Sabtu, 22 Juni 2013

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RENDAHNYA CAKUPAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI USIA 0-6 BULAN DI BPS Ny. RIKA Amd. Keb DESA KALIDILEM KECAMATAN RANDUAGUNG KABUPATEN LUMAJANG


BAB 1

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pemberian ASI saja yang diberikan kepada bayi sejak lahir sampai usia 6 bulan sejak awal sangat penting. ASI adalah satu-satunya makanan dan minuman terbaik untuk bayi. Komposisinya sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Melindungi dari berbagai penyakit, infeksi, mempererat hubungan batin ibu dan bayi sehingga bayi akan lebih sehat dan cerdas. Proses pemberian air susu ibu (ASI) bisa saja mengalami hambatan dengan alasan produksi ASI berhenti. Persoalan ini dialami oleh banyak ibu menyusui, tidak semua ibu menyusui melakukan dengan benar, ada yang memberi makanan padat atau susu formula sebelum bayi berusia empat atau  enam bulan (Utami, 2005: 10). Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi penggunaan ASI Esklusif  yaitu Faktor pengetahuan, faktor sosial budaya, faktor psikologis, faktor fisik ibu, faktor perilaku, faktor tenaga kesehatan (Soetjiningsih, 2003: 17).
Sejak tahun 2006 Departemen Kesehatan bersama UNICEF melatih tenaga kesehatan dan kader masyarakat tentang konseling menyusui dengan tujuan meningkatkan pemberian ASI Esklusif yang dapat mengurangi masalah kurang gizi serta kematian balita di Indonesia. Data UNICEF menyebutkan pemberian ASI Esklusif selama enam bulan pertama kelahiran dapat mencegah kematian sekitar 1,3 juta bayi di seluruh dunia tiap tahun. Namun menurut survei demografi kesehatan di Indonesi tahun 2003 – 2004 hanya 8 % bayi Indonesia yang mendapat ASI Esklusif enam bulan, dan hanya 4% bayi yang mendapat ASI dalam satu jam kelahiran dan cakupan ASI di Jawa Timur sendiri sekitar 13% sedangkan pemberian susu formula terus meningkat hingga tiga kali lipat dalam kurun waktu 5 tahun terakhir (Rutigliano, G: 2006). Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan di BPS Ny. RIKA Amd. Keb Desa Kalidilem Kecamatan Randuagung Kabupaten Lumajang, didapatkan data bahwa dari 39 ibu yang menyusui yang memberikan ASI Ekksklusif (10%) 4 orang dan yang (90%) 35 orang diberi MP-ASI sebelum usia 6 bulan, dengan berbagai alasan antara lain pengeluaran ASI yang tidak lancar, susu formula lebih bagus, dan ada juga yang beranggapan bayinya tidak kenyang jika diberi ASI saja.
   Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan paling ideal bagi bayi, namun tidak semua ibu dapat memberikan Air Susu Ibu (ASI). Dampak dari mengganti Air Susu Ibu (ASI) pada bayi usia kurang dari 6 bulan dengan susu formula dapat menimbulkan insiden penyakit, hal ini karena fungsi organ tubuh masih belum mampu untuk menerima makanan yang memiliki kadar protein dengan tingkat osmolaritas tinggi (Sunarno, 2007: 71). Kenyataan di lapangan justru jauh dari yang diharapkan, banyak sekali masyarakat yang memberikan  MP-ASI pada bayi sebelum usia 6 bulan (Depkes RI, 2002). Kurangnya pengertian tentang keunggulan Air Susu Ibu (ASI) dan manfaat menyusui menyebabkan ibu mudah terpengaruh oleh pemberian susu botol/susu formula karena tidak adanya dukungan keluarga untuk menyusui bayinya serta adanya perubahan sosial budaya yang terjadi dalam masyarakat khususnya ibu menyusui karena adanya kemajuan teknologi dan meningkatnya daya beli masyarakat merupakan faktor penghambat tercapainya pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara Esklusif (Rulina, 2004: 19).
