Minggu, 23 Juni 2013

HUBUNGAN ANTARA TARAK (PANTANG) TERHADAP MAKANAN PADA IBU POST PARTUM DENGAN PROSES PENYEMBUHAN LUKA JAHITAN PERINEUM DI BPS NY. PURWANTO MOJOKERTO

ABSTRAK
HUBUNGAN ANTARA TARAK (PANTANG) TERHADAP MAKANAN PADA  IBU POST PARTUM DENGAN PROSES PENYEMBUHAN LUKA JAHITAN PERINEUM DI BPS NY. PURWANTO       MOJOKERTO

NURWAHYUNI


         Di Indonesia banyak pantang makanan yang dikenakan pada ibu nifas. Kepercayaan pantangan tersebut merugikan kondisi gizi ibu dan memperlambat proses penyembuhan luka jahitan perineum, sebaiknya lebih digalakkan seperti lebih banyak makan sayuran, ikan dan makanan yang banyak mengandung protein, Karena dalam proses penyembuhan luka sangat membutuhkan protein. Tujuan penelitian mengetahui  hubungan antara tarak (pantang) terhadap makanan  pada ibu post partum dengan proses penyembuhan luka jahitan perineum.

       Jenis penelitian ini adalah analitik dengan desain penelitian cross sectioanal menggunakan instrumen penelitian berupa wawancara terstruktur dan observasi. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu post partum di BPS Ny. Purwanto Mojokerto dan cara pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Teknik pengolahan data menggunakan tabel distribusi frekuensi dan untuk uji hubungan tarak (pantang) terhadap makanan pada ibu post partum dengan proses penyembuhan luka jahitan perineum menggunakan uji chi square pada a = 0,05.

        Dalam penelitian ini didapatkan sebagian besar responden tarak (pantang) terhadap makanan yaitu sebanyak 20 responden (64,5%) dan sebagian besar proses penyembuhan luka jelek yaitu sebanyak 13 responden (41,94%).

       Dari hasil penelitian diambil kesimpulan bahwa ada hubungan antara tarak (pantang) terhadap makanan pada ibu post partum dengan proses penyembuhan luka jahitan perineum di BPS Ny. Purwanto Mojokerto dengan nilai hitung (4,15) > tabel (3,84) sehingga  H1 diterima. Tarak (pantang) terhadap makanan mempengaruhi proses penyembuhan luka jahitan perineum. Disarankan bagi petugas memberikan bimbingan dan motifasi pada ibu post partum untuk tidak tarak (pantang) terhadap makanan guna proses penyembuhan luka jahitan perineum baik.


Kata kunci : tarak (pantang) terhadap makanan, proses penyembuhan luka jahitan perineum.



ABSTRACT

CORRELATION  BETWEEN  ABSTINENCE TO FOOD IN POST PARTUM WITH WOUND HEALING PROCESS IN BPS Mrs. PURWANTO
MOJOKERTO

NURWAHYUNI


              In Indonesia,many food that are imposed abstinence in puerperal women. Trust these restrictions harm the nutritional condition of mothers and slow the process of wound healing stiches perineum, more should be encouraged such as eating more vegetables, fish and foods that countain lots of protein, because in the process of wound healing in desperate need of protein. The purpose of the research to know the relationship between abstinence to food at post partum with suture perineal wound healing process.
             The study was an analytic cross sectional research desidn using research instruments in the form of structured interviews and observation. The population in this study were all post partum in BPS Mrs.Purwanto Mojokerto and how sampling using total sampling. Techniques processing data using frequency distribution tables and to test the relationship abstinence (abstinence) to food at post partum with = 0,05 α sture perineal wound healing process using chi-square test at α = 0,05.
In this study, most respondensts abstinence to food that is as much as 20 respondents (64,5%) and most ugly wound healing process as many as 13 respondents (41,94%).
From the research it is concluded that there is relationship between abstinence to food at post partum with suture perineal wound healing process in BPS Mrs. Purwanto Mojokerto to calculate the value of x2 (4,15) > x2 table (3,84)so that H1 is accepted. Abstinence to food affect suture perineal wound healing proceaa. Suggested for officers to provide guidance and motivation in post partum to no incontinence to food in food in order to suture perineal wound healing process better.
                 
