Sabtu, 22 Juni 2013

GAMBARAN FAKTOR PENDIDIKAN, PENGETAHUAN, DAN PENGALAMAN PENYEBAB TINGGINYA AKSEPTOR KB SUNTIK DI BPS NY. N DESA BELIK KECAMATAN TRAWAS KABUPATEN MOJOKERTO

ABSTRAK


Gambaran Faktor Pendidikan, Pengetahuan, dan Pengalaman, Penyebab Tingginya Akseptor KB Suntik di BPS Ny. N Desa Belik
Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto

Asih Kanti Wahyu K.

                 Kontrasepsi suntik adalah hormon progesterone / hormon estrogen yang disuntikkan  ke pantat atau otot panggul secara IM (Intra Muscular) setiap 3 bulan atau 1 bulan sekali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penyebab utama tingginya akseptor KB suntik di BPS Ny. N Desa Belik Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto.
                 Dalam penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif  dengan jumlah populasi 58 responden. Metode sampling yang digunakan adalah Non Random (Non Probability) sampling dengan  menggunakan tehnik purposive sampling dengan jumlah sampel 34 responden. Variabel dalam penelitian ini adalah gambaran faktor pendidikan, pengetahuan, dan pengalaman penyebab tingginya akseptor KB suntik. Pengumpulan data menggunakan kuesioner.
            Hasil penelitian sebagian besar responden berpendidikan dasar sebanyak 19 orang (56%), responden berpengetahuan kurang sebanyak 24 orang (70%), dan responden yang mengalami pengalaman buruk sebanyak 20 orang (59%).
            Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa faktor yang paling berpengaruh sebagai penyebab tingginya pemakaian KB suntik adalah faktor pengetahuan. Disarankan bagi responden untuk mau mencari informasi dan bertanya pada petugas kesehatan mengenai KB agar KB yang digunakan bisa bekerja secara maksimal bagi dirinya dengan aman.


Kata Kunci : KB suntik, pendidikan, pengetahuan, pengalaman

ABSTRACT
The Description of Education Factor, Knowledge, and Experience connected to the Large Number of KB injection Acceptor Causes in BPS Mrs N Belik Village
 Trawas Mojokerto

Asih Kanti Wahyu K.

Contraception injection is progesterone hormone or estrogen hormone which is inseminated in to flank muscle by IM (Intra Muscular) every 3 months or once a months. This research is purposed to know the main cause of the large number of KB injection acceptor in BPS Mrs. N Belik Village Trawas  Mojokerto.
This research use descriptive method and the number of population are 58 respondents. Sampling method which is used is the Non Random (Non Probability) sampling. To get 34 people as samples, used purposive sampling. The variable of this research is the education factor, knowledge, and experience about the cause of large number of KB injection acceptor. Quitionaires are used for collecting the data and information.
The result of research showed that most of the respondentsts have basic education are 19 people (56%), there are 24 less educated people (70%), and unexperienced respondentsts are(59%).
 From the research, it can be concluded that the main factor of the large number of KB injection acceptor is knowledge background. It is suggested to the respondents to ask for information and ask to health officer the things concern to KB to maximalize the use and the safety of KB for theirselves.


Keyword: KB injection, education, knowledge, experience.




                                                                 BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
 Masalah kependudukan di Indonesia adalah jumlah penduduk yang besar dan distribusi yang tidak merata. Hal itu diikuti dengan masalah lain yang lebih spesifik, yaitu angka fertilitas dan angka mortalitas yang relatif tinggi. Kondisi ini dianggap tidak menguntungkan dari sisi pembangunan ekonomi. Hal itu diperkuat dengan kenyataan bahwa kualitas penduduk masih rendah, sehingga penduduk lebih diposisikan sebagai beban dari pada modal pembangunan (BKKBN, 2008). Untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk pemerintah mulai menggalakkan kembali program Keluarga Berencana Nasional dengan perubahan visi dari mewujudkan norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera (NKKBS) menjadi visi untuk mewujudkan “keluarga berkualitas tahun 2015”. Keluarga yang berkualitas adalah keluarga yang sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan ke depan, bertanggung jawab, harmonis dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Adapun salah satu misi yang dijalankan dalam rangka mencapai visi tersebut adalah meningkatkan kualitas pelayana KB dan Kesehatan reproduksi (Saifuddin, 2006).
1
 
