesehatan terutama dalam pelayanan atenatal care. Selain itu, dapat juga dilakukan punyuluhan secara individu.
5.2.4 Bagi penelitian selanjutnya

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai data dasar pada penelitian selanjutnya. Selain itu bagi peneliti selanjutnya dapat meneruskan penelitian ini dengan judul yang lain sehingga dapat menemukan hal-hal yang baru.

0 komentar:

Poskan Komentar