Produksi ASI sangat dipengaruhi kondisi psikis ibu. Bila hati ibu tenang dan bahagia, maka produksi ASInya akan berlimpah. ASI diproduksi sesuai dengan permintaan, bila bayi butuh 100 cc maka ASI yang akan diproduksi juga 100 cc jadi tidak perlu takut ASI tidak mencukupi kebutuhan bayi. Kemungkinan hanya 1 dari 1000 wanita yang tidak dapat menyusui. Oleh karena itu setiap ibu harus yakin dapat menyusui bayinya. WHO dan UNICEF merekomendasikan langkah untuk memulai dan mencapai ASI Eksklusif yaitu dengan cara menyusui dalam satu jam setelah kelahiran, tidak ditambah makanan atau minuman lain, bahkan air putih sekalipun, menyusui kapanpun bayi meminta sesering yang bayi mau siang dan malam, tidak menggunakan botol susu maupun empeng, mengeluarkan ASI dengan memompa atau memerah dengan tangan, disaat tidak bersama anak dan mengendalikan emosi dan pikiran agar tenang (Handajani, 2008: 47).
Mengingat rendahnya cakupan dan pentingnya pemberian ASI Eksklusif maka perlu dilakukan penelitian tentang “Faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya cakupan pemberian ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di BPS Ny. RIKA Amd. Keb Desa Kalidilem Kecamatan Randuagung Kabupaten Lumajang.

1.2 Rumusan Masalah
Faktor-faktor apa yang mempengaruhi rendahnya cakupan pemberian ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di BPS Ny. RIKA Amd. Keb Desa Kalidilem Kecamatan Randuagung Kabupaten Lumajang ?




1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan umum
Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya cakupan pemberian ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di BPS Ny. RIKA Amd. Keb Desa Kalidilem Kecamatan Randuagung Kabupaten Lumajang.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Responden
Sebagai bahan dalam meningkatkan pemberian ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan dengan memberikan informasi kepada ibu sehingga bayi tidak sampai mengalami masalah pertumbuhan dan perkembangan.
1.4.2 Bagi Peneliti
Sebagai wawasan tersendiri dan bertambahnya pengetahuan, kemampuan serta keterampilan khususnya dalam meningkatkan pemberian ASI.
1.4.3 Bagi Profesi Kebidanan
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam upaya peningkatan mutu pelayanan dan masukan bagi upaya-upaya promotif terhadap pemberian ASI pada bayi usia 0-6 bulan.
1.4.4 Bagi penelitian selanjutnya
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan dalam penelitian selanjutmya, khususnya tentang ASI Eksklusif.


BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1  Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di BPS Ny. RIKA Amd. Keb Desa Kalidilem Kecamatan Randuagung Kabupaten Lumajang dengan batas wilayah sebelah Utara Desa Randuagung , Selatan Desa Sukosari, Barat Desa Banyuputih, Timur Desa Jatiroto. BPS  melayani pemeriksaan kehamilan, KB, Imunisasi, Pengobatan, Persalinan dan Nifas. Jadwal pelayanan pemeriksaan dilakukan setiap sore hari atau diluar jam kerja pada jam 15.30 WIB sampai 21.00 WIB. Fasilitas pelayanan kesehatan BPS RIKA Amd. Keb yaitu ruang pemeriksaan terdiri dari satu tempat tidur, meja dan kursi konsultasi, tempat tidur bersalin 2 buah, tempat tidur nifas 2 buah. 
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Data Umum
Hasil penelitian disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi meliputi: sosial budaya, tenaga kesehatan, perilaku, pengetahuan, psikologis, fisik ibu.
4.2.1.1 Sosial Budaya
Tabel 4.1 Distribusi frekuensi berdasarkan Sosial Budaya pemberian ASI Eksklusif di BPS Rika Amd. Keb Desa Kalidilem, Randuagung Lumajang Tahun 2010
   No   Sosial Budaya pemberian ASI Eksklusif       frekuensi              persentase
                                                                                        (f)                         (%)
    1               Mendukung                                                 5                         12,8
    2               Tidak mendukung                                     34                         87,2
                                        Jumlah                                    39                       100,0                    
Sumber : data primer, 2010

Berdasarkan Tabel 4.1 diperoleh hasil sebagian besar sosial budaya (87,2%) tidak mendukung pemberian ASI Eksklusif, dan sebagian kecil sosial budaya (12,8%) mendukung pemberian ASI Eksklusif.