Untuk meningkatkan kualitas pelayanan KB yang salah satunya adalah penyediaan alat kontrasepsi. Saat ini tersedia banyak metode atau alat kontrasepsi meliputi IUD, suntik, pil, implant, kontap, kondom (BKKBN, 2004). Dari sekian banyak alat kontrasepsi yang beredar di masyarakat alat kontrasepsi yang paling popular di Indonesia adalah kontrasepsi suntik. Kontrasepsi suntik merupakan alat kontrasepsi yang berupa cairan yang berisikan hormon progesterone  ataupun estrogen dan progesterone yang disuntikkan dalam tubuh wanita secara periodik (DEPKES, 2000).
Kontrasepsi suntik selain mempunyai kelebihan juga mempunyai kekurangan. Kekurangan kontrasepsi suntik adalah perubahan pola haid berupa perdarahan bercak (spotting), hipermenorea atau meningkatnya jumlah darah haid, amenorea dan keluhan-keluhan lain seperti nyeri kepala/pusing, perasaan mual, nyeri payudara,  serta peningkatan/ penurunan  berat badan (Syaifuddin, 2006: MK-55). Salah satu efek samping dari kontrasepsi suntik yang paling memberikan masalah atau ketidaknyamanan adalah spotting, dimana akseptor lebih cenderung merasa takut dan cemas.
Menurut data yang diperoleh dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada bulan januari 2010 pencapaian akseptor KB baru yaitu 554.495 peserta, dan untuk  metode per kontrasepsi pada bulan Januari 2010,  jenis kontrasepsi suntik 294.468 peserta (53,11%), pil 160.401 peserta (28,93%), Intra Uterine Device (IUD) 25.195 peserta (4,63%), implant sebanyak 31.922 peserta (5,77%),  Metoda Operasi Wanita (MOW) 5.408 peserta (0,99%), Medis Operasi Pria (MOP) 643 peserta (0,12%), serta Kondom 36.458 peserta (6,57%). Sedangkan  untuk wilayah Jawa Timur pada bulan Januari 2010 terdapat pencapaian peserta KB baru sebanyak 76.422 peserta, dan untuk  metode per kontrasepsi pada bulan Januari 2010, jenis suntik 47.282 peserta (61,87%), implant sebanyak 3.609 peserta (4,72%), pil 17.980 peserta (23,52%), Intra Uterine Device (IUD) 3.739 peserta (4,89%), Metoda Operasi Wanita (MOW) 1.025 peserta (1,34%), Medis Operasi Pria (MOP) 1.59 peserta (0,2%), serta Kondom 2.628 peserta (3,44%). (BKKBN 2010). Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Mojokerto (BPP dan KB) tahun 2009 didapatkan jumlah akseptor KB mencapai 14.972 orang dengan prosentase jumlah akseptor KB suntik 52,60%, pil 14,15%, IUD 16,91%, MOW 11,69%, implant 2,91 %, kondom 1,42 %, MOP 0,28%. Dan berdasarkan data yang diambil dari Register KB di BPS Koriyatin Pacet Mojokerto selama bulan Januari sampai Maret 2010 jumlah seluruh akseptor KB adalah 80 orang yang terdiri dari akseptor KB suntik 3 bulan yaitu 32 (40%), dan akseptor KB suntik 1 bulan yaitu 10 (12,5%). Berdasarkan hasil  kegiatan pelayanan kasus efek samping pada bulan Desember 2009 di Jawa Timur, pelayanan kasus efek samping yang tertinggi dari peserta KB suntik yaitu sebesar 2.672 kasus atau 54,8 %, berikutnya diikuti peserta IUD sebesar 951 kasus atau 19,5 %. Sedangkan jumlah kasus terendah terdapat pada peserta KB kondom yaitu sebesar 0,0 %. (BKKBN, 2009). Sedangkan data efek samping yang diambil dari kartu status peserta  KB di BPS Koriyatin Pacet Mojokerto selama tahun 2009, kontrasepsi suntik yang mengalami  spotting  sebanyak 106 orang (31, 26%) dari 339 akseptor kontrasepsi suntik , amenorrhoe sebanyak 95 orang (28,02%) dari 339 akseptor.
Untuk menangani masalah spotting tersebut pada prinsipnya tidak memerlukan pengobatan. Sehingga untuk menanggulangi terjadinya masalah spotting pada akseptor kontrasepsi suntik, bidan diharapkan mampu memberikan konseling tentang  efek samping kontrasepsi suntik dengan sebaik-baiknya sehingga akseptor bisa memahami bahwa spotting yang mereka alami merupakan salah satu efek samping dari pemakaian kontrasepsi suntik.
      Berdasarkan data tersebut, sangat perlu untuk dilakukan penelitian karena merupakan masalah penelitian mengenai hubungan pemakaian kontrasepsi suntik dengan terjadinya spotting.
1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang, maka dapat dirumuskan permasalahan : Adakah hubungan pemakaian kontrasepsi suntik dengan terjadinya spotting?
1.3  Tujuan Penelitian
1.3.1        Tujuan umum
Mengetahui hubungan pemakaian kontrasepsi suntik dengan terjadinya spotting di BPS Ny. Koriyatin, Amd. Keb. Desa Kuripansari Pacet Mojokerto.

