Minggu, 23 Juni 2013

HUBUNGAN TEKNIK MENYUSUI DENGAN TERJADINYA LECET PUTING SUSU PADA IBU NIFAS DI POLINDES MELATI DESA SOOKO KECAMATAN SOOKO KABUPATEN MOJOKERTO

ABSTRAK

Hubungan Teknik Menyusui dengan Terjadinya Lecet
Puting Susu pada Ibu Nifas

Nikke Yulitama

Menyusui adalah proses memberikan makanan pada bayi dengan menggunakan air susu ibu langsung dari payudara ibu. ASI juga memberikan keuntungan dalam melindungi bayi terhadap penyakit seperti diare, pneumonia, diabetes dan kanker. Dan tujuan penelitian ini untuk mengetahui adanya hubungan teknik menyusui dengan terjadinya lecet puting susu pada ibu nifas
Jenis penelitian adalah survei analitik, dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh ibu nifas yang menyusui di Polindes Melati sebanyak 27 responden. Pada penelitian ini sampling yang digunakan adalah nonprobability sampling dengan tipe sampling jenuh / total sampling. Penelitian ini dilakukan selama 5 hari.
Hasil penelitian yang didapat dari 27 responden adalah sebagian besar ibu menyusui yang melaksanakan teknik menyusuinya kurang sebanyak 12 responden (44,4%), dan sebagian besar yang mengalami lecet puting susu sebanyak 19 responden (70,4%). Dari hasil chi sequare maka H1 diterima pada x2 hitung = 8,74 > x2 tabel = 5,99 artinya terdapat hubungan teknik menyusui dengan terjadinya lecet puting susu pada ibu nifas.
 Responden yang mengalami lecet puting susu dikarenakan sebelumnya responden tidak pernah mendapatkan informasi tentang masalah dalam menyusui. Sedangkan responden yang tidak mengalami lecet puting susu, disebabkan karena responden pernah melihat pengalaman dari teman, saudaranya atau bahkan petugas kesehatan yang memberikan informasi dalam bentuk penyuluhan.
Diharapkan responden lebih aktif mencari informasi tentang teknik menyusui dan masalah dalam menyusui. Untuk profesi kebidanan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan dalam memotivasi ibu hamil dan ibu menyusui, sehingga dapat melakukan teknik menyusui dengan baik dan benar tanpa mengalami masalah pada saat menyusui secara ekslusif.

Kata Kuncinya adalah teknik menyusui dan masalah menyusui



ABSTRACT

Relationship Suckle Technique with Busters Arise
Nipples Milk to Mother’s Nifas

Nikke Yulitama

Suckle is a proces give food to baby with using breast milk mother live from the breast mother. ASI only given luch to saving baby against diseasa such as diare, pneumonia, diabetes and cancer. And direction this experiments there is knowing relationship suckle technique with busters arise nipples milk to mother’s nifas.
Kind of this experiments is analitick survey, with approach cross sectional. Sample in this experiments are all nifas mother wich suckle in Polindes Melati most 27 respondent. In this experiments using sampling is nonprobability sampling with tipe satiated sampling/ total sampling. This experiments during 5 days.
The result from this experiments from 27 respondents are mostly suckle mother doing the less suckle technique most 12 respondents (44,4%), and mostly wich have busters arise nipples milk as 19 respondents (70,4%). From the result chi sequare si H1 accept to x2 count = 8,74 > x2 table = 5,99 means that have relationship suckle technique with busters arise nipples milk to mother’s nifas.
Respondents wich have busters arise nipples milk because before that respondents never get information about problem from suckle. While respondent wich haven’t busters arise nipples milk, because respondent ever see experience from friend, family or duty healthy wich give information by counseling.
So it’s hope respondent more active looking for information about suckle technique and the problem of suckle. For obstetric this result from this experiments can made in the input on motivation pregnant woman and suckle mother, so can do the suckle technique well and true without have problem when suckle by exclusive.

Key word are suckle technique and problem suckle.


 BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Menyusui adalah proses memberikan makanan pada bayi dengan menggunakan air susu ibu langsung dari payudara ibu (Depkes, 2006). Air susu ibu (ASI) memiliki semua nutrisi yang dibutuhkan bayi. ASI juga memberikan keuntungan dalam melindungi bayi terhadap penyakit seperti diare, pneumonia, diabetes dan kanker. Dengan menghisap ASI, bayi menjadi lebih dekat dengan ibu, membantunya merasa aman dan dilindungi (Thompson, 2008). Masalah yang sering terjadi pada ibu menyusui adalah teknik menyusui yang tidak benar sehingga mengakibatkan lecet puting susu, dimana bayi tidak menyusu sampai ke areola (Kristiyansari, 2009 :  54).
Berdasarkan survei UNICEF, ibu yang menyusui bayinya dengan ASI eksklusif 38%, di Amerika sekitar 75%, jumlah di Indonesia yaitu sekitar  7,8%, sedangkan di Jawa Timur wilayah perkotaan 4 - 12%, sedangkan dipedesaan 4 – 25% (www.blogspot.com, 2011), di Kabupaten Mojokerto (28,55%), di Kecamatan Sooko 25,32% (Subdinkesga, 2008). Setelah dilakukan studi pendahuluan di Polindes Melati Desa Sooko Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto pada bulan April 2011 menunjukkan bahwa dari 17 ibu yang menyusui bayinya secara eksklusif, terdapat 15 ibu yang teknik menyusui salah, 12 ibu mengalami masalah lecet puting susu dan 3 ibu lainnya tidak mengalami masalah. Dan dari 17 ibu yang menyusui, terdapat 2 ibu yang teknik menyusui yang benar, dan 5 ibu lainnya tidak mengalami masalah lecet puting susu.
Teknik menyusui yang baik dan benar adalah apabila areola sedapat mungkin semuanya masuk ke dalam mulut bayi, tetapi hal ini tidak mungkin dilakukan pada ibu yang kalang payudaranya besar. Untuk ini, maka sudah cukup bila rahang bayi supaya menekan tempat penampungan air susu (sinus laktiferus) yang terletak dipuncak areola di belakang puting susu. Teknik salah, yaitu apabila bayi menghisap pada puting saja, karena bayi hanya dapat menghisap susu sedikit dan pihak ibu akan timbul lecet-lecet pada puting susu (Kristiyanasari, 2009 : 44). Puting susu yang lecet juga disebabkan oleh moniliasis (infeksi yang disebabkan oleh monilia yang disebut candida) pada mulut bayi yang menular pada puting susu, iritasi akibat membersihkan puting dengan sabun, lotion, krim, alkohol, bayi dengan tali lidah pendek (frenulum  lingue) sehingga sulit menghisap sampai areola dan hanya sampai puting, dan cara menghentikan menyusu  kurang  hati-hati (Mansjoer, 2001 : 324).
Teknik menyusui yang tidak benar dapat mengakibatkan puting susu menjadi lecet, ASI tidak keluar optimal sehingga mempengaruhi produksi ASI selanjutnya atau bayi enggan menyusu. Untuk itu, seorang ibu butuh seseorang yang dapat membimbingnya dalam merawat bayi termasuk dalam menyusui. Orang yang dapat membantunya adalah orang yang berpengaruh besar dalam kehidupannya atau yang disegani, seperti suami, keluarga/kerabat terdekat dan perlu dibina kelompok pendukung ASI di lingkungan masyarakat yang dapat menjadi sarana pendukung ibu agar dapat menyusui bayinya dengan baik dan di bantu oleh tenaga kesehatan, serta diperlukan pengetahuan mengenai teknik-teknik yang benar (Mansjoer, 2001 : 323). Dalam menyusui usahakan sebagian besar areola dapat masuk ke mulut bayi, sehingga puting susu berada dibawah langit-langit dan lidah bayi akan menekan ASI keluar dari tempat penampungan ASI yang terletak di bawah areola (Kristiyansari, 2009 : 44). Oleh karena itu, agar laktasi berjalan baik diperlukan manajemen yang baik dalam laktasi, meliputi parawatan payudara, praktek menyusui yang benar, serta dikenalinya masalah dalam laktasi dan penatalaksanaannya (Mansjoer, 2001 : 320).
Berdasarkan uraian di atas maka perlu diadakan penelitian dengan judul         hubungan teknik menyusui dengan terjadinya  lecet puting susu pada ibu nifas di Polindes Melati Desa Sooko Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto.