4.2.1.2  Tenaga Kesehatan
Tabel 4.2 Distribusi frekuensi berdasarkan tenaga kesehatan tentang pemberian ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di BPS Rika Amd. Keb Desa Kalidilem, Randuagung Lumajang Tahun 2010
   No        Tenaga Kesehatan                                  frekuensi                persentase
                                                                                    (f)                           (%)
    1               Baik                                                        6                             15,4
    2               Cukup                                                     2                              5,1
    3               Kurang                                                  31                            79,5
                                        Jumlah                               39                          100,0                    
Sumber :  data primer, 2010
Berdasarkan Tabel 4.6 diperoleh hasil sebagian besar tenaga kesehatan (79,5%) kurang dalam memberikan motivasi ibu menyusui dalam memberikan ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan, dan sebagian kecil tenaga kesehatan (5,1%) cukup dalam memberikan motivasi ibu menyusui dalam memberikan ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan.
4.2.1.3             Perilaku
Tabel 4.3 Distribusi frekuensi berdasarkan perilaku pemberian ASI Eksklusif di BPS Rika Amd. Keb Desa Kalidilem, Randuagung Lumajang Tahun 2010
   No     perilaku pemberian ASI Eksklusif           frekuensi                persentase
                                                                                    (f)                           (%)
    1               Baik                                                        1                              2,6
    2               Cukup                                                     8                            20,5
    3               Kurang                                                  30                            76,9
                                        Jumlah                               39                          100,0                    
Sumber :  data primer, 2010
Berdasarkan Tabel 4.3 diperoleh hasil perilaku ibu yang menyusui bayi usia 0-6 bulan sebagian besar (76,9%) perilaku ibu kurang, dan sebagian kecil perilaku ibu yang menyusui bayi usia 0-6 bulan (20,5%) perilaku ibu cukup.
4.2.1.4 Pengetahuan tentang ASI Eksklusif
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pengetahuan tentang ASI Eksklusif
                            di BPS Rika Amd. Keb Desa Kalidilem, Randuagung Lumajang Tahun
                            2010
   No     Pengetahuan tentang ASI Eksklusif         frekuensi                persentase
                                                                                    (f)                           (%)
    1               Baik                                                        5                            12,8
    2               Cukup                                                     9                            23,1
    3               Kurang                                                  25                            64,1
                                        Jumlah                               39                          100,0                    
Sumber :  data primer, 2010
Berdasarkan Tabel 4.4 diketahui bahwa pengetahuan tentang ASI Eksklusif Sebagian besar responden (64,1%) pengetahuan kurang, dan sebagian kecil responden (12,8%) pengetahuan baik.
4.2.1.5 Psikologis
Tabel 4.5 Distribusi frekuensi berdasarkan psikologis pemberian ASI Eksklusif di BPS Rika Amd. Keb Desa Kalidilem, Randuagung Lumajang Tahun 2010
   No     Psikologis pemberian ASI Eksklusif         frekuensi                persentase
                                                                                    (f)                           (%)
    1               Baik                                                        6                            15,4
    2               Cukup                                                   13                            33,3
    3               Kurang                                                  20                            51,3
                                        Jumlah                               39                          100,0                    
Sumber :  data primer, 2010
Berdasarkan Tabel 4.5 diperoleh hasil psikologis ibu tentang pemberian ASI Eksklusif sebagian besar (51,3%) psikologis ibu kurang, dan sebagian kecil psikologis ibu tentang pemberian ASI Eksklusif (15,4,8%) psikologis ibu baik.
4.2.1.6 Fisik
Tabel 4.6 Distribusi frekuensi berdasarkan fisik pemberian ASI Eksklusif di BPS Rika Amd. Keb Desa Kalidilem, Randuagung Lumajang Tahun 2010
   No     Fisik pemberian ASI Eksklusif                frekuensi                persentase
                                                                                    (f)                           (%)
    1               Baik                                                        5                            12,8
    2               Cukup                                                   18                            46,2
    3               Kurang                                                  16                            41,0
                                        Jumlah                               39                          100,0                    
Sumber :  data primer, 2010
Berdasarkan Tabel 4.6 diperoleh hasil fisik ibu yang menyusui bayi usia 0-6 bulan sebagian besar (46,2%) fisik ibu cukup, dan sebagian kecil fisik ibu yang menyusui bayi usia 0-6 bulan (12,8%) fisik ibu baik.