1.3.2        Tujuan Khusus
  1. Mengidentifikasi pemakaian kontrasepsi suntik di BPS Ny. Koriyatin, Amd. Keb. Desa Kuripansari Pacet Mojokerto.
  2. Mengidentifikasi terjadinya spotting pada pemakaian kontrasepsi suntik di BPS Ny. Koriyatin, Amd. Keb. Desa Kuripansari Pacet Mojokerto.
  3. Menganalisis hubungan pemakaian kontrasepsi suntik dengan terjadinya spotting di BPS Ny. Koriyatin, Amd. Keb. Desa Kuripansari Pacet Mojokerto.
1.4  Manfaat Penelitian
1.4.1        Bagi Responden
      Diharapkan responden dapat memperoleh tambahan informasi tentang penyebab terjadinya spotting selama pemakaian alat kontrasepsi suntik 3 bulan ataupun 1 bulan. Serta diharapkan penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan bahan pertimbangan dalam memilih alat kontrasepsi bagi calon akseptor KB.
1.4.2        Bagi Peneliti
            Diharapkan penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan dalam penulisan karya tulis ilmiah serta menambah pengalaman dalam bidang penelitian tentang kontrasepsi suntik.
1.4.3        Bagi Profesi Kebidanan
            Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi pada masyarakat untuk meningkatkan pemahaman tentang hubungan pemakaian kontrasepsi suntik dengan terjadinya spotting.
1.5    Batasan Penelitian
Penelitian ini hanya meneliti tentang pemakaian kontrasepsi suntik yang meliputi pemakaian kontrasepsi suntik 3 bulan dan 1 bulan dengan terjadinya spotting yang meliputi lama terjadinya spotting sedangkan faktor-faktor predisposisi terjadinya spotting tidak diteliti.

 BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian
4.1.1    Gambaran Umum Lokasi Penelitian
            Di BPS Ny N di Desa Belik Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto ini memberikan pelayanan KIA dan KB, memiliki ruang periksa, ruang tunggu, ruang neonatus, ruang bersalin, dan kamar mandi. Batas- batas Geografis Desa Belik adalah sebagai berikut :
a.       Sebelah Barat                   : Desa Ketapanrame
b.      Sebelah Selatan                : Desa Tamiajeng        
c.       Sebelah Timur                  : Desa Duyung
 d.   Sebelah Utara                  : Desa Kesiman
           
 4.1.2    Data Umum
4.1.2.1 Usia Pemakai KB Suntik
Tabel 4.1  Karakteristik responden berdasarkan usia pemakai KB suntik di BPS Ny. N desa Belik Kecamatan Trawas Kab. Mojokerto pada 10 Juli sampai 31 Juli 2010
No
Umur
Frekuensi
%
1
2
3
19 – 24 tahun
25 – 30 tahun
31 - 36 tahun
8
14
12
24
41
35

Jumlah
34
100
Sumber : Data primer Juli 2010
          Berdasarkan Tabel 4.1 dapat diketahui bahwa usia pemakai KB suntik  hampir setengahnya adalah usia 25 - 30 tahun sebanyak 14 responden (41%).

4.1.2.2  Jenis pekerjaan
Tabel  4.2        Karakteristik responden  berdasarkan jenis pekerjaan para pemakai KB suntik di BPS Ny. N desa Belik Kecamatan Trawas Kab. Mojokerto pada 10 Juli sampai 31 Juli 2010

No
Kriteria
Frekuensi
%
1
2
3
4
IRT
Swasta
Petani/ buruh tani
PNS
16
9
8
1
47
26
23
4

Jumlah
34
100
Sumber : Data primer Juli 2010
            Berdasarkan Tabel 4.2 dapat diketahui bahwa hampir setengahnya pekerjaan pemakai KB suntik adalah IRT sebanyak 16 responden (47%).
  
4.1.3    Data Khusus
4.1.3.1 Distribusi Gambaran Pendidikan
Tabel 4.3 Distribusi gambaran pendidikan akseptor KB suntik di BPS Ny. N desa Belik Kecamatan Trawas Kab. Mojokerto pada 10 Juli sampai 31 Juli 2010
No
Pendidikan
Frekuensi
%
1.
2.
3.
Tinggi
Menengah
Dasar
3
12
19
9
35
56
jumlah
34
100
Sumber : Data primer Juli 2010
            Dari Tabel 4.3 dapat dianalisis bahwa sebagian besar jumlah akseptor KB suntik berpendidikan dasar yaitu sebanyak 19 orang (56%).

4.1.3.2 Distribusi Gambaran Pengetahuan
Tabel 4.4 Distribusi gambaran pengetahuan akseptor KB suntik di BPS Ny. N desa Belik Kecamatan Trawas Kab. Mojokerto pada 10 Juli sampai 31 Juli 2010
No
Pengetahuan
Frekuensi
%
1.
2.
3.
Baik
Cukup
Kurang
2
8
24
6
24
70
jumlah
34
100
Sumber : Data primer Juli 2010
Dari Tabel 4.4 dapat dianalisis bahwa sebagian besar akseptor memiliki pengetahuan yang kurang yaitu sebanyak 24 orang (70%).

