Sabtu, 22 Juni 2013

hubungan pengetahuan akseptor KB pil tentang pil KB dengan kepatuhan mengkonsumsi di BPS Ny. “TE”, Desa Tampongrejo Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto

BAB  1
PENDAHULUAN
  
1.1 Latar Belakang
KB Pil merupakan salah satu kontrasepsi hormonal yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kehamilan yang ditambahkan ke dalam tubuh seorang wanita dengan cara diminum (pil) Tujuan dari konsumsi pil KB adalah untuk mencegah, menghambat dan menjarangkan terjadinya kehamilan yang memang tidak diinginkan. Untuk itu kepatuhan untuk mengkonsumsi pil KB secara teratur sesuai dengan dengan petunjuk tenaga kesehatan harus dilakukan. Kepatuhan mengkonsumsi pil KB bertujuan agar manfaat konsumsi KB pil yaitu mencegah menghambat dan menjarangkan terjadinya kehamilan bisa dirasakan. Ketidakpatuhan dalam mengkonsumsi pil KB tidak bisa menjamin bahwa akseptor KB pil terhindar dari kehamilan. Hal ini dikarenakan pengkonsumsian yang tidak teratur menjadikan pil KB tidak bisa bekerja secara optimal. Akan tetapi fenomena di lapangan menunjukkan bahwa sering kali akseptor KB pil tidak patuh dalam melakukan keteraturan mengkonsumsi pil KB. Ketidakpatuhan ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan mereka tentang KB pil. Mereka cenderung menghemat pengkonsumsian dengan meminum pil KB dibawah ukuran yang disarankan. Kebiasaan ini menyebabkan masih mungkinnya akseptor KB pil mengalami kehamilan yang tidak diinginkan.
Menurut WHO, tahun 2009 hampir 380 juta pasangan menjalankan keluarga berencana dan 65-75 juta diantaranya terutama di negeri berkembang menggunakan kontrasepsi hormonal yaitu pil KB. Akan tetapi 5% dari jumlah tersebut penggunanya adalah tidak melakukan pengkonsumsian secara teratur sehingga beresiko terjadinya kehamilan (Hevitia, 2009). Data akseptor alat kontrasepsi kombinasi di  Daerah Tingkat I Jawa Timur tahun 2009 sebesar 75,82% dari keseluruhan pasangan usia subur, dengan perincian yang dipakai adalah suntikan (66%), pil (19%), dan implant atau susuk alat kontrasepsi (15%). Dari jumlah pengguna KB pil yang patuh  mengkonsumsi KB pil sesuai dengan petunjuk tenaga kesehatan hanya 54% (Pikas,2009). Di Kabupaten Mojokerto Data cakupan akseptor alat kontrasepsi hormonal tahun 2009 sebesar 15.345 akseptor dengan 40% diantaranya adalah akseptor KB pil. Dari jumlah tersebut yang masih mengeluh menemukan tanda – tanda kehamilan sebanyak 56%. Hal ini dikarenakan kebiasaan mengkonsumsi pil KB yang tidak teratur. Di BPS Ny. “TE”, Desa Tampongrejo Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto bulan Maret tahun 2010 terdapat 38 akseptor kontrasepsi hormonal, semuanya memakai kontrasepsi jenis pil. Studi pendahuluan yang dilakukan tanggal 1 April 2010 didapatkan data dari 10 akseptor KB pil yang patuh dan rutin mengkonsumsi pil KB sebanyak 4 orang (40%) sedangkan yang tidak patuh dan tidak rutin mengkonsumsi pil KB sebanyak 6 orang (60%).
Metode kontrasepsi pil bekerja dengan dasar mencegah sperma laki-laki mencapai dan membuahi telur wanita (fertilisasi) atau mencegah telur yang sudah dibuahi untuk berimplantasi (melekat) dan berkembang di dalam rahim. Ada beberapa metode dalam kelompok alat kontrasepsi ini yakni berupa pil, suntikan dan susuk. Ketiganya efektif mengandung hormon dengan komposisi yang kurang lebih sama (Permata hati, 2009). Kontrasepsi oral kombinasi (pil) mengandung sintetik estrogen dan preparat progestin yang mencegah kehamilan dengan cara menghambat terjadinya ovulasi (pelepasan sel telur oleh indung telur) melalui penekanan hormon LH dan FSH, mempertebal lendir mukosa servikal (leher rahim), dan menghalangi pertumbuhan lapisan endometrium. Pil kombinasi ada yang memiliki estrogen dosis rendah dan ada yang mengandung estrogen dosis tinggi. Estrogen dosis tinggi biasanya diberikan kepada wanita yang mengkonsumsi obat tertentu (terutama obat epilepsy). Akan tetapi ketidakteraturan mengonsumsi pil KB masih memungkinkan akseptor mengalami kehamilan. Hal ini dikarenakan ketidakteraturan pengkonsumsian menyebabkan hormon yang terkandung dalam pil KB tidak bisa bekerja dengan maksimal. Sehingga memungkinkan akseptor KB pil terjadi kehamilan yang tidak diinginkan. Kondisi ini bisa membuat akseptor KB pil panik hingga sehingga melakukan tindakan pengguguran kandungan yang beresiko tinggi, seperti aborsi. ( Depkes, 2010).
Oleh karena permasalahan diatas, sebagai tenaga kesehatan, yang harus dilakukan adalah upaya penyadaran pada akseptor KB pil  melalui pemberian informasi akan pentingnya rutinitas dalam mengkonsumsi KB pil. Disamping itu hendaknya akseptor KB pil  selalu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan seputar KB pil. Konsultasi rutin bisa menyebabkan akseptor KB pil bisa patuh melakukan pengkonsumsian KB pil dengan teratur. Selain itu penyuluhan pada  akseptor KB pil tentang pentingnya melakukan keteraturan pengkonsumsian bisa dengan cara penyuluhan melalui posyandu. Dari uraian diatas peneliti tertarik untuk meneliti mengenai hubungan pengetahuan akseptor KB pil tentang pil KB dengan kepatuhan mengkonsumsi di BPS Ny. “TE”, Desa Tampongrejo Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto.