Key words: abstinence to food, suture wound healing process of the    perineum.


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Masa post partum atau nifas adalah masa sesudah persalinan dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhirnya ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, masa nifas berlangsung selama 6 minggu (Saiffudin, 2002). Diet yang diberikan harus bermutu tinggi dengan cukup kalori, mengandung cukup protein, cairan, serta banyak buah-buahan karena wanita tersebut mengalami hemokonsentrasi, dan terlebih bila ada laserasi jalan lahir atau luka bekas episiotomi. Laserasi jalan lahir atau luka episiotomi adalah suatu tindakan insisi pada perineum yang menyebabkan terpotongnya selaput lendir vagina, cincin selaput dara, jaringan pada septum retrovaginal, otot-otot dan fasia perineum dan kulit sebelah  depan perineum (Sarwono, 2005:171). Tarak (Pantang) terhadap makanan tidak boleh dilakukan oleh ibu post partum  karena dapat memperlambat proses penyembuhan luka jahitan perineum sedangkan dalam proses penyembuhan luka  sangat membutuhkan protein, maka ibu post partum di anjurkan untuk makan dalam pola yang benar sesuai dengan kualitas dan kuantitasnya (Iskandar, 2010).
Namun pada kenyataannya, masyarakat masih banyak yang tidak memperhatikan hal tersebut. Masyarakat masih mempercayai adanya pantang makanan, mereka menerima dan menolak jenis makanan tertentu. Di Inggris dan Kanada dari jumlah penduduk 227,65 juta jiwa tahun 2008 dengan luas wilayah 9.970.610 km persegi ditemukan 5-15%  angka kejadian ibu post partum dengan luka jahitan perineum tarak (Pantang) terhadap makanan (Hapsari, 2010). Di Indonesia tahun 2006 angka kejadian tarak (Pantang) terhadap Makanan 35 – 45% (Suprabowo, 2006). Di Jawa timur tahun 2000 angka kejadian ibu nifas 39,6%  yang tarak (Pantang) terhadap makanan (Depkes RI, 2008). Berdasarkan penelitian Titik Wahyuni tahun 2009 di Desa Latukan Kecamatan Karang geneng Kabupaten Lamongan pada Bulan Maret sampai dengan April 2009, terdapat 29 (80,55%) ibu nifas yang tarak (Pantang) terhadap makanan. Berdasarkan hasil studi pendahuluan pada tanggal 29 Maret 2010 di BPS Ny. Purwanto Desa Kedung Maling Kecamatan Sooko kabupaten Mojokerto, pada bulan Februari sampai dengan Maret 2010 terdapat 33 ibu nifas. Dari ibu nifas tersebut, sebanyak 22 (66,66%) yang tarak (Pantang) terhadap makanan. Data ini menunjukkan bahwa pantang makanan masih banyak dilakukan oleh masyarakat. Pengetahuan masyarakat tentang kebutuhan gizi pada masa nifas  kurang sesuai dengan aturan pemenuhan gizi yang baik dan seimbang.  
Fenomena ini disebabkan karena kuatnya pengaruh sosial budaya terhadap kebiasaan sehari-hari. Adat dan tradisi merupakan dasar perilaku tersebut. Hal inilah yang masih mempengaruhi kebiasaan masyarakat pedesaan dalam memilih dan menyajikan makanan (Marin, 2009). Selain itu, fenomena tersebut juga disebabkan karena adanya kepercayaan terhadap larangan-larangan orang tua zaman dahulu. Orang tua zaman dahulu mengatakan bahwa ibu dalam masa nifas dilarang memakan ikan karena makanan tersebut  hanya akan menyebabkan darah nifas berbau busuk, tidak cepat kering dan melemahkan daya tahan tubuh baik fisik maupun mental serta menyebabkan gatal pada kulit. Selain itu, ibu nifas dilarang makan sayur karena makanan tersebut dianggap dapat mengakibatkan lemah sendi (Alex, 2008). Padahal kepercayaan itu salah besar dalam proses penyembuhan luka jahitan perineum memerlukan nutrisi terutama protein untuk membantu proses penggantian jeringan yang mati atau rusak dengan jeringan yang baru dengan jalan regenerasi (Mawardi, 2002).
Ibu post partum perlu diberikan konseling atau penyuluhan tentang masa nifas dan pantang terhadap makanan serta pengaruhnya terhadap Penyembuhan luka perinium maupun yang lainnya sehingga diharapkan pengetahuan ibu dapat ditingkatkan terutama oleh petugas kesehatan dalam memberikan motivasi yang positif terhadap ibu. Dengan meningkatnya pengetahuan ibu, diharapkan tarak (pantang) terhadap makanan tidak lagi dilakukan oleh ibu post partum. Karena dengan tarak (Pantang) terhadap makanan ibu post partum tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi sehingga berdampak pada proses penyembuhan luka jahitan perinium yang lebih lama dan dapat menimbulkan infeksi (Marin, 2009).
Berdasarkan uraian tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan antara tarak  (pantang) terhadap makanan pada ibu post partum dengan proses penyembuhan luka jahitan perineum.