4.1.3.3 Distribusi Gambaran Pengalaman
Tabel 4.5 Distribusi gambaran pengalaman akseptor KB suntik di BPS Ny. N desa Belik Kecamatan Trawas Kab. Mojokerto pada 10 Juli sampai 31 Juli 2010
No
Pengalaman
Frekuensi
%
1.
2.
Baik
Buruk
14
20

41
59
jumlah
34
100
Sumber : Data primer Juli 2010
            Dari Tabel 4.5 dapat dianalisis bahwa sebagian besar akseptor KB suntik mengalami pengalaman buruk yaitu sebanyak 20 orang (59%).

4.1.4.1 Pendidikan akseptor KB Suntik berdasarkan usia
Distribusi pendidikan akseptor KB Suntik berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.6  Tabulasi Silang Antara Pendidikan Akseptor KB Suntik berdasarkan Usia di Desa Belik Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto.



No



Usia
(tahun)
Pendidikan akseptor KB Suntik


Jumlah
Tinggi
Menengah
Rendah
%
%
%
%
1.
2.
3.

19 - 24
25 - 30
31 - 36
1
2
0
12
14
0
4
6
2
50
43
17
3
6
10
38
43
83
8
14
12
100
100
100
Jumlah
3
9
12
35
19
56
34
100
Sumber : Data Primer,  2010.

Berdasarkan Tabel 4.6 menunjukkan bahwa 10  responden (83 %) berpendidikan rendah berusia 31 – 36 tahun.
.
4.1.4.2 Pengetahuan akseptor tentang KB Suntik berdasarkan usia
Distribusi pengetahuan akseptor tentang KB Suntik berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.7  Tabulasi Silang Antara Pengetahuan Akseptor Tentang KB Suntik berdasarkan Usia di Desa Belik Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto.



No
Usia
(tahun)
Pengetahuan akseptor tentang KB Suntik


Jumlah
Baik
Cukup
Kurang
%
%
%
%
1.
2.
3.
19 – 24
25 – 30
31 – 36
0
1
1
0
7
8
1
4
3
13
29
25
7
9
8
87
64
67
8
14
12
100
100
100
Jumlah
2
6
8
24
24
70
34
100
Sumber : Data Primer,  2010.

Berdasarkan Tabel 4.7 menunjukkan bahwa 7  responden (87 %) berpengetahuan kurang berusia 19 - 24 tahun.

4.1.4.3 Pengalaman ibu tentang KB suntik berdasarkan usia
Distribusi pengalaman ibu tentang tumbuh KB suntik berrdasarkan usia dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.8  Tabulasi Silang Antara Pengalaman Ibu Tentang KB Suntik Berdasarkan Usia di Desa Belik Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto.




No
Usia
         (tahun)
Pengalaman Ibu Tentang KB Suntik


Jumlah
Baik
Buruk
%
%
%
1.
2.
3.
19 – 24
25 -30
31 – 36
3
5
6
37
36
50
5
9
6
63
64
50
8
14
12
100
100
100
Jumlah
14
41
20
59
34
100
Sumber : Data Primer,  2010.
Berdasarkan Tabel 4.8 dapat diketahui bahwa terdapat 14  responden berusia 25 – 30 tahun dan 9 responden (64%) mengalami pengalaman buruk dalam ber-KB.

4.1.4.4 Pendidikan akseptor KB Suntik berdasarkan pekerjaan
Distribusi pendidikan akseptor KB Suntik berdasarkan pekerjaan dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.9  Tabulasi Silang Antara Pendidikan Akseptor KB Suntik berdasarkan pekerjaan di Desa Belik Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto.



No



Pekerjaan
Pendidikan akseptor KB Suntik


Jumlah
Tinggi
Menengah
Dasar
%
%
%
%
1
2
3
4
IRT
Swasta
Petani
PNS
1
1
0
1
6
11
0
100
4
6
2
0
25
67
25
0
11
2
6
0
69
22
75
0
16
9
8
1
100
100
100
100
Jumlah
3

12

19

34
100
Sumber : Data Primer,  2010.

Berdasarkan Tabel 4.9 menunjukkan bahwa terdapat 1 responden yang bekerja sebagai PNS yang memiliki tingkat pendidikan tinggi.
4.1.4.5 Pengetahuan akseptor tentang KB Suntik berdasarkan pekerjaan
Distribusi pengetahuan akseptor tentang KB Suntik berdasarkan pekerjaan dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.10      Tabulasi Silang Antara Pengetahuan Akseptor Tentang KB Suntik berdasarkan pekerjaan di Desa Belik Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto.



No
Pekerjaan  
Pengetahuan akseptor tentang KB Suntik


Jumlah
Baik
Cukup
Kurang
%
%
%
%
1.
2.
3.
4.
IRT
Swasta
Petani
  PNS
0
2
0
0
0
22
0
0
4
1
2
1
25
11
25
100
12
6
6
0
75
67
75
0
16
9
8
1
100
100
100
100
Jumlah
2
6
8
23
24
71
34
100
Sumber : Data Primer,  2010.

