Minggu, 23 Juni 2013

HUBUNGAN PENGETAHUAN SUAMI TENTANG KONTRASEPSI HORMONAL DENGAN PEMILIHAN ALAT KONTRASEPSI PADA IBU MENYUSUI DI BPS NY. “L” DESA JRAMBE KECAMATAN DLANGGU KABUPATEN MOJOKERTO

BAB  I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
1
 
Kontrasepsi hormonal adalah alat atau obat kontrasepsi yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kehamilan yang ditambahkan ke dalam tubuh seorang wanita dengan cara diminum (pil), disuntikkan (alat kontrasepsi suntik) ataupun dimasukkan ke dalam tubuh berupa susuk (implan) dimana bahan bakunya mengandung preparat estrogen dan progesteron ataupun gabungan keduanya (Harnas, 2010). Akan tetapi bagi ibu menyusui, penggunaan kontrasepsi hormonal sangat berpengaruh terhadap kelancaran keluarnya ASI. Suami sebagai kepala keluarga menjadi faktor penting dalam pemilihan kontrasepsi yang digunakan ibu menyusui. Pengetahuan suami yang kurang tentang kontrasepsi menyebabkan anjuran yang diberikan kurang tepat selama menyusui dan ini bisa menghambat kelancaran keluarnya ASI. Kurangnya pengetahuan suami tentang kontrasepsi menyebabkan munculnya resiko seperti bisa menghambat keluarnya ASI.
Menurut WHO, tahun 2009 hampir 380 juta pasangan menjalankan keluarga berencana dan 65-75 juta diantaranya terutama di negara berkembang menggunakan kontrasepsi hormonal seperti pil, suntik dan implant. Akan tetapi 5% dari jumlah tersebut penggunanya adalah ibu menyusui dengan pemilihan kontrasepsi kombinasi atau kontrasepsi dengan hormon esterogen saja (Hevitia, 2009). Sebagian besar kesalahan pemilihan dikarenakan anjuran yang tidak tepat dari suami dalam memilih alat kontrasepsi. Data akseptor alat kontrasepsi kombinasi di Daerah Tingkat I Jawa Timur tahun 2009 sebesar 75,82% dari keseluruhan pasangan usia subur, dengan perincian yang dipakai adalah suntikan (66%), pil (19%), dan implant atau susuk alat kontrasepsi (15%) (Pikas,2009) Akan tetapi 8% diantaranya adalah ibu menyusui yang salah memilih jenis kontrasepsi karena anjuran salah dari suami. Di Mojokerto, data cakupan akseptor alat kontrasepsi hormonal tahun 2009 sebesar 15.345 akseptor (72,02%) dengan 10% diantaranya adalah ibu menyusui dengan menggunakan kontrasepsi kombinasi.kejadian ini karena anjuran suami yang tidak mengetahui tentang kontrasepsi selama menyusui (Pikas, 2009). Studi pendahuluan yang dilakukan tanggal 05 April 2010 di BPS Ny. ”L” Dlanggu Mojokerto. Semuanya memakai kontrasepsi hormonal jenis suntik. Didapatkan data dari 10 ibu menyusui yang menggunakan alat kontrasepsi hormonal ditemukan 2 ibu menyusui (20%) yang menggunakan kontrasepsi kombinasi mempunyai suami dengan pengetahuan kurang tentang penggunaan kontrasepsi hormonal untuk ibu menyusui. Sedangkan 8 ibu (80%) yang menggunakan kontrasepsi dengan kandungan progesteron mempunyai suami dengan pengetahun kurang tentang penggunaan kontrasepsi hormonal untuk ibu menyusui.
Menurut Depkes (2010) metode kontrasepsi bekerja dengan dasar mencegah sperma laki-laki mencapai dan membuahi telur wanita (fertilisasi) atau mencegah telur yang sudah dibuahi untuk berimplantasi (melekat) dan berkembang di dalam rahim.  Ada  beberapa  metode  dalam  kelompok alat kontrasepsi ini yakni berupa
pil, suntikan dan susuk. Ketiganya efektif mengandung hormon dengan komposisi yang kurang lebih sama (Permata hati, 2009). Menurut Depkes (2010) kontrasepsi oral kombinasi (pil) mengandung sintetik estrogen dan preparat progestin yang mencegah kehamilan dengan cara menghambat terjadinya ovulasi (pelepasan sel telur oleh indung telur) melalui penekanan hormon LH dan FSH, mempertebal lendir mukosa servikal (leher rahim), dan menghalangi pertumbuhan lapisan endometrium. Pil kombinasi ada yang memiliki estrogen dosis rendah dan ada yang mengandung estrogen dosis tinggi. Estrogen dosis tinggi biasanya diberikan kepada wanita yang mengkonsumsi obat tertentu (terutama obat epilepsy). Selain untuk kontrasepsi, oral kombinasi dapat digunakan untuk menangani dismenorea (nyeri saat haid), menoragia, dan metroragia. Oral kombinasi tidak direkomendasikan untuk wanita menyusui, sampai minimal 6 bulan setelah melahirkan. Pil kombinasi yang diminum oleh ibu menyusui bisa mengurangi jumlah air susu dan kandungan zat lemak serta protein dalam air susu. Hormon dari pil terdapat dalam air susu sehingga bisa sampai ke bayi. Karena itu untuk ibu menyusui sebaiknya diberikan tablet yang hanya mengandung progestin, yang tidak mempengaruhi pembentukan air susu. Kurangnya pengetahuan ibu menyusui tentang efek samping alat kontrasepsi hormonal menyebabkan mereka tidak ada persiapan untuk menanggulangi efek samping yang muncul seperti terhambatnya kelancaran keluarnya ASI pada ibu menyusui. Hal ini akan menyebabkan munculnya rasa cemas pada diri ibu menyusui, panik dan beresiko melakukan hal – hal yang tidak diinginkan seperti putus asa, menyesal dan akhirnya bisa menyebabkan ibu menyusui DO diikutsertaan KB.
Bidan sebagai tenaga kesehatan, yang harus dilakukan adalah upaya penyadaran pada suami yang mempunyai ibu menyusui melalui pemberian informasi akan pentingnya pemilihan jenis kontrasepsi yang aman untuk digunakan. Langkah antisipatif ketika muncul efek samping alat kontrasepsi hormonal, adalah harus secepatnya menghubungi tenaga kesehatan, atau bidan yang bertugas. Karena itu, tiap suami dengan istri yang sedang menyusui perlu mengetahui dan mengenali resiko penggunaan kontrasepsi hormonal dalam hubungannya dengan kelancaran pemberian ASI. Selain itu pemberian informasi pada suami dan ibu menyusui tentang pemakaian kontrasepsi hormonal yang aman bisa dilakukan sedini mungkin dengan cara penyuluhan melalui posyandu. Di BPS Ny. ”L” Dlanggu Mojokerto menunjukkan bahwa masih banyak ibu menyusui yang salah dalam memilih kontrasepsi. Sebagian besar dari mereka memilih kontrasepsi yang mengandung hormon esterogen dan progesteron, atau esterogen saja, sehingga keluarnya ASI terhambat.  Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan suami dalam memberikan saran pemilihan alat kontrasepsi pada ibu menyusui sehingga menghambat kelancaran pemberian ASI pada ibu menyusui. Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk meneliti mengenai hubungan pengetahuan suami tentang alat kontrasepsi dengan pemilihan kontrasepsi pada ibu menyusui di BPS Ny. “L” Desa Jrambe Kecamatan  Dlanggu Kabupaten Mojokerto.