4.3     Pembahasan
4.3.1  Sosial Budaya
Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 4.1 diketahui sosial budaya pemberian ASI Eksklusif sebanyak (87,2%) tidak mendukung. Kebudayaan yang diartikan sebagai manisfestasi kehidupan setiap individu dan kelompok orang yang meliputi segala perbuatan manusia (Nurdjono, 2001: 128). Budaya dan tradisi yang berlaku seringkali menyukarkan ibu untuk memberikan makanan yang cukup untuk bayinya, karena dipengaruhi oleh kepercayaan atau aturan-aturan dan norma-norma sosial yang ada dalam lingkungan, Faktor sosial budaya juga meliputi ibu bekerja, wanita karir, dan kesibukan sosial lainnya, meniru teman, tetangga, orang terkemuka yang memberikan susu botol, mereka merasa ketinggalan jaman jika menyusui bayinya.
Adapun pandangan sebagian masyarakat bahwa menyusui dapat merusak payudara sehingga mengganggu kecantikan ibu tersebut dan sebagian lain beranggapan menyusui merupakan perilaku yang kuno, bila ingin disebut ibu modern, ibu harus menggunakan susu formula.
Pengetahuan tentang ASI Eksklusif akan membentuk suatu pandangan dan akan merubah sosial budaya tentang ASI Eksklusif . Dengan perubahan sosial budaya tentang ASI Eksklusif akan merubah minat, hal ini karena budaya adalah tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan tentang ASI Eksklusif. Jika sosial budaya tentang ASI Eksklusif tidak ada yang mendukung maka akan terbentuk perilaku ibu berhenti menyusui bayinya secara eksklusif sampai usia 6 bulan, hal ini karena kurang dipahaminya tentang ASI secara tepat dan benar oleh ibu, keluarga, dan lingkungannya.
Merubah dari suatu sosial budaya tentang ASI Eksklusif dimasyarakat khususnya ibu menyusui untuk tetap menyusui bayi secara eksklusif dengan memberikan pendidikan non formal seperti penyuluhan tenaga kesehatan pada ibu hamil dan ibu melahirkan tentang manfaat ASI Eksklusif, secara bertahap akan merubah kepercayaan ibu hamil dan ibu menyusui tentang manfaat ASI Eksklusif.
Sosial budaya yang mendukung pemberian ASI dapat dipengaruhi oleh pengetahuan, karena kebiasaan dalam konteks ini adalah kebiasaan ibu menyusui bayi secara eksklusif dipengaruhi oleh pengetahuan. Kebiasaan-kebiasaan atau sosial budaya yang tidak mendukung pemberian ASI diubah dengan adanya pengetahuan, karena sosial budaya yang ada di masyarakat tentang pemberian ASI seperti menyusui dapat mengendorkan payudara, dengan adanya pengetahuan maka persepsi tersebut dapat berubah bahwa menyusui tidak mengendorkan payudara, namun yang dapat mengendorkan payudara adalah apabila ibu tidak melakukan perawatan payudara.
4.3.2  Tenaga kesehatan
Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 4.2 diketahui tenaga kesehatan (79,5%) dalam memberikan motivasi ibu dalam  pemberian ASI Eksklusif kurang. Beberapa penelitian membuktikan bahwa sikap petugas kesehatan sangat mempengaruhi pemilihan makanan bayi oleh ibunya. Pengaruh ini dapat berupa sikap negatif secara pasif, sikap yang “indifferent” yang dinyatakan dengan tidak menganjurkan dan tidak membantu bila ada kesulitan laktasi. Sikap ini dapat pula secara aktif, misalnya bila ada kesulitan laktasi, malah menasehatkan ibu untuk segera beralih saja ke susu botol. Kemudian sikap ragu-ragu dan ketidakpastian mengenai indikasi dan kontraindikasi menyusui juga dapat mempengaruhi keberhasilan laktasi. Sikap ini sangat mudah mempengaruhi ibu-ibu menyusui, membuat para ibu menjadi cemas sehingga mengganggu refleks pembentukan ASI (refleks prolaktin) dan refleks pengeluaran ASI. Bahkan sering terjadi sikap “indifferent” petugas kesehatan diartikan ibu bahwa mereka dianjurkan untuk tidak menyusui bayinya (Soetjiningsih, 2003: 163).