1.2  Rumusan Masalah
Apakah ada hubungan teknik menyusui dengan terjadinya lecet puting susu pada ibu nifas di Polindes Melati Desa Sooko Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto ?

1.3  Tujuan Penelitian
1.3.1        Tujuan umum
Mengetahui adanya hubungan teknik menyusui dengan terjadinya lecet puting susu pada ibu nifas di Polindes Melati Desa Sooko Kecamatan Sooko Kabupaten  Mojokerto.
1.3.2        Tujuan khusus
1.      Mengidentifikasi teknik menyusui pada ibu nifas di Polindes Melati Desa Sooko Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto.
2.      Mengidentifikasi terjadinya lecet puting susu pada ibu nifas  di Polindes Melati Desa Sooko Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto.
3.      Menganalisis hubungan teknik menyusui dengan terjadinya lecet puting susu pada ibu nifas di Polindes Melati Desa Sooko Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto.

1.4  Manfaat Penelitian
1.4.1        Bagi responden
Sebagai informasi dan wawasan bagi ibu nifas yang menyusui, sehingga ibu nifas dalam menyusui dapat melakukan teknik menyusui secara benar dan tanpa masalah.
1.4.2        Bagi peneliti
Menambah pengalaman penelitian dan mengetahui hubungan teknik menyusui dengan terjadinya lecet puting susu pada ibu nifas di Polindes Melati Desa Sooko Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto.
1.4.3        Bagi profesi kebidanan
Informasi yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan masukan bagi profesi kebidanan sehingga klien dapat mendapatkan pelayanan khususnya mengenai teknik menyusui dan masalah-masalah menyusui seperti puting susu lecet, sehingga kinerja pelayanan yang di berikan oleh tenaga kesehatan lebih berkualitas.
1.4.4        Bagi penelitian selanjutnya
Sebagai bahan perbandingan dan masukan untuk melakukan penelitian selanjutnya tentang pelaksanaan teknik menyusui dengan terjadinya lecet puting susu pada ibu nifas yang menyusui, dengan jenis penelitian lain atau penambahan variabel penelitian yang lebih lengkap dengan metode penelitian yang berbeda misalnya, hubungan antara pengetahuan teknik menyusui dengan kejadian lecet puting susu pada ibu primipara.

1.5  Batasan Penelitian
Peneliti hanya meneliti tentang hubungan teknik menyusui dengan terjadinya lecet puting susu pada ibu nifas di Polindes Melati Desa Sooko Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto, sedangkan faktor-faktor lain yang menyebabkan terjadinya lecet pada puting susu tidak dilakukan penelitian.

BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1              Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Penelitian yang dilakukan di Desa Sooko Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto dengan batas wilayah sebagai berikut:
Sebelah Barat        : Desa Kedungmaling
Sebelah Utara        : Desa Jambuwok
Sebelah Timur       : Desa Brangkal
Sebelah Selatan     : Desa Watesumpak
Fasilitas dan sarana yang ada di Polindes Melati Desa Sooko Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto sebagai berikut:
a.       Satu ruang tunggu pasien dengan fasilitas 2 kursi panjang, satu timbangan badan, satu meja dan kursi untuk pengkajian data pasien.
b.      Satu ruang tindakan medis dengan fasilitas tempat tidur pasien, wastafel, meja konsultasi, almari tempat obat-obatan, kulkas penyimpan vaksin, timbangan bayi.
c.       Satu ruang nifas dengan fasilitas tiga tempat tidur pasien, tiga meja, dua bok bayi dan tiga tempat duduk.
d.      Satu ruang bersalin dengan fasilitas dua brankart, wastafel, satu almari oven untuk penyeterilan alat bekas pakai, satu almari untuk menyimpan kain tenun, infuse, meja almari untuk tempat bahan-bahan yang sudah di sterilkan.
e.       Satu kamar mandi wastafel, empat timba untuk larutan klorin dan sampah medis dan non medis, satu bak mandi dengan ukuran persegi, satu bak untuk memandikan bayi, dan WC jongkok.