1.2  Rumusan Masalah
Bagaimana hubungan pengetahuan suami tentang alat kontrasepsi dengan pemilihan kontrasepsi pada ibu menyusui di BPS Ny. “L” Desa Jrambe Kecamatan  Dlanggu Kabupaten Mojokerto?

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan pengetahuan suami tentang alat kontrasepsi dengan pemilihan kontrasepsi pada ibu menyusui di BPS Ny. “L” Desa Jrambe Kecamatan  Dlanggu Kabupaten Mojokerto.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.     Mengidentifikasi pengetahuan suami tentang alat kontrasepsi di BPS Ny. “L” Desa Jrambe Kecamatan  Dlanggu Kabupaten Mojokerto.
2.     Mengidentifikasi pemilihan kontrasepsi pada ibu menyusui di BPS Ny. “L” Desa Jrambe Kecamatan  Dlanggu Kabupaten Mojokerto
3.     Menganalisis hubungan pengetahuan suami tentang alat kontrasepsi dengan pemilihan kontrasepsi pada ibu menyusui di BPS Ny. “L” Desa Jrambe Kecamatan  Dlanggu Kabupaten Mojokerto.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Responden
Dapat memberikan informasi kepada suami tentang pentingnya ketepatan pemilihan alat kontrasepsi yang dilakukan ibu agar tidak menghambat pemberian ASI.
1.4.2 Bagi Peneliti
Sebagai bahan referensi untuk menambah pengetahuan dan pengalaman terutama berkaitan dengan pentingnya pengetahuan tentang pemilihan alat kontrasepsi yang tepat pada ibu menyusui.
1.4.3 Bagi Profesi Kebidanan
Sebagai acuan dalam memberikan konseling pada ibu menyusui tentangpemilihan alat kontrasepsi yang tepat selama menyusui.
1.4.4 Bagi Penelitian Selanjutnya
Menambah referensi dan literatur dalam penelitian serupa terutama dalam pengembangan penelitian tentang pentingnya pengetahuan suami tentang pemilihan alat kontrasepsi pada ibu menyusui.

1.5 Batasan Penelitian
Pada penelitian ini dibatasi hanya pada hubungan pengetahuan suami tentang alat kontrasepsi dengan pemilihan kontrasepsi pada ibu menyusui di BPS Ny. “L” Desa Jrambe Kecamatan  Dlanggu Kabupaten Mojokerto. Sedangkan faktor – faktor yang lain seperti sikap atau perilaku suami tentang kontrasepsi hormonal.




 
BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


4.1  Hasil Penelitian
4.1.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di BPS Ny. “L” Desa Jrambe Kecamatan Dlanggu kabupaten Mojokerto di wilayah selatan Kota Mojokerto.  Jumlah ibu hamil yang memeriksakan diri perbulan rata – rata : 134 orang, jumlah ibu menyusui yang memeriksakan diri perbulan rata – rata 20 orang. di BPS Ny. “L” Desa Jrambe Kecamatan Dlanggu kabupaten Mojokerto terdapat 1 asisten bidan. Apabila terdapat pasien yang tidak mampu ditangani maka dirujuk ke RSU Dr. Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto atau ke RS Sumberglagah Pacet Mojokerto. Pasien yang dirujuk adalah pasien yang mengalami patologi. Untuk Suami hamil yang memerlukan USG dirujuk ke Puskesmas atau RS terdekat.
Fasilitas yang ada di BPS ini antara lain : 1 kamar periksa, 1 kamar bersalin, 2 kamar rawat gabung, 1 kamar mandi untuk pasien dan juga dan memiliki alat partus set dan KB. Pelayanan BPS Ny.”L” setiap hari mulai pukul 16.00 sampai pukul 21.00. BPS ini juga melayani KIA dan KB. Bila pasien inpartu pelayanan bisa sampai 24 jam.  




         4.1.2 Data Umum
Tabel 4.1   Distribusi Frekuensi Berdasarkan Umur Responden di BPS Ny. “L” Desa Jrambe Kecamatan Dlanggu Kabupaten Mojokerto Bulan September 2010

No
Golongan Umur
Jumlah
Prosentase (%)
1.
2.
3.
< 20 tahun
20 -25 tahun
> 35  tahun
13
51
0
20.3
79.7
0

Jumlah
64
100

   Berdasarkan tabel 4.1 sebagian besar responden berumur 21-25 tahun yaitu sebanyak 51 responden (79.7%).
Tabel 4.2   Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pendidikan Responden di BPS Ny. “L” Desa Jrambe Kecamatan Dlanggu Kabupaten Mojokerto Bulan September 2010

No
Pendidikan
Jumlah
Prosentase (%)
1.
2.
3.
4.
SD
SMP
SMA
Akademi / Perguruan tinggi
0
8
54
2
0
12.5
84.4
3.1

Jumlah
64
100

Berdasarkan tabel 4.2 sebagian besar responden berpendidikan SMA yaitu sebanyak 54 responden (84.4%).
Tabel 4.3   Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pekerjaan Responden di BPS Ny. “L” Desa Jrambe Kecamatan Dlanggu Kabupaten Mojokerto Bulan September 2010