1.2 Rumusan masalah
Bagaimana hubungan pengetahuan akseptor KB pil tentang pil KB dengan kepatuhan mengkonsumsi di BPS Ny. “TE”, Desa Tampongrejo Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto?

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan pengetahuan akseptor KB pil tentang pil KB  dengan kepatuhan mengkonsumsi di BPS Ny.”TE”, Desa Tampongrejo Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.      Mengidentifikasi pengetahuan akseptor KB pil tentang pil KB di BPS
Ny. “TE”, Desa Tampongrejo Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto
2.      Mengidentidikasi kepatuhan akseptor KB pil dalam mengkonsumsi di BPS Ny. “TE”, Desa Tampongrejo Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto.
3.      Menganalisis hubungan pengetahuan akseptor KB pil tentang pil KB dengan kepatuhan mengkonsumsi di BPS Ny. “TE”, Desa Tampongrejo Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Responden
Penelitian ini diharapkan memberikan pengetahuan kepada responden agar selalu menjaga keteraturan mengkonsumsi pil KB untuk mendapatkan manfaat maksimal dari konsumsi pil KB yaitu tercegahnya responden dari kehamilan.
1.4.2 Bagi Peneliti
Menambah pengetahuan dan wawasan tentang pentingnya keteraturan konsumsi pil KB bahwa kepatuhan dalam keteraturan konsumsi bisa mencegah kehamilan dan ketidakpatuhan dalam konsumsi tidak menjamin tercegahnya kehamilan.
1.4.3 Bagi Profesi Kebidanan
Hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan masukan yang bisa dipakai untuk meningkatkan kepatuhan akseptor KB pil untuk melakukan rutinitas konsumsi pil KB.
1.4.4 Bagi Penelitian Selanjutnya
Diharapkan penelitian selanjutnya bisa mengembangkan hasil penelitian tentang hubungan pengetahuan akseptor KB pil tentang pil KB dengan kepatuhan mengkonsumsi dengan jumlah responden yang lebih banyak dan wilayah penelitian yang lebih luas.
1.5 Batasan Penelitian

       Penelitian ini dibatasi hanya pada hubungan pengetahuan akseptor KB pil tentang pil KB dengan kepatuhan mengkonsumsi di BPS Ny. “TE”, Desa Tampongrejo Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto sedangkan faktor – faktor yang mempengaruhi pengetahuan akseptor KB pil tidak dilakukan penelitian.


BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
  
4.1  Hasil Penelitian
4.1.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di BPS Ny.“TE”, Desa Tampongrejo Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto terletak di wilayah timur Kota Mojokerto. Dengan wilayah kerja beberapa dusun meliputi : Dusun Tampung, Tirim, Sukorejo, Sarirejo, dan Ketawang. Di kecamatan Puri sendiri terdapat beberapa fasilitas kesehatan antara lain Puskesmas induk 1, Puskesmas pembantu 1, dan BPS sebanyak 5.
Adapun batas batas daerah penelitian ini adalah :
Sebelah timur                 : Desa Sambilawang
Sebelah utara                 : Desa Plososari
Sebelah barat                 : Desa Ndomes
Sebelah selatan              : Desa Mojogeneng
Fasilitas yang ada di BPS ini antara lain : 1 kamar periksa, 2 kamar bersalin, 1 kamar mandi untuk pasien,serta  memiliki alat partus set dan KB. Pelayanan BPS dibuka setiap hari mulai pukul 07.00 sampai pukul 21.00 yang melayani KIA dan KB, bila pasien inpartu pelayanan bisa sampai 24 jam.        

4.1.2 Data Umum
4.1.2.1 Umur
            Umur responden dalam penelitian ini dapat dilihat dalam Tabel 4.1 di bawah ini.
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Umur

No
Golongan Umur
Jumlah
Persentase (%)
1.
2.
3.
< 20 tahun
21 -25 tahun
> 35  tahun
0
15
25
0
37.5
62.5

Jumlah
40
100
      Sumber : Data Primer 2010


  Berdasarkan Tabel 4.1 sebagian besar responden berumur > 35 tahun yaitu sebanyak 25 responden (62.5%).
4.2.1.2 Pendidikan
             Pendidikan responden dalam penelitian ini dapat di lihat dalam Tabel 4.2 di bawah ini.
Tabel 4.2  Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pendidikan

No
Pendidikan
Jumlah
Persentase (%)
1.
2.
3.
4.
SD
SMP
SMA
Akademi
20
15
3
2
50
37.5
7.5
5

Jumlah
40
100
       Sumber : Data Primer 2010
Berdasarkan Tabel 4.2 sebagian besar dari responden berpendidikan SD yaitu sebanyak 20 responden (50%).
4.2.1.3 Pekerjaan
             Pekerjaan responden dalam penelitian ini dapat di lihat dalam Tabel 4.3 di bawah ini.
Tabel 4.3  Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pekerjaan

No
Pekerjaan
Jumlah
Persentase (%)
1.
2.
Bekerja
Tidak bekerja
14
26
35
65

Jumlah
40
100
                     Sumber : Data Primer 2010
Berdasarkan Tabel 4.3 diatas dapat diketahui bahwa > 50% responden tidak bekerja yaitu sebanyak 26 responden (65%).
        4.1.3 Data Khusus
        4.2.3.1 Pengetahuan
   Pengetahuan responden dalam penelitian ini dapat di lihat dalam        Tabel 4.4 di bawah ini.
Tabel 4.4  Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pengetahuan

No
Pengetahuan
Jumlah
Persentase (%)
1.
2.
3.
Kurang
Cukup
Baik
4
23
13
10
57.5
32.5

Jumlah
40
100
                      Sumber : Data Primer 2010
Berdasarkan Tabel 4.4 lebih dari 50% responden berpengetahuan cukup yaitu sebanyak 23 responden (57.5%).
            4.2.3.2 Kepatuhan
Kepatuhan responden dalam penelitian ini dapat di lihat dalam Tabel 4.5 di bawah ini.
Tabel 4.5  Distribusi Frekuensi Kepatuhan Mengkonsumsi pil KB

No
Kepatuhan Mengkonsumsi Pil KB
Jumlah
Persentase (%)
1.
2.
Patuh
Tidak patuh
21
19
52.5
47.5

