Minggu, 23 Juni 2013

HUBUNGAN SENAM NIFAS DENGAN INVOLUTIO UTERUS DI POLINDES ALAMANDA DESA POHJEJER KECAMATAN GONDANG KABUPATEN MOJOKERTO

ABSTRAK

HUBUNGAN SENAM NIFAS DENGAN INVOLUTIO UTERUS
DI POLINDES ALAMANDA DESA POHJEJER
KECAMATAN GONDANG KABUPATEN
MOJOKERTO


DWI KURNIAWATI


Senam nifas dapat mempercepat pengembalian regangan-regangan otot setelah melahirkan jika dilakukan dengan teratur: Berdasarkan data dari dinas Kesehatan Jawa Timur tahun 2008 didapatkan bahwa hampir 68% ibu nifas tidak pernah melakukan senam nifas. Alasan sebagian besar ibu adalah takut sakit dan takut nyeri luka jahitan. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan senam nifas dengan involutio uterus di Polindes Alamanda Desa Pohjejer Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto.
Desain penelitian ini adalah analitik – cross sectional. Populasi diambil dari semua ibu nifas di Polindes Alamanda Desa Pohjejer Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto pada bulan Juni 2010 sebanyak 132 orang dengan jumlah sampel sebanyak 32 orang, tehnik consecutive sampling. Instrumen adalah lembar observasi. Variabel Independen adalah senam nifas dan Variabel dependen adalah involutio uterus. Analisa data dengan uji statistik Chi square.
Hasil penelitian terdapat 21 responden yang melakukan senam nifas tidak tepat, 16 (76,2%) diantaranya mengalami involusi uterus yang tidak normal. Sedangkan 11 responden yang melakukan senam nifas dengan tepat, 10 (90,9%) diantaranya mengalami involusi uterus yang normal. Setelah dilakukan uji statistik dengan Chi-Square dengan menggunakan SPSS mendapatkan hasil  ρ =0,000 < 0,05 yang artinya ada hubungan antara senam nifas dengan involutio uterus.
Ibu diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan tentang senam nifas baik melalui media massa maupun media elektronik sehingga ibu mau ikut serta dalam program senam nifas dalam rangka mempercepat involusi uterus.



Kata Kunci : Senam nifas, involutio uterus

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pasca persalinan ibu sering mengeluhkan rasa sakit pada perut bagian bawah yang bertambah nyerinya saat menyusui. Rasa sakit itu menyertai pengecilan rahim dan biasanya hilang sepuluh hari pasca persalinan, meskipun demikian rahim baru pulih kembali sekira 6 minggu (40-42 hari) (Kusniyati, 2009). Senam nifas dapat mempercepat pengembalian regangan-regangan otot setelah melahirkan jika dilakukan dengan teratur: memperbaiki regangan otot panggul dan regangan otot tungkai bawah. Senam nifas yang bervariasi dan mempunyai tahapan-tahapan yang setiap tahapnya mempunyai urutan sesuai dengan kondisi. Sebaiknya dalam melakukan senam nifas tambahkan jumlah dan variasi latihan yang dilakukan dengan tetap memperhatikan kondisi kesehatan ibu. Dalam latihan juga hendaknya diawali dengan pemanasan dan lakukan relaksasi setelah melakukan senam nifas untuk mendapatkan hasil yang lebih baik (Maimunah, 2009).
1
 