1.2.  Rumusan Masalah
Adakah hubungan antara tarak (pantang) terhadap makanan pada ibu post partum dengan proses penyembuhan luka jahitan perineum di BPS Ny. Purwanto Mojokerto?
1.3.  Tujuan Penelitian
   1.3.1   Tujuan Umum
      Mengetahui  hubungan antara tarak (pantang) terhadap makanan  pada ibu post partum dengan proses penyembuhan luka jahitan perineum di BPS Ny. Purwanto Mojokerto.
1.3.2  Tujuan Khusus
1.      Mengidentifikasi tarak (pantang) terhadap makanan pada ibu post partum di BPS  Ny. Purwanto Mojokerto.
2.      Mengidentifikasi proses penyembuhan luka jahitan perineum pada ibu post partum di BPS Ny. Purwanto Mojokerto.
3.      Menganalisis hubungan antara tarak (pantang) terhadap makanan pada ibu post partum dengan proses penyembuhan luka jahitan perineum di BPS Ny. Purwanto Mojokerto.

1.4.  Manfaat Penetlitian
1.4.1.      Bagi responden
Menngetahui bahwa tarak (Pantang) terhadap makanan dapat memperlambat proses penyembuhan luka jahitan perineum.
1.4.2.      Bagi Peneliti
Dapat mengetahui bahwa tarak (Pantang) terhadap makanan tidak diperbolehkan pada ibu post parrtum dengan luka jahitan perineum karena dapat memperlambat proses penyembuhan luka jahitan perineum.


1.4.3.      Bagi Profesi Kebidanan
Mengetahui bahwa tarak (Pantang) terhadap makanan dapat memperlambat proses penyembuhan luka jahitan perineum pada ibu post partum, Bidan harus dapat memberikan penyuluhan kepada ibu – ibu post partum untuk tidak tarak (Pantang) terhadap makanan.
1.4.4        Bagi Penelitian Selanjutnya  
Sebagai dasar untuk melakukan penelitian selanjutnya khususnya tentang Hubungan antara tarak (pantang) terhadap makanan pada ibu post partum dengan proses penyembuhan luka jahitan perineum.

1.5.  Batasan penelitian
 Penelitian ini hanya meneliti hubungan antara tarak (pantang) terhadap makanan pada ibu post partum dengan proses penyembuhan luka perineum. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi tarak (pantang) terhadap makanan dan proses penyembuhan luka jahitan perineum selain makanan atau tarak (pantang) terhadap makanan tidak diteliti.