Berdasarkan Tabel 4.10 menunjukkan bahwa terdapat 1 responden yang berpengetahuan cukup dan bekerja sebagai PNS.
4.1.4.6 Pengalaman ibu tentang KB suntik berdasarkan pekerjaan
Distribusi pengalaman ibu tentang tumbuh KB suntik berrdasarkan pekerjaan dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.11      Tabulasi Silang Antara Pengalaman Ibu Tentang KB Suntik Berdasarkan pekerjaan di Desa Belik Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto.




No
Pekerjaan
Pengalaman Ibu Tentang KB Suntik


Jumlah
Baik
Buruk
%
%
%
 1.
2.
3.
4
IRT
Swasta
Petani
  PNS
4
3
7
0
25
33
88
0
12
6
1
1
75
67
12
100
16
9
8
1
100
100
100
Jumlah
14
41
20
59
34
100
Sumber : Data Primer,  2010.
Berdasarkan Tabel 4.11 dapat diketahui bahwa terdapat 20 (59%) responden mengalami pengalaman buruk dan 12 (75%) diantaranya bekerja sebagai IRT.
4.2 Pembahasan
4.2.1 Gambaran pendidikan akseptor KB suntik
            Hasil penelitian pada Tabel 4.1 didapatkan gambaran bahwa sebagian besar jumlah akseptor KB suntik berpendidikan dasar yaitu sebanyak 19 orang (56%), berpendidikan menengah sebanyak 12 responden (35%), dan memiliki tingkat pendidikan tinggi sejumlah 3 responden (9%).
Berdasarkan teori bahwa makin tinggi tingkat pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki (Nursalam, 2001).  Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan (Nursalam dan Siti Pariani, 2001).
Dari hasil penelitian diketahui bahwa responden yang berpendidikan tinggi mempunyai pengetahuan yang baik tentang KB Suntik dibandingkan responden yang berpendidikan rendah.  Pendidikan formal responden yang sebagian besar sekolah dasar akan lebih sulit menerima informasi yang datang dari luar.  Mereka bahkan cenderung akan mempertahankan informasi turun temurun tentang berbagai hal daripada mereka yang berpendidikan tinggi dan menengah.  Dari hasil penelitian di atas ternyata ada hubungan dengan teori yang ada, yaitu makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menyerap dan memahami apabila mendapat informasi mengenai alat kontrasepsi.  Oleh sebab itu peningkatan pengetahuan ibu melalui pendidikan nonformal oleh petugas kesehatan tentang alat kontrasepsi sangat diperlukan untuk mengenalkan berbagai alkon KB.  
4.2.2 Gambaran pengetahuan akseptor KB suntik
            Hasil analisis pada Tabel 4.2 didapatkan gambaran bahwa lebih dari setengah  akseptor KB memiliki pengetahuan yang kurang mengenai KB sebanyak 24 akseptor (70%), 8 akseptor (24%) memiliki pengetahuan yang cukup, sedangkan yang memiliki pengetahuan baik mengenai KB hanya 2 akseptor (6%).
            Berdasarkan teori pengetahuan adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Pengetahuan didapat tidak hanya melalui jenjang pendidikan saja tetapi juga dari informasi yang diberikan dari orang- orang yang memahami benar tentang apa yang diinformasikannya, perilaku yang didasari atas pengetahuan, kesadaran, dan sikap positif maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng. Sebaliknya apabila perilaku tersebut tanpa didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama (Notoatmodjo, 2003: 128).
            Respopnden dengan pengetahuan yang cukup dan tinggi tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai KB suntik dalam pendidikan formal, namun responden mendapatkan pengetahuan itu dari pergaulan dan pengalaman. Sedangkan responden dengan pengetahuan kurang memiliki keterbatasan pengetahuan sebagai akibat dari sulitnya menerima masukan dan informasi baru.
4.2.3 Gambaran pengalaman akseptor KB suntik
            Hasil penelitian pada Tabel 4.3 didapatkan gambaran bahwa akseptor yang mengalami pengalaman buruk sebagian besar ada 20 akseptor (59%) dan yang mengalami pengalaman baik sebanyak 14 akseptor (41%).
            Pengalaman merupakan sumber pengetahuan atau pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan (Notoatmodjo, 2002: 13). Semakin banyak pengalaman seseorang maka pengetahuannya juga akan bertambah. Belajar dari pengalaman merupakan suatu proses yang dapat mengubah sikap dan tingkah laku kita  (Purwanto, 2004: 47).
Banyaknya para responden yang mengalami kecemasan akibat pengalaman buruk dikarenakan pendidikan dan pengetahuan yang kurang sehingga informasi yang didapat atau diperoleh kurang maksimal. Meskipun pengalaman itu tidak dialami sendiri oleh responden, tapi hal ini sangat mempengaruhi kepercayaan responden. Saat responden mengalami pengalaman buruk, ada dua sikap yang diambil oleh responden. Bagi responden dengan tingkat pendidikan tinggi mereka akan mencari informasi untuk menemukan solusi terbaik. Bagi responden dengan pendidikan rendah mereka lebih banyak mengabaikan sehingga seringkali efek samping yang dialami akan menambah daftar pengalaman buruk menjadi semakin buruk.
4.2.4    Gambaran Pendidikan akseptor KB Suntik berdasarkan usia
            Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa pendidikan akseptor KB suntik berdasarkan usia sebagian besar berusia 31 – 36 tahun (83%) berpendidikan rendah.
   Berdasarkan teori bahwa makin tinggi tingkat pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki (Nursalam, 2001).  Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan (Nursalam dan Siti Pariani, 2001).
Dari hasil penelitian diketahui bahwa responden yang berpendidikan dasar lebih banyak dari responden dengan pendidikan menengah. Hal ini cukup erat kaitannya dengan tingkat kepercayaan yang berkembang pada masyarakat bahwa seorang wanita tidak memerlukan pendidikan formal yang berkembang pada masa itu.