Menurut penelitian Edmond (2006) pada 11.000 ibu nifas yang melakukan senam nifas didapatkan 76,4% ibu mengalami involusi uterus yang cepat. Penelitian yang dilakukan oleh Barbara di Indonesia pada tahun 2006 hampir 33,8% ibu mengalami sub involusi uterus karena ibu tidak pernah melakukan senam nifas (Sulistyowati, 2008). Berdasarkan data dari dinas Kesehatan Jawa Timur tahun 2008 didapatkan bahwa hampir 68% ibu nifas tidak pernah melakukan senam nifas. Alasan sebagian besar ibu adalah takut sakit dan takut nyeri luka jahitan (Zahra, 2009).
Berdasarkan studi pendahuluan di Polindes Alamanda Desa Pohjejer Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto bulan Juni 2010 secara wawancara dan observasi pada 10 ibu nifas didapatkan bahwa 8 (80%) ibu nifas tidak pernah melakukan senam nifas dan 2 (20%) ibu nifas pernah melakukan senam nifas. Dari 10 ibu tersebut didapatkan 5 pada ibu nifas yang tidak melakukan senam nifas mengalami  ibu nifas yang sub involusi, lochea berbau.
Senam nifas jarang dilakukan oleh ibu-ibu yang telah melakukan persalinan. Alasan ibu nifas tidak melkukan senam nifas. Pertama, karena memang tidak tahu bagaimana senam nifas. Kedua karena saking bahagianya dan yang dipikirkan hanya bayi. Ketiga, takut sakit. Sebenarnya senam nifas mudah dilakukan. Ibu pasca melahirkan tidak harus melakukan gerakan bermacam-macam. Biasanya hanya duduk dan bersila. Bahkan, bila masih terasa sakit, senam nifas bisa dilakukan sambil tiduran. Kondisi tersebut berbeda dengan orang yang proses persalinannya melalui proses operasi. Jika proses persalinan degan operasi, maka tidak bisa langsung melakukan senam nifas seperti halnya proses persalinan normal. Ibu harus menunggu sampai cukup kuat dan tidak lagi sakit ketika bergerak (Narendra, 2009).
Faktor yang mempengaruhi senam nifas yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi kesiapan fisik dan kesiapan psikologis ibu. Sedangkan faktor eksternal meliputi bayi kedinginan dimana bayi membutuhkan dekapan ibu untuk menghangatkan tubuh bayi, kelelahan ibu, tenaga kesehatan kurang tersedia dalam mengajarkan senam nifas pada ibu post partum, bayi kurang siaga sehingga membutuhkan perhatian ibu dalam mengurus bayi (Suhaemi, 2009).
 Involusi uterus adalah perubahan yang merupakan proses kembalinya alat kandungan atau uterus dan jalan lahir setelah bayi lahir hingga mencapai keadaan sebelum hamil yang dipengaruhi oleh mobilisasi dan senam masa nifas. Saat masa nifas para ibu di haruskan untuk melakukan senam nifas atau senam setelah melahirkan. Senam ini dilakukan sejak hari pertama setelah melahirkan hingga hari kesepuluh. Dalam pelaksanannya, harus dilakukan secara bertahap, sistematis, dan kontinyu. Senam nifas penting sekali di lakukan oleh ibu yang telah melahirkan untuk mengembalikan kebugaran tubuh pasca persalinan. Melalui latihan secara teratur, calon ibu diharapkan dapat lebih tenang serta siap saat persalinan maupun setelah proses persalinan. Senam nifas sebaiknya dilakukan setelah kondisi tubuh benar-benar pulih kembali, dan tidak ada keluhan-keluhan ataupun gejala-gejala akibat kehamilan / persalinan yang lalu (Denisa, 2006).

1.2 Rumusan Masalah
Adakah hubungan senam nifas dengan involutio uterus di Polindes Alamanda Desa Pohjejer Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto?

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui hubungan senam nifas dengan involutio uterus di Polindes Alamanda Desa Pohjejer Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto.
1.3.2 Tujuan kusus
1.        Mengidentifikasi ibu yang mengikuti senam nifas di Polindes Alamanda Desa Pohjejer Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto
2.        Mengidentifikasi involutio uterus pada ibu nifas di Polindes Alamanda Desa Pohjejer Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto
3.        Menganalisis hubungan senam nifas dengan involutio uterus di Polindes Alamanda Desa Pohjejer Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto

1.4 Manfaat penelitian
1.4.1  Bagi Peneliti
Dapat menambah wawasan dan pengetahuan peneliti tentang  hubungan senam nifas dengan involutio uterus dan dapat digunakan sebagai acuan dalam mengajarkan ibu nifas untuk melakukan senam nifas.
1.4.2        Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi dan khasanah wacana kepustakaan, juga dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya.
1.4.3        Bagi Profesi Kebidanan
Diharapkan penelitian ini akan menambah informasi baru bagi ilmu kebidanan, khususnya berkaitan dengan hubungan senam nifas dengan involutio uterus
1.4.4        Bagi Responden
Dapat dijadikan masukan bagi responden tentang manfaat senam nifas.