 
 

 
BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
         Penelitian tentang ”Hubungan Antara Tarak ( Pantang) terhadap Makanan Pada Ibu Post Partum Dengan Proses penyembuhan Luka Jahitan Perineum” ini dilakukan di BPS Ny. Purwanto Mojokerto.
         Dilihat dari letak geografisnya, BPS Ny. Purwanto berbatasan dengan wilayah - wilayah sebagai berikut :  Sebelah utara berbatasan dengan desa Sambiroto, sebelah selatan berbatasan dengan desa Gemekan, sebelah barat berbatasan dengan desa Klinterejo dan sebelah timur berbatasan dengan desa santren.
4.1.2 Data Umum
         Data umum adalah data yang terdapat dalam chek list yang tidak dilakukan uji statistik dan merupakan gambaran umum dari responden penelitian.
4.1.2.1 Umur
            Umur responden dalam penelitian ini dapat dilihat  dalam Tabel 4.1 di  bawah ini.


Tabel 4.1 Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur
No
Umur
Frekuensi
Persentase
1.
2.
3.
≤ 20 tahun
20 – 35 tahun
≥ 35 tahun
4
25
2
12,9 %
80,6 %
6,5 %
Jumlah
31
100 %
Sumber : data primer, 2010

         Dari Tabel 4.1 distribusi umur tersebut dapat diketahui bahwa dari 31 responden, yang berumur 20-35 tahun sebanyak 25 responden (80,6%)  

4.1.2.2 Pendidikan
            Pendidikan responden dalam penelitian ini dapat dilihat  dalam Tabel 4.2 di  bawah ini.
Tabel 4.2 Distribusi frekuensi responden berdasarkan tingkat pendidikan
No
Pendidikan
Frekuensi
Persentase
1.
2.
3.
4.
SD
SMP
SMA/SMK
PT
7
12
10
2
 22,6 %
38,7 %
32,2 %
6,5 %
Jumlah
31
100 %
Sumber : data primer, 2010

         Dari Tabel 4.2 distribusi pendidikan tersebut dapat diketahui bahwa dari 31 responden, pendidikan terbanyak adalah SMP sebanyak 12 (38,7%) responden.

4.1.2.3 Pekerjaan
Pekerjaan responden dalam penelitian ini dapat dilihat  dalam Tabel 4.3 di  bawah ini.

Tabel 4.3 Distribusi frekuensi responden berdasarkan pekerjaan
No
Pekerjaan
Frekuensi
Persentase
1.
2.
3.
4.
5.
Pegawai Negeri
Pegawai Swasta
Wiraswasta
Buruh/Tani
Ibu Rumah Tangga
-
4
8
5
14
 -
12,9 %
25,8 %
16,1 %
45,2 %
Jumlah
31
100 %
Sumber: data primer, 2010

         Dari Tabel 4.3 distribusi pekerjaan tersebut dapat diketahui bahwa dari 31 responden, terbayak adalah Ibu rumah tangga sebayak 14 (45%) responden.

4.1.2.4 Pendapatan Keluarga
Pendapatan keluarga responden dalam penelitian ini dapat dilihat dalam Tabel 4.4 di bawah ini.
Tabel 4.4 Distribusi frekuensi responden berdasarkan pendapatan keluarga
No
Pendapatan keluarga tiap bulan
Frekuensi
Persentase
1.
2.
3.
≤ 100 ribu
150 – 250 ribu
≥ 300 ribu
11
5
15
35,5 %
16,1 %
48,4 %
Jumlah
31
100 %
Sumber : data primer, 2010

Dari Tabel 4.4 distribusi pendapatan keluarga dapat diketahui bahwa dari 31 responden, yang pendapatan keluarga ≥ 300 ribu adalah paling besar ada 15 (48,4%) responden.



4.1.3 Data Khusus
         Data khusus adalah data yang terdapat dalam chek list yang akan dilakukan tabulasi silang dan uji statistik. Sebelum dilakukan tabulasi silang dan uji statistik, berikut akan disajikan terlebih dahulu distribusi masing-masing faktor yang akan diteliti dalam bentuk tebel.

4.1.3.1 Tarak ( Pantang) Terhadap Makanan
            Tarak (pantang) Terhadap makanan pada ibu post partum responden dapat dilihat pada Tabel 4.5 di bawah ini.
Tabel 4.5  Distribusi frekuensi tarak (pantang) terhadap makanan  pada ibu post partum
No
Tarak (Pantang) terhadap Makanan
Frekuensi
Persentase
1.
2.
Ya
Tidak
20
11

64,5 %
35,5 %

Jumlah
31
100 %
Sumber : data primerr, 2010

         Dari Tabel 4.5 di atas, menunjukan bahwa dari 31 responden, yang tarak (pantang) terhadap makanan sebanyak 20 responden (64,5%).