 4.2.4   Gambaran Pengetahuan akseptor tentang KB Suntik berdasarkan usia
Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa pengetahuan akseptor KB Suntik berdasarkan usia 19- 24 tahun sebagian besar adalah pengetahuan kurang, yaitu 7 responden (87%) dari 8 responden.
Berdasarkan teori, semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja (Supanto, 2001).  Dari segi kepercayaan pada seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya orang dari pada orang yang belum tinggi kedewasaannya.  Hal ini sebagai akibat dari pengalaman dan kematangan jiwanya.  Makin tua usia seseorang makin konstruktif dalam menggunakan coping terhadap masalah (Nursalam dan Pariani, 2001).
Dari hasil penelitian diketahui bahwa dengan bertambahnya usia seseorang, maka tingkat pengetahuannya menjadi lebih matang.  Hal ini dibuktikan bahwa pada saat penelitian responden yang cukup usianya lebih antusias dan lebih tanggap tentang hal-hal yang dijelaskan terhadap maksud dari pengisian kuesioner.  Hal ini dikarenakan responden yang cukup usianya tidak canggung lagi untuk mengkomunikasikan yang berkaitan dengan KB Suntik.  Akan tetapi usia bukan faktor utama yang menentukan pengetahuan responden tentang KB Suntik, karena dengan usia yang cukup belum tentu berpengetahuan baik apabila tidak didukung dengan latar belakang pendidikan yang tinggi dan masih banyak faktor lain yang mempengaruhi pengetahuan. 
4.2.5    Gambaran Pengalaman ibu tentang KB suntik berdasarkan usia
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 14  responden berusia 25 – 30 tahun dan 9 diantaranya (64%) mengalami pengalaman buruk dalam ber-KB.
Pengalaman merupakan sumber pengetahuan atau pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan (Notoatmodjo, 2002: 13). Semakin banyak pengalaman seseorang maka pengetahuannya juga akan bertambah. Belajar dari pengalaman merupakan suatu proses yang dapat mengubah sikap dan tingkah laku kita  (Purwanto, 2004: 47).
Bila dilihat hasil penelitian tersebut, maka semakin bertambah umur seseorang, maka pengalaman yang diperoleh juga semakin banyak. Bila banyak pengalaman baik yang diperoleh, maka pengalaman baik itulah yang akan ditularkan pada orang lain. Sebaliknya pula bila banyak pengalaman buruk yang diperoleh maka pengalaman buruk itu yang diterima oleh orang- orang disekitarnya.
4.2.6    Gambaran Pendidikan akseptor KB Suntik berdasarkan pekerjaan
            Berdasarkan analisis data menunjukkan bahwa pendidikan responden berdasarkan pekerjaan dari 8 orang petani 6 responden (75%) berpendidikan dasar.
   Berdasarkan teori bahwa makin tinggi tingkat pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki (Nursalam, 2001).  Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan (Nursalam dan Siti Pariani, 2001). Dengan adanya pekerjaan, seseorang akan memerlukan banyak waktu dan tenaga untuk menyelesaikan pekerjaan yang dianggap penting dan memerlukan perhatian (Nursalam dan Pariani, 2001).  Seorang wanita yang telah memasuki lapangan kerja, mereka dengan sendirinya mengurangi waktunya untuk mengurus rumah, balita bahkan suaminya (Yuneita, 2005). 
   Oleh karena adanya hubungan antara pekerjaan dan pendidikan, responden berusaha mendapatkan pekerjaan sesuai dengan pendidikan yang diperolehnya. Hal ini juga akan berhubungan dengan rekan kerja mereka. Semakin tinggi pendidikan rekan kerja mereka maka semakin banyak informasi yang mereka terima. Begitu pula sebaliknya.
4.2.7    Gambaran Pengetahuan akseptor tentang KB Suntik berdasarkan
Pekerjaan
Berdasarkan analisis data menunjukkan bahwa 12 responden (75%) dari 16 responden yang bekerja sebagai IRT memiliki tingkan pengetahuan yang kurang mengenai KB suntik.
   Dengan adanya pekerjaan, seseorang akan memerlukan banyak waktu dan tenaga untuk menyelesaikan pekerjaan yang dianggap penting dan memerlukan perhatian (Nursalam dan Pariani, 2001).  Seorang wanita yang telah memasuki lapangan kerja, mereka dengan sendirinya mengurangi waktunya untuk mengurus rumah, balita bahkan suaminya (Yuneita, 2005). 
   Dari hasil penelitian diketahui bahwa responden yang bekerja sebagai IRT memiliki pengetahuan yang kurang tentang KB suntik. Hal ini dikarenakan respopnden yang tidak bekerja memiliki wawasan yang kurang sebagai akibat dari kurangnya pergaulan dan informasi yang diterimanya. Informasi yang diterimanya hanya terbatas pada informasi formal.
4.2.8    Gambaran Pengalaman ibu tentang KB suntik berdasarkan pekerjaan
Dari hasil analisa data dapat diketahui bahwa terdapat 20 (59%) responden mengalami pengalaman buruk dan 12 (75%) diantaranya bekerja sebagai IRT.
Purwanto mengatakan semakin banyak pengalaman seseorang maka pengetahuannya juga akan bertambah. Belajar dari pengalaman merupakan suatu proses yang dapat mengubah sikap dan tingkah laku kita . Menurut Makmun, pengalaman dapat diperoleh melalui interaksi dengan lingkungan antara lain melalui proses belajar, sebagian lagi seperti yang diperlihatkan oleh beberapa instrumen khusus (bakat), tergantung pada perkembangan umum individu yang bersangkutan.
Hal buruk yang dialami oleh responden merupakan efek samping dari KB Suntik. Namun bagi sebagian orang yang kebanyakan berprofesi sebagai IRT hal tersebut tidak dihiraukan atau tidak diatasi dan diantisipasi. Hal ini sangat mungkin disebabkan oleh kurangnya informasi yang diterima sebab responden lebih sering dirumah dengan keluarga mereka dibandingkan berbagi informasi dengan akseptor KB yang lain.