4.2              Hasil Penelitian
4.2.1        Data umum
Pada data umum disajikan tentang data demografi yang meliputi umur, pendidikan, pekerjaan dan jumlah persalinan.
a.    Karakteristik responden berdasarkan umur
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Umur Ibu di Polindes Melati Desa Sooko Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto pada Tanggal 21 - 25  Juli 2011 .

No
Umur (tahun)
Frekuensi
Persentase (%)
1
< 20 Tahun
3
11,1
2
20-35 tahun
18
66,7
3
> 35 Tahun
6
22,2

Jumlah
27
100
Sumber : Data Primer, 2011

Berdasarkan dari Tabel 4.1 menunjukkan bahwa sebagian besar responden berumur 20-35 tahun sebanyak 18 responden (66,7%).
b.   Karakteristik responden berdasarkan pendidikan
Tabel  4.2 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pendidikan Ibu di Polindes Melati Desa Sooko Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto pada Tanggal 21 - 25 Juli 2011.

No
Pendidikan
Frekuensi
Persentase (%)
1
SD
3
11,1
2
SLTP
11
40,7
3
SLTA
9
33.3
4
PT
4
14,8

Jumlah
27
100
Sumber : Data Primer, 2011
Berdasarkan Tabel 4.2 menunjukkan bahwa sebagian besar responden  mempunyai latar belakang pendidikan SLTP sebanyak 11 responden (40,7%).
c.  Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pekerjaan Ibu di Polindes Melati Desa    Sooko Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto pada Tanggal 21 - 25 Juli 2011.

No
Pekerjaan
Frekuensi
Persentase (%)
1
Ibu Rumah Tangga
12
44,4
2
Swasta
8
29,6
3
Wiraswasta
5
18,5
4
PNS
2
 7,4

Jumlah
27
100
Sumber : Data Primer, 2011
                Berdasarkan dari Tabel 4.3 menunjukkan bahwa sebagian besar respoden bekerja ibu rumah tangga sebanyak 12 responden (44,4%).
d.  Karakteristik responden berdasarkan persalinan
Tabel : 4.4 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Persalinan di Polindes Melati Desa    Sooko Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto pada Tanggal 21 - 25 Juli 2011.

No
Persalinan
Frekuensi
Persentase (%)
1
Primipara
21
77,8
2
Multipara
6
22,2

Jumlah
27
100
Sumber : Data Primer, 2011
                Berdasarkan dari tabel 4.4 menunjukkan bahwa sebagian besar responden primipara sebanyak 21 responden ( 77,8% ).

Data khusus
a.   Teknik menyusui
Tabel   4.5 Distribusi Frekuensi Teknik Menyusui di Polindes Melati Desa Sooko Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto pada Tanggal 21 - 25 Juli 2011.

No
Teknik Menyusui
Frekuensi
Persentase (%)
1
Kurang
12
44,4
2
Cukup
5
18,5
3
Baik
10
37,1

Jumlah
27
100
Sumber : Data Primer, 2011
                Berdasarkan dari Tabel 4.5 menunjukkan bahwa sebagian besar responden melaksanakan teknik menyusui kurang sebanyak 12 responden (44,4%).
b.   Lecet puting susu
Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Lecet Puting Susu di Polindes Melati Desa Sooko Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto pada Tanggal 21 - 25  Juli 2011.