Pengetahuan yang diberikan oleh petugas kesehatan sangat berperan dalam menambah pengetahuan. Penyuluhan dari petugas kesehatan adalah pendidikan informal yang memberikan masukan benar dalam peningkatan pengetahuan. Kurang memberikan penyuluhan dan penerangan tentang manfaat pemberian ASI, justru petugas kesehatan menganjurkan penggantian ASI dengan susu kaleng
Faktor tenaga kesehatan mempengaruhi pengetahuan ibu jika petugas kesehatan sendiri menganjurkan ibu menyusui menggunakan susu formula maka ibu tidak akan pernah memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya malah ibu menyusui akan lebih percaya bahwa susu formula-lah yang paling baik untuk bayinya, oleh sebab itu diharapkan petugas kesehatan lebih bijaksana lagi dalam memberikan penyuluhan dan pengarahan tentang ASI Eksklusif jangan malah petugas kesehatan sendiri yang memotivasi ibu untuk memberikan susu formula.
4.3.3  Perilaku
Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 4.3 diketahui Perilaku ibu dalam  pemberian ASI Eksklusif sebanyak (76,9%) perilaku ibu kurang. Perilaku ibu dalam pemberian ASI Eksklusif dipengaruhi oleh pengetahuan dan sosial budaya. Pengetahuan berfungsi sebagai pembentuk perilaku ibu menyusui bayinya, hal ini karena pemberian ASI Eksklusif merupakan perilaku ibu untuk menyusui bayinya sampai usia 6 bulan, dengan pengetahuan yang cukup juga akan mempengaruhi pola berpikir ibu, mampu berpikir secara holistik. Kemampuan berfikir secara holistik ini sangat berkompeten dalam menentukan ibu untuk menyusui bayinya sampai usia 6 bulan.
Faktor perilaku yang menyebabkan rendahnya pemberian ASI Eksklusif yaitu karena meningkatnya promosi susu kaleng sebagai pengganti ASI. Penerapan yang salah justru datang dari petugas kesehatan sendiri yang menganjurkan penggantian ASI dengan susu kaleng sehingga masyarakat kurang mendapat penerangan tentang manfaat pemberian ASI (Soetjiningsih, 2003: 35).
Karena perilaku dipengaruhi oleh pengetahuan dan sosial budaya maka sangat diperlukan informasi dan penyuluhan tentang pentingnya ASI Eksklusif dari petugas kesehatan agar pengetahuan ibu menyusui bertambah, seiring dengan bertambahnya pengetahuan maka perilaku ibu akan berubah dari yang tidak memberikan ASI Eksklusif maka dengan adanya penambahan pengetahuan akan memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya.
4.3.4  Pengetahuan ibu tentang ASI Eksklusif
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil pada Tabel 4.4 pengetahuan responden tentang ASI Eksklusif sebagian besar responden (64,1%) pengetahuan kurang. Pengetahuan didapat dari pendidikan dan pengalaman yang diperoleh, semakin tinggi pendidikan dan semakin banyak pengalaman akan menghasilkan kemampuan yang lebih baik dan cepat menerima informasi. Dalam hal ini meliputi pengetahuan pelaksana pemberian ASI Eksklusif yang dimaksud pengertian ASI Eksklusif, cara memerah ASI yang benar. Informasi didapat dari media massa, tenaga kesehatan, dan kader PKK setempat, paritas atau jumlah anak merupakan pengetahuan ibu dalam menyusui bayi (Siregar, 2006: 65). Kurangnya pengetahuan ibu tentang ASI Eksklusif dapat menimbulkan salah persepsi pada saat menerima informasi (Soetjiningsih, 2003: 53).
Ibu tidak menyusui bayinya disebabkan kurangnya pengetahuan dan kurangnya penerangan. Di samping itu, adanya publikasi yang sangat berlebihan tentang susu botol (formula) yang dipromosikan di kota-kota besar dan bahkan dengan majunya arus komunikasi maka sampai ke pedesaan.