Jumlah
40
100.0
                      Sumber : Data Primer 2010
Berdasarkan Tabel 4.5 diatas didapatkan data > 50% responden patuh dalam mengkonsumsi pil KB yaitu sebanyak 21 responden (52.5%).
4.1.3.3 Tabulasi silang antara pengetahuan dengan kepatuhan      mengkonsumsi pil KB.
Tabulasi silang antara pengetahuan dengan kepatuhan mengkonsumsi pil KB. dalam penelitian ini dapat di lihat dalam Tabel 4.6 di bawah ini.
Tabel 4.6 Tabulasi Silang Antara Pengetahuan Dengan Kepatuhan  Mengkonsumsi Pil KB.
Pengetahuan
Kepatuhan Mengkonsumsi Pil KB
Jumlah
%
Patuh
%
Tidak patuh
%
Kurang                
0
0
4
10
4
10
Cukup
11
27,5
12
30
23
57,5
Baik
10
25
3
7,5
13
32,5
Jumlah
21
52,5
19
47,5
40
100
                    Sumber : Data Primer 2010
Dari tabulasi silang di atas menunjukan dari 40 responden, dimana dari 4 (10%) responden tergolong berpengetahuan kurang semuanya tidak patuh mengkonsumsi pil KB, dari 23 (57,5%) responden yang tergolong berpengetahuan cukup di dapatkan 11 (27,5%) responden patuh mengkonsumsi pil KB dan 12 (30%) responden tidak patuh mengkonsumsi pil KB, sedangkan dari 13 (32,5%) responden tergolong berpengetahuan baik di dapatkan 10 (25%) responden yang patuh mengkonsumsi pil KB dan 3 (7,5%) responden tidak  patuh mengkonsumsi pil KB.
Hasil analisis ditemukan nilai probabilitas sebesar 0.005, karena 0.005 < α (0.05) berarti H1 diterima yang artinya ada hubungan pengetahuan akseptor KB pil tentang Pil KB dengan kepatuhan mengkonsumsi Pil KB di BPS Ny.”TE”, Desa Tampongrejo Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto dengan tingkat signifikansi 0,005.