No
Lecet puting susu
Frekuensi
Persentase (%)
1
Lecet
19
70,4
2
Tidak Lecet
8
29,6

Jumlah
27
100
Sumber : Data Primer, 2011
            Berdasarkan dari Tabel 4.6 menunjukkan bahwa sebagian besar responden yang mengalami lecet puting susu sebanyak 19 responden (70,4%).

c. Hubungan teknik menyusui dengan terjadinya lecet puting susu pada ibu nifas
Tabel  4.7   Tabulasi Silang Hubungan Teknik Menyusui dengan Terjadinya Lecet Puting Susu pada Ibu Nifas di Polindes Melati Desa Sooko Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto pada Tanggal 21 - 25 Juli 2011.

No
Teknik Menyusui
Lecet Puting Susu
Total
Lecet
Tidak Lecet
F
%
F
%
F
%
1
Kurang
12
100
0
0
12
100
2
Cukup
2
40
3
60
5
100
3
Baik
5
50
5
50
10
100

Total
19
70,4
8
29,6
27
100
Sumber : Data Primer, 2011
               Berdasarkan dari Tabel 4.7 menunjukkan bahwa dari 19 responden (70,4%) yang mengalami lecet puting susu terdapat 12 responden (100%) yang melaksanakan teknik menyusui kurang, 2 reponden (40%) yang melaksanakan teknik menyusui cukup, dan 5 responden (50%) yang melaksanakan teknik menyusui yang baik. Sedangkan 8 responden (29,6%) yang tidak mengalami lecet puting susu terdapat 0 responden (0%) yang melaksanakan teknik menyusui kurang, 3 responden (60%) yang melaksanakan teknik menyusui cukup, dan 5 responden (50%) yang melaksanakan teknik menyusui dengan baik.