No
Pekerjaan
Jumlah
Prosentase (%)
1.
2.
Bekerja
Tidak bekerja
31
33
48.4
51.6

Jumlah
64
100


Berdasarkan tabel 4.3 diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden tidak bekerja yaitu sebanyak 33 responden (51.6%).
Tabel 4.4   Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jumlah Anak Responden di BPS Ny. “L” Desa Jrambe Kecamatan Dlanggu Kabupaten Mojokerto Bulan September 2010

No
Jumlah Anak  
Jumlah
Prosentase (%)
1.
2.
1 anak
> 1 anak
19
45
29.7
70.3

Jumlah
64
100

Berdasarkan tabel 4.4 diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden mempunyai lebih dari 1 anak yaitu sebanyak 45 responden (70.3%).
         4.1.3 Data Khusus
Tabel 4.5   Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pengetahuan Suami Tentang Pemilihan Kontrasepsi Hormonal BPS Ny. “L” Desa Jrambe Kecamatan Dlanggu Kabupaten Mojokerto Bulan September 2010

No
Pengetahuan
Jumlah
Prosentase (%)
1.
2.
3.
Kurang
Cukup
Baik
15
11
38
23.4
17.2
59.4

Jumlah
64
100

Berdasarkan tabel 4.5 sebagian besar responden berpengetahuan baik yaitu sebanyak 38 responden (59.4%).
Tabel 4.6   Distribusi Frekuensi Pemilihan Kontrasepsi Hormonal Yang Dilakukan Responden BPS Ny. “L” Desa Jrambe Kecamatan Dlanggu Kabupaten Mojokerto Bulan September 2010

No
Pemilihan Kontrasepsi Hormonal
Jumlah
Prosentase (%)
1.
2.
Tidak tepat
Tepat
20
44
31.3
68.8

Jumlah
64
100



Berdasarkan tabel 4.6 diatas didapatkan data sebagian besar responden tepat dalam memilih kontrasepsi yaitu sebanyak 44 responden (68.8%).
Tabel 4.7   Tabulasi Silang Hubungan Pengetahuan Suami Tentang Kontrasepsi Hormonal Dengan Pemilihan Kontrasepsi Hormonal Pada Ibu Menyusui BPS Ny. “L” Desa Jrambe Kecamatan Dlanggu Kabupaten Mojokerto Bulan September 2010
No
Pemilihan Kontrasepsi
Tidak tepat
tepat
Total
Pengetahuan
f
%
f
%
f
%
1
kurang
15
23.4
0
0
15
23.4
2
Cukup
5
7.8
6
9.4
11
17.2
3
Baik
0
0
38
59.4
38
59.4
Jumlah
20
31.3
44
44
64
100

Hasil tabulasi silang diatas menunjukkan bahwa paling besar adalah responden berpengetahuan baik dan tepat dalam memilih kontrasepsi hormonal, yaitu sebanyak 38 responden (59.4%)

Hasil uji analisis dengan menggunakan bantuan software SPSS ditemukan nilai probabilitas sebesar 0.000, karena 0.000< α (0.05) maka hipotesis diterima yang menunjukkan terdapat hubungan pengetahuan suami tentang kontrasepsi hormonal dengan pemilihan alat kontrasepsi hormonal pada ibu menyusui dengan tingkat signifikansi 0,000.