4.2 Pembahasan
4.2.1 Pengetahuan akseptor KB Pil Tentang pil KB
Pada penelitian didapatkan data responden yang jarang  dimengerti oleh akseptor KB Pil mulai dari jenis – jenis, efek samping, manfaat, keteraturan mengkonsumsi dan definisi. Berdasarkan Tabel 4.4 responden yang berpengetahuan kurang sebanyak 4 responden (10%), responden yang berpengetahuan cukup sebanyak 23 responden (57.5%) responden yang berpengetahuan baik sebanyak 13 responden (32.5%).
Jenis – jenis KB Pil antara lain Progestin dan Estrogen, Pil Kontrasepsi Darurat dan Pil KB Terpadu, efek samping terdiri dari Efek Samping Jangka  Pendek Efek Samping Jangka Panjang. Manfaat terdiri dari Mengurangi Masalah Yang Muncul Sebab Haid Melindungi Dari Kanker Indung Telur. Keteraturan mengkonsumsi adalah jika Diminum 1 hari 1 kali, Diminum pada jam yang sama, Bila 1 hari mengkonsumsi maka harus diminum di hari berikutnya dan Bila 2 hari tidak mengkonsumsi maka selama 1 minggu, ketika bersenggama harus memakai kondom. Definisi Pil KB merupakan salah satu jenis kontrasepsi yang banyak digunakan. Pil KB disukai karena relatif mudah didapat dan digunakan, serta harganya murah (Warta Medika, 2010).
Lebih dari 50% responden berpengetahuan cukup berarti rata – rata responden dianggap mengerti tentang KB pil dan semua hal yang berhubungan antara lain jenis – jenis, efek samping, manfaat, keteraturan mengkonsumsi dan definisi.
Disarankan supaya responden lebih meningkatkan pengetahuannya tentang KB pil dan manfaat yang terkandung. Hal ini bisa dilakukan d engan melakukan kunjungan ke posyandu atau melakukan konseling dengan bidan desa. Disamping itu hendaknya responden juga menambah pengetahunannya tentang KB  pil baik dari buku atau media cetak lainnya.
Hasil analisis ini didukung oleh umur responden. Berdasarkan Tabel 4.1 sebagian besar responden berumur > 35 tahun yaitu sebanyak 25 responden (62.5%).
Singgih (2010) (dalam Irfan, 2010) mengemukakan bahwa semakin tua umur seseorang maka proses-proses perkembangan mentalnya bertambah baik. Bertambahnya pengalaman menyebabkan bertambahnya kedewasaan seseorang. Hal ini membuat seseorang semakin patuh dalam memegang suatu prinsip ataupun melaksanakan suatu anjuran, sebatas anjuran tersebut dinilai bermanfaat untuk diri mereka.
Dengan demikian responden yang berusia lebih dewasa akan lebih banyak memperoleh pengetahuan tentang KB pil, daripada yang berumur lebih muda. Namun sebaliknya responden yang berumur lebih muda masih terbatas dalam berpikir saja tanpa mempunyai pengaruh pada setiap keputusan dan tindakannya. Dengan demikian semakin tua umur responden maka pengetahuan tentang KB pil akan semakin bertambah pula. Keadaan ini disebabkan karena waktu untuk mendapatkan pengetahuan tentang KB pil lebih lama.
Hasil analisis juga dipengaruhi oleh pekerjaan responden. Berdasarkan Tabel 4.3 diatas dapat diketahui bahwa > 50% responden tidak bekerja yaitu sebanyak 26 responden (65%).
Hal ini sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2003) bahwa masyarakat yang sibuk akan memiliki waktu yang sedikit untuk memperoleh informasi sehingga ilmu pengetahuan yang mereka miliki menjadi berkurang. Menurut Zuhri (2010) kurangnya pengetahuan menyebabkan kesadaran akan pentingnya beberapa kebiasaan menjadi berkurang. Seseorang akan cenderung meremehkan suatu kebiasaan katika pengetahuan tentang kebiasan tersebut tidak begitu dipahami.
Responden yang tidak bekerja akan lebih banyak menerima pengetahuan dan informasi daripada responden yang bekerja. Keluangan waktu yang dimilikinya membuat responden bisa lebih leluasa mengikuti penyuluhan kesehatan yang diadakan oleh tenaga kesehatan dan punya waktu lebih banyak dalam mengakses informasi tentang KB pil. Berbeda dengan responden yang bekerja, mereka akan lebih sedikit mempunyai waktu luang untuk mengakses pengetahuan terutama yang berhubungan dengan KB pil. Tentunya responden dengan status bekerja akan selalu disibukkan dengan pekerjaannya masing – masing daripada disibukkan dengan hal – hal yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang di kerjakan.
4.2.2 Kepatuhan Mengkonsumsi pil KB
Berdasarkan Tabel 4.5 diatas didapatkan data > 50% responden patuh dalam mengkonsumsi pil KB yaitu sebanyak 21 responden (52.5%). Kepatuhan adalah disiplin dan taat. Sacket mendefinisikan kepatuhan sebagai sejauh mana perilaku pasien sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh petugas kesehatan (Lailiah, 2010).
Menjelaskan ada beberapa faktor yang dapat  mendukung sikap patuh pasien, diantaranya :
Pendidikan pasien dapat meningkatkan kepatuhan sepanjang pendidikan tersebut merupakan pendidikan yang aktif, seperti penggunaan buku dan lain-lain. Akomodasi, suatu usaha harus dilakukan untuk memahami ciri kepribadian pasien yang dapat mempengaruhi kepatuhan. Pasien yang lebih mandiri, harus dilibatkan secara aktif dalam program pengobatan sementara pasien yang  tingkat intensitasnya tinggi harus diturunkan terlebih dahulu. Tingkat intensitas yang terlalu tinggi atau rendah, akan membuat kepatuhan pasien berkurang.Modifikasi faktor lingkungan dan sosial, membangun dukungan sosial dari keluarga dan teman-teman sangat penting, kelompok pendukung dapat dibentuk untuk membantu memahami kepatuhan terhadap program pengobatan, seperti pengurangan berat badan dan lainnya. Perubahan model terapi, program pengobatan dapat dibuat sesederhana mungkin dan pasien terlibat aktif dalam pembuatan program tersebut. Meningkatkan interaksi profesional kesehatan dengan pasien, adalah suatu yang penting untuk memberikan umpan balik pada pasien setelah memperoleh informasi diagnosis. (Lailiah, 2010)
Keteraturan mengonsumsi pil KB masih memungkinkan akseptor mengalami kehamilan. Hal ini dikarenakan keteraturan pengkonsumsian menyebabkan hormon yang terkandung dalam pil KB bekerja dengan maksimal. Sehingga memungkinkan akseptor KB pil tidak mengalami  kehamilan yang tidak diinginkan ( Depkes, 2010).
Lebih dari 50% responden patuh dalam mengkonsumsi pil KB berarti responden mengkonsumsi pil KB sesuai dengan petunjuk tenaga kesehatan. Responden mengkonsumsi secara teratur dan tepat waktu. Keteraturan dalam mengkonsumsi pil KB dilihat dari minum 1  hari 1 kali, minum pada jam yang sama, bila 1 hari tidak mengkonsumsi maka harus   di minum   di hari berikut nya, bila 2 hari tidak mengkonsumsi maka selama 1 minggu ketika bersenggama harus memakai kondom.