1.5 Batasan penelitian
Dalam penelitian ini peneliti membatasi penelitian pada hubungan senam nifas dengan involutio uterus di Polindes Alamanda.


BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini disajikan hasil penelitian yang berjudul “Hubungan Senam Nifas Dengan Involutio Uterus di Polindes Alamanda Desa Pohjejer Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto”. Pada bab ini akan disajikan data umum yang meliputi umur, pendidikan, paritas dan pekerjaan. Sedangkan data khusus meliputi senam nifas, involutio uterus, dan hubungan senam nifas dengan involution uterus.

4.1  Hasil Penelitian
4.1.1          Data Umum
4.1.1.1   Karakteristik Responden Berdasarkan Umur
Tabel 4.1  Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur di Polindes Alamanda Desa Pohjejer Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto bulan Agustus 2010

No
Umur
Jumlah
Persentase (%)
1.
< 20 tahun
12
37,5
2.
20 – 35 tahun
16
50,0
3.
> 35 tahun
4
12,5

Total
32
31
Sumber: Data Primer, 2010

Berdasarkan tabel 4.1 terlihat bahwa setengah responden berumur 20 – 35 tahun, 16 (50,0%).



47
 
 

4.1.1.2   Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan
Tabel 4.2 Karakteristik Responden berdasarkan Pendidikan di Polindes Alamanda Desa Pohjejer Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto bulan Agustus 2010

No
Pendidikan
Jumlah
Persentase (%)
1.
Dasar
26
81,3
2.
Menengah
5
15,6
3.
Tinggi
1
3,1

Total
32
100,0
Sumber: Data Primer, 2010

Berdasarkan tabel 4.2 terlihat bahwa hampir seluruh responden berpendidikan dasar 26 (81,3%).

4.1.1.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Paritas
Tabel 4.3  Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Paritas di Polindes Alamanda Desa Pohjejer Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto bulan Agustus 2010

No
Paritas
Jumlah
Persentase (%)
1.
Primipara
21
65,6
2.
Multipara
11
34,4
3.
Grandemultipara
0
0

Total
32
100,0
Sumber: Data Primer, 2010

Berdasarkan tabel 4.3 didapatkan bahwa sebagian besar responden primipara, 21 orang (65,6%).

4.1.1.4   Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan
Tabel 4.4  Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan di Polindes Alamanda Desa Pohjejer Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto bulan Agustus 2010

No
Pekerjaan
Jumlah
Persentase (%)
1.
Bekerja
10
31,2
2.
Tidak Bekerja
22
68,8

Total
32
100,0
Sumber: Data Primer, 2010

Berdasarkan tabel 4.4 didapatkan sebagian besar responden tidak bekerja 22 orang (68,8%).

4.1.2        Data Khusus
4.1.2.1   Ibu yang Mengikuti Senam Nifas di Polindes Alamanda Desa Pohjejer Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto
Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Senam Nifas di Polindes Alamanda Desa Pohjejer Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto bulan Agustus 2010

No
Senam Nifas
Jumlah
Persentase (%)
1.
Dilakukan tepat
11
34,4
2.
Dilakukan tidak tepat
21
65,6


32
100,0
Sumber: Data Primer, 2010

Berdasarkan tabel 4.6 didapatkan bahwa sebagian besar responden tidak tepat melakukan senam nifas 21 orang (65,6%).

4.1.2.2   Involusi Uterus pada Ibu Nifas di Polindes Alamanda Desa Pohjejer Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto
Tabel 4.7 Distribusi Involusi Uterus di Polindes Alamanda Desa Pohjejer Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto bulan Agustus 2010

No
Involusi uterus
Jumlah
Persentase (%)
1.
Normal
14
43,8
2.
Tidak normal
18
56,3

Total
32
100,0
Sumber: Data Primer, 2010

Berdasarkan tabel 4.7 didapatkan bahwa sebagian besar responden mengalami involusi uterus yang tidak normal 18 orang (56,3%).