4.2 Pembahasan
      4.2.1 Pengetahuan Suami Tentang Pemilihan Kontrasepsi Hormonal
 Berdasarkan tabel 4.5 sebagian besar responden berpengetahuan baik yaitu sebanyak 38 responden (59.4%).
Hasil analisis ini didukung oleh umur responden. Berdasarkan tabel 4.1 sebagian besar responden berumur 21-25 tahun yaitu sebanyak 51 responden (79.7%).
Singgih mengemukakan bahwa makin tua umur seseorang maka proses-proses perkembangan mentalnya bertambah baik. Bertambahnya pengalaman menyebabkan bertambahnya kedewasaan seseorang. Hal ini membuat seseorang semakin patuh dalam memegang suatu prinsip ataupun melaksanakan suatu anjuran, sebatas anjuran tersebut dinilai bermanfaat untuk diri mereka  (Irfan, 2010).
Dengan demikian responden yang berusia lebih dewasa akan lebih banyak memperoleh pengetahuan, daripada yang berumur lebih muda. Namun sebaliknya responden yang berumur lebih muda masih terbatas dalam berpikir saja tanpa mempunyai berpengaruh pada setiap keputusan dan tindakannya. Dengan demikian semakin tua umur responden maka pengetahuan tentang semua penjelasan yang berhubungan dengan pemilihan kontrasepsi hormonal selama menyusui akan semakin bertambah pula. Keadaan ini disebabkan karena waktu untuk mendapatkan pengetahuan tentang kontrasepsi hormonal akan semakin lama pula.
Hasil analisis juga dipengaruhi oleh pendidikan responden. Berdasarkan tabel 4.2 sebagian besar responden berpendidikan SMA yaitu sebanyak 54 responden (84.4%).
Nursalam (2001) menjelaskan bahwa bahwa makin tinggi pendidikan seseorang, maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Pengetahuan tersebut membentuk paradigma pemikiran tersendiri dan menjadikan interaksi seseorang selalu didasari oleh paradigma pemikiran yang terbentuk. Kepatuhan seseorang untuk menjalankan suatu kebiasaan disebabkan karena hal ini.
Responden yang berpendidikan tinggi akan mudah dalam menyerap informasi, sehingga proses penyerapan pengetahuan tentang tentang kontrasepsi hormonal dalam hubungannya dengan kelancaran pemberian ASI semakin cepat. Hal ini yang menyebabkan responden dengan pendidikan tinggi akan mempunyai pengetahuan tentang kontrasepsi hormonal lebih baik pula.
Hasil analisis juga dipengaruhi oleh pekerjaan responden. Berdasarkan tabel 4.3 diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden tidak bekerja yaitu sebanyak 33 responden (51.6%).
Hal ini sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2003) bahwa masyarakat yang sibuk akan memiliki waktu yang sedikit untuk memperoleh informasi sehingga ilmu pengetahuan yang mereka miliki menjadi berkurang. Menurut Zuhri (2010) kurangnya pengetahuan menyebabkan kesadaran akan pentingnya beberapa kebiasaan menjadi berkurang. Seseorang akan cenderung meremehkan suatu kebiasaan katika pengetahuan tentang kebiasan tersebut tidak begitu dipahami.
Responden yang tidak bekerja akan lebih banyak menerima pengetahuan dan informasi daripada responden yang bekerja. Keluangan waktu yang dimilikinya membuat responden bisa lebih leluasa mengikuti penyuluhan kesehatan yang diadakan oleh tenaga kesehatan dan punya waktu lebih banyak dalam mengakses informasi tentang kontrasepsi hormonal. Berbeda dengan responden yang bekerja, mereka akan lebih sedikit mempunyai waktu luang untuk mengakses pengetahuan terutama yang berhubungan dengan kontrasepsi hormonal. Tentunya responden dengan status bekerja akan selalu disibukkan dengan pekerjaannya masing – masing daripada disibukkan dengan hal – hal yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang digeluti.
Hasil analisis juga dipengaruhi oleh jumlah anak responden. Berdasarkan tabel 4.4 diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden mempunyai lebih dari 1 anak yaitu sebanyak 45 responden (70.3%).