4.3              Pembahasan
4.3.1        Teknik menyusui
            Berdasarkan dari tabel 4.5 menunjukkan bahwa sebagian besar responden yang melaksanakan teknik menyusui kurang sebanyak 12 responden (44,4%), cukup sebanyak 5 responden (18,5%), dan baik sebanyak 10 responden (37,1%). Teknik menyusui yang kurang, tampak pada hasil penelitian dimana responden melakukan teknik menyusui < 5 parameter, dari penelitian ini kebanyakan responden hanya melakukan 4 dari 10 parameter teknik menyusui 1,4,6, dan 8 yaitu parameter ke-1 mengatur posisi berbaring miring atau duduk dengan posisi santai, ke-4 tangan kanan menyangga payudara kiri dan menekan areola, ke-6 mendekatkan kepala bayi kepayudara, dan ke-8 menyusu pada payudara yang belum terkosongkan.
Teknik menyusui yang baik dan benar adalah apabila areola sedapat mungkin semuanya masuk ke dalam mulut bayi, tetapi hal ini tidak mungkin dilakukan pada ibu yang areolanya besar. Untuk ini, maka sudah cukup bila rahang bayi supaya menekan tempat penampungan air susu (sinus laktiferus) yang terletak dipuncak areola di belakang puting susu. Teknik salah, yaitu apabila bayi menghisap pada puting saja, karena bayi hanya dapat menghisap susu sedikit dan pihak ibu akan timbul lecet-lecet pada puting susu (Kristiyansari, 2009 : 44).
Responden yang dapat melakukan teknik menyusui yang benar didasarkan pada taraf pendidikan dan pengetahuan yang baik. Terlihat pada tabel 4.2 menunjukkan sebagian besar responden mempunyai latar belakang pendidikan SLTP yaitu sebanyak 11 responden (40,7%). Jadi, dari penelitian ini masih banyak responden yang masih belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang teknik menyusui yang benar dan juga pengalaman dalam menyusui bayinya, sehingga responden belum mampu untuk malaksanakan teknik menyusui yang benar. Karena dari pengalaman dan penelitian, ternyata pendidikan merupakan dasar pengetahuan yang harus dimiliki seseorang, hal ini berarti jika semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin mudah menerima dan mengakses informasi baru.
            Teknik menyusui yang tidak benar dapat mengakibatkan puting susu menjadi lecet, ASI tidak keluar optimal sehingga mempengaruhi produksi ASI selanjutnya atau bayi enggan menyusu. Maka dari itu, seorang ibu butuh seseorang yang dapat membimbingnya dalam merawat bayi termasuk dalam menyusui. Orang yang dapat membantunya adalah orang yang berpengaruh besar dalam kehidupannya atau yang disegani, seperti suami, keluarga/kerabat terdekat dan perlu dibina kelompok pendukung ASI di lingkungan masyarakat yang dapat menjadi sarana pendukung ibu agar dapat menyusui bayinya dengan baik. Dapat juga dibantu oleh tenaga kesehatan dengan cara memberikan penyuluhan tentang teknik menyusui yang benar.
4.3.2        Terjadinya lecet puting susu pada ibu nifas
Berdasarkan dari tabel 4.6 menunjukkan bahwa sebagian besar responden yang mengalami lecet puting susu sebanyak 19 responden (70,4%) dan  8 responden (29,6%) yang tidak mengalami lecet puting susu.
Ibu yang mengalami lecet puting susu disebabkan karena teknik menyusui yang salah, tapi dapat juga disebabkan oleh thrush (candidates) atau dermatitis. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa sebagian besar areola dapat masuk ke mulut bayi, sehingga puting susu berada dibawah langit-langit dan lidah bayi akan menekan ASI keluar dari tempat penampungan ASI yang terletak dibawah areola. Apabila bayi hanya menghisap pada puting saja, maka akan mengakibatkan puting lecet (Kristiyansari, 2009 : 44)
Responden yang sebagian besar mengalami lecet puting susu, mungkin karena sebelumnya responden tidak pernah mendapatkan informasi tentang masalah-masalah dalam menyusui, sehingga responden mengalami masalah tersebut. Sedangkan responden yang tidak mengalami lecet puting susu, hal ini mungkin disebabkan karena responden pernah melihat pengalaman dari teman atau saudaranya atau bahkan dari petugas kesehatan yang memberikan informasi dalam bentuk penyuluhan.
Terjadinya lecet puting susu pada responden dilatarbelakangi oleh pengalaman dan informasi yang pernah didapatkannya. Lingkungan  memberikan pengaruh pertama bagi seseorang, dimana seseorang dapat mempelajari hal-hal yang baik juga dan juga hal-hal yang buruk tergantung pada pada sifat kelompoknya. Maka dari itu responden harus memiliki kemampuan untuk mengolah informasi yang diberikan oleh petugas kesehatan melalui penyuluhan-penyuluhan masalah menyusui.
4.3.3        Hubungan teknik menyusui dengan terjadinya lecet puting susu pada ibu nifas
           Berdasarkan dari tabel 4.7 menunjukkan bahwa dari 19 responden (70,4%) yang mengalami lecet puting susu terdapat 12 responden (100%) yang melaksanakan teknik menyusui kurang, 2 reponden (40%) yang melaksanakan teknik menyusui cukup, dan 5 responden (50%) yang melaksanakan teknik menyusui yang baik. Sedangkan 8 responden (29,6%) yang tidak mengalami lecet puting susu terdapat 0 responden (0%) yang melaksanakan teknik menyusui kurang, 3 responden (60%) yang melaksanakan teknik menyusui cukup, dan 5 responden (50%) yang melaksanakan teknik menyusui dengan baik.
            Dari hasil uji chi square  didapatkan nilai signifikansi = 8,74 pada df = 2. Tingkat kemaknaan yang ditetapkan adalah pada α = 0,05. Ketentuan yang ditetapkan adalah jika x2 hitung > x2 tabel maka Ho ditolak dan H1 diterima. Karena x2 hitung = 8,74 > x2 tabel = 5,99 maka H1 diterima yang artinya terdapat hubungan teknik menyusui dengan terjadinya lecet puting susu pada ibu nifas di Polindes Melati Desa Sooko Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto.
Keadaan diatas menunjukkan bahwa pelaksanaan teknik menyusui yang salah dapat mengakibatkan terjadinya lecet puting susu atau masalah lain dalam menyusui, tetapi lecet puting susu dapat juga disebabkan oleh perawatan  payudara yang salah misalnya membasuh payudara terutama putting susu dengan menggunakan sabun, thrush (candidates), dan dermatitis. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Kristiyansari (2009) bahwa sebagian besar areola mamme harus sedapat mungkin masuk ke mulut bayi, sehingga puting susu berada dibawah langit-langit dan lidah bayi akan menekan ASI keluar dari tempat penampungan ASI yang terletak dibawah areola. Apabila bayi hanya menghisap pada puting saja, maka akan mengakibatkan lecet puting susu.
Jadi, dari penelitian ini masih banyak responden yang belum melaksanakan teknik menyusui yang benar, maka sebagian besar masih mengalami lecet puting susu, mungkin karena sebelumnya responden tidak pernah mendapatkan informasi tentang teknik menyusui yang benar dan masalah-masalah dalam menyusui, sehingga responden mengalami masalah tersebut. Sedangkan responden yang tidak mengalami lecet puting susu, hal ini mungkin disebabkan karena responden pernah melihat pengalaman dari teman atau saudaranya atau bahkan petugas kesehatan yang memberikan informasi dalam bentuk penyuluhan.
           Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pelaksanaan teknik menyusui yang baik adalah dengan pemberian pendidikan/ penyuluhan kesehatan yang dilakukan oleh peneliti dan petugas kesehatan terutama tentang teknik menyusui yang benar  dan  masalah  yang terjadi jika teknik menyusui ibu nifas kurang. Agar ibu nifas juga lebih memperhatikan masalah dalam menyusui, dan dimana mereka akhirnya akan berupaya untuk dapat melaksanakan teknik menyusui yang baik.