4.1.2.3   Tabulasi Silang Hubungan Senam Nifas Dengan Involutio Uterus
Tabel 4.8  Tabulasi Silang Hubungan Senam Nifas Dengan Involutio Uterus di Polindes Alamanda Desa Pohjejer Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto bulan Agustus 2010.

Senam Nifas
                     Involusi uterus
Normal
Tidak normal
Total
f
%
f
%
Jumlah
%
Dilakukan tepat
10
90,9
1
9,1
11
100,0
Dilakukan tidak tepat
5
23,8
16
76,2
21
100,0
Total
15
46,9
17
53,1
32
100,0
Hasil uji Chi-Square, ρ value < α = 0,000 < 0,05, dan nilai χ2 hitung >  χ2 tabel atau 13,052 > 3,841
Sumber : Data Primer, 2010
                                             
Hasil analisa dan interpretasi data pada tabel 4.8 didapatkan bahwa terdapat 21 responden yang melakukan senam nifas tidak tepat, 16 (76,2%) diantaranya mengalami involusi uterus yang tidak normal. Sedangkan 11 responden yang melakukan senam nifas dengan tepat, 10 (90,9%) diantaranya mengalami involusi uterus yang normal.
Setelah dilakukan uji statistik dengan Chi-Square menggunakan SPSS pada taraf signifikan 5% atau α = 0,05 didapatkan hasil ρ value < α = 0,000 < 0,05, dan nilai χ2 hitung >  χ2 tabel (dengan derajat kebebasan 1 = 3,841) atau 13,052 > 3,841 maka H1 diterima yang artinya ada hubungan antara senam nifas dengan involutio uterus di Polindes Alamanda Desa Pohjejer Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto bulan Agustus 2010.

4.2  Pembahasan
4.2.1        Senam Nifas di Polindes Alamanda Desa Pohjejer Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto
Tabel 4.6 didapatkan bahwa senam nifas yang dilakukan ibu di Polindes Alamanda Desa Pohjejer Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto bulan Agustus 2010 sebagian besar tidak tepat 21 orang (65,6%). Dimana sebagian besar responden berpendidikan dasar, pekerjaan ibu nifas sebagian besar tidak bekerja/IRT sehingga ibu lebih sulit mendapatkan informasi tentang senam nifas dan sebagian besar ibu primipara sehingga ibu belum mempunyai pengalaman dalam melakukan senam nifas sebelumnya.
Sedikitnya kesempatan ibu untuk memperoleh informasi tentang senam nifas dapat mempengaruhi pemahaman seseorang bahwa senam nifas penting dilakukan pada ibu pasca bersalin untuk mempercepat proses involusi uterus. Informasi tentang senam nifas dapat diperoleh dimana saja tidak hanya di bangku sekolah seperti dari tenaga kesehatan, buku, majalah, televise dan penyuluhan-penyuluhan kesehatan yang dapat menimbulkan kesadaran ibu untuk melakukan senam nifas.
Pendidikan adalah jalur yang ditempuh seseorang untuk meningkatkan pengeahuan seseorang semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin banyak informasi yang di dapat dan pengetahuan seseorang meningkat (Notoadmodjo, 2005).
Rendahnya pendidikan akan berpengaruh terhadap daya serap atau penerimaan informasi yang masuk apalagi informasi yang bersifat baru dikenal responden termasuk perihal senam nifas. Selain itu tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi pandangan ibu terhadap sesuatu yang datang dari luar. Orang yang mempunyai pendidikan tinggi akan memberikan tanggapan yang lebih rasional dibandingkan dengan orang yang berpendidikan rendah atau tidak berpendidikan sama sekali.
Perilaku ibu dalam melakukan senam nifas dipengaruhi oleh pekerjaan, Tabel 4.4 didapatkan sebagian besar responden tidak bekerja 22 orang (68,8%). Pekerjaan adalah serangkaian tugas atau kegiatan yang harus dilaksanakan atau diselesaikan oleh seseorang sesuai dengan jabatan atau profesi masing-masing. Pekerjaan seseorang sering mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang (Notoatmodjo, 2003).
Ibu yang tidak bekerja menyebabkan ibu nifas tidak dapat bertukar informasi tentang senam nifas dengan rekan kerja atau atasan yang mempunyai pengetahuan berbeda tentang senam nifas. ibu nifas yang bekerja akan mempunyai banyak kesempatan untuk mengembangkan pemahamannya tentang senam nifas. senam nifas juga dipengaruhi oleh paritas. Penyapihan merupakan sumber pengetahuan seseorang dan sumber pemikiran dalam bertindak. Orang akan berprilaku dan cara menimbang pengalaman sebelumnya (Notoatmodjo, 2003).
Ibu yang baru pertama kali mempunyai anak menyebabkan ibu tidak tahu bagaimana cara melakukan senam nifas dan tidak mengetahui dampak yang akan ditimbulkan jika senam nifas tidak dilakukan. Kurangnya pengalaman yang ibu miliki menyebabkan pengetahuan dan pemahaman ibu tentang senam nifas kurang sehingga ibu tidak sadar bahwa senam nifas penting untuk dilakukan.