Pengetahuan tentang ASI Eksklusif merupakan aspek penting bagi ibu untuk tetap menyusui bayinya secara eksklusif. Kemampuan menyusui bayinya secara eksklusif modal dasar seorang ibu untuk tetap menyusui, karena dari pengetahuan tentang ASI Eksklusif yang cukup terbentuk kesadaran dalam dirinya untuk menyusui bayinya sampai usia 6 bulan. Kesadaran ini selanjutnya timbul suatu dorongan dari dalam dirinya untuk berperilaku memberikan ASI secara eksklusif. Pemberian ASI Eksklusif pada bayi sampai usia 6 bulan tanpa didasari dengan pengetahuan yang cukup, maka perilaku ibu dalam memberikan ASI hanya sementara tidak dapat terus sampai bayi berusia 6 bulan. Pengertian tentang keunggulan  ASI dan manfaat menyusui secara eksklusif yang baik membentuk suatu perilaku ibu tidak terpengaruh dan beralih kepada pemberian susu botol atau susu formula.
Pemberian ASI Eksklusif diperlukan suatu pengetahuan yang akan mendasari segala tindakan ibu dalam menyusui bayinya secara eksklusif, karena dari pengetahuan terbentuk suatu motif ibu untuk menyusui. Motif ini merupakan dorongan kuat yang tidak dapat dihalangi dari faktor manapun, karena motif membentuk kepercayaan pada ibu menyusui dengan memberikan ASI secara eksklusif memberikan manfaat baik bagi bayinya maupun untuk kesehatan ibu sendiri.
Pengetahuan tentang ASI yang baik mendukung ibu dalam pemberian ASI, hal ini karena pemberian ASI jika didasari oleh pengetahuan, maka ibu menyusui dalam pemberian ASI bersifat langgeng, artinya dalam pemberian ASI ibu terus menyusui bayinya sampai 6 bulan, dan tidak beralih ke makanan lain selain ASI.
4.3.5  Psikologis
Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 4.5 diketahui Psikologis ibu dalam  pemberian ASI Eksklusif sebanyak (51,3%) psikologis ibu kurang. psikologis ibu sangat menentukan keberhasilan menyusui, ibu yang tidak mempunyai keyakinan mampu memproduksi ASI umumnya produksi ASI nya berkurang.
Pemberian ASI sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan ibu. Ibu yang selalu dengan keadaan gelisah, kurang percaya diri, rasa tertekan, dan berbagai bentuk ketegangan emosional, mungkin akan gagal dalam menyusui bayinya (Siregar, 2004: 10). Pada dasarnya, keberhasilan menyusui bayi ditentukan oleh dua hal, yaitu refleks prolaktin dan let down reflex. Refleks prolaktin didasarkan pada kondisi kejiwaan ibu yang mempengaruhi rangsangan hormonal untuk memproduksi ASI. Semakin tinggi tingkat gangguan emosional, semakin sedikit rangsangan hormon proklatin yang diberikan untuk memproduksi ASI. Jika ibu mengalami gangguan emosi, maka kondisi itu bisa mengganggu proses let down reflex yang berakibat ASI tidak keluar, sehingga bayi tidak mendapatkan ASI dalam jumlah yang cukup, dan ia pun akan terus-menerus menangis. Tangisan bayi membuat ibu semakin gelisah dan mengganggu proses let down reflex. Semakin tertekan perasaan ibu lantaran tangisan bayi, semakin sedikit ASI yang dikeluarkan.
Untuk menghasilkan ASI yang banyak, seorang ibu membutuhkan ketenangan. Perasaan tenang dapat membuat ibu lebih rileks dalam menyusui bayi. Dengan demikian, ASI yang dihasilkan bisa lebih maksimal. Oleh karena itu, ibu harus berupaya menenangkan diri, meskipun menghadapi masalah (Sunar, Dwi, 2009: 107).
Seorang ibu akan merasa takut kehilangan daya tarik sebagai wanita dan merasa tekanan batin jika memberi ASI pada bayinya (Soetjiningsih, 2003). Tekanan batin atau gangguan emosional, kecemasan, stres fisik dan psikologis akan mempengaruhi produksi ASI, sehingga menyebabkan ASI tidak keluar dan digantikan oleh susu formula (Suradi, 2004: 91).