4.1.3.2 Proses Penyembuhan Luka Jahitan Perineum
            Proses Penyembuhan Luka Jahitan Perineum Responden dapat dilihat pada Tabel 4.6 di bawah ini.



Tabel 4.6  Distribusi frekuensi proses penyembuhan luka jahitan perineum
No
Proses penyembuhan luka jahitan perineum
Frekuensi
Persentase
1.
2.
Baik
Jelek
18
13

58,06 %
41,94 %

Jumlah
31
100 %
Sumber : data primer, 2010

         Dari Tabel 4.6 di atas, menunjukan bahwa dari 31 responden, yang proses penyembuhan luka jahitan baik sebanyak 18 responden (58,06%).

4.1.3.3 Tabulasi silang antara tarak (pantang) Terhadap makanan  pada ibu Post Partum dengan proses Penyembuhan Luka Jahitan Perineum
Tabel 4.7 Tabulasi silang antara tarak (pantang) terhadap makanan pada ibu nifas  dengan proses penyembuhan luka jahitan perineum
No
Tarak
(pantang) terhadap makanan
Proses Penyembuhan Luka Jahitan Perineum
Jumlah
Baik
Jelek
1.
2.
Ya
Tidak
9(45%)
9(81,8%)
11(55%)
2(18,2%)
20 (100%)
11 (100%)
Jumlah
18 (58,06%)
13 (41,94%)
31 (100%)
Sumber : data primer, 2010

         Dari tabulasi silang di atas, menunjukan bahwa dari 31 responden, dimana dari 20 responden yang tergolong tarak (pantang) terhadap makanan didapatkan 9 responden (45%) yang mengalami proses penyembuhan luka baik dan 11 responden (55%) yang mengalami proses penyembuhan luka jelek. Sedangkan dari 11 responden yang tidak tarak (pantang) terhadap makanan didapatkan  9 responden (81,8%) yang mengalami proses penyembuhan luka baik dan 2 responden (18,2%)  yang mengalami proses penyembuhan luka jelek.

            Dari hasil perhitungan uji statistik chi – square dengan taraf signifikan 0,05 didapatkan sebesar 4,15 sedangkan tabel chi – square dengan dk 1 sebesar 3,84. Jadi didapatkan hitung lebih besar dari tabel chi – square, maka hipotesa satu (H1) diterima artinya ada hubungan antara tarak (pantang) terhadap makanan pada ibu post partum dengan proses penyembuhan luka jahitan perineum.