4.2.2        Involusi Uterus pada Ibu Nifas di Polindes Alamanda Desa Pohjejer Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto
Dari hasil analisa dan interpretasi data pada tabel dapat diketahui bahwa involusi uterus yang dialami oleh ibu di Polindes Alamanda Desa Pohjejer Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto bulan Agustus 2010 lebih dari separuh ibu nifas mengalami involusi uterus tidak normal 18 orang (56,3%). Faktor yang mempengaruhi proses involusi uterus antara lain status gizi, mobilisasi dini, menyusui, usia, paritas dan senam nifas.
Senam nifas adalah senam yang dilakukan ibu-ibu setelah melahirkan guna mengembalikan kondisi kesehatan dan memperbaiki regangan pada otot-otot. Pada senam nifas terjadi pergerakan fiksi sehingga aliran darah akan meningkat dan lancar. Apabila otot rahim dirangsang dengan latihan dan  gerakan senam, maka kontraksi uterus semakin baik sehingga mempengaruhi proses pengecilan involusi (Hanifah, 2009).
Involusi yang tidak normal dipengaruhi sebagian besar responden primipara 21 orang (65,6%) sehingga responden tidak mempunyai pengalaman untuk melakukan senam nifas dan tidak mengetahui bagaimana proses involusi uterus. Ibu yang baru pertama kali mempunyai anak menyebabkan ibu tidak mengetahui tahapan proses involusi uterus yang normal sehingga ibu tidak dapat mendeteksi secara dini jika involusi uterus tidak normal.
Paritas dapat mempengaruhi seseorang untuk bertindak. Belum adanya pengalaman menyebabkan ibu tidak tau bahwa senam nifas dapat mempengaruhi infolusi (Rohyati, 2003).
Senam nifas dapat mempengaruhi proses involusi uterus dimana aktivitas dan gerakan yang dilakukan ibu setelah melahirkan menyebabkan sirkulasi darah responden lancar dan pengeluaran lochea lancar sehingga tidak dapat mengganggu kontraksi dalam proses pengecilan rahim.
Senam nifas yang dilakukan tidak tepat dapat mempengaruhi keberhasilan atau manfaat senam nifas itu sendiri. Jika ibu nifas melakukan senam tidak sesuai dengan urutan langkah dan hari senam nifas maka akan mempengaruhi proses involusi uterus yang dapat berjalan lebih lambat.