Menurut Notoatmodjo (2002) bahwa pengalaman itu merupakan sumber pengetahuan dan pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan sehingga semakin banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang informasi yang didapatkan akan semakin baik. Pengalaman merupakan guru yang terbaik. Pepatah tersebut dapat diartikan bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman itu suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh sebab itu pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebagai upaya untuk memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lalu (Yanti, 2009).
Dengan demikian responden yang mempunyai anak lebih dari 1 mempunyai pengalaman lebih banyak tentang kontrasepsi hormonal daripada yang masih mempunyai 1 anak. Hal ini dikarenakan kesempatan untuk mencoba dan mendapat pengalaman berkenaan dengan kontrasepsi hormonal lebih banyak dibanding dengan responden yang mempunyai 1 anak.
    4.2.2 Pemilihan Kontrasepsi Hormonal
Berdasarkan tabel 4.6 diatas didapatkan data sebagian besar responden tepat dalam memilih kontrasepsi yaitu sebanyak 44 responden (68.8%).
KB hormonal adalah cara pencegahan terjadinya kehamilan dengan menggunakan obat yang berkhasiat hormonal, yang mempengaruhi poros hipothalamus - hipofisis - ovarium - dan/atau endometrium (pengaruh pada poros, pada organ, atau pada kesuburan) (Obgin, 2009).
Hasil analisis yang menyebutkan bahwa sebagian besar responden tepat dalam memilih kontrasipsi berarti rata – rata responden telah melakukan pemilihan kontrasepsi dengan tepat. Pemilihan kontrasepsi yang tepat adalah pemilihan kontrasepsi yang tidak mengganggu kelancaran keluarnya air susu ibu (ASI).
4.2.3 Hubungan Pengetahuan Suami Menyusui Dengan Pemilihan Kontrasepsi Hormonal Selama Menyusui
Hasil uji analisis dengan menggunakan bantuan software SPSS menunjukkan bahwa terdapat hubungan pengetahuan suami tentang kontrasepsi hormonal dengan pemilihan kontrasepsi hormonal pada ibu menyusui dengan tingkat signifikansi 0,000. Dari nilai tersebut dapat di artikan bahwa H1 diterima dan Ho ditolak yang berarti hubungan pengetahuan suami tentang kontrasepsi hormonal dengan pemilihan kontrasepsi hormonal pada ibu menyusui
Menurut Depkes (2010) kontrasepsi oral kombinasi (pil) mengandung sintetik estrogen dan preparat progestin yang mencegah kehamilan dengan cara menghambat terjadinya ovulasi (pelepasan sel telur oleh indung telur) melalui penekanan hormon LH dan FSH, mempertebal lendir mukosa servikal (leher rahim), dan menghalangi pertumbuhan lapisan endometrium. Oral kombinasi tidak direkomendasikan untuk wanita menyusui, sampai minimal 6 bulan setelah melahirkan. Pil kombinasi yang diminum oleh Ibu menyusui bisa mengurangi jumlah air susu dan kandungan zat lemak serta protein dalam air susu. Hormon dari pil terdapat dalam air susu sehingga bisa sampai ke bayi. Karena itu untuk Ibu menyusui sebaiknya diberikan tablet yang hanya mengandung progestin, yang tidak mempengaruhi pembentukan air susu.
Dengan demikian sebagai kepala keluarga suami berperan penting dalam pemilihan kontrasepsi yang yang dilakukan ibu menyusui. Pengetahuan suami yang kurang tentang kontrasepsi menyebabkan anjuran yang diberikan kurang tepat selama menyusui dan ini bisa menghambat kelancaran keluarnya ASI. Kurangnya pengetahuan suami tentang kontrasepsi menyebabkan munculnya resiko seperti bisa terhambatnya kelancaran ASI. Adanya hubungan antara pengetahuan suami dengan pemilihan kontrasepsi hormonal pada ibu menyusui menunjukkan bahwa sebagian besar suami sudah mengetahui tentang konrasepsi hormonal yang tepat agar tidak mengganggu kelancaran pemberian ASI.