4.2 Pembahasan
4.2.1 Tarak ( pantang) terhadap makanan  pada ibu post partum
         Berdasarkan pada Tabel 4.4 dapat diketahui bahwa dari 31 responden, terdapat 20 responden (64,5%) yang tarak (pantang) terhadap makanan dan terdapat 11 responden (35,5%) yang tidak tarak (pantang) terhadap makanan. Data ini menunjukan bahwa sebagian besar responden melakukan tarak (pantang) terhadap makanan. Dari 20 responden yang tarak (Pantang), terdapat 13 responden yang tarak terhadap telur, tarak terhadap ikan asin ada 13 responden, tarak ikan segar ada 2 responden, tarak sayur - sayuran 3 responden, tarak buah – buahan 1 responden.
         Tarak (pantang) terhadap makanan adalah menahan diri dari makan daging atau salah satu jenis makanan tertentu yang telah ditentukan secara pribadi atau bersama (Marin, 2009). Hal ini disebabkan karena beberapa faktor, antara lain : kuatnya pengaruh sosial budaya terhadap kebiasaan sehari – hari. Adat dan tradisi serta larangan – larangan orang tua zaman dahulu. Dimana orang tua zaman dahulu mengatakan bahwa ibu dalam masa nifas dilarang memakan ikan karena makanan tersebut dianggap dapat menyebabkan darah nifas berbau busuk, tidak cepat kering dan melemahkan daya tahan tubuh baik fisik maupun mental serta dianggap dapat menyebabkan gatal pada kulit. Sayuran juga dilarang karena dianggap dapat mengakibatkan lemah sendi (Marin, 2008). Konsep makanan empat sehat lima sempurna sangat diperlukan untuk ibu post partum. Makanan secara  medis tidak ada yang dilarang kecuali memang ada alergi tertentu (Alex, 2010). Menurut Sarwono (2005), menghindari makanan berprotein seperti ikan dan telur merupakan tindakan lazim yang tidak bermanfaat, bahkan dapat membahayakan.
         Larangan-larangan orang tua zaman dahulu untuk pantang terhadap makanan tertentu bagi ibu nifas merupakan mitos. Hal tersebut memang sulit dihilangkan karena hal tersebut telah menjadi suatu kepercayaan yang terus menerus dilakukan sampai sekarang ini. Kepercayaan memakan jenis makanan seperti ikan, telur, daging dan sayuran tidak perlu dilakukan pada masa nifas. Kepercayaan tentang pantangan tersebut hanya akan merugikan kondisi gizi ibu. Petugas kesehatan diharapkan dapat memberikan penyuluhan dan konseling pada ibu nifas untuk tidak pantang terhadap makanan tertentu. Hal itu dilakukan agar ibu terhindar dari masalah-masalah yang terjadi misalnya proses penyembuhan luka jahitan perineum kurang yang mungkin dapat terjadi akibat kurangnya nutrisi pada masa post partum.