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1.      Tingkat pendidikan 34 akseptor sebagian besar berpendidikan dasar sebanyak 19 akseptor (56%).
2.      Tingkat pengetahuan 34 akseptor sebagian besar berpengetahuan kurang sebanyak 24 orang (70%).
3.      Tingkat pengalaman 34 akseptor sebagian besar mengalami pengalaman buruk sebanyak 20 akseptor (59%).
4.      Faktor yang paling berpengaruh pada tingginya penggunaan KB suntik adalah faktor pengetahuan. Dari 34 responden, 24 responden (70%) memiliki tingkat pengetahuan yang kurang mengenai KB.

5.2       Saran
5.2.1 Bagi Responden
            Diharapkan bagi para akseptor KB suntik bisa mengetahui efek samping, keuntungan dan kerugian dari kontrasepsi tersebut, agar akseptor  tidak khawatir dalam menggunakan metode tersebut. Sehingga kontrasepsi yang dipilih merupakan kontrasepsi yang paling aman bagi dirinya.
5.2.2 Bagi Peneliti
            Diharapkan peneliti lebih meningkatkan pengetahuan tentang kontrasepsi hormonal yaitu suntik dan faktor- faktor yang mempengaruhi penggunaan KB. 

 
5.2.3 Bagi Profesi Kebidanan
            Bagi para bidan sebaiknya berupaya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan program Keluarga Berencana dan lebih sering untuk memberikan penyuluhan tentang keuntungan, kerugian maupun efek samping dari kontrasepsi tersebut. Agar para akseptor merasa puas akan pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan dan bisa memilih alat kontrasepsi sesuai yang diinginkan. Sehingga masyarakat tidak terpaku pada penggunaan KB suntik.
5.2.4 Bagi Penelitian Selanjutnya
Peneliti selanjutnya bisa melakukan penelitian dengan meneliti faktor yang mempengaruhi penggunaan kontrasepsi pil, AKBK, AKDR, MAL, vasektomi, dan tubektomi. Memperluas sampel dan menggunakan instrument atau pertanyaan terstruktur yang telah diuji. Dan dalam pengolahan data menggunakan analisa data yang lebih efektif agar penelitian lebih representative untuk daerah luas.
Operasi Wanita (MOW) 5.408 peserta (0,99%), Medis Operasi Pria (MOP) 643 peserta (0,12%), serta Kondom 36.458 peserta (6,57%). Sedangkan  untuk wilayah Jawa Timur pada bulan Januari 2010 terdapat pencapaian peserta KB baru sebanyak 76.422 peserta, dan untuk  metode per kontrasepsi pada bulan Januari 2010, jenis suntik 47.282 peserta (61,87%), implant sebanyak 3.609 peserta (4,72%), pil 17.980 peserta (23,52%), Intra Uterine Device (IUD) 3.739 peserta (4,89%), Metoda Operasi Wanita (MOW) 1.025 peserta (1,34%), Medis Operasi Pria (MOP) 1.59 peserta (0,2%), serta Kondom 2.628 peserta (3,44%). (BKKBN 2010). Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Mojokerto (BPP dan KB) tahun 2009 didapatkan jumlah akseptor KB mencapai 14.972 orang dengan prosentase jumlah akseptor KB suntik 52,60%, pil 14,15%, IUD 16,91%, MOW 11,69%, implant 2,91 %, kondom 1,42 %, MOP 0,28%. Dan berdasarkan data yang diambil dari Register KB di BPS Koriyatin Pacet Mojokerto selama bulan Januari sampai Maret 2010 jumlah seluruh akseptor KB adalah 80 orang yang terdiri dari akseptor KB suntik 3 bulan yaitu 32 (40%), dan akseptor KB suntik 1 bulan yaitu 10 (12,5%). Berdasarkan hasil  kegiatan pelayanan