Diharapkan ibu diberikan informasi dan penyuluhan agar ibu mengerti jika ibu pikirannya dalam keadaan gelisah, takut, dan tertekan akan menyebabkan produksi ASI nya tidak lancar, maka diharapkan ibu pada saat menyusui dalam keadaan pikiran tenang, hati bahagia dan nyaman agar produksi ASI nya lancer.
4.3.6  Fisik
Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 4.6 diketahui sebanyak (46,2%) fisik ibu cukup dalam  pemberian ASI Eksklusif. Faktor fisik ibu seperti ibu sakit, lelah, ibu menggunakan pil kontrasepsi atau alat kontrasepsi lain yang mengandung hormon, ibu menyusui hamil lagi, dan peminum alkohol. Payudara dapat mengurangi produksi ASI (Pratiwi, 2008: 138).
Pada dasarnya, ada beberapa hal yang menjadikan ibu sulit menyusui bayinya seperti Puting susu rata atau masuk ke dalam, ada sekitar 2% ibu memiliki puting susu yang masuk kedalam ketika aerolanya ditekan, sedangkan 5-8% ibu mempunyai puting susu rata yang tidak mencuat keluar saat dingin atau distimulasi. Bukanlah hal yang menyenangkan bila sakit, padahal ia harus menyusui bayinya. Jika ibu menderita penyakit yang cukup serius, ibu mungkin enggan menyusui atau meyakini bahwa menyusui tidaklah aman bagi bayi, sehingga untuk menghindari hal itu ibu diajarkan oleh petugas kesehatan untuk melakukan perawatan payudara agar produksi ASI lancar.

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1  Kesimpulan
Faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya cakupan pemberian ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di BPS Ny. RIKA Amd. Keb Desa Kalidilem Randuagung Lumajang diperoleh hasil :
1.      Sebagian besar sosial budaya (87,2%) tidak mendukung pemberian ASI Eksklusif.
2.      Tenaga kesehatan (79,5%) kurang memberikan motivasi ibu menyusui dalam memberikan ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan.
3.      Perilaku ibu yang menyusui bayi usia 0-6 bulan sebagian besar (76,9%) perilaku ibu kurang.
4.      Sebagian besar responden (64,1%) pengetahuan kurang tentang pemberian ASI Eksklusif.
5.      Psikologis ibu tentang pemberian ASI Eksklusif sebagian besar (51,3%) psikologis ibu kurang.
6.      Fisik ibu yang menyusui bayi usia 0-6 bulan sebagian besar (46,2%) fisik ibu cukup.

5.2  Saran
5.2.1 Bagi Responden
Sebagai bahan dalam meningkatkan pemberian ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan dengan memberikan informasi kepada ibu sehingga bayi tidak sampai mengalami masalah pertumbuhan dan perkembangan.
5.2.2 Bagi Peneliti
Sebagai wawasan tersendiri dan bertambahnya pengetahuan, kemampuan serta keterampilan khususnya dalam meningkatkan pemberian ASI.
5.2.3 Bagi Profesi Kebidanan
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam upaya peningkatan mutu pelayanan dan masukan bagi upaya-upaya promotif terhadap pemberian ASI pada bayi usia 0-6 bulan.
5.2.4 Bagi penelitian selanjutnya
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan dalam penelitian selanjutmya, khususnya tentang ASI Eksklusif.
1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan umum
Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya cakupan pemberian ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di BPS Ny. RIKA Amd. Keb Desa Kalidilem Kecamatan Randuagung Kabupaten Lumajang.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Responden
Sebagai bahan dalam meningkatkan pemberian ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan dengan memberikan informasi kepada ibu sehingga bayi tidak sampai mengalami masalah pertumbuhan dan perkembangan.
1.4.2 Bagi Peneliti
Sebagai wawasan tersendiri dan bertambahnya pengetahuan, kemampuan serta keterampilan khususnya dalam meningkatkan pemberian ASI.
1.4.3 Bagi Profesi Kebidanan
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam upaya peningkatan mutu pelayanan dan masukan bagi upaya-upaya promotif terhadap pemberian ASI pada bayi usia 0-6 bulan.
1.4.4 Bagi penelitian selanjutnya
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan dalam penelitian selanjutmya, khususnya tentang ASI Eksklusif.





0 komentar:

Poskan Komentar