4.2.2 Proses penyembuhan luka jahitan perineum
         Berdasarkan Tabel 4.5 diketahui bahwa dari  31 responden, yang mengalami proses penyembuhan luka jahitan perineum baik  sebanyak 18 responden (58,06%) dan yang mengalami proses penyembuhan luka jahitan perineum jelek sebanyak 13 responden (41,94%). Hal ini menunjukan bahwa yang mengalami proses penyembuhan luka jahitan perineum jelek masih banyak.
Proses penyembuhan luka jahitan perineum dikatan jelek sebab tidak sesuai dengan kriteria penyembuhan luka baik diantaranya meliputi beberapa fase :
1. Fase inflamasi (0-5 hari) tidak ada serum maupun nanah.
2. Fase proliferasi atau fibroplasi (6-21 hari) terbentuk jaringan
    granulasi.
3. Fase remodelling/ fase resorbsi/ penyudahan (22-40 hari) tanda
     radang  sudah hilang.
Penyembuhan luka merupakan suatu proses penggantian jaringan yang mati/rusak dengan jaringan baru dan sehat oleh tubuh dengan jalan regenerasi. Luka dikatakan sembuh apabila permukaannya dapat bersatu kembali dan didapatkan kekuatan jaringan yang mencapai normal. Penyembuhan luka meliputi 2 kategori yaitu, pemulihan jaringan ialah regenerasi jaringan pulih seperti semula baik struktur maupun fungsinya dan repair ialah pemulihan atau penggantian oleh jaringan ikat (Mawardi-Hasan, 2002).
 Dalam proses penyembuhan luka sangat membutuhkan bayak protein (Mawardi-Hasan, 2002). Dengan demikian pada ibu post partum yang tarak (Pantang) terhadap makanan akan brpangaruh pada proses penymbuhan luka jahitan perinum.
 Maka diharapkan ibu post partum harus memperhatikan nutrisinya, dan kpercayaan terhadap pantang makanan harus dihilangkan. Diharapkan masyarakat mmperhatikan dan melakukan apa yang telah di anjurkan oleh tnaga kesehatan, sedangkan tenaga ksehatan harus meningkatkan penyuluhan pada ibu post partum.
4.2.3 Hubungan antara tarak (pantang) terhadap makanan pada ibu post partum dengan proses penyembuhan luka jahitan perineum
         Dari hasil uji statistik chi – square dengan tingkat kemaknaan 0,05 dan jumlah sampel sebanyak 31 orang, didapatkan hitung 4,15 > tabel 3,84 yang artinya H1 diterima dan dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini ada hubungan antara tarak (pantang) terhadap makanan pada ibu nifas dengan proses penyembuhan luka jahitan perineum di BPS Ny. Purwanto Mojokerto.
          Makanan yang dikonsumsi juga harus memenuhi syarat seperti: susunannya harus seimbang, porsinya cukup dan teratur, tidak terlalu asin, pedas atau berlemak, tidak mengandung alkohol, nikotin serta bahan pengawet dan pewarna. Menu makanan yang seimbang mengandung unsur-unsur seperti: sumber tenaga, pembangun, pengatur dan plindung. Sumber tenaga (energi) diperlukan untuk pembakaran tubuh dan pembentukan jaringan tubuh. Sumber pembangun (protein) diperlukan untuk pertumbuhan dan pengganti sel – sel yang rusak. Sumber pengatur dan pelindung (mineral, air dan vitamin) digunakan untuk melindungi tubuh dari serangan penyakit dan mengatur kelancaran metabolisme di dalam tubuh (Silvinna, 2008).
         Sampai sekarang ini, masih banyak pantangan yang dikenakan pada ibu setelah melahirkan, padahal pantang makanan tertentu dapat merugikan kondisi gizi ibu. Kebiasaan pantang makan telur, ikan dan daging hanya akan mempengaruhi asupan gizi ibu (Sediaoetama, 2000).
Penyembuhan luka merupakan suatu proses penggantian jaringan yang mati/rusak dengan jaringan baru dan sehat oleh tubuh dengan jalan regenerasi. Luka dikatakan sembuh apabila permukaannya dapat bersatu kembali dan didapatkan kekuatan jaringan yang mencapai normal.
Penyembuhan luka meliputi 2 kategori yaitu, pemulihan jaringan ialah regenerasi jaringan pulih seperti semula baik struktur maupun fungsinya dan repair ialah pemulihan atau penggantian oleh jaringan ikat (Mawardi-Hasan, 2002).
         Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti, didapatkan kesesuaian dengan teori, dimana tarak (pantang) terhadap makanan dapat menyebabkan proses penyembuhan luka jahitan perineum jelek, hal ini disebakan karena kepercayaan tentang tarak (pantang) terhadap makanan masih tinggi. Dengan demikian jika ibu post partum tarak (pantang) terhadap makanan, maka akan memberikan pengaruh terhadap proses penyambuhan luka jahitan perineum. Masyarakat harus lebih memperhatikan nutrisi pada ibu post partum. Kepercayaan tentang tarak (pantang) terhadap makanan hendaknya dihilangkan. Masyarakat hendaknya memperhatikan dan melakukan setiap anjuran atau nasehat dari petugas kesehatan khususnya tentang nutrisi pada masa post partum.

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1.   Sebagian besar responden tarak (pantang) terhadap makanan, yaitu sebanyak 20 responden (64,5%).
2.   Sebagian besar responden mengalami proses penyembuhan luka jahitan perineum jelek yaitu sebanyak 13 responden (41,94%).
3.   Ada hubungan antara tarak (pantang) terhadap makanan pada ibu post partum dengan proses penyembuhan luka jahitan perineum.

5.2 Saran
5.2.1 Bagi responden
      Untuk lebih meningkatakan pengetahuan tentang masa post partum, tarak (pantang) terhadap makanan dan proses penyembuhan luka jahitan perineum serta selalu memperhatikan dan melaksanakan anjuran-anjuran dari petugas kesehatan..
5.2.2 Bagi peneliti
Perlu ditingkatkan aktivitas peneliti dalam pembelajaran dan pelaksanaan penelitian dengan metodologi yang lebih baik. 
5.2.4 Bagi penelitian selanjutnya
Penelitian ini merupakan penelitian dasar yang dapat dikembangkan menjadi penelitian lebih lanjut lagi tentang Hubungan antara tarak (Pantang) terhadap makanan pada ibu post partum dengan proses penyembuhan luka.



0 komentar:

Poskan Komentar