4.2.3 Hubungan Pengetahuan Akseptor KB Pil Tentang Pil KB Dengan Kepatuhan Mengkonsumsi.
Hasil uji analisis dengan menggunakan bantuan software SPSS menunjukkan bahwa terdapat hubungan pengetahuan akseptor KB Pil tentang Pil KB dengan kepatuhan mengkonsumsi di BPS Ny.”TE”, Desa Tampongrejo Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto dengan tingkat signifikansi 0,005. Dari nilai tersebut dapat diartikan bahwa H1 diterima dan Ho ditolak yang berarti ada hubungan pengetahuan akseptor KB Pil tentang pil KB dengan kepatuhan mengkonsumsi di BPS Ny.”TE”, Desa Tampongrejo Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto dengan tingkat signifikansi 0,005.
Metode kontrasepsi pil bekerja dengan dasar mencegah sperma laki-laki mencapai dan membuahi telur wanita (fertilisasi) atau mencegah telur yang sudah dibuahi untuk berimplantasi (melekat) dan berkembang di dalam rahim. Kontrasepsi oral kombinasi (pil) mengandung sintetik estrogen dan preparat progestin yang mencegah kehamilan dengan cara menghambat terjadinya ovulasi (pelepasan sel telur oleh indung telur) melalui penekanan hormon LH dan FSH, mempertebal lendir mukosa servikal (leher rahim), dan menghalangi pertumbuhan lapisan endometrium. Pil kombinasi ada yang memiliki estrogen dosis rendah dan ada yang mengandung estrogen dosis tinggi. Estrogen dosis tinggi biasanya diberikan kepada wanita yang mengkonsumsi obat tertentu (terutama obat epilepsy) (Depkes, 2010).
Pengetahuan responden yang baik tentang KB pil menyebabkan mereka patuh dalam mengkonsumsi pil KB. Kepatuhan ini dibuktikan dengan keteraturan mengonsumsi pil KB sehingga memungkinkan akseptor sulit untuk mengalami kehamilan. Hal ini dikarenakan keteraturan pengkonsumsian menyebabkan hormon yang terkandung dalam pil KB bisa bekerja dengan maksimal. Sehingga memungkinkan akseptor KB pil tidak terjadi kehamilan yang tidak diinginkan.
Yang harus dilakukan adalah upaya penyadaran pada akseptor KB pil  melalui pemberian informasi akan pentingnya rutinitas dalam mengkonsumsi KB pil. Disamping itu hendaknya akseptor KB pil  selalu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan seputar KB pil. Konsultasi rutin bisa menyebabkan akseptor KB pil bisa patuh melakukan pengkonsumsian KB pil dengan teratur. Selain itu penyuluhan pada  akseptor KB pil tentang pentingnya melakukan keteraturan pengkonsumsian bisa dengan cara penyuluhan melalui posyandu.


BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1.      Pengetahuan responden tentang KB Pil didapatkan lebih dari 50% responden berpengetahuan cukup yaitu sebanyak 23 responden (57.5%).
2.      Kepatuhan responden dalam mengkonsumsi pil KB menunjukkan bahwa > 50% responden patuh dalam mengkonsumsi pil KB yaitu sebanyak 21 responden (52.5%).
3.      Hasil analisis menunjukkan ada hubungan pengetahuan akseptor KB Pil tentang pil KB dengan kepatuhan mengkonsumsi di BPS Ny.”TE”,  Desa Tampongrejo Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto dengan tingkat signifikansi 0,005.

5.2 Saran
5.2.1 Bagi Responden
Supaya hasil penelitian ini bisa memberikan pengetahuan kepada responden agar selalu menjaga keteraturan mengkonsumsi pil KB untuk mendapatkan manfaat maksimal dari konsumsi pil KB yaitu tercegahnya responden dari kehamilan.
5.2.2 Bagi Penelitian
Supaya hasil penelitian ini bisa digunakan untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang pentingnya keteraturan konsumsi pil KB yaitu bahwa kepatuhan dalam keteraturan konsumsi bisa mencegah kehamilan dan ketidakpatuhan dalam konsumsi tidak menjamin tercegahnya kehamilan.
5.2.3 Bagi Profesi Kebidanan
Supaya hasil penelitian ini digunakan dalam upaya memberikan masukan untuk meningkatkan kepatuhan akseptor pil KB untuk melakukan rutinitas konsumsi pil KB.
5.2.4 Bagi Penelitian Selanjutnya
Supaya hasil penelitian ini digunakan untuk mengembangkan hasil penelitian tentang hubungan pengetahuan akseptor pil KB dengan kepatuhan mengkonsumsi pil KB dengan jumlah responden yang lebih banyak dan wilayah penelitian yang lebih luas.
  

0 komentar:

Poskan Komentar