kasus efek samping pada bulan Desember 2009 di Jawa Timur, pelayanan kasus efek samping yang tertinggi dari peserta KB suntik yaitu sebesar 2.672 kasus atau 54,8 %, berikutnya diikuti peserta IUD sebesar 951 kasus atau 19,5 %. Sedangkan jumlah kasus terendah terdapat pada peserta KB kondom yaitu sebesar 0,0 %. (BKKBN, 2009). Sedangkan data efek samping yang diambil dari kartu status peserta  KB di BPS Koriyatin Pacet Mojokerto selama tahun 2009, kontrasepsi suntik yang mengalami  spotting  sebanyak 106 orang (31, 26%) dari 339 akseptor kontrasepsi suntik , amenorrhoe sebanyak 95 orang (28,02%) dari 339 akseptor.

Untuk menangani masalah spotting tersebut pada prinsipnya tidak memerlukan pengobatan. Sehingga untuk menanggulangi terjadinya masalah spotting pada akseptor kontrasepsi suntik, bidan diharapkan mampu memberikan konseling tentang  efek samping kontrasepsi suntik dengan sebaik-baiknya sehingga akseptor bisa memahami bahwa spotting yang mereka alami merupakan salah satu efek samping dari pemakaian kontrasepsi suntik.
      Berdasarkan data tersebut, sangat perlu untuk dilakukan penelitian karena merupakan masalah penelitian mengenai hubungan pemakaian kontrasepsi suntik dengan terjadinya spotting.
1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang, maka dapat dirumuskan permasalahan : Adakah hubungan pemakaian kontrasepsi suntik dengan terjadinya spotting?
1.3  Tujuan Penelitian
1.3.1        Tujuan umum
Mengetahui hubungan pemakaian kontrasepsi suntik dengan terjadinya spotting di BPS Ny. Koriyatin, Amd. Keb. Desa Kuripansari Pacet Mojokerto.
1.3.2        Tujuan Khusus
  1. Mengidentifikasi pemakaian kontrasepsi suntik di BPS Ny. Koriyatin, Amd. Keb. Desa Kuripansari Pacet Mojokerto.
  2. Mengidentifikasi terjadinya spotting pada pemakaian kontrasepsi suntik di BPS Ny. Koriyatin, Amd. Keb. Desa Kuripansari Pacet Mojokerto.
  3. Menganalisis hubungan pemakaian kontrasepsi suntik dengan terjadinya spotting di BPS Ny. Koriyatin, Amd. Keb. Desa Kuripansari Pacet Mojokerto.
1.4  Manfaat Penelitian
1.4.1        Bagi Responden
      Diharapkan responden dapat memperoleh tambahan informasi tentang penyebab terjadinya spotting selama pemakaian alat kontrasepsi suntik 3 bulan ataupun 1 bulan. Serta diharapkan penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan bahan pertimbangan dalam memilih alat kontrasepsi bagi calon akseptor KB.
1.4.2        Bagi Peneliti
            Diharapkan penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan dalam penulisan karya tulis ilmiah serta menambah pengalaman dalam bidang penelitian tentang kontrasepsi suntik.
1.4.3        Bagi Profesi Kebidanan
            Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi pada masyarakat untuk meningkatkan pemahaman tentang hubungan pemakaian kontrasepsi suntik dengan terjadinya spotting.
1.5    Batasan Penelitian
Penelitian ini hanya meneliti tentang pemakaian kontrasepsi suntik yang meliputi pemakaian kontrasepsi suntik 3 bulan dan 1 bulan dengan terjadinya spotting yang meliputi lama terjadinya spotting sedangkan faktor-faktor predisposisi terjadinya spotting tidak diteliti.




0 komentar:

Poskan Komentar