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1.      Pelaksanaan teknik menyusui di Polindes Melati Desa Sooko Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto menunjukkan data  bahwa sebagian besar responden melakukan teknik menyusui yang kurang  sebanyak 12 responden (44,4%).
2.      Terjadinya lecet puting susu di Polindes Melati Desa Sooko Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto menunjukkan data  bahwa sebagian besar responden yang mengalami lecet puting susu sebanyak 19 responden (70,4%).
3.      Terdapat hubungan teknik menyusui dengan terjadinya lecet puting susu pada ibu nifas di Polindes Melati Desa Sooko Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto.

5.2        Saran
5.2.1        Bagi responden
Diharapkan dari hasil penelitian ini responden dapat melaksanakan teknik menyusui yang  benar yang telah di ajarkan oleh peneliti. Dan datang ke posyandu untuk mendapatkan informasi tentang teknik menyusui yang benar, terutama dari tenaga kesehatan sehingga dapat memotivasi responden untuk lebih dapat melakukan teknik menyusui yang benar tanpa mengalami masalah-masalah dalam menyusui.
5.2.2        Bagi peneliti
Diharapkan dari hasil penelitian ini peneliti dapat lebih meningkatkan aktivitas peneliti dalam pembelajaran. Dan memberikan motivasi kepada responden untuk lebih memperhatikan cara menyusui yang baik agar tidak terjadi masalah dalam menyusui seperti lecet putting susu.
5.2.3        Bagi profesi kebidanan
Diharapkan dari hasil penelitian ini tenaga kesehatan (bidan) tetap aktif dalam memberikan penyuluhan dan bimbingan serta motivasi pada ibu hamil dan ibu menyusui, sehingga dapat melakukan teknik menyusui dengan baik dan benar pada saat menyusui secara ekslusif, sehingga meminimalkan terjadinya lecet puting susu.
5.2.4        Bagi penelitian selanjutnya
Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat dikembangkan bagi perkembangan ilmu kebidanan pada khususnya dan ilmu pengetahuan pada umumnya. Hasil penelitian ini juga dapat menjadi masukan dalam bentuk karya tulis ilmiah yang dapat dijadikan referensi bagi para penelitian selanjutnya.

0 komentar:

Poskan Komentar