  
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
  1. Identifikasi pengetahuan suami tentang kontrasepsi hormonal menunjukkan sebagian besar responden berpengetahuan baik yaitu sebanyak 38 responden (59.4%).
  2. Identifikasi pemilihan kontrasepsi hormonal selama menyusui menunjukkan bahwa sebagian besar responden tepat dalam memilih kontrasepsi yaitu sebanyak 44 responden (68.8%).
  3. Hasil analisis menunjukkan terjadi hubungan antara pengetahuan suami dengan pemilihan kontrasepsi hormonal selama menyusui sebesar 0.000

5.2 Saran
5.2.1 Bagi Instansi Pendidikan
Diharapkan hasil penelitian ini digunakan sebagai bahan untuk  meningkatkan kualitas asuhan kebidanan terutama mengenai pentingnya peningkatan pengetahuan suami berkenaan dengan  pemilihan kontrasepsi hormonal yang dilakukan ibu selama menyusui.
5.2.2  Bagi Responden           

 
Supaya hasil penelitian ini dipakai sebagai tambahan pengetahuan bagi suami tentang penggunaan kontrasepsi hormonal selama menyusui.
5.2.3 Bagi Ilmu Kebidanan
Supaya hasil penelitian ini bisa dijadikan bahan referensi untuk memperluas wawasan mahasiswa tentang pemilihan kontrasepsi hormonal selama menyusui.
.5.2.4 Bagi Peneliti selanjutnya
Supaya hasil penelitian ini bisa dijadikan acuan untuk mengembangkan penelitian serupa tentang hubungan pengetahuan suami dengan pemilihan kontrasepsi hormonal yang dilakuakn ibu.

0 komentar:

Poskan Komentar