4.2.3        Hubungan Senam Nifas Dengan Involusi Uterus di Polindes Alamanda Desa Pohjejer Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto
Hasil analisa dan interpretasi data pada tabel 4.8 didapatkan bahwa terdapat 21 responden yang melakukan senam nifas tidak tepat, 16 (76,2%) diantaranya mengalami involusi uterus yang tidak normal. Sedangkan 11 responden yang melakukan senam nifas dengan tepat, 10 (90,9%) diantaranya mengalami involusi uterus yang normal.
Setelah dilakukan uji statistik dengan Chi-Square menggunakan SPSS pada taraf signifikan 5% atau α = 0,05 didapatkan hasil ρ value < α = 0,000 < 0,05, dan nilai χ2 hitung >  χ2 tabel (dengan derajat kebebasan 1 = 3,841) atau 13,052 > 3,841 maka H1 diterima yang artinya ada hubungan antara senam nifas dengan involutio uterus di Polindes Alamanda Desa Pohjejer Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto bulan Agustus 2010.
Involusi uterus adalah perubahan yang merupakan proses kembalinya alat kandungan atau uterus dan jalan lahir setelah bayi lahir hingga mencapai keadaan sebelum hamil yang dipengaruhi oleh mobilisasi dan senam nifas (Denisa, 2006).
Senam nifas dapat mempercepat pengembalian regangan-regangan otot setelah melahirkan jika dilakukan dengan teratur: memperbaiki regangan otot panggul dan regangan otot tungkai bawah. Senam nifas yang bervariasi dan mempunyai tahapan-tahapan yang setiap tahapnya mempunyai urutan sesuai dengan kondisi (Maimunah, 2009).
Saat masa nifas para ibu di haruskan untuk melakukan senam nifas atau senam setelah melahirkan. Senam ini dilakukan sejak hari pertama setelah melahirkan hingga hari kesepuluh. Dalam pelaksanannya, harus dilakukan secara bertahap, sistematis, dan kontinyu. Senam nifas penting sekali di lakukan oleh ibu yang telah melahirkan untuk mengembalikan kebugaran tubuh pasca persalinan. Melalui latihan secara teratur, calon ibu diharapkan dapat lebih tenang serta siap saat persalinan maupun setelah proses persalinan. Senam nifas sebaiknya dilakukan setelah kondisi tubuh benar-benar pulih kembali, dan tidak ada keluhan-keluhan ataupun gejala-gejala akibat kehamilan / persalinan yang lalu.
Sebaiknya dalam melakukan senam nifas tambahkan jumlah dan variasi latihan yang dilakukan dengan tetap memperhatikan kondisi kesehatan ibu. Dalam latihan juga hendaknya diawali dengan pemanasan dan lakukan relaksasi setelah melakukan senam nifas untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
Hasil penelitian juga didapatkan ada 1 responden (9,1%) yang tepat melakukan senam nifas, akan tetapi involusi uterus yang dialami tidak normal. Hal ini mungkin disebabkan adanya infeksi pada masa nifas misalnya masih adanya sisa jaringan yang dapat memperlambat proses pengecilan rahim sehingga dapat menimbulkan perdarahan pada ibu.


 
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini dibahas kesimpulan yang menjawab tujuan penelitain dan saran sesuai dengan kesimpulan.

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa :
1.      Senam nifas yang dilakukan ibu di Polindes Alamanda Desa Pohjejer Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto sebagian besar tidak tepat 21 orang (65,6%).
2.      Involusi uterus pada ibu nifas di Polindes Alamanda Desa Pohjejer Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto sebagian besar mengalami involusi uterus yang tidak normal 18 orang (56,3%).
3.      Ada hubungan antara senam nifas dengan involutio uterus di Polindes Alamanda Desa Pohjejer Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto bulan Agustus 2010.

5.2 Saran
  1. Bagi Ibu

 
Diharapkan diharapkan ibu dapat ikut serta / berpartisipasi dalam senam nifas dipolindes alamanda serta melakukan gerakan senam nifas dengan baik dan tepat untuk membantu mempercepat involusi uterus.
  1. Bagi Peneliti Selanjutnya
Dapat melanjutkan penelitian lanjutan tentang  involusi uterus.
  1. Bagi Tenaga Kesehatan (Bidan)
Memberikan penyuluhan kepada ibu hamil tentang inisiasi menyusu dini dan melakukan inisiasi menyusu dini sebagai kegiatan rutin dalam menolong persalinan. 


0 komentar:

